bc

(Bukan) Gadis Buta Milik Tuan Mafia

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
HE
badboy
mafia
gangster
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
serious
brilliant
substitute
like
intro-logo
Blurb

Setelah berduka lama karena kakak kembarnya meninggal, Lila harus merelakan dirinya menggantikan sang kakak menikah dengan seorang CEO dari perusahaan teknologi digital ternama. CEO itu adalah kekasih rahasia sang kakak yang pernah berjanji akan melamarnya begitu bisnisnya berhasil. Lila, demi kelangsungan hidup keluarganya pun berpura pura buta dan menggunakan identitas sang kakak untuk membohongi dan mendapatkan bantuan keuangan bagi keluarganya. Tanpa ia tahu, bahwa yang ia nikahi bukanlah sembarang bos besar sebuah perusahaan raksasa tapi seorang mafia yang menggentarkan dunia di balik bayangan. Lelaki itu, Edgar Damien Lewis, tidak pernah benar benar mencintai kekasih butanya. Ia hanya menikah atas dorongan keluarga besar dan demi kelangsungan bisnisnya ia memilih wanita buta tak berdaya yang bisa ia bohongi seumur hidup. Damien tidak punya hati yang lembut untuk mencintai dengan tulus, ia hanya membutuhkan pendamping yang bergantung dan tidak akan mengkhianatinya. Lila yang dari balik kacamata hitam dan softlens putihnya setiap hari sering melihat darah dan mayat di rumah besar itu, mulai merasa bahwa ia terjebak dalam urusan yang pelik. Hidup bersama dengan mafia yang tangannya berlumuran darah manusia, apakah Lila sanggup mempertahankan identitas sang kakak untuk hidup dengan pembunuh?

chap-preview
Free preview
1. Kubangan lumpur kehidupan
"Sakit... sakit... tolong pelan pelan... sakit sekali ukh..." "Berteriaklah, aku suka wanita yang bersemangat." Tak peduli pada tubuh kejang dan gemetar pasangan s*xnya, lelaki dengan tubuh sebesar gapura itu terus menghantam tanpa jeda. Meskipun semakin lama rasa sakit akan berubah menjadi rasa nikmat yang penuh dosa. Semakin tinggi bulan bersinar, erangan dan geraman menjelma menjadi des*han tak terkendali. "Kau menyukainya, sayang?" Perempuan itu mengangguk lemah. Tubuhnya sudah lelah kehilangan daya. Pengalaman pertamanya tidur dengan seseorang sangat tidak manusiawi, ia digarap dengan begitu kasarnya. "Sakit..." gumam sang wanita bahkan tak mampu menggerakkan pinggangnya lagi untuk menghindar. Setelah malam panjang yang menyiksa, laki laki itu melemparkan kartu dan uang cash. Wanita itu meraba, menerima bayarannya. "Jaga dirimu. Aku akan menikahimu setelah berhasil membangun bisnis di luar negeri. Layla, asal kau berjanji bisa menjadi istri yang penurut dan membuka kakimu di bawahku, aku akan kembali." "Iya iya... akan kulakukan. Asal kamu membantu keuangan keluargaku, membayar uang sekolah adikku hingga adikku mendapat pekerjaan yang layak." "Layla, kau benar benar gadis buta yang malang." sang lelaki mengulurkan tangan. Layla, gadis buta itu menggosokkan pipinya, menyambut belaian lembut pada wajahnya yang cantik meskipun tanpa sentuhan make up sedikitpun. "Setidaknya aku ingin berguna. Kamu tahu sendiri bagaimana orang tuaku selalu kerepotan karenaku. Aku... aku ingin..." isakan kecil lolos dari mulut mungilnya yang langsung ditutup oleh jempol besar Edgar. Jempol itu masuk, menekan lidahnya. "Kau terlalu sering menangis." Edgar tersenyum penuh gairah mengingat bagaimana raut wajah Lila tadi malam yang memohon untuk berhenti. "Kamu tidak menyukainya?" "Aku hanya suka melihatmu menangis di bawahku, tidak jika itu tentang orang lain." "Aku tidak akan menangis lagi Ed. Maafkan aku. Aku akan menyimpan air mataku untuk menangis saat kita melakukan hubungan saja." "Bagus, gadis pintar." Edgar menarik selimut untuk menutupi tubuh tel*njang Layla. Membantunya berbaring lagi. Dan memberikan kecupan di keningnya. "Tidurlah lagi, beristirahatlah. Kau akan sulit berjalan, jadi aku sudah menugaskan bawahanku untuk menemanimu. Dia seorang wanita yang berpengalaman mengurus kekasih kekasihku yang sebelumnya, jadi kau tidak perlu malu." Layla mengangguk kecil, menutup matanya yang buta. *** Terlahir buta, sakit sakitan, dan divonis hanya bisa hidup kurang dari satu tahun setelah mengidap penyakit liver, Layla Lovita Husein berusaha keras untuk mencari jalan mengubah nasib keluarganya. Di sebuah kesempatan yang telah diatur oleh jalinan takdir yang rumit, ia bertemu dengan Edgar. Lelaki yang terlahir sebagai anak haram seorang CEO ternama, memiliki harta dan ambisi untuk terus naik menuju puncak. Layla tahu bahwa Edgar membutuhkan pasangan yang penurut seperti boneka, ia pun menawarkan tubuh, hati, dan hidupnya pada pria itu untuk ditukarkan dengan uang demi menghidupi keluarganya. Selama ini Layla menyimpan rasa sakitnya seorang diri. Ia punya kembaran yang terlahir normal yang juga sama cantik sepertinya. Mereka sangat mirip bagai pinang dibelah dua. Yang membedakan hanyalah Lila terlahir dengan mata yang bisa melihat. "Ini buat kamu, nanti beli jajan yang enak ya." "Gak mau, gak usah. Aku tidak butuh uang haram hasil menjual diri. Kau berikan saja ke ayah ibu. Aku bisa cari uang sendiri dengan caraku." Lila menolak. Langsung masuk ke rumah setelah berpapasan dengan kembarannya yang berjalan tertatih. Tak peduli meskipun kata katanya menyakitkan. "Lila, kamu kerja apa? Sudah kubilang tidak perlu kerja, kamu fokus sekolah saja." "Bukan urusanmu. Aku juga ogah nerima uang dari pel*cur." Layla menunduk, mengarahkan tongkatnya masuk ke dalam. Di dalam, seorang wanita dengan kulit yang hampir dipenuhi sifilis tidak bisa lagi menggerakkan tubuhnya. Layla mendekat, meraba gelas untuk mengambilkan air minum. "Kamu sudah memberi ibu makan, Lila?" "Tidak, biar saja dia mati. Toh semakin lama hidup ia akan semakin menderita." Layla berdiri, meraba ke depan. Saat tangannya mencapai wajah Lila, Layla menamparnya keras membuat wajah Lila tertoleh. Rasa sakit dan panas merambat, sayangnya saat itu hatinya jauh lebih membara daripada bekas tamparan di pipinya. "Jaga bicaramu Lila! Ini ibu kita! Yang melahirkan kita. Jika tidak ada ibu, kita tidak akan ada di dunia ini." "Ya! aku lebih senang jika itu terjadi. AKU LEBIH SUKA JIKA TIDAK DILAHIRKAN! Kakak buta makanya kakak tidak tahu. Sejak kita sekolah dasar sampai SMP kita dijadikan bahan olokan. Kakak tidak tahu kan rasanya dilempari kotoran dan bungkus makanan? Kakak tidak tahu kan dibilang gelandangan dan bau selokan? Kakak tidak tahu kan kalau aku tidak pernah punya teman dan dikucilkan. Aku selalu... Selalu saja merasa hidup ini tidak adil. SEHARUSNYA AKU TIDAK DILAHIRKAN!" Teriak Lila penuh amarah lantas berlari keluar setelah membanting pintu. Suara petir menyambar disertai tetesan air deras dan angin yang bergemuruh. Langit sepertinya ikut marah dengan apa yang dikatakan Lila di depan kakaknya yang bekerja keras menghasilkan uang. Lila mengusap wajahnya yang basah, menerjang hujan, melewati gang gang sempit yang kotor dan becek, sesekali ia hampir tergelincir karena tanah licin. "Lila.. Lila... Kamu mau kemana..." di belakangnya Layla mengikuti dengan tongkat di tangan. Ia meraba jejak adiknya dengan ujung tongkat, berusaha keras mencari arah kemana adiknya pergi. Lila tidak tahu jika ia diikuti, terus berjalan lurus ke depan tanpa tujuan. Ia hanya ingin lari, pergi dari tempat sesak yang bau oleh penyakit pel*curan. Dari bising bising tetangga sekitar, Lila jelas tahu mengapa ia bisa hidup seperti ini. Ibunya adalah seorang pel*cur, ayahnya adalah kliennya yang rutin datang menyewa. Hanya ayahnya yang memperlakukan sang ibu secara lembut dan seperti kekasihnya sendiri. Ibunya yang ingin keluar dari dunia hitam menggunakan trik untuk menjebak lelaki yang ia cintai. Tanpa pengaman maupun pil, ia membuat dirinya hamil. Ibunya pergi ke rumah besar ayahnya untuk meminta pertanggungjawaban. Ayahnya tidak menolak janin di rahim wanita l*cu itu tetapi ia tidak bisa menikahinya. Akhirnya ibunya diusir hanya dengan uang lima juta untuk biaya persalinan. Lila dan Layla lahir dari hubungan busuk seperti itu. Dari cinta sepihak seorang pel*cur. Lila terus berjalan sambil mengenang masa lalu sampai ia tak sadar bahwa langkahnya terbawa hingga ke tengah jalan. Suara hujan deras menyamarkan klakson mobil yang melaju dengan kecepatan melebihi standar. *Tiiinn! tiinn! tiiinn! Tiba tiba saja Lila melihat mobil itu berjarak kurang dari 5 meter darinya. Kakinya yang seharusnya membawanya menghindar malah terpaku seperti ada rantai yang menahannya di sana. Lila menatap pasrah. Ia berfikir mungkin ini salahnya yang bilang lebih baik ia tidak lahir. Mungkin Tuhan mengabulkan keinginannya untuk mati saat ini juga. "LILA!" Sepersekian detik, saat Lila sudah menutup mata, ikhlas akan takdir yang sudah ada di depannya, sebuah tangan mendorongnya keluar dari titik kematian. Tongkat besi terlempar, disertai dengan tubuh yang mental sejauh lima meter. Seseorang... yang ia benci, yang sering ia maki, yang bahkan ia labeli sebagai 'lac*r' menggantikan tempatnya menerima takdir yang menyakitkan. "KAKAK!" Lila segera berlari ke arah tubuh sang kakak yang terkulai berlumuran darah di atas aspal keras. Mobil yang menabraknya tidak berhenti, terus menekan gas meninggalkan TKP. "Kakak... kakak... bangun kak... TOLONG! TOLONG... TOLONG KAKAK SAYA..." Suara Lila menjerit keras. Sayangnya hujan lagi lagi menyamarkan suara itu. Di jalanan yang sepi, di sebuah pinggiran desa yang miskin, tak ada yang membantunya hingga sang kakak hampir sekarat kehilangan kesadaran. "Lila... maaf... maafkan aku... Selama ini, aku tidak tahu jika kau menahan rasa sakit seorang diri. Maaf, sebagai kakak aku tidak pernah melindungimu." Lila menggeleng kuat kuat, air matanya mengalir deras. Tangannya berusaha menahan aliran darah dari pinggang Layla yang robek. "Aku yang minta maaf... maaf kak maaf... tolong jangan pergi, kita perbaiki hubungan kita..." Layla menggeleng. Sebagai orang yang mengerti akan tubuhnya sendiri, ia tahu bahwa meskipun jiwanya masih bertahan, tubuhnya sudah hampir menyerah. "Gantikan aku... menikahlah... pura pura lah jadi aku... dia sungguh bisa menjadi penolong kita, Lila... keluarlah dari kubangan lumpur ini..." Kubangan lumpur... Selama ini bukan hanya Lila yang menderita. Saat nafas kakaknya memelan dan matanya sempurna terpejam. Lila meraung, hatinya terasa tercabik, ia tidak menyangka bahwa orang yang ia pikir akan selalu ada bersamanya kini telah pergi meninggalkannya selamanya. Dan ini semua salahnya... seharusnya ia yang mati bukannya Layla yang baik hati ini. "Maaf kak... maaf... maafkan aku..."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook