Bab4

1030 Words
Aurora membuka matanya. Namun, kesulitan untuk bergerak. Tangan kekar Alvaro melingkar di tubuhnya. Sejenak dia menatap lekat wajah tampan bosnya. Tak pernah terpikir olehnya, akan membuat skandal dengan bosnya. Deheman Alvaro menyadarkan lamunan Aurora. Hal itu membuat Aurora malu. Wajahnya langsung memerah. Ekspresi wajah Alvaro terlihat dingin padanya. Seperti tak terjadi apa-apa di antara mereka. Ponsel Alvaro berdering. Dia ambil ponsel itu di atas nakas. Erika yang menghubunginya. "Erika menghubungi saya. Jangan bersuara! Saya tak ingin dia curiga," ucap Alvaro pada Aurora. Aurora menganggukkan kepalanya. Dia menyadari siapa dirinya. Dia berusaha untuk tidak sakit hati. Alvaro melirik ke arah Aurora yang meringis merasa kesakitan, dan dia juga sempat melihat bercak darah di ranjang mereka tidur. Tanpa sadar, dia tersenyum. Aurora berjalan tertatih menuju kamar mandi, dia tutupi tubuhnya dengan selimut. Di dalam sana, dia tampak menangis di bawah guyuran air shower. Dia merasa malu pada dirinya sendiri, saat melihat tubuhnya yang di penuhi stempel merah karena ulah Alvaro. "Maafkan Aurora, Bu. Tubuh Aurora sudah kotor. Aurora juga sudah memberikan sesuatu yang paling berharga di diri Aurora. Aku sudah tak perawan. Tuan Alvaro sudah mengambilnya, karena aku membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ibu. Semoga ibu mau memaafkan kesalahan aku. Jika suatu hari nanti ibu mengetahuinya." Air matanya mulai membasahi wajahnya, saat dia mencoba menghapus tanda merah di tubuhnya. Tubuhnya sampai terluka, karena kuku-kukunya yang menancap. Sekuat apa pun dia berusaha menghilangkannya, hasilnya gagal. Setelah melakukan panggilan telepon dari istrinya, Alvaro menghampiri Aurora di kamar mandi. Dia ingin mengulangi apa yang terjadi tadi. Miliknya sudah bereaksi. Sepertinya, dia sudah mulai kecanduan. "Tuan, milik saya masih terasa perih," rintih Aurora. Namun, Alvaro tak mempedulikannya. Dia tetap ingin mencari kepuasan. "Aarrgghh!" Aurora merasa kesakitan, saat milik Alvaro membenam dengan sempurna, tanpa pemanasan terlebih dahulu. Lambat laun, rasa sakit itu menghilang, dan berganti dengan rasa nikmat. Alvaro pun perlahan melakukan dengan kelembutan. Padahal, baru beberapa menit yang lalu dia mengungkap rasa cinta dan rindunya pada sang istri. Lagi-lagi dia menyemburkan benih di rahim Aurora. Padahal, Aurora sempat memintanya memakai pengaman. Dirinya belum merasa siap, jika dirinya hamil dalam waktu dekat ini. Namun, Alvaro menolaknya. Baginya, memakai pengaman rasanya tak enak. "Bersiaplah! Setelah ini kita makan malam di luar," ucap Alvaro sembari membersihkan miliknya. Aurora hanya menganggukkan kepalanya patuh. Tatapan penuh arti. Sejak tadi Alvaro terlihat menatap Aurora yang sedang merias wajahnya. Entah apa yang dia pikirkan. Aurora merasa malu, ditatap seperti itu oleh bosnya. Malam itu Aurora terlihat cantik dan anggun. Dia seperti wanita berkelas, memakai barang-barang branded. Jika seperti itu, dia pantas bersanding dengan Alvaro. "Kita seperti bos dan sekretaris saja, saat di luar nanti!" Ujarnya dan lagi-lagi Aurora hanya menganggukkan kepalanya. Tak ada kemesraan yang dilakukan Alvaro. Mereka hanya berjalan berdampingan, dan duduk berhadapan. Alvaro memesan aneka macam makanan di restoran itu. Aurora sempat dibuat bingung. Mengapa bosnya itu memesan makanan begitu banyak. Apa dia mengundang orang lain, untuk makan dengan mereka. "Semua ini saya lakukan, agar kamu kuat melayani saya di ranjang! Sesampainya nanti, saya minta kamu layani saya!" Kata Alvaro. Sejujurnya, Aurora tak ingin memiliki skandal dengan bosnya. Dia tak ingin menyakiti perasaan sesama perempuan, karena dicap sebagai seorang pelakor. Apapun alasannya, dia tetap saja salah. "Nikmati hidupmu! Meskipun sebenarnya harga diri kamu serasa diinjak-injak. Paling tidak, kamu pernah merasakan menjadi orang kaya, yang bisa menikmati kemewahan," kata Aurora dalam hati, menguatkannya. Mereka makan bersama. Namun, tak ada perbincangan antara mereka berdua. Aurora memilih fokus pada makanannya. Itupun dia lakukan untuk menutupi perasaan gugupnya, duduk berhadapan dengan bos arogannya itu. Tatapan yang begitu mencengkam. Aurora berharap, istri bosnya itu segera kembali. Setelah makan malam, mereka kembali lagi ke apartemen. Tubuh Aurora terasa remuk. Ingin rasanya dia langsung tidur. Tiba-tiba saja dia teringat pada ibunya. Dia pun meminta izin pada Alvaro, untuk menghubungi orang yang menjaga sang ibu. Alvaro tampak memperhatikan, dan mendengar percakapan Aurora dengan Bu Ratih. Namun, tak sedikitpun rasa iba di hatinya. Aurora sudah dia beli untuk dijadikan simpanan olehnya. "Bi, Rara titip ibu ya! Kalau ada apa-apa, tolong kabari Rara secepatnya," ucap Aurora pada Bu Ratih. Sekarang, dia memang tak kekurangan uang. Dia bisa melakukan apa saja dengan uang itu. Namun, kebebasannya sekarang terampas. Dia pun harus menjadi seorang jalang. Alvaro sudah membaringkan tubuhnya di ranjang. Tubuhnya sudah dalam keadaan polos. Terlihat dia sedang memainkan miliknya. "Hyper sekali. Apa tak merasa bosan," gerutu Aurora dalam hati. Padahal, dia sudah menghayal akan langsung tidur. Tubuhnya benar-benar lelah, dan matanya sudah sangat mengantuk. Alvaro seakan menyiksanya. Dia jadi berpikir, apa Alvaro seperti ini juga dengan istrinya. "Ayo, cepat layani saya! Saya ingin kamu seperti w*************a," kata Alvaro. Tak ada pilihan lagi. Dia tak bisa menolak. Alvaro akan marah padanya. Lebih baik cepat dia layani. Agar dia bisa beristirahat. "Aarrgghh! Tuan, saya mohon pelan-pelan! Jangan terlalu keras. Sakit." Aurora berkata. Dia merasa kesakitan, karena Alvaro meremas bukit kembarnya begitu kuat. Aurora pun dibuat menjerit. Saat dua jari milik Alvaro mengobrak-abrik miliknya. Rasanya begitu perih. Dia sampai meneteskan air matanya. Memohon Alvaro mau menghentikannya. Alvaro seperti orang yang memiliki kelainan seks. Tidak cukup hanya sampai di situ, Alvaro tak merasa puas. Dia meminta Aurora merubah posisi. Membelakangi dirinya. Dirinya memasukkan miliknya tanpa ampun. Sesekali dia juga memberikan tamparan di bokongnya. Ponselnya berdering. Namun, dia memilih mengabaikan. Tak ingin kesenangannya terusik. Di sana, Erika tampak kesal. Karena Alvaro seakan mengabaikan dirinya. Padahal, dia sudah melakukan panggilan telepon sebanyak tiga kali. "Sial! Ke mana sih ini orang?" gerutu Erika. Dia merasa malu, karena saat ini Erika sedang berada di toko tas. Dirinya hendak meminta uang pada Alvaro. "Awas saja kalau kamu berani selingkuh di belakangku," ucap Erika. "Sayang, belum selesai? Alvaro belum mengirimkan uang?" Ucap seorang laki-laki. Ya, dia Xavier. Ternyata, Erika masih menjalani hubungan dengan Xavier di belakang Alvaro. Erika memang bukan pergi untuk urusan pekerjaan. Dia hendak berlibur bersama Xavier. Dia hanya dimanfaatkan oleh Xavier. Bodoh sekali dirinya. Padahal Alvaro sangat mencintai dirinya. Namun, dia masih saja terjebak perasaannya dengan laki-laki yang sempat menjadi mantan kekasihnya. "Belum. Sejak tadi ponselnya tak bisa dihubungi. Tak biasanya dia melakukan ini padaku," sahut Erika. "Apa dia sedang bersama wanita lain? Sedang asyik bercinta," ucap Xavier. "Itu tidak mungkin. Alvaro sangat mencintaiku. Dia tak mungkin tergoda dengan wanita lain," ucap Erika dengan penuh percaya diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD