"Sayang, aku merindukanmu," ucap Erika. Dia juga langsung memeluk tubuh suaminya. Alvaro pun membalas pelukan istrinya, dan memberikan kecupan di pucuk kepala sang istri.
"Aku pun sangat merindukanmu," bisiknya.
Erika tentu saja tersenyum bahagia. Ya, dia tahu. Suaminya memang sangat mencintainya. Sampai-sampai tak pernah menaruh curiga padanya. Cinta membuatnya buta.
"Kita lanjutkan nanti di Mansion," ucapnya dan Erika mengiyakan.
Mereka sudah dalam perjalanan menuju Mansion. Entah mengapa Alvaro merasa yang berbeda berada di dekat sang istri. Seperti ada ruang pemisah. Sikapnya terlihat dingin. Meskipun Erika bergelayut manja kepadanya. Erika merasa yang berbeda pada diri suaminya. Namun, dia memilih diam. Mungkin, saat ini ada Reno–asisten suaminya. Sehingga suaminya tak ingin menunjukkan di depannya.
Mobil yang membawa mereka akhirnya sampai di Mansion. Alvaro dan Erika turun bersama. Seperti biasa, Erika terlihat angkuh. Dia memang bukan Nyonya yang baik. Sampai akhirnya mereka berada di kamar. Biasanya, Alvaro langsung menerkamnya. Kali ini dia terlihat berbeda. Ya, seperti menghindar. Erika semakin kesal dengan sikap dingin suaminya.
"Kamu itu kenapa sih? Sejak tadi selalu saja bersikap dingin. Apa kamu tak menginginkan aku kembali? Sikap kamu benar-benar berubah. Tak seperti biasanya," tegur Erika.
"Ma--maaf. Bukan seperti itu. Hanya saja aku sedang banyak pikiran. Maafkan aku."
"Alasan saja!" Sahut Erika kesal, dan langsung pergi meninggalkan Alvaro.
Alvaro hanya menatap kepergian sang istri, masuk ke dalam kamar mandi.
"Kenapa bayangan Aurora selalu hadir sih?" Alvaro tampak stres mengacak-acak rambutnya.
Di dalam kamar mandi, Erika terlihat kesal. Dia akan mencari tahu, mengapa suaminya berubah.
"Aku ingin tahu, apa kamu masih bisa menolakku?" Erika tersenyum licik.
Dia langsung mengambil lingerie, dan memakainya. Erika ingin menggoda suaminya, yang saat itu sedang sibuk dengan ponselnya. Ternyata, sejak tadi Alvaro sedang memperhatikan CCTV di ruangannya. Memperhatikan Aurora yang sejak tadi sibuk bekerja. Tanpa sadar, Alvaro merasa kagum pada sosok sekretarisnya. Di usianya yang masih muda, dia begitu gigih bekerja demi ibunya.
"Sayang, kamu lagi apa sih?" panggil Erika lembut. Dia berusaha menurunkan egonya demi uang. Tentu saja dia gak mau kehilangan saham terbesarnya.
Spontan Alvaro langsung meletakkan ponselnya di meja. Dia tak ingin Erika tahu apa yang sejak tadi dia lakukan.
Tanpa menunggu jawaban dari sang suami, Erika langsung duduk di pangkuan. Dia juga langsung mencium bibir sang suami dengan penuh gairah. Tangannya berusaha membuka kancing kemeja suaminya.
"Aku menginginkan kamu," ucapnya sembari melepaskan pakaian di tubuh suaminya.
Dia terlihat senang, karena Alvaro kini menggendongnya, dan membawanya ke ranjang. Namun, apa yang terjadi? Tiba-tiba saja Alvaro menghentikannya. Hal itu membuat Erika tercengang.
"Maaf, aku lupa. Kalau aku harus ke kantor. Ada meeting penting," ujar Alvaro yang langsung bangkit dari atas tubuh Erika.
"Apa? Setelah kamu menolak bercinta denganku. Sekarang kamu mau pergi meninggalkanku? Kamu bilang, kamu akan cuti beberapa hari gak ke kantor. Karena ingin bersamaku." Erika terlihat marah.
Namun, Alvaro tetap saja ingin pergi. Dia teringat pada Aurora.
"Maafkan aku, Sayang. Tapi, aku harus pergi. Secepatnya aku akan kembali. Sekarang, kamu istirahat saja dulu. Pasti kamu sangat capek. Hanya hari ini saja. Aku janji. Jangan marah ya! Besok kita belanja ke Mall ya! Aku akan temani kamu," rayu Alvaro.
"Aku berangkat dulu. I love you," ucapnya. Dia juga memberikan kecupan di bibir Erika. Kemudian pergi meninggalkan Erika, yang terlihat kesal.
Erika mengamuk. Dia lemparkan semua guling, bantal, dan selimut.
"Awas saja, kalau kamu berselingkuh! Aku tak akan membiarkan siapapun merebut kamu dariku!"
Alvaro baru saja sampai di perusahaan. Aurora begitu terkejut saat melihat kedatangan bos dinginnya itu. Dan dia dibuat semakin terkejut, saat Alvaro menghampirinya, dan menggendongnya. Membawa kamar tempat dia beristirahat.
"Tuan–"
"Jangan bicara apapun! Puaskan saya!"
Aurora masih diam terpaku, saat bibir Alvaro sudah menyatu dengan bibirnya. Dengan kasar, Alvaro menggigit bibir bawah Aurora. Bahkan sampai berdarah. Membuat Aurora merasa perih, dan mengeluarkan air mata.
"Cepat, lepaskan semua pakaian kamu!"
Tak bisa menolak. Aurora terpaksa menuruti permintaan bosnya itu. Dia tak habis pikir, mengapa bosnya datang ke perusahaan, dan meminta dia melayaninya. Bukankah hari ini istrinya kembali ke Indonesia? Mengapa dia tak melakukan dengan istrinya?
Pergulatan panas terjadi. Alvaro terlihat begitu b*******h. Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya. Aurora selalu berusaha menikmatinya. Agar permainan mereka mengalir begitu saja, tanpa beban.
Tak ada kecupan, dan permintaan maaf dari bibir Alvaro. Setelah merasa puas, dia seperti orang asing kembali. Aurora hanya bisa menatap wajah tampan bosnya. Namun, dia tetap tak boleh jatuh cinta.
"Kamu jadi pulang ke ibu kamu sore ini?" tanya Alvaro yang masih saja bersikap dingin.
"Iya, Tuan, jadi. Aku sudah sangat merindukan ibuku. Aku pun sudah bicara padanya. Kalau sore ini aku akan pulang," jawab Aurora dan Alvaro hanya menganggukkan kepalanya.
Besok, dia akan kerja seperti biasa. Hanya saja, dia berangkat dari rumah, dan pulang ke rumah lagi. Alvaro mengatakan pada Aurora, kalau besok dia tak akan ke perusahaan. Karena ingin bersama istrinya, dan tak ingin di ganggu. Cemburu? Dia tak ada hak. Dirinya sadar, kalau dia hanya wanita simpanan. Kalau skandal ini terungkap. Habislah dia.
Setelah menuntaskan hasratnya, dengan santainya Alvaro pergi kembali. Dia memang sudah janji pada istrinya, kalau dia pergi tak akan lama. Aurora hanya dijadikan tempat pelampiasan hasrat.
Kamar terlihat seperti kapal pecah. Erika pun terlihat sedang menangis. Ternyata, dia merasa kecewa luar biasa. Alvaro langsung memeluk tubuh istrinya, saat masuk ke dalam kamar.
"Maafkan aku, yang sudah meninggalkan kamu," ucap Alvaro. Jika melihat seperti ini tentu saja dia menyesal karena sudah membuat istrinya kecewa. Akankah dia akhirnya melepaskan Aurora?
"Apa kamu sudah tak mencintai aku lagi? Ya sudah, ceraikan aku! Pasti kamu sudah berselingkuh di belakangku ''kan? Apa salahku? Selama ini aku sudah berusaha setia padamu. Meskipun aku bisa saja selingkuh dari kamu." Erika begitu marah, dia juga memukul-mukul d**a suaminya. Sedangkan Alvaro terlihat hanya diam sejenak.
"Tidak! Aku tidak ingin bercerai darimu. Aku mencintaimu. Maafkan aku! Tadi, aku harus meeting. Itu pun tak lama. Aku teringat kamu. Aku janji, besok tak datang ke perusahaan," sahut Alvaro. Dia juga memeluk tubuh sang istri. Seakan tak ingin berpisah.
Erika tertawa dalam hati. Suaminya memang benar-benar bodoh. Dia yakin suaminya akan melakukan ini. Karena sejak dulu Alvaro memang sangat mencintai dia.
Dia pikir, dia melakukan hal gila tadi. Karena beberapa hari kemarin dia selalu bersama Aurora. Dia merasa kecanduan. Satu-satunya jalan. Dia harus menghentikan kegilaan ini dengan Aurora. Agar rasa itu tak terbagi. Dia harus fokus hanya pada istrinya saja.