Jona tertawa terbahak-bahak menertawakan Alvaro. Sahabat tak punya akhlak. Sahabat lagi panik, dia justru terlihat senang di atas penderitaan sahabatnya. Namun, seperti inilah pertemanan mereka. Alvaro yang kaku yang dingin, bersahabat dengan Jona yang friendly dan humoris.
"Jangan bilang, lo selingkuh dari Erika," ucap Jona to the point.
Wajah Alvaro merah seketika, dan terlihat tegang. Jona semakin yakin melihat ekspresi wajah sahabatnya. Yang gak habis dia pikir. Kok Alvaro bisa melakukan itu? Dia sangat tahu siapa Alvaro. Sosok dingin, kaku. Namun, sangat setia pada pasangan.
"Gue ini ke sini mau konsultasi sama lo yang seorang dokter. Bukan konsultasi sama paranormal. Apa hubungannya coba?" Sungut Alvaro kesal, menutupi rasa malunya.
"Dih, marah. Ya jelas ada hubungannya. Fakta membuktikan. Laki-laki yang berselingkuh, gairahnya menurun terhadap istri. Karena dia selalu kepikiran wanita selingkuhannya. Namun, hal ini gak terjadi pada laki-laki yang emang cinta banget sama istrinya. Dia selingkuh hanya untuk kepuasan sesaat. Gak pakai cinta sama partner seksnya. Ya, kaya begitu aja. Mengalir seperti air."
Alvaro terdiam, menyimak pembicaraan sahabatnya itu. Apa dia memang jatuh hati pada Aurora? Ah, tentu saja tidak. Aurora hanya tempat pelampiasan hasratnya. Dia harus menghentikan ini. Jangan sampai berkelanjutan. Yang akhirnya hubungan dengan istrinya hancur.
"Woy, diam aja lo seperti sapi ompong. Ngerasa ya? Mendingan sekarang lo cerita deh secara keseluruhan permasalahan lo! Biar gue bisa kasih solusinya. Baik sebagai seorang sahabat, maupun seorang dokter. Adik lo cuma gak bisa turn on 'kan? Tapi, gak lumer, dan memberikan gatal?"
"Tenang aja! Gue gak akan cerita sama siapa-siapa. Gue jamin rahasia lo aman. Ayolah, Bro! Gue sahabat lo. Percaya deh!" Jona berusaha meyakinkan sahabatnya. Dia tak tega juga melihat ekspresi sahabatnya. Bagi kaum laki-laki, masalah ini adalah masalah berat. Apalagi usia Alvaro masih muda, dan dia belum memiliki seorang anak.
Hingga akhirnya Alvaro mulai menceritakan apa yang terjadi padanya. Termasuk hubungan terlarangnya dengan Aurora.
"Fix, Bro. Lo di pelet sama tuh cewek," sahut Jona dengan santainya.
"Pelet? Apaan tuh pelet? Gak jelas banget lo." Alvaro berkata.
"Ya ampun, Bro. Lo gak tahu pelet? Tapi, ini gue gak bercanda. Lo mau jawabannya?" Ucap Jona memandang wajah sahabatnya serius. Alvaro pun tampak serius menyimak ucapan Jona.
"Lo kapan nemuin itu cewek? Besok lo ke perusahaan gak? Coba lo berdekatan sama dia. Gak perlu nyentuh. Cukup lo lihat reaksinya. Kalau adik kecil lo turn on. Fix. Lo jatuh cinta sama dia. Lo merasa nyaman sama dia. Bahaya ini. Kalau di diamkan. Lo bakalan benar-benar lupa sama istri lo. Lo coba deh! Kalau nanti dia hamil. Berarti lo siap untuk bertanggung jawab ya?"
Selain rencana itu, Jona mengajak Alvaro ke toilet. Dia ingin mencoba melakukan pemeriksaan. Alvaro sebenarnya merasa malu, harus menunjukkan adik kecilnya di depan sahabatnya. Namun, pada akhirnya dia berpikir. Ini demi penyembuhan.
"Gak ada yang aneh. Seharusnya, gak ada masalah. Coba malam ini, lo coba bercinta lagi sama Erika. Gue akan kasih resep obat untuk meningkatkan stamina dan gairah laki-laki. Selain itu, lo juga berusaha rileks. Kalau perlu sambil nonton film blue. Ini sangat membantu. Kalau tetap gak bereaksi. Besoknya lo coba dekat dengan sekretaris lo itu!"
Sebelum pulang ke rumah, Alvaro mampir dulu ke apotek membeli obat sesuai resep dari sahabatnya. Setelah itu, barulah dia pulang ke rumah. Namun, dia mencoba minum obat itu dulu. Agar segera bereaksi.
Dia lupa, kalau istrinya saat ini sedang shopping. Alvaro sampai gak fokus. Lupa, kalau dirinya sudah janji akan menjemput istrinya.
"Selalu saja kalau shopping lupa waktu," gerutu Alvaro. Dia mengatakan seperti itu, karena tak ada kabar dari istrinya sampai sekarang. Hingga akhirnya dia melakukan panggilan telepon. Namun, beberapa kali dia menghubungi Erika. Erika tak menerima panggilan telepon darinya.
"Ya udah, aku tunggu saja di rumah. Nanti juga dia pulang. Dia 'kan pergi sudah lama," ucapnya.
Alvaro memilih mandi agar segar. Setelah itu, dia langsung membaringkan tubuh di ranjang.
"Kita lihat reaksinya. Apakah saran Jona benar."
Dia mulai merilekskan tubuhnya, dan mulai menonton film blue yang dia miliki. Sebenarnya, dia ingin menonton bersama Erika. Namun, Erika tak juga kembali. Hingga dia mencobanya sendiri. Dia mainkan adik kecilnya sembari menonton fokus film itu. Keringat bercucuran membasahi wajahnya. Tubuhnya terasa panas. Sepertinya, obat itu mulai bereaksi. Dia pun menjadi gelisah. Karena tak ada tempat pelampiasan hasratnya. Segera dia hubungi istrinya kembali.
"Kemana sih dia?" Alvaro tampak kesal. Dia juga suka mengirimkan pesan chat kepada istrinya. Meminta sang istri segera pulang.
Alvaro memejamkan matanya, membayangkan kalau dia sedang melakukannya dengan seorang wanita. Dan anehnya, bayangan Aurora yang muncul.
"Argh, sial! Kenapa harus dia lagi yang muncul. Aku harus menghentikan kegilaan ini. Tapi, mami sudah ribut ingin memiliki cucu." Alvaro frustasi.
Rasa lelah menghantuinya. Ternyata, semua itu tak mempengaruhinya. Adik kecilnya masih tertidur nyenyak. Alvaro semakin gelisah. Dengan cepat dia menghubungi sahabatnya.
"Sabar, Bro. Ini baru permulaan. Semua butuh waktu. Gue 'kan bilang sama lo. Coba lo bersikap tenang, dan nikmati. Coba lo lakukan lagi nanti, saat bersama Erika. Obat yang lo minum itu obat bagus. Pasien gue hampir semuanya berhasil."
"Memang reaksinya sudah ada. Sekarang buat gue gelisah, karena merasa gantung. Gue jadi tersiksa," jawab Alvaro.
"Iya, gue ngerti perasaan lo saat ini. Banyak jalan menuju Roma, Bro. Satu cara gak bisa, coba cara lain. Termasuk lo coba melakukannya dengan wanita itu." Alvaro terdiam. Apa perlu dia melakukan itu? Andai Erika bisa hamil. Dia tak perlu seperti ini. Tapi, semua ini pun bukan sepenuhnya salah Erika. Pikirnya.
Di tempat berbeda, Erika sedang siap-siap untuk pulang. Dia tak hanya shopping. Dia baru saja check-in dengan Xavier. Erika sudah sangat paham. Suaminya tak akan menyusulnya belanja. Hingga dia meminta Xavier menemaninya. Setelah makan, mereka langsung menuju hotel yang letaknya tak jauh dari Mall tempat dia shopping.
"Aku pulang dulu ya! Kamu kalau mau lanjut beristirahat di sini, tak apa-apa. Masih bisa untuk besok. Alvaro sudah menunggu aku. Sejak tadi sudah menghubungi aku. Maafkan aku ya! Hanya seperti ini yang bisa kita lakukan," ucap Erika.
Xavier hanya berpura-pura merajuk. Padahal dia senang. Setelah ini dia bisa melanjutkan aktivitas ranjangnya dengan wanita lain. Erika membodohi Alvaro, dan dia dibodohi Xavier. Cinta membuatnya bodoh. Sampai-sampai dia tak bisa melihat mana yang tulus. Xavier hanya memanfaatkan dia.
"Bukannya itu Nonya Erika? Sedang apa dia di hotel ini? Di mana Tuan Alvaro. Mengapa dia tak ada?" Reno melihat kembali, keanehan istri bosnya. Dia semakin curiga.