Bab3+++

1323 Words
"Saya minta kamu datang ke Apartemen saya sekarang! Saya sudah menunggu kamu di sini. Mulai hari ini, kamu tinggal di sini! Kamu tak perlu membawa pakaian dan barang-barangmu dari rumah. Semua sudah disiapkan di sini." Aurora tercengang mendengar penuturan bosnya itu di sambungan telepon. Dia memang sudah tahu hal itu akan terjadi. Namun, dia tak menyangka akan secepat itu. Bagaimana dia menjelaskannya pada sang ibu? Padahal, dia masih ingin bersama ibunya. "Kamu kenapa, Ra?" tanya sang ibu, yang melihat perubahan ekspresi wajah anaknya. "Ah, enggak, Bu. A-anu." Aurora menggigit bibir bawahnya. Dia tampak bingung, apa yang harus dia katakan. "Kalau kamu harus bekerja, bekerja saja, Ra. Nanti, kalau ibu membutuhkan sesuatu. Ibu bisa minta bantuan perawat," ucap sang ibu. "Tapi, Bu. Ibu baru saja sadar dari koma. Ibu tak mungkin melakukan semuanya sendiri. Bagaimana kalau perawat datangnya lama? Aku gak akan tenang meninggalkan ibu," sahut Aurora lirih. Sungguh, diantara dua pilihan yang sulit. Dia tak tega meninggalkan ibunya sendiri. Namun, dirinya harus sadar. Alvaro sudah memberikan dia uang satu milyar. "Pergilah, Nak! Jangan sampai kamu kehilangan pekerjaan, gara-gara ibu. Ibu sadar, pastinya bukan nominal yang kecil untuk membayar pengobatan ibu. Siapa orang yang sudah baik menolongmu? Apa itu uang pinjaman dari kantor?" Dia mengiyakan, kalau uang itu pinjaman dari kantor tempat dia bekerja. Setiap bulan, gajinya akan dipotong untuk membayarnya. Aurora tak mungkin mengatakan yang sejujurnya. Ibunya bisa shock, jika tahu dirinya harus membayar pakai tubuhnya. "Masalahnya, Rara akan pergi ke luar kota. Entah berapa lama. Tuan Alvaro banyak pekerjaan di luar kota. Rara harus mendampingi dia terus," katanya pada sang ibu. "Maafkan Rara, Bu. Rara akan meminta bantuan Bu Ratih, untuk menjaga ibu selama Rara tak ada," ucap Aurora lagi. "Kamu tak perlu meminta maaf, karena kamu tak salah. Justru ibu yang meminta maaf, selalu merepotkan kamu," ujar Riana. "Rara anak ibu. Hanya ibu yang Rara miliki di dunia ini. Sudah sepantasnya Rara melakukan ini pada ibu." Ponsel Aurora berdering. Alvaro menghubungi dia. "Huhft, gak sabaran banget sih jadi orang. Aku jadi terjerat padanya," gerutu Aurora dalam hati. "Reno sudah di lobby. Cepat kamu keluar!" Pesan masuk dari Alvaro. Tak ada pilihan lagi. Dia tak ingin Alvaro sangat marah padanya. Aurora langsung menghubungi Bu Ratih, untuk membantunya menjaga ibunya selama dia tak ada. "Bu, maaf. Rara harus pergi sekarang. Asisten Tuan Alvaro sudah menunggu Rara di Lobby. Rara mau langsung pergi ke luar kota. Bu Ratih akan segera datang. Jaga diri ibu baik-baik ya! Jangan lakukan apapun sendiri, kalau ibu menginginkan sesuatu! Jika ada hal penting, segera ibu hubungi Rara. Rara sayang ibu," ucap Rara. Dia juga tampak memeluk sang ibu, dan memberikan kecupan di pipi sang ibu. Dengan berat hati dia meninggalkan sang ibu, dan berjalan menghampiri Reno yang sudah menunggunya. Tak ada perbincangan antara Reno dengan Aurora selama dalam perjalanan. Aurora akui, dia merasa gugup. Mereka sudah sampai di Apartemen. Aurora berjalan mengekor Reno dari belakang. Dia merasa canggung, karena dia memang bukan wanita panggilan. Aurora yakin, kalau Reno sudah mengetahui perjanjian antara Alvaro dengan dirinya. Ruangan terasa dingin. Terlebih tatapan Alvaro begitu menakutkan. Jantung Aurora berdegup begitu kencang. "Ya Tuhan, rasanya aku ingin meninggalkan tempat ini." "Kamu bisa pergi dari sini! Tinggalkan saya berdua dengannya!" titah Alvaro pada Reno. Kini hanya ada mereka berdua. Aurora memilih menundukkan kepalanya. Jantungnya seakan terhenti seketika, saat tangan Alvaro mengangkat wajahnya. Membuat netra mereka kini bertemu. "Mengapa kamu datang lama sekali? Berani sekali kamu membuat saya menunggu," ucap Alvaro dingin. "Maafkan saya, Tuan. Saya bingung memberikan alasan seperti apa ke ibu saya. Terlebih ibu saya baru saja sadar, paska operasi." Tawa Alvaro menggelegar begitu menakutkan. Aurora merasa ketakutan. Dia memang perempuan hina. "Kamu harus sadar, siapa dirimu. Kamu hanya seorang jal*ang. Dan untuk itu, bukan urusan saya! Lain kali, jangan lakukan itu lagi! Apa kamu mengerti?" Alvaro mencengkram rahang Aurora kuat, membuat Aurora sedikit meringis kesakitan. Bosnya begitu kejam padanya. Namun, dia berusaha menahan untuk tidak menangis. Dia hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan Alvaro. "Ya sudah, kamu bersihkan tubuhmu sekarang! Saya suka wanita wangi dan bersih. Mulai hari ini kamu tinggal di Apartemen ini. Jangan pernah berniat kabur dari saya! Pakaian, tas, sepatu, dan kosmetik di dalam sana semua milik kamu." Dia tampak meneteskan air matanya, saat di dalam kamar mandi. "Tubuh ini sebentar lagi akan kotor. Aku pun bukan seorang perawan lagi. Maafkan aku." "Buka pintu!" Suara barito Alvaro begitu menakutkan, ditambah gedoran pintu kamar mandi itu begitu keras. Dengan cepat dia menutupi tubuhnya dengan handuk, dan membuka pintu kamar mandi itu. Alvaro langsung mendorong tubuh Aurora masuk. "Lepaskan handuk itu!" Tangan Aurora sampai bergetar membukanya. Tak ada sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Tubuh Aurora begitu indah. Tak kalah dengan tubuh istrinya yang seorang model. Dan bahkan lebih indah dari Erika. Karena tubuh Aurora memang belum pernah terjamah. "Aarrgghh!" Aurora mendesah, saat tangan Alvaro meremas bukti kembarnya. Tanpa basa-basi terlebih dahulu, Alvaro langsung menyerang bibirnya. Ciuman itu masih sangat kaku. Meskipun, Aurora sudah berusaha mengimbanginya. Ingin rasanya dia menangis, saat tangan kekar Alvaro menjamah tubuhnya secara perlahan. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. Semakin lama ciuman Alvaro semakin b*******h. "Bersihkan sabun kamu, dan kita lanjutkan di ranjang!" Ucap Alvaro sembari mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Alvaro sudah membaringkan tubuhnya di ranjang, dan dia memperhatikan Aurora yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Cepat ke sini! Mengapa kamu diam seperti patung? Lepas bathrobe kamu!" Aurora menelan salivanya saat melihat milik Alvaro sudah berdiri tegak. Ini pertama kalinya dia melihat milik laki-laki, dan ukurannya sangat besar. Bulu kuduknya menjadi merinding. Membayangkan miliknya akan robek. "Ayolah, Baby. Saya sudah tak tahan." Ucapan Alvaro menjadi lembut. Namun, terdengar berat. Dia sudah sangat b*******h. Seketika lupa dengan istrinya. Dengan terpaksa Aurora merangkak naik. Dia merasa malu pada dirinya sendiri, yang kini menjadi seorang p*****r. Alvaro sudah tak tahan, dia langsung mengungkung tubuh mungil Aurora. Ciuman terhenti, lidah Alvaro kini bermain di leher jenjang Aurora. Dia banyak memberikan stempel merah di sana. Aurora menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan agar tak mendesah. "Tak perlu ditahan! Kamu pun boleh menikmati. Mulai hari ini kamu harus mulai ketagihan bercinta dengan saya." Rasanya sangat nikmat. Aurora tak bisa menahan desahannya lagi. Dia pun sampai lupa, kalau dia saat ini sedang bercinta dengan suami orang. Tangan Alvaro perlahan menyusuri tubuh Aurora sampai akhirnya di titik milik Aurora. "Ternyata, kamu menikmatinya juga. Milikmu sudah basah," ucap Alvaro tersenyum smirk. Sontak wajah Aurora menjadi memerah. Alvaro senang. Sesuai dugaannya. Ini pengalaman pertama bagi Aurora. Keberuntungan baginya. "Tuan, saya mohon lakukan pelan-pelan!" Pinta Aurora dengan wajah memohon. Namun, Alvaro tak menjawabnya. Dia tahu, apa yang harus dia lakukan. "Tu--tuan, Anda mau apa?" tanya Aurora gugup. Dia melihat Alvaro sudah berada di bawah sana. Aurora dibuat menjerit oleh Alvaro. Dia memang ingin membuat kesan yang indah, saat pertama kali mereka melakukannya. Ada rasa sakit, saat jari Alvaro masuk. Namun, lidah Alvaro begitu nikmat. "Tuan, hentikan! Saya mau buang air kecil," ucap Aurora dengan nafas terengah-engah. Bukannya menjauh, Alvaro justru semakin bersemangat. Hingga akhirnya Aurora tak tahan lagi. Dia pun akhirnya mendapatkan pelepasan. Dengan cepat Alvaro mengarahkan miliknya. Aurora yang tak ada persiapan dan belum pernah melakukan, menjadi tersedak. Namun, Alvaro tak mempedulikannya. Dia masih terus memaju mundurkan miliknya di mulut Aurora. Sampai akhirnya dia merasa tak tahan lagi. Dia langsung menghentikannya, dan melebarkan kedua pangkal paha Aurora, dan mengusap miliknya di milik Aurora. Alvaro mencium bibir Aurora, dan memasukkan secara perlahan. Namun, dia merasa kesulitan. Hingga dia harus menghentikan ciumannya. Belum masuk saja, Aurora tampak meringis, dan begitu tegang. "Rileks! Saya jadi kesulitan. Sakitnya hanya pertama saja. Perlahan kamu akan menikmatinya!" Aurora mencoba mengikuti ucapan Alvaro. Dia berusaha rileks, meskipun jantungnya masih berpacu cepat. Dia pun akhirnya menjerit, dan meremas kain sprei saat benda tumpul panjang milik Alvaro berhasil masuk. Untuk menetralkan, Alvaro mencium bibir Aurora, dan menggerakkan secara perlahan. Perlahan Aurora mulai menikmatinya. Alvaro menambah tempo permainannya. "s**t, nikmat sekali! Bahkan lebih nikmat saat bercinta dengan Erika." Tanpa sadar di mulai membandingkan. Dan sepertinya dia akan kecanduan tubuh sekretarisnya itu. Mungkinkah, dia akan berpaling dari sang istri?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD