"Huhft. Setelah puas, dia meninggalkanku begitu saja."
Tubuh Aurora terasa remuk, karena ulah bosnya itu. Ingin rasanya dia segera sampai di rumah ibunya. Di jalan. Dia sempat mampir membeli makanan untuk ibunya.
Sang ibu terlihat senang, menyambut kedatangannya. Dia tak tahu apa yang dialami anaknya. Aurora rela mengorbankan dirinya, untuk ibunya.
"Kamu mandi saja dulu! Ibu mau pindahkan dulu makanan ini ke piring," ucap sang ibu kepada Aurora.
Aurora mengiyakan. Dia pun merasa tubuhnya terasa lengket karena percintaan panas tadi dengan Alvaro.
Kini mereka sudah berada di meja makan, untuk makan bersama. Aurora merasa bahagia, karena bisa melihat wajah ibunya.
"Gimana keadaan ibu sekarang? Apa masih ada keluhan? Maaf, Rara baru bisa pulang ke rumah sekarang," ujar Aurora sembari menyantap makanannya.
"Iya, ibu ngerti. Yang terpenting, jaga diri kamu dengan baik! Bos kamu baik 'kan? Selama kamu melakukan perjalanan dinas dengannya. Dia tak pernah melecehkan kamu 'kan?"
"Keadaan ibu sekarang sudah lebih baik. Tak ada keluhan yang ibu rasakan. Hanya sesekali suka merasa nyeri di bekas jahitan operasi. Mungkin, karena belum begitu lama."
Tentu saja Aurora akan berbohong. Dia tak mungkin bercerita, kalau dirinya sekarang menjadi simpanan bosnya. Bosnya sudah merenggut kehormatannya. Entah apa yang terjadi. Jika ibunya tahu akan hal ini. Dia menjadi tak naf*su makan. Mengingat apa yang dilakukan Alvaro padanya. Sungguh menyesakkan d**a. Dia sekarang wanita terhina.
Malam semakin larut. Aurora masih membuka matanya. Tayangan TV hanyalah formalitas saja. Pikirannya melayang pada sosok laki-laki yang telah merenggut hidupnya. Rasanya masih seperti mimpi, dia memiliki skandal dengan bosnya.
***
"Maaf, aku gak bisa. Milikku pun bermasalah," ucap Alvaro memeluk istrinya. Wajahnya terlihat merasa bersalah. Dia merutuki dirinya dalam hati. Semua ini karena dia bermain api dengan Aurora di belakang istrinya. Istrinya jadi kecewa padanya.
"Sebenarnya, apa yang terjadi padamu? Sejak kemarin kamu menjemputku di Bandara. Sikapmu sangat aneh padaku. Apa kamu memiliki wanita lain? Jawab!" Cecar Erika. Dia juga menatap tajam Alvaro.
Alvaro gelagapan. Dia memang salah. Namun, dia tak ingin Aurora menjadi korban amukan Erika. Aurora tak salah dalam hal ini. Dia bukan seorang pelakor, yang ingin merebutnya dari Erika. Namun, rasa nyaman saat bersama Aurora. Menjadikan pemicu pertengkarannya dengan Erika.
"Perusahaan aku sedang ada masalah. Aku menjadi kepikiran. Ditambah lagi, mami mendesak aku untuk memiliki keturunan. Maafkan aku, Sayang. Mungkin ini yang membuat milikku bermasalah, dan hasratku menurun. Tapi, kamu tak perlu khawatir. Aku akan berusaha, agar stabil kembali. Tidurlah! Aku mau ngegym dulu. Semoga saja aku bisa kembali bergairah."
Dia berusaha keras untuk melupakan Aurora. Semakin melupakan, cuplikan-cuplikan kebersamaan Aurora semakin kuat.
"Kenapa aku terus mengingat kamu sih? Aku harus melupakan kamu. Aku tak ingin Erika kecewa padaku."
"Aarrgghh ...!"
Alvaro terduduk lemas di lantai. Dia terlihat frustasi. Dia melakukan kesalahan besar. Melibatkan Aurora di hidupnya. Tubuhnya terasa lelah. Keringat pun sudah bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya. Namun, semua sia-sia. Adik kecilnya tak juga bereaksi. Biasanya, setelah ngegym. Stamina bercintanya semakin kuat, gairahnya memuncak. Namun kali ini, dia tak yakin seperti itu.
Diam-diam dia pun masuk ke dalam kamarnya, dan memilih untuk mandi. Dia tak mungkin tidur dalam keadaan tubuh yang lengket. Sebelum naik ke ranjang, dia sempat menatap ke arah istrinya yang sudah terlelap.
"Maafkan aku, Sayang! Aku akan berusaha keras untukmu." Besok, dia berniat menemui sahabatnya yang seorang dokter. Dia ingin berkonsultasi tentang masalah yang dia hadapi.
Perlahan Alvaro naik ke ranjang, dan memberikan kecupan di kening Erika. Lagi-lagi dia merasa ada yang salah pada dirinya. Dia merasa tak nyaman tidur sembari memeluk Erika. Tak mungkin rasa cinta itu telah hilang. Tapi, apa yang terjadi? Biasanya, dia tak pernah bisa. Jika tidur tak memeluk istrinya. Sejak tadi dia terlihat gelisah. Matanya sulit sekali terpejam. Teringat pada sosok wanita yang kini sudah terlelap bersama ibunya. Untuk melepas rindunya, malam ini Aurora memilih tidur bersama ibunya.
Matahari sudah menunjukkan sinarnya. Alvaro terlihat masih terlelap. Wajahnya terlihat lelah. Pukul 04.00 pagi, dia baru bisa tertidur. Erika sudah bangun lebih dulu. Namun, dia pun memilih tak beranjak turun. Dia tatap wajah suaminya lekat.
"Sebenarnya, apa yang terjadi dengan kamu?" tanya Erika dalam hati.
Erika mencoba memberi rangsangan pada suaminya. Dia ciumi leher suaminya. Biasanya, hal ini bisa membuat gairah suaminya bangkit. Udara pagi hari pun sangat mempengaruhi. Dia harus berbuat adil. Agar suaminya tak curiga padanya. Dengan mata masih mengantuk, Alvaro membuka matanya.
"Sayang ..." Suaranya terdengar berat. Erika pikir, gairah suaminya mulai bangkit.
"Nikmatilah!"
Dia berusaha menikmati. Namun, wajah Aurora hadir. Alvaro menjadi frustasi.
"Maafkan aku, Sayang! Aku tak bisa. Nanti, kita coba lagi ya!" Ucapnya. Dia menarik tangan Erika, membawa dalam dekapannya.
"Sabar ya! Aku yakin, akan kembali normal lagi. Aku akan memuaskan kamu dengan cara lain," ucap Alvaro.
Ini satu-satunya cara agar istrinya tak menaruh kecewa, yaitu membuat istrinya mendesah dan melayang. Padahal, dia pun menginginkannya. Tapi kenapa, melihat tubuh bugil dan desahan istrinya. Miliknya tak bereaksi sama sekali. Sungguh aneh!
Akhirnya, Alvaro tersenyum puas. Karena berhasil membuat istrinya mendapatkan pelepasan. Erika terlihat lemas. Alvaro berbaring di sebelah Erika dan memeluknya. Masih terasa degupan kencang jantung Erika.
Dia akan membuat janji dengan Jona–sahabatnya. Tanpa sepengetahuan Erika. Karena dia akan menceritakan pada Jona, apa yang dia alami.
"Hanya sebentar saja. Sebagai gantinya, aku akan memberikan kamu uang untuk shopping. Nanti, setelah urusanku selesai. Aku akan menyusul kamu ke sana. Gimana?"
Awalnya, Erika berpura-pura merajuk. Padahal, dalam hatinya merasa senang. Persetan dengan apa yang terjadi pada suaminya. Baginya, uang Alvaro yang paling utama. Alvaro pun langsung bersiap-siap untuk pergi. Dia pun sudah menghubungi Jona, saat Erika sedang mandi. Kini Alvaro sudah dalam perjalanan menuju Kafe tempat dia dan Jona akan bertemu. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, dia sampai di Kafe itu. Alvaro datang lebih dulu. Beberapa menit kemudian, Jona baru datang.
"Semangat banget mau ketemu gue pagi-pagi. Untung aja hari ini gue off. Gak ada jadwal praktek pagi. Lo gak kerja?" Ucap Jona.
"Gue mau konsultasi sama lo. Kenapa adik kecil gue gak turn on, dan gue dekat Erika kok seperti ada ruang pembatas. Gimana ya? Seperti hambar aja gitu. Padahal, gue masih cinta banget sama dia. Lo bisa gak membantu gue, biar bisa turn on lagi? Biar gue bisa memuaskan istri gue pakai adik kecil gue."
Alvaro sebenarnya malu untuk bercerita tentang masalahnya ini. Namun, dia pikir dengan Jona tak masalah. Mereka bersahabat sejak mereka duduk di bangku SMP. Hubungan mereka masih dekat sampai sekarang. Hanya saja kesibukan
keduanya, yang kerap membuat mereka jarang bertemu. Mereka hanya melepas rindu lewat telepon.
"Jadi, lo ingin adik kecil lo turn on lagi?"
"Woy, pelan-pelan ngomongnya? Nanti kedengeran orang. Bisa pada tahu semua orang di sini, kalau adik kecil gue gak bisa turn on."