Hari keberangkatan tiba. Di bandara, Erika mengenakan coat panjang warna krem, rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja. Dia terlihat bahagia dan lebih hidup dari hari-hari sebelumnya. Sedangkan Alvaro, meski masih membawa bayang-bayang kegagalan semalam, berusaha tampil tenang. Selama penerbangan, Erika banyak bercerita. Tentang kenangan mereka dulu, tentang makanan Jepang yang ingin dia coba, tentang kuil-kuil yang ingin dia datangi. Alvaro hanya mendengarkan. Sesekali tersenyum, tapi lebih sering diam. Erika mencoba memahaminya. Dia pikir, mungkin benar Alvaro sedang stres berat. Mereka tiba di Tokyo menjelang malam. Hotel yang Reno pilih benar-benar mewah. Suite dengan pemandangan menghadap ke Menara Tokyo, dan kolam air panas pribadi. Erika terpukau. “Aku suka tempat ini, Sayang.

