Bab20

1064 Words

Hujan tipis mengguyur kota sejak dini hari, meninggalkan jejak basah di jalanan yang berkilau terkena lampu jalan. Jakarta malam itu terasa seperti kota yang sedang menahan napas, seolah ikut menyimpan rahasia-rahasia kotor yang tak seorang pun mau mengakuinya. Di sebuah kamar hotel lantai tinggi, Alvaro berdiri di depan jendela besar, memandangi titik-titik hujan yang meluncur pelan di kaca. Dia belum pulang sejak pertemuan dengan Aurora. Pertemuan itu berakhir tanpa hasil yang jelas—Aurora terlalu pandai menjaga jarak, tapi cukup pintar untuk memberi isyarat bahwa ia bukan tak sadar akan perasaan Alvaro. Pikirannya kacau. Rasanya seperti berdiri di persimpangan gelap: satu jalan mengarah pada kehancuran yang ia sadari namun tak kuasa hindari, dan satu jalan lain mengarah pada rumahnya—

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD