Pagi itu, Erika bangun dengan perasaan jenuh. Udara Tokyo yang segar dan semestinya menenangkan, tak mampu menyejukkan gejolak dalam dadanya. Sudah beberapa hari dia mencoba bersabar, berusaha menyelami batin suaminya yang semakin asing. Tapi batasnya hampir habis. Rasa curiga tumbuh makin subur, menggerogoti logika yang selama ini dia banggakan sebagai wanita cerdas. Dia menatap ke arah jendela kamar hotel yang memperlihatkan lanskap kota. Di balik keindahan itu, hidup rumah tangganya seperti reruntuhan yang ditutup tirai emas. “Tidak bisa begini terus,” gumamnya. Hari ini mereka akan kembali ke Indonesia. Tak ada yang istimewa, liburan mereka kali ini. Rasanya seperti asing. Miliknya suaminya masih saja tertidur. Segala cara sudah dia lakukan, dan hasilnya nihil. "Ayo, Sayang kita ber

