Langit menarik napas dalam-dalam, matanya bertemu dengan tatapan tajam Elsa. Sejenak, ruangan itu dipenuhi oleh keheningan yang mencekam. Namun, dengan cepat Langit mengubah ekspresinya, kembali ke sosok divisi informasi yang polos dan sedikit kikuk. Ia teringat akan kehidupan lamanya yang memuakkan dan sudah bersusah payah agar bisa menikmati kehidupan damai di markas itu.
"Komandan," ujar Langit, suaranya kembali ke nada biasanya yang ringan, "saya rasa ada hal penting yang perlu kita bicarakan mengenai surat-surat ini."
Elsa mengerutkan kening, jelas tidak puas dengan perubahan sikap Langit yang tiba-tiba. "Langit, jangan mencoba mengalihkan pembicaraan. Aku ingin penjelasan tentang—"
"Maaf menyela, Komandan," potong Langit dengan sopan namun tegas, "tapi saya yakin Anda akan tertarik dengan informasi yang ada dalam surat-surat ini." Dia menunjuk ke amplop yang masih terbuka di tangan Elsa.
Elsa menatap Langit dengan curiga, tapi rasa penasarannya menang. Dia kembali melihat isi surat tersebut, membacanya dengan lebih seksama kali ini.
Langit melanjutkan, "Seperti yang Anda lihat, Komandan, surat-surat ini mengandung informasi sensitif tentang pergerakan kelompok pemberontak. Ada indikasi bahwa mereka berencana melakukan serangan besar-besaran dalam waktu dekat."
Elsa mengangkat alisnya, perhatiannya sepenuhnya teralih ke isi surat. "Bagaimana kau bisa mendapatkan informasi ini, Langit?"
Langit tersenyum tipis, ada kilatan cerdik di matanya yang hampir tak terlihat. "Saya memiliki beberapa kontak yang dapat dipercaya, Komandan. Sebagai orang yang sudah berpengalaman dalam divisi informasi, saya sering berinteraksi dengan berbagai pihak. Terkadang, informasi penting bisa didapat dari percakapan yang tampaknya sepele."
Elsa mengangguk perlahan, masih tidak sepenuhnya yakin. "Lanjutkan."
Semudah itu perhatiannya teralihkan dari yang sebelumnya ingin menyudutkan langit dan kini malah terbawa oleh permainan langit.
"Berdasarkan informasi ini," Langit melanjutkan, "kita perlu segera mengambil tindakan. Saya sarankan untuk meningkatkan keamanan di beberapa titik strategis yang disebutkan dalam surat ini. Selain itu, kita mungkin perlu mengirim tim pengintai untuk memverifikasi informasi ini."
Elsa mendengarkan dengan seksama, pikirannya berpacu memikirkan implikasi dari informasi ini. Sementara itu, Langit diam-diam merasa lega. Rencananya untuk mengalihkan perhatian Elsa tampaknya berhasil.
Dalam hati, Langit merasa sedikit bersalah karena harus menyembunyikan kebenaran. Namun, dia tahu bahwa ini adalah pilihan terbaik. Selama bertahun-tahun, dia telah berjuang keras untuk mendapatkan kehidupan yang tenang dan damai ini. Menjadi seorang yang bekerja pada divisi informasi mungkin tampak sederhana bagi orang lain, tapi bagi Langit, ini adalah kesempatan untuk menjalani hidup normal yang selalu dia impikan.
Langit masih ingat dengan jelas masa-masa sulit yang dia lalui sebagai agen rahasia. Hari-hari penuh bahaya, misi-misi yang mempertaruhkan nyawa, dan beban tanggung jawab yang hampir tak tertahankan. Dia telah melihat dan melakukan hal-hal yang tidak ingin dia ingat lagi. Ketika akhirnya dia mendapat kesempatan untuk "pensiun" dan menjalani hidup normal, Langit tidak ragu-ragu untuk mengambilnya.
Namun, meskipun dia telah meninggalkan dunia intelijen, instingnya tetap tajam. Kemampuannya dalam menganalisis situasi dan bertindak cepat dalam keadaan darurat tidak pernah hilang. Itulah yang terjadi malam sebelumnya, ketika dia berhasil melumpuhkan para penyusup tanpa meninggalkan jejak.
Kembali ke situasi saat ini, Langit melihat Elsa masih tenggelam dalam pikirannya, mencerna informasi yang baru saja dia terima. Ini adalah kesempatan bagi Langit untuk semakin mengukuhkan perannya sebagai divisi informasi biasa.
"Komandan," ujar Langit dengan nada ragu-ragu yang diperhitungkan, "saya minta maaf jika saya terkesan lancang dengan membawa informasi ini langsung kepada Anda. Saya hanya merasa ini terlalu penting untuk diabaikan." Langit tersenyum puas karena kali ini ia dapat lolos dari kecurigaan Elsa.
Elsa mengangkat pandangannya dari surat, menatap Langit dengan tatapan yang sulit dibaca. "Tidak, kau melakukan hal yang benar, Langit. Informasi ini sangat berharga." Berkali - kali Elsa memeriksa informasi tersebut seakan menemukan titik terang akan sesuatu.
Langit mengangguk, pura-pura lega. "Saya senang bisa membantu, Komandan. Apakah ada yang bisa saya lakukan lagi?"
Elsa terdiam sejenak, seolah-olah sedang menimbang sesuatu. Akhirnya, dia berkata, "Ya, ada. Aku ingin kau tetap waspada dan laporkan padaku jika ada informasi lain yang kau dapatkan. Tapi ingat, Langit, jangan mengambil risiko yang tidak perlu. Tugasmu adalah sebagai divisi informasi, bukan mata-mata."
Langit mengangguk patuh, menyembunyikan senyum kecil yang hampir muncul di bibirnya. "Saya mengerti, Komandan. Saya akan melakukan yang terbaik dalam kapasitas saya sebagai divisi informasi."
Elsa mengangguk, tampak puas. "Baiklah, kau boleh pergi sekarang. Aku perlu memikirkan langkah selanjutnya berdasarkan informasi ini."
Langit memberi hormat dan berbalik untuk meninggalkan ruangan. Namun, sebelum dia mencapai pintu, Elsa memanggilnya lagi.
"Oh, dan Langit?"
Langit berhenti, jantungnya berdegup kencang. Apakah Elsa masih curiga? Apakah rencananya gagal?
"Ya, Komandan?" tanya Langit, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
Elsa menatapnya dengan tatapan yang tajam. "Terima kasih atas kerja kerasmu. Tapi ingat, di unit ini, kita bekerja sebagai tim. Jangan pernah ragu untuk meminta bantuan jika kau membutuhkannya."
Langit mengangguk, merasa lega sekaligus sedikit bersalah. "Terima kasih, Komandan. Saya akan mengingatnya."
Dengan itu, Langit keluar dari ruangan Elsa, menutup pintu di belakangnya. Dia berjalan menyusuri koridor dengan langkah ringan, namun pikirannya dipenuhi berbagai pemikiran.
Dia tahu bahwa dia telah berhasil mengalihkan perhatian Elsa untuk saat ini. Namun, Langit juga sadar bahwa dia harus lebih berhati-hati di masa depan. Elsa bukanlah orang yang mudah ditipu, dan cepat atau lambat, dia mungkin akan mulai menyadari bahwa ada yang tidak beres.
Langit menghela nafas panjang. Dia telah memilih jalan ini, dan dia bertekad untuk menjalaninya sampai akhir. Kehidupan damai yang dia nikmati sekarang adalah sesuatu yang tidak akan dia lepaskan dengan mudah. Meskipun itu berarti dia harus terus menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya, Langit merasa itu adalah harga yang pantas dibayar.
Saat dia melanjutkan tugasnya hari itu, Langit berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati. Dia akan terus menjalankan perannya sebagai divisi informasi yang sederhana dan sedikit kikuk, sambil diam-diam menggunakan kemampuannya untuk melindungi unit ini dan orang-orang di dalamnya.
Karena bagi Langit, inilah cara terbaik untuk menebus masa lalunya dan menemukan kedamaian yang selama ini dia cari.
Sinar matahari pagi menembus jendela-jendela tinggi gym markas, menciptakan pola-pola cahaya yang menari di lantai. Suara denting besi dan deru napas terengah memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma keringat yang khas. Di sudut ruangan, Abel Andreas berdiri di depan rak barbel, matanya menyipit memandangi deretan beban yang berkilau tertimpa cahaya.
"Oke, hari ini kita naikkan levelnya sedikit," gumam Abel pada dirinya sendiri, tangannya meraih barbel yang lebih berat dari biasanya. Dia menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan diri.
Dengan satu gerakan cepat, Abel mengangkat barbel itu. Otot-ototnya menegang, urat-urat di lehernya menonjol. Namun, baru setengah jalan, tangannya mulai gemetar. Keringat mengucur deras di dahinya.
"Sial... ini lebih berat dari yang kukira," desis Abel di antara napasnya yang terputus-putus. Dia berusaha keras untuk mengangkat barbel itu lebih tinggi, tapi lengannya seolah menolak perintah otaknya.
Tepat saat Abel merasa akan menjatuhkan barbel itu, sebuah tangan muncul di sampingnya, mengambil alih beban tersebut dengan mudah. Abel menoleh, terkejut melihat Langit Anggara berdiri di sana, mengangkat barbel itu dengan satu tangan seolah-olah itu hanya sebatang ranting ringan.
"Whoa, Langit! Dari mana kau muncul?" seru Abel, matanya melebar melihat ketenangan Langit saat mengangkat barbel yang baru saja membuatnya kewalahan.