Pagi itu udara terasa berat. Matahari memang bersinar, tapi sinarnya tak mampu menghangatkan dingin yang mengendap di rumah Alvaro dan Erika. Mereka sarapan di meja makan panjang, tapi tak ada yang benar-benar menyentuh makanan. Sendok hanya beradu pelan dengan piring, bunyinya terdengar seperti ketukan jam yang mengingatkan bahwa waktu mereka sebagai suami istri… mungkin sudah hampir habis. Erika menyesap kopinya pelan, lalu meletakkan cangkir dengan hati-hati. “Aku keluar siang ini,” ucapnya datar. Alvaro yang sedang menatap roti di piringnya mengangkat wajah. “Ke mana?” Erika menatap balik, matanya tanpa ekspresi. “Ada urusan.” Jawaban singkat itu bukan jawaban yang bisa diterima, tapi Alvaro tak ingin memancing perdebatan di pagi hari. Dia hanya mengangguk, walau dadanya terasa men

