Bab5

1111 Words
Dengan nafas masih tersengal-sengal, Alvaro membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia mencoba mengatur nafasnya. Sedangkan Aurora memilih langsung membersihkan tubuhnya, menahan rasa nyeri di area sensitifnya. Ponsel Daren berdering kembali, membuat Daren yang saat itu memejamkan matanya menjadi tersadar. Dia pun bergegas bangkit, dan mengambil ponselnya. Dengan cepat dia terima panggilan telepon dari istrinya. "Sayang, kamu ke mana aja sih? Dari tadi aku telepon gak di angkat," rengek manja Erika. Meskipun dia sempat merasa kesal, Erika membutuhkan uang Alvaro. "Maaf. Tadi aku lagi meeting," jawab Alvaro dengan nafas yang masih terasa berat. "Meeting? Kenapa suara kamu seperti itu? Seperti orang yang habis lari maraton saja. Jangan bilang kamu habis–" Alvaro langsung mengalihkan. Dia tak ingin istrinya curiga, kalau dia baru saja bercinta dengan Aurora. Jurus andalannya, yaitu bersikap mesra pada istrinya. Tanpa sadar, dia menjadi seorang pembohong. Aurora yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tentu saja mendengarnya. Dia selalu mengingatkan siapa dirinya. "Untung saja Erika percaya," ucapnya. Dia langsung melempar ponselnya ke ranjang, dan bangkit dari ranjang. Aurora dapat mendengarnya. Perselingkuhan bagai roller coaster. Ini baru permulaan. Nantinya, pasti akan penuh ketegangan. Saat Erika kembali. *** Hari demi hari terus berlalu. Aurora semakin terjebak dalam skandalnya dengan suami orang. Dengan gilanya Alvaro kerap memintanya bercinta di kantor. Besok, Erika akan kembali ke Indonesia. Entah apa yang terjadi nanti. "Tuan, selepas pulang kerja. Apa aku boleh menginap di rumah ibuku? Aku ingin melihat keadaannya," ucap Aurora membuka omongan. Dia terlihat tegang, khawatir Alvaro akan marah padanya. "Besok saja. Erika besok kembali. Kamu boleh menginap di rumah ibu kamu selama tiga hari. Saya ingin bersama istri saya," jawab Alvaro dingin. Tak boleh sakit hati, mendengar perkataan Alvaro seperti itu. Justru dia harus merasa bahagia. Dengan seperti itu, dia bisa terlepas dari Alvaro, dan menikmati waktu bersama ibunya. Ibunya pasti senang, melihat dia pulang. Para pegawai mulai menaruh curiga, melihat kedekatan Alvaro dengan Aurora. Namun, tak ada satu orang pun yang berani bicara. Alvaro semakin over protective. Tak mengizinkan Aurora dekat dengan siapapun. Hari-harinya hanya bersama dia. "Besok kamu kembali ke ruangan kamu. Jangan sampai Erika dan pegawai lainnya tahu, tentang skandal ini!" Aurora hanya menganggukkan kepalanya. Seperti biasanya, mereka pulang bersama. Itulah yang menjadikan orang yang melihatnya, menilai kalau ini tak wajar. Setiap hari pulang dan pergi bersama. Bisa saja lebih dari itu, yaitu tidur bersama. Dalam hal ini, pasti wanita yang direndahkan. Dianggap sebagai w*************a. Menggoda bosnya, demi mendapatkan uang. Mereka memilih langsung pulang. Alvaro merasa lelah, dan dia menyuruh Aurora masak untuk makan malam mereka. Tentu saja tak masalah. Aurora sudah terlatih sering memasak saat di rumah. Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, mereka sampai di apartemen. Alvaro langsung masuk ke dalam kamar. Namun sebelumnya, dia meminta Aurora membuatkan minuman dingin. Alvaro menelan salivanya, saat melihat penampilan Aurora. Dia melepas blazernya, hanya menggunakan tanktop, dan mengikat rambutnya ke atas menunjukkan leher jenjang yang begitu putih. Ya, dia sangat seksi. Aurora tersentak kaget. Saat tangan besar meremas bukit kembarnya dari belakang. Hampir saja minuman itu terjatuh. Bulu kuduknya berdesir, Alvaro menciumi tengkuknya. "Tuan, maaf. Aku belum mandi," ucap Aurora sembari menahan untuk tidak mendesah. Bohon jika dia tak ikut terangsang. Alih-alih menghentikan. Alvaro justru membalikkan tubuh Aurora, dan menciumnya bibir Aurora begitu rakus. Desahan pun keluar dari bibir Aurora. Alvaro semakin beringas. Dia menggendong Aurora, dan meletakkan di meja. "Saya ingin mencobanya di sini, sebelum kita berpisah untuk beberapa hari," ucapnya dingin. Udara dingin, berubah menjadi terasa panas. Pasangan itu bercinta di sana. Deru nafas tak beraturan saling bertautan. Desahan dari mereka, menjadi pengiring. Alvaro sudah membuat tubuh Aurora menjadi polos. Seperti biasanya. Alvaro memilih membuangnya di dalam. Entah kapan, benih yang disemburkannya itu akan menjadi seorang anak. Aurora sempat memikirkan, apa yang terjadi dengan dirinya nanti. Saat dirinya hamil anak bosnya itu. Tubuh Aurora terasa lemah. Namun, dia tetap harus memasak. Padahal, Alvaro bisa saja memesan makanan restoran. Namun, dia lebih memilih makan masakan Aurora. Suatu hari nanti pasti dia akan merindukan momen ini. Setelah menuntaskan hasratnya, Alvaro masuk kembali ke kamar. Dia memilih langsung mandi. Tubuhnya terasa lengket. Senyuman melengkung di sudut bibirnya. Saat mengingat percintaan panas mereka tadi di meja makan. Benar-benar gila! Keningnya berkerut. Tiba-tiba saja dia merasa curiga. Kini giliran dirinya yang menaruh curiga pada Erika. Mengapa suara Erika terdengar seperti orang yang sedang bercinta. Tentu saja Erika berkelit. Pasangan sama-sama pembohong. "Baiklah, besok aku akan menjemputmu di Bandara. Hati-hati ya besok pulangnya! Aku merindukanmu," ucap Alvaro. Malam ini mereka menikmati malam panjang. Aurora sampai tak dibolehkan tidur. Tepat pukul lima mereka baru berhenti. Tubuh Aurora terasa begitu remuk. Dia tak habis pikir mengapa bosnya tak merasa bosan. Miliknya pun begitu perkasa, membuat area sensitifnya terasa luka. Untung saja beberapa hari ke depan, dia bisa beristirahat. Berharap selamanya. "Hari ini saya tak ke kantor. Kamu berangkat sendiri saja ke perusahaan. Saya harus menjemput istri saya pulang. Setelah pulang kerja, kamu boleh langsung pulang ke rumah ibu kamu." Alvaro berkata sebelum akhirnya dia memejamkan matanya. Aurora meninggalkan Alvaro yang masih tertidur nyenyak. Terlihat tampan sekali suami orang. Namun, Aurora tak ingin berharap lebih. Dia tak ingin sakit hati. Sebelum dirinya pergi, Aurora sudah membuatkan dua buah shandwice untuk Alvaro. Aurora memilih pergi lebih awal. Dia berusaha menahan untuk tidak tidur. Meskipun matanya sangat mengantuk. Setelah bercinta, dia memang memilih tak tidur dulu. Dia langsung mandi, sarapan, dan membuatkan sarapan untuk Alvaro. Tepat pukul 07.00 dia sudah sampai di kantor. Dia pun langsung menghubungi ibunya. Ibunya terlihat senang. Aurora merasa sedih bercampur bahagia, karena akhirnya dia bisa melihat wajah ibunya. Meskipun hanya lewat video call. "Maafkan Rara, Bu. Baru sekarang Rara bisa menghubungi Ibu. Kemarin pekerjaan Rara sangat padat. Ini Rara ada di Jakarta. Nanti sore Rara pulang. Rara kangen sama ibu," ucap Aurora. "Iya, ibu mengerti. Melihat kamu sehat, rasanya sudah cukup bagi ibu. Ibu tunggu kamu nanti sore. Ibu akan buatkan makanan kesukaan kamu," sahut sang ibu. Ibunya adalah sumber kekuatan bagi dirinya. Terkadang, Aurora merasa lelah menjadi simpanan Alvaro. Namun, jika seperti ini. Dia berusaha kuat. Dia harus mengumpulkan uang yang banyak, karena ingin membahagiakan ibunya. Alvaro baru terbangun dari tidurnya. Saat itu jam menunjukkan pukul 09.00 pagi. Dia melirik ke arah sebelahnya. Tak ada Aurora. "Ternyata, dia sudah berangkat kerja. Jam berapa ini? Aku harus bersiap-siap menjemput Erika. Aku gak boleh telat." Matanya masih mengantuk. Namun, dia harus menjemput istrinya. Beberapa hari dia harus melupakan Aurora. Dia akan mencari celah agar bisa bersama Aurora. Alvaro tampak tersenyum, kala melihat sarapan untuknya tersedia di meja makan. Selama menikah dengan Erika, Erika tak pernah melakukan ini padanya. Ibarat kata, Aurora adalah paket l engkap. Memanjakan perutnya dengan makanan yang lezat, memuaskan dia di ranjang, dan selalu menyiapkan pakaian untuknya. Contoh istri yang baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD