Pagi kembali menyapa Jakarta, tapi bagi Alvaro, cahaya mentari hanyalah sinar yang terlalu terang, menyingkap luka yang tak ingin ia perlihatkan. Kepalanya berat, semalaman ia hampir tak tidur. Ia memutar ulang rapat dewan di pikirannya—detik ketika rekaman CCTV diputar, tatapan para anggota dewan yang terbelah antara percaya dan curiga, hingga wajah Pak Surya yang tampak gusar. Ada secercah harapan dalam hatinya, tapi juga bayangan ancaman lebih besar. Pagi itu, Alvaro duduk di ruang kerja pribadinya. Kopi hitam di cangkir sudah dingin. Ia hanya menatap kosong. Suara pintu diketuk pelan. Jona masuk dengan wajah cemas. “Lo udah lihat berita pagi ini?” tanya Jona tanpa basa-basi. Alvaro menggeleng. “Apa lagi sekarang?” Jona meletakkan koran di meja. Headline besar terpampang: "CEO A

