Kotak besi itu berderit pelan saat dibuka.
Bunyi logam yang saling bergesek terdengar asing di kamar tidur yang selama tiga tahun terakhir menjadi ruang paling aman bagi Windinosa Cinta Pratiwi. Lemari pakaian berwarna gading itu berdiri seperti biasa-rapi, wangi, penuh gaun dan kemeja milik dua orang yang saling mencintai. Tak ada yang berubah. Namun di balik tumpukan mantel musim hujan dan jas kerja Keenan, sebuah deposit box kecil tersembunyi, menunggu saatnya dibuka.
Hari ini, Windi membuka kuncinya dengan tangan gemetar.
Klik.
Pintu besi itu terbuka perlahan. Di dalamnya, terbaring sebuah pistol FN P90, hitam, dingin, dan asing-namun sekaligus terasa begitu akrab. Di sampingnya, sebuah magazine panjang, penuh, berisi peluru tajam kaliber 5,7 x 28 mm, tersusun rapi seolah menunggu perintah.
Windi menarik napas panjang.
Tangannya meraih pistol itu. Beratnya langsung terasa di pergelangan, seperti beban yang tak hanya datang dari logam, tetapi dari tujuh tahun luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Ia memasang magazine dengan satu gerakan mantap.
Klik.
Suara itu memantul di dalam kepalanya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Matanya menatap kosong ke depan-nunar, berkabut. Sesaat wajahnya mengeras, rahangnya mengatup tegas, lalu melemah kembali, runtuh dalam murung yang dalam.
Pandangan Windi beralih ke sebuah foto besar berbingkai putih di dinding kamar. Foto prewedding.
Ia dan Keenan Satria, tiga tahun lalu, di Santosa Stable. Keenan tersenyum lebar, mengenakan setelan jas krem. Tangannya menggenggam tangan Windi dengan cara yang membuat dunia terasa aman. Windi di foto itu tersenyum tulus-senyum seorang perempuan yang percaya bahwa hidup akhirnya berpihak padanya.
"Ken...," bisiknya lirih.
Tangannya menggenggam pistol lebih erat. Larasnya terangkat, mengarah ke cermin besar di sudut kamar. Di sana, bayangannya sendiri menatap balik-mata yang sama, wajah yang sama, tapi bukan perempuan yang sama seperti di foto itu.
Untuk sesaat.
Hanya sesaat.
Lalu pistol itu diturunkan kembali.
Windi mengembuskan napas kasar. Dadanya terasa sesak. Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Langkahnya gusar, tak tentu arah, seolah pikirannya sedang berada di dua tempat yang saling bertolak belakang.
Melakukan atau tidak melakukan. Menghancurkan atau menyelamatkan.
Setiap sudut kamar ini menyimpan memori. Tawa. Tangis. Pelukan malam hari. Percakapan sebelum tidur. Semua tentang Keenan. Semua tentang cinta yang ia pikir murni-tanpa tahu bahwa cinta itu berdiri tepat di atas darah masa lalunya sendiri.
Bayangan itu datang tanpa diundang.
Tujuh tahun silam.
Televisi di rumah kontrakan kecil itu menyala sejak pagi. Hampir semua stasiun lokal menayangkan berita yang sama. Windi masih berseragam SMA saat itu. Kelas satu. Rambutnya dikepang dua. Dunia terasa sederhana-sampai layar kaca merenggut segalanya.
"Pemirsa, seorang menteri yang dikenal rendah hati dan merakyat hari ini resmi ditangkap oleh KPK..."
Wajah pria itu memenuhi layar. Senyumnya-senyum yang dulu sering menghiasi baliho dan poster kampanye-kini tampak kaku di balik rompi tahanan oranye.
Ayahnya.
Berita demi berita bergulir. Angka demi angka disebutkan. Penyelewengan anggaran mencapai Rp 7 triliun.
Tak berhenti di situ.
"Tak hanya kasus korupsi, kehidupan pribadi sang menteri turut diungkap. Ia diketahui memiliki hubungan gelap dengan seorang staf kementerian dan dikaruniai seorang anak perempuan di luar pernikahan resmi..."
Suara itu terdengar seperti palu yang memecah kepala Windi dari dalam.
Anak perempuan itu.
Dirinya.
Hari-hari setelahnya menjadi neraka. Sekolah berubah menjadi ruang penghakiman. Tatapan teman-temannya menusuk lebih tajam daripada kata-kata. Guru-guru menjadi canggung. Ibunya-perempuan yang selama ini hidup dalam bayang-bayang-mendadak menjadi bahan gosip nasional.
Dan kemudian...Windi berhenti melangkah. Tangannya gemetar saat meraih sebuah potongan koran harian nasional KOMPLIT dari dalam deposit box. Kertasnya sudah menguning, ujungnya robek, namun judulnya masih jelas, seperti luka yang menolak sembuh.
SEORANG WANITA DIDUGA SELINGKUHAN MANTAN MENTERI, MENINGGAL BUNUH DIRI
Air mata menggenang di mata Windi.
Di bawah headline itu, ada sebuah foto. Seorang wanita cantik dengan senyum lembut.
Ibunya.
Di samping foto itu, ada foto lain-seorang anak perempuan berseragam SMA, menunduk dengan wajah setengah tertutup rambut.
Windi.
Tangannya menutup mulut. Isaknya pecah, tertahan, seolah ia takut suara tangisnya akan membangunkan Keenan di kamar sebelah-meski ia tahu, suaminya sedang tidak di rumah.
"Mama...," suaranya bergetar. "Aku masih di sini..."
Ingatan terakhir tentang ibunya adalah bau obat, kamar rumah sakit yang dingin, dan tangan yang menggenggamnya erat.
"Windi... hidup yang jujur itu mahal," kata ibunya waktu itu, suaranya lemah. "Kadang... yang jujur justru yang paling disakiti."
Ia tak mengerti sepenuhnya saat itu. Kini, ia mengerti terlalu dalam.
Windi meremas potongan koran itu hingga kusut. Pistol di tangannya terasa semakin berat. Amarah dan cinta bercampur menjadi satu racun yang mengalir di nadinya.
Keenan.
Nama itu kembali muncul, membawa serta rasa bersalah yang menyesakkan. Ia mencintainya. Dengan cara yang tak pernah ia lakukan pada siapa pun. Keenan adalah lelaki yang membela kebenaran tanpa kompromi. Jurnalis hukum yang berdiri di barisan terdepan saat semua orang memilih diam. Lelaki yang menjatuhkan ayahnya-tanpa pernah tahu bahwa perempuan yang ia nikahi adalah anak dari dosa yang diungkapnya sendiri.
Ironi itu terlalu kejam.
"Aku mencintaimu, Ken," bisik Windi, air matanya jatuh ke punggung tangannya. "Tapi aku juga anak dari seorang perempuan yang mati karena kebenaran yang kau perjuangkan."
Ia teringat malam ketika Keenan pulang larut, matanya merah, suaranya serak.
"Kasus ini besar, Win," kata Keenan. "Aku tahu risikonya. Tapi kalau aku berhenti, siapa lagi?"
Windi tersenyum saat itu. Memberinya teh hangat. Menyembunyikan luka yang berteriak di dadanya. Sekarang, luka itu menuntut jawabannya.
Windi berdiri di tengah kamar, pistol tergenggam, potongan koran di tangan lain. Di hadapannya, foto prewedding itu seolah menatapnya dengan tuduhan dan harapan sekaligus.
Ia mengangkat pistol sedikit, lalu menurunkannya lagi.
Air matanya jatuh satu per satu. "Ma...," bisiknya parau. "Aku akan balaskan semua sakit yang Mama rasakan."
Tangannya mengepal. "Tunggu Windi..."
Napasnya tersengal. "Dia harus membayar lunas apa yang dia perbuat."
*****
Hujan semakin deras.
Tetesannya menghantam kaca jendela seperti ketukan tak sabar dari masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. Windi berdiri mematung di tengah kamar, pistol masih di tangannya, potongan koran terjatuh ke lantai tanpa ia sadari. Matanya menatap kosong, seolah tak lagi melihat dinding, lemari, atau foto-foto kenangan-melainkan lorong panjang penuh bayangan yang harus ia lewati sendirian.
Ia melangkah ke arah jendela. Tirai tipis tersibak. Lampu-lampu kota berpendar samar, basah oleh hujan, seperti luka yang berkilau karena air mata. Di luar sana, dunia terus berjalan, seolah tak peduli bahwa di dalam kamar ini, satu jiwa sedang bertarung dengan dirinya sendiri.
"Kenapa harus kamu, Ken?" suaranya pecah, hampir tak terdengar. "Kenapa orang yang paling kucintai justru orang yang merobohkan hidup kami?"
Ia teringat pagi-pagi sederhana bersama Keenan. Kopi hitam. Candaan kecil. Cara Keenan selalu mengecup keningnya sebelum berangkat kerja. Semua itu nyata. Semua itu tulus. Dan justru karena itulah, pengkhianatan tak kasat mata ini terasa jauh lebih menyakitkan.
Windi menutup matanya.
Dalam gelap, ia melihat wajah ibunya-lelah, pasrah, namun penuh cinta. Ia juga melihat wajah Keenan-tegas, jujur, tak pernah berpaling dari kebenaran. Dua wajah itu saling bertabrakan di kepalanya, memaksanya memilih sisi yang sama-sama akan melukainya.
Pistol itu akhirnya diletakkan di atas ranjang.
Bukan disembunyikan.
Bukan pula dijauhkan.
Hanya diletakkan-seperti keputusan yang belum selesai.
Windi berlutut, memungut kembali potongan koran itu, melipatnya rapi, lalu memasukkannya kembali ke dalam deposit box. Tangannya berhenti sejenak sebelum menutupnya. "Ma," bisiknya lagi, kali ini lebih tenang, lebih dingin. "Aku belum tahu caranya. Tapi aku janji... kebenaran tidak akan berjalan sendirian."
Kotak besi itu ditutup.
Klik.
Suara kecil itu menjadi penanda: bukan akhir, melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Di kejauhan, suara pintu rumah terbuka terdengar samar.
Langkah kaki.
Keenan pulang.
Windi berdiri, mengusap air matanya, wajahnya kembali tenang-terlalu tenang untuk perempuan yang sedang menyimpan badai di dadanya.
Cinta belum mati.
Namun luka telah memilih untuk hidup lebih lama.
Dan malam itu, tanpa Keenan sadari, pernikahan mereka memasuki ruang sidang paling sunyi: hati Windinosa Cinta Pratiwi.
Di luar, hujan mulai turun pelan, mengetuk jendela kamar mereka-rumah yang dibangun dari cinta, kini berdiri di atas jurang dendam.
Dan di sanalah Windi berdiri.
Di antara dua pilihan.
Cinta.
Atau luka yang menuntut balas.