Bab22

1272 Words

Pagi di Jakarta kembali datang, tapi bagi Alvaro, cahaya matahari tidak membawa kehangatan apa pun. Justru terasa menyilaukan, menyakitkan, seperti sorotan lampu panggung yang menelanjangi semua kesalahannya di depan khalayak. Ia duduk di kursi kerja, dasi belum terikat, kemeja masih terbuka dua kancing. Rambutnya berantakan, mata sembab akibat kurang tidur. Laporan-laporan menumpuk di meja, email darurat dari dewan direksi memenuhi layar laptop, tapi ia hanya bisa menatap kosong. Di sudut ruangan, ponselnya terus bergetar. Notifikasi berita, komentar netizen, pesan dari investor, bahkan beberapa sahabat lama yang dulu dekat kini mendadak "ingin tahu kabar." Semua seakan berlomba menekan d**a Alvaro yang sudah sesak. Satu pesan dari Jona muncul: “Lo harus ketemu gue. Gue punya sesuatu.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD