BAB 2 : Anak Haram dan Tinju

1587 Words
Sorak penonton mengguncang hall utama di GOR USM yang disulap menjadi arena tarung bebas, malam itu seperti gelombang yang menghantam karang tanpa ampun. Lampu-lampu sorot menari di udara, memantul pada keringat, asap, dan ekspektasi ribuan pasang mata yang memadati arena. Malam itu, Semarang tidak sekadar menjadi tuan rumah pertarungan—ia menjadi saksi. Di tengah oktagon yang dingin dan kejam, satu nama kembali dipanggil untuk kesebelas kalinya. Windinosa Cinta Pratiwi. Di ruang ganti, Windi duduk di bangku kayu panjang. Tangannya terbalut perban putih, rapat, presisi. Napasnya teratur, masuk dan keluar dengan disiplin seorang petarung yang telah menelan rasa sakit sejak remaja. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seorang perempuan yang sebentar lagi akan mengunci diri bersama lawan di dalam kandang besi. “Sebelas kali,” gumam pelatihnya, Arga, sambil mengecek pelindung gigi. “Dan kau masih terlihat seperti hendak jalan makan malam.” Windi tersenyum tipis. “Karena aku tahu caranya pulang.” Pintu ruang ganti terbuka. Keenan Satria masuk perlahan, menggandeng tangan kecil putri mereka yang baru berusia empat tahun. Anak itu mengenakan headset besar berwarna merah muda, hampir menutupi telinganya, matanya berbinar melihat cahaya dan keramaian. “Bunda,” katanya pelan, seolah kata itu adalah doa. Windi berdiri. Dalam sekejap, ia bukan petarung. Ia istri. Ia ibu. Ia menunduk, mengecup kening putrinya. “Doakan Bunda, ya,” bisiknya. “Bunda menang,” jawab anak itu yakin, polos, tanpa ragu. Keenan tersenyum—senyum yang selalu berusaha menutupi kegelisahan. Perbedaan usia dua puluh dua tahun di antara mereka tak pernah menjadi jurang, tapi malam ini terasa seperti celah yang menganga. Tangannya menyentuh lengan Windi, merasakan otot-otot yang mengeras di balik balutan kain. “Kau yakin?” tanyanya lirih. Windi menatap suaminya. Mata itu—mata yang pernah membaca berkas perkara ribuan halaman, mata yang menjatuhkan menteri dan mengguncang negeri—kini hanya menyimpan satu ketakutan: kehilangan. “Dua ronde,” kata Windi mantap. “Aku janji.” Keenan menghela napas. “Kau selalu berjanji seperti itu.” “Dan aku selalu pulang,” sahut Windi lembut. Ia mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Keenan, cukup pelan untuk tak didengar siapa pun. Keenan tertegun, lalu menggeleng kecil, tersenyum pahit. “Fokus,” katanya. “Jangan buat aku cemburu pada oktagon.” Windi tertawa pelan. “Tuhan dulu. Kalian berdua setelahnya.” Di luar, suara announcer menggema, menyebut rekor, statistik, dan satu fakta yang membuat jantung Keenan berdegup lebih kencang dari biasanya: lawan Windi malam ini adalah raja tarung Asia Tenggara. Nama itu sudah beredar berminggu-minggu. Maribel “Iron Queen” De la Cruz. Petarung asal Filipina. Tubuhnya lebih gempal, bahunya lebar, pukulannya terkenal brutal. Tiga pertarungan terakhir—KO. Satu lawan bahkan dilarikan ke rumah sakit dengan bahu cedera dan pinggul retak akibat sapuan tendangan memutar yang tak sempat diantisipasi. Keenan menelan ludah. Ia teringat jumpa pers sebelum pertandingan. Tatapan Maribel yang dingin. Senyum mengejeknya. “Cantik bukan berarti kebal,” kata Maribel waktu itu, mikrofon nyaris menempel di bibirnya. Windi berdiri terlalu cepat. Kursinya tergeser. Emosi melonjak. Petugas dan wasit harus melerai sebelum tangan Windi benar-benar terangkat. “Aku tak butuh cantik untuk mengalahkanmu,” jawab Windi tajam. “Aku butuh satu kesempatan.” Malam ini, kesempatan itu ada. Keenan duduk di sudut kiri tribun, memangku putrinya. Lampu memudar, lalu menyala lagi. Musik berdentam. Penonton berdiri. Teriakan nama Windi menggulung dari satu sisi ke sisi lain. “Bunda!” anak kecil itu berseru, melambaikan tangan kecilnya. Windi melangkah keluar dari lorong, disambut cahaya dan suara. Tubuhnya bergerak ringan, seolah oktagon adalah rumah lama yang dikenalnya dengan baik. Setiap langkah adalah hasil dari latihan sejak SMA—saat luka belum bernama dendam, saat tinju hanya cara bertahan hidup. Ia naik ke atas kandang. Menggenggam pagar besi. Menutup mata sejenak. Keenan menatapnya. Dalam benaknya, potongan-potongan hidup berkelebat: Windi dengan luka di alis, Windi dengan senyum setelah menang, Windi yang selalu berkata, “Aku baik-baik saja.” Pengumuman hampir selesai. Tiba-tiba, lampu utama dipadamkan. Satu sorot cahaya menyala di lorong seberang. Musik berubah. Lebih berat. Lebih gelap. Announcer mengangkat suara. “Dan sekarang… petarung yang telah menumbangkan lawan-lawannya dengan KO brutal… sang ratu oktagon Asia Tenggara…” Langkah kaki terdengar. Satu. Dua. Siluet besar muncul dari balik asap. Sorak penonton meledak, memekakkan telinga. Nama itu diteriakkan ribuan mulut. MARIBEL DE LA CRUZ. Windi membuka mata. Tangannya mengepal. Dan malam itu, oktagon bersiap menelan dua perempuan—dengan satu nasib yang akan ditentukan darah, napas, dan janji yang tak boleh patah. Bel pertama belum berbunyi. Namun jantung Keenan sudah lebih dulu menghantam dadanya. Windi berdiri di sudut kandang, wajahnya menghadap ke depan, bahunya naik-turun perlahan mengikuti napas yang terkontrol. Di seberang, Maribel De la Cruz melakukan pemanasan ringan—leher diputar, rahang dikatupkan, tinjunya memukul udara seperti ancaman yang tak perlu suara. Wasit masuk. “Fighter, ready?” Windi mengangguk. Maribel menyeringai. Dan tepat sebelum tangan wasit turun, dunia Windi runtuh ke masa yang paling ingin ia lupakan. ***** Tujuh tahun lalu, di ruang kelas SMA yang bau kapur dan keringat, nama Windinosa Cinta Pratiwi bukan dipanggil—melainkan dilemparkan. “Eh, itu anak haram.” Bisik-bisik itu terdengar lebih keras daripada teriakan. Windi duduk di bangku paling belakang. Seragam putih abu-abunya rapi, namun wajahnya kosong. Di luar jendela, hujan turun seperti malam ini—seolah semesta selalu memilih cuaca yang sama untuk mengulang luka. Telepon genggam bergetar di saku rok. Berita. Judulnya besar. Brutal. Tanpa ampun. MENTERI MERAKYAT TERJERAT KASUS KORUPSI RP 7 TRILIUN—TERUNGKAP MEMILIKI SIMPANAN DAN ANAK DI LUAR NIKAH Foto itu muncul lagi. Wajah ibunya. Wajahnya sendiri. Komentar mengalir seperti muntahan. Pelakor. Anaknya pasti sama busuknya. Pantes kaya miskin, hasil haram. Windi menutup layar. Terlambat. Tiga bangku di depannya, seorang siswi menoleh sambil tertawa kecil. “Win, katanya mamamu simpanan ya?” Kelas pecah oleh tawa. Guru pura-pura tidak dengar. Hari itu, Windi pulang dengan kaki gemetar. Rumah kontrakan kecil mereka sunyi. Terlalu sunyi. Ibunya ditemukan tergantung di kamar mandi malam itu. Tak ada surat. Tak ada pesan. Hanya tubuh yang menyerah pada rasa malu yang lebih kejam daripada kemiskinan. Pemakaman berlangsung cepat. Tetangga datang bukan untuk berdoa, melainkan memastikan gosipnya benar. Ada yang berbisik, ada yang menatap jijik. Windi berdiri sendiri. Di usianya yang enam belas tahun, tanpa ibu, tanpa ayah. Dengan satu label yang menempel lebih kuat daripada nama: anak haram. Hari-hari setelahnya adalah pengusiran yang tak pernah ditulis. Ia pindah kontrakan. Lalu pindah lagi. Lalu kost sempit di belakang pasar. Sekolah tetap berjalan, tapi ia berhenti menjadi murid—ia menjadi sasaran. Medsos menghajarnya siang malam. Dan lapar tidak menunggu belas kasihan. Windi bekerja paruh waktu di gudang beras pasar induk. Mengangkat karung. Membersihkan debu. Dibayar harian. Hingga suatu malam, gudang hampir kosong. Tiga preman pasar masuk. Tercium bau alkohol yang menyengat. Tawa ketiganya terdengar memuakkan dan recehan. Saat itu Windi yang hendak pulang setelah menerima upahnya berusahanya menghindar, namun salah satu preman menarik lengannya. “Cantik juga anak menteri,” katanya sambil tertawa. Saat itu Windi melawan. Namun kekuatan seorang wanita, murid SMA sangat auh dari ketiga preman tersebut. Setelah ditampar, tubuhnya didorong menghantam tumpukan sampah dan keningnya menghantam pinggiran tong sampah hingga darah mengalir dari pelipis. Saat itulah Windi merasakan sesuatu di dalam dirinya pecah. Ia tidak menangis. Dengan tak mengenal takut, Windi berdiri dan balas menghantam. Salah satu preman yang berbadan kurus, dihantam tepat di mata kanannya dan seorang lainnya digigit telinganya dan nyaris putus. Tak hanya itu, preman yang menamparnya tadi ditendang tepat di selakangannya dengan sekuat tenaga dengan kakinya yang beralaskan sepatu kickers butut yang sudah berlubang di pojok kirinya. Kemarahan tujuh tahun ia tumpahkan dalam lima menit. Dua preman terkapar dan yang ketiga lari sambil mengumpat. Windi jatuh setelahnya. Tubuhnya remuk. Beberapa tulang rusuknya retak dihantam preman yang tadi telah digigit telinganya dan nyaris putus. Wajah lebam namun mulut penuh darah preman yang digigit tadi. Dan di situlah Keenan Satria menemukan dirinya. Malam itu, Keenan baru selesai liputan kriminal. Ia melihat kerumunan kecil di pasar. Seorang gadis tergeletak, napasnya pendek, matanya masih menyala. “Jangan sentuh aku,” Windi mendesis saat Keenan mendekat. “Aku tidak akan,” jawab Keenan pelan. “Aku cuma mau menolong.” “Semua orang bilang begitu.” Keenan tersenyum miris. “Aku jurnalis hukum. Bohonganku biasanya tertulis.” Windi pingsan di lengannya. Dan saat terbangun dia mendapati dirinya di rumah sakit. Keenan duduk di kursi plastik, menatap lantai. “Kenapa?” tanya Windi lirih. “Kau hampir mati,” jawab Keenan. “Dan aku kebetulan lewat.” Waktu seakan membuka lembaran baru bagi Windi karena bantuan Keenan tidak berhenti di sana. Ia mencarikan tempat tinggal. Mengurus sekolah. Membantu biaya hidup. Dan itu semua tulus tanpa menyentuh. Tanpa bertanya berlebihan. “Kenapa kamu menolong aku?” tanya Windi suatu sore. Keenan menjawab sederhana, “Karena kalau tidak, kau akan tumbuh jadi orang yang membenci dunia. Dan dunia sudah cukup penuh orang seperti itu.” Keenan pula yang memperkenalkan Windi pada Arga. “Belajarlah bela diri,” kata Keenan. “Bukan untuk menyerang. Untuk bertahan.” Windi bertahan. Lalu melampaui. Dan kini tinju menjadi bahasa. Luka menjadi rutinitas. Dan dendam menemukan saluran. ***** “FIGHT!” Wasit menurunkan tangan. Dengan gerakan laksanakan kilat, Maribel menyerang lebih dulu. Satu pukulan kanan. Namun Windi menghindar tipis. Sorak penonton menggelegar. Keenan berdiri refleks. Putrinya memeluk lehernya. “Bunda kuat,” kata anak itu. Windi tersenyum kecil. Ia tahu. Ia selalu tahu. Ia tidak lahir untuk kalah. Ia lahir dari luka—dan luka mengajarkannya cara bertahan lebih keras daripada siapa pun. Dan di dalam oktagon itu, masa lalunya tidak lagi mengejarnya. Ia yang mengejar balik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD