Suara Ledakan

1159 Words
Langit tersenyum kecil, namun ia langsung tersadar telah melakukan sesuatu yang berlebihan karena respon terkejut yang tidak biasa dari Abel lalu ia langsung mengulurkan tangan lain dan bertingkat seakan kesusahan kemudian menurunkan barbel itu kembali ke rak dengan gerakan kesulitan. "Aku baru saja selesai lari pagi. Melihatmu kesulitan, jadi kupikir mungkin kau butuh bantuan." Abel menggelengkan kepalanya, takjub. "Bantuan? Kau mengangkat benda itu seolah-olah itu hanya mainan! Padahal itu barbel terberat di sini. Bagaimana bisa?" Langit terdiam sejenak, seolah baru menyadari sesuatu. Dia melirik barbel itu, lalu kembali ke Abel. "Oh, benarkah? Aku... aku tidak sadar. Mungkin karena adrenalin?" Abel tertawa, menepuk bahu Langit. "Adrenalin? Ayolah, kawan. Kau tidak bisa berpura - pura didepanku. Latihan khusus? Kau pikir otot - otot ini bisa terbentuk begitu saja hanya dengan bekerja dibelakang meja? Langit tertawa canggung, menggaruk belakang kepalanya. "Ah, tidak, tidak. Aku hanya... beruntung, kurasa. Mungkin karena posisi mengangkatku yang tepat?" Langit kembali menyadari betapa jauh perbedaan kekuatannya dengan orang - orang disitu. Bahkan kata hat- hati masih kurang untuk menutupi kemampuannya. "Posisi mengangkat? Dengan satu tangan?" Abel mengangkat alisnya, jelas tidak percaya. "Kau tahu, Langit, sejak kau bergabung dengan unit ini, aku selalu merasa ada sesuatu yang berbeda denganmu. Kau bukan sekadar divisi informasi biasa, kan?" Langit merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Dia berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang, meski pikirannya berpacu mencari jawaban yang tepat. "Aku... well, aku hanya berusaha melakukan yang terbaik dalam pekerjaanku, Abel. Sama seperti kita semua di sini." Abel mengangguk perlahan, matanya masih menatap Langit dengan penuh rasa ingin tahu. "Ya, tentu. Tapi kau tahu, kadang-kadang aku melihatmu melakukan hal-hal kecil yang... tidak biasa. Seperti tadi. Atau saat kau berhasil menyelesaikan laporan-laporan rumit dalam waktu singkat. Atau bagaimana kau selalu tahu saat ada yang tidak beres bahkan sebelum orang lain menyadarinya." Langit merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Dia tahu Abel bukan orang bodoh. Pria itu mungkin suka bercanda, tapi instingnya tajam. "Abel, aku—" Namun sebelum Langit bisa menyelesaikan kalimatnya, suara alarm yang memekakkan telinga tiba-tiba memenuhi ruangan. Lampu-lampu merah berkedip-kedip, menandakan situasi darurat. “Teeet!” Suara itu terderang berulang - ulang menandakan telah terjadi sesuatu. "Apa-apaan ini?" seru Abel, refleks bergerak ke arah pintu. Seketika Langit tenang karena hampir saja ia kehabisan akal untuk berdalih dari keadaan tersebut. Melihat Abel yang langsung mengambil posisi siaga menandakan kalau peringatan tersebut merupakan sesuatu yang tidak biasa. Langit merasakan sensasi dingin menjalar di tulang belakangnya. Firasat buruk yang sudah familiar baginya kembali muncul. "Ini bukan latihan," gumamnya pelan. Naluri seseorang yang terbiasa hidup di medan perang sungguh tidak bisa diremehkan. Walau sudah bertekad meninggalkan masa lalunya, tapi apa yang sudah terukir di dalam dirinya tidak akan bisa dihilangkan walau sudah berusaha menyangkalnya berkali - kali. Abel menoleh ke arahnya. "Apa?" "Ini bukan latihan, Abel," ulang Langit, kali ini dengan suara yang lebih tegas. "Sesuatu sedang terjadi. Sesuatu yang buruk." Bagi Langit kata buruk melampaui akal manusia biasa karena ia telah melewati banyak bahaya dalam hidupnya. Tepat saat itu, suara Elsa Solana terdengar dari pengeras suara. "Perhatian seluruh personel! Kita berada dalam situasi Code Red. Semua unit harap berkumpul di ruang briefing dalam lima menit. Ini bukan latihan. Sekali lagi, ini bukan latihan!" Suara sang pemimpin terdengar agak terbata - bata. Abel dan Langit bertukar pandang. Tanpa kata-kata, keduanya bergegas keluar dari gym, bergabung dengan arus prajurit lain yang mulai memenuhi koridor. Saat mereka berlari, Langit merasakan pikirannya berpacu. Apa yang sedang terjadi? Apakah ini ada hubungannya dengan informasi yang dia berikan pada Elsa beberapa hari lalu? Atau mungkin ada ancaman baru yang tidak terduga? Berbagai informasi yang ia pelajari berkaitan semua kasus yang belum selesai terlintas silih berganti dalam pikirannya. Ia bahkan telah membuat berbagai skenario dan pencegahan yang tepat untuk setiap kemungkinan yang terjadi. Naluri pasukan elite membuatnya merespon keadaan di sekitarnya seperti komputer secara otomatis. Nafasnya yang tadi cepat kini perlahan menjadi pelan karena ia harus memproses semua informasi dengan tenang walau dalam keadaan sedang bergerak cepat. Mereka tiba di ruang briefing dalam waktu singkat. Ruangan itu sudah dipenuhi oleh anggota unit lainnya, semua dengan wajah tegang dan siaga. Elsa berdiri di depan, wajahnya serius dan penuh konsentrasi. "Baiklah, semuanya dengarkan," Elsa memulai begitu ruangan penuh. "Kita baru saja menerima informasi bahwa kelompok pemberontak yang kita hadapi beberapa waktu lalu telah melancarkan serangan besar-besaran di beberapa titik strategis kota." Gumaman kaget memenuhi ruangan. Langit merasakan jantungnya berdegup kencang kembali. Ini persis seperti yang dia takutkan. Langit telah menggunakan penerima signal berteknologi tinggi di telinganya untuk memperbarui informasi yang beredar di internet. Kacamata yang digunakannya tidak kalah canggih karena ia dapat mendapatkan visual dari berbagai CCTV di kota hanya dengan sedikit gerakan kepala. “Korban mulai berjatuhan!” Langit menggigit bibir bawahnya menahan sesak karena melihat dengan matanya jatuhnya korban. Elsa terkejut mendapatkan perkembangan informasi terbaru dari Langit yang baru saja datang tersebut. Elsa melanjutkan, "Mereka berhasil menembus pertahanan kota dan saat ini sedang menuju ke arah markas kita. Intel melaporkan bahwa mereka membawa senjata-senjata canggih yang belum pernah kita lihat sebelumnya." Abel, yang berdiri di samping Langit, berbisik, "Bagaimana mungkin mereka bisa mendapatkan senjata seperti itu?" Langit tidak menjawab. Pikirannya dipenuhi oleh ribuan kemungkinan, dan tidak satupun dari mereka berakhir baik. "Kita akan membagi unit menjadi tiga tim," lanjut Elsa. "Tim Alpha akan memimpin pertahanan di gerbang utara. Tim Beta akan mengamankan sistem komunikasi dan data penting. Tim Gamma akan bersiap untuk evakuasi jika diperlukan." Elsa mulai menyebutkan nama-nama untuk setiap tim. Langit mendengar namanya disebut untuk Tim Beta, sementara Abel masuk ke Tim Alpha. "Langit," panggil Elsa tiba-tiba. "Aku ingin kau tetap di dekatku. Kita perlu memastikan semua komunikasi dan informasi tetap aman." Langit mengangguk, meski dalam hati dia tahu bahwa posisi ini akan membuatnya sulit untuk bergerak bebas jika situasi memburuk. Saat briefing berakhir dan semua orang bergegas ke posisi masing-masing, Abel menahan Langit sejenak. "Hei, kawan. Hati-hati di sana, oke? Dan... mungkin nanti kau bisa menunjukkan padaku trik mengangkat barbel itu," tambahnya dengan senyum kecil, berusaha mencairkan suasana tegang. Langit tersenyum tipis. "Kau juga, Abel. Jaga dirimu baik-baik." Saat Abel berlari menuju posisinya, Langit merasakan beban berat di dadanya. Dia tahu bahwa hari ini mungkin akan menjadi hari yang mengubah segalanya. Rahasia yang selama ini dia jaga mungkin tidak akan bertahan lama lagi. Dengan langkah berat, Langit mengikuti Elsa menuju ruang komando. Suara ledakan samar mulai terdengar dari kejauhan, pertanda bahwa pertempuran telah dimulai. Saat mereka memasuki ruangan yang dipenuhi layar dan peralatan canggih, Langit merasakan tatapan tajam Elsa padanya. "Langit," ujar Elsa pelan, suaranya hampir tenggelam di antara deru mesin dan suara-suara panik di sekitar mereka. "Aku harap kau siap untuk menjelaskan banyak hal setelah semua ini berakhir." Langit menelan ludah, mengangguk pelan. Dia tahu, apapun yang terjadi hari ini, kehidupan damainya yang dia jaga selama ini mungkin akan berakhir. Tapi untuk saat ini, ada tugas yang harus dia lakukan. Dengan tekad baru, Langit memfokuskan diri pada layar-layar di hadapannya, bersiap menghadapi badai yang akan datang. “Sekarang aku percaya kalau manusia tidak bisa lari dari takdirnya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD