BAB 3 : Lahirnya Legenda Baru

1698 Words
Benturan pertama terdengar seperti palu menghantam besi. Pukulan kanan Maribel De la Cruz melesat cepat, jauh lebih cepat dari yang dibayangkan Keenan. Udara di sekitar oktagon seolah terbelah, dan untuk sepersekian detik Keenan merasa waktu berhenti—seperti saat vonis dibacakan di ruang sidang, ketika satu kalimat bisa mengubah hidup seseorang selamanya. Windi menghindar setengah langkah. Bahunya tetap terkena. Tubuhnya terdorong ke samping, menghantam pagar besi. Bunyi logam berderit panjang. "Bunda!" teriak putri kecil mereka, suaranya teredam headset, namun cukup menusuk d**a Keenan. "Tenang sayang," bisik Keenan, entah pada anaknya atau pada dirinya sendiri. Tangannya berkeringat. Lututnya lemas. Ia sudah terlalu sering melihat Windi bertarung—di televisi, di arena kecil, di sasana latihan Arga—namun malam ini berbeda. Malam ini, setiap pukulan terasa seperti diarahkan kepadanya. Maribel tersenyum dingin. "Cepat juga kau," katanya dalam bahasa Inggris beraksen Filipina, cukup keras untuk terdengar di mikrofon oktagon. "Tapi kau tetap terlalu kurus." Windi tidak menjawab. Ia hanya menurunkan bahu, mengubah kuda-kuda, dan menatap lurus ke mata lawannya. Ia pernah menghadapi tatapan seperti itu. Tatapan yang menilai apakah ia pantas dihancurkan. Tatapan guru-guru di sekolahnya dulu. Tatapan tetangga. Tatapan orang-orang yang membaca berita tentang ibunya lalu merasa punya hak untuk menghakimi. Tinju kiri Windi melesat cepat, disusul tendangan rendah ke paha Maribel. Tendangan itu tidak keras, tapi tepat. Strategi Arga selalu sama: pecah ritme, hancurkan keseimbangan, baru serang jantung. Maribel mendengus. Ia membalas dengan kombinasi pukulan yang membuat udara berdesing. Windi mundur, satu langkah terlalu lambat. Pukulan kiri Maribel menghantam rahang Windi. Kepala Windi terpelanting ke samping. Rambutnya yang terikat kencang terlepas sedikit. Sorak penonton memuncak. Keenan berdiri setengah, hampir melompati pembatas tribun. "Jaga jarak, Win!" teriak Arga dari sudut ring. Windi mengangguk kecil. Mulutnya terasa asin. Darah. Sedikit saja. Belum apa-apa. Ia mengingat kata-kata Keenan suatu malam, bertahun lalu, saat ia pulang latihan dengan tulang kering lebam. "Kenapa kau terus melukai dirimu sendiri?" tanya Keenan waktu itu, suaranya bukan marah, tapi takut. Windi tersenyum sambil mengompres es. "Karena ini satu-satunya cara aku merasa hidup." Keenan diam lama. "Kalau suatu hari aku minta kau berhenti?" Windi menatapnya. "Kalau suatu hari aku berhenti, aku harap itu karena aku sudah menemukan alasan hidup yang lebih kuat." Malam ini, alasan itu duduk di tribun—memeluk seorang anak kecil yang menangis makin keras setiap kali pukulan mendarat. Maribel bergerak maju, menekan. Tubuhnya lebih besar, berat badannya jelas lebih unggul. Ia mendorong Windi ke pagar, mengunci lehernya dengan forearm yang keras seperti batang besi. "Ini arena dewasa," bisik Maribel ke telinga Windi. "Bukan tempat anak kecil bermain." Windi meringis, tapi matanya menyala. "Aku sudah dewasa sejak ibuku mati," balasnya lirih. Ia mengangkat lutut, menghantam perut Maribel. Sekali. Dua kali. Ketiga kali lebih keras. Pegangan terlepas. Windi berputar, melayangkan siku ke pelipis lawannya. Maribel terdorong mundur satu langkah. Penonton berteriak. Keenan merasakan dadanya bergetar. Untuk sesaat, harapan itu muncul—harapan bodoh bahwa segalanya akan baik-baik saja. Namun raja tarung Asia Tenggara tidak sampai di puncak dengan mudah. Maribel mengaum pelan, lalu menerjang. Pukulan kanan, kiri, lalu sapuan kaki yang cepat dan kejam. Kaki Windi terangkat. Tubuhnya terhempas ke kanvas. BAM. Seluruh udara di paru-parunya seakan keluar bersamaan. "Bangun, Bunda!" jerit anak kecil itu, kini menangis tanpa bisa ditahan. Windi berusaha bangkit. Tangannya gemetar. Pandangannya berkunang. Lampu-lampu di atas terlihat berputar. Ia teringat hari ketika ibunya dikuburkan. Ia teringat bagaimana tanah menutup wajah yang paling ia cintai. Ia teringat janji yang diucapkan di kamar tidur mereka—janji yang tak pernah diucapkan keras-keras, tapi selalu hidup di dadanya: aku tidak akan mati sebagai korban. Maribel tidak memberinya waktu. Satu pukulan menghantam pipi. Dua. Tiga. Setiap pukulan seperti membawa suara masa lalu. Anak haram. Pelakor. Pantas ibumu bunuh diri. Windi menjerit—bukan dengan suara, tapi dengan tinju. Ia melawan, memutar tubuh, berusaha mengunci kaki Maribel. Mereka bergulat di lantai. Keringat, darah, dan napas bercampur. "Berhenti!" teriak Arga. "Cari jarak!" Namun Maribel lebih kuat. Ia mengangkat tubuh Windi, membantingnya kembali ke kanvas. Kali ini lebih keras. Kepala Windi menghantam lantai. Dunia bergetar. Keenan membeku. Tangannya memeluk putrinya terlalu erat. "Papa... Bunda kenapa?" isak anak itu, suaranya pecah. Keenan tidak menjawab. Matanya terkunci pada tubuh istrinya yang kini tergeletak, d**a naik turun tidak teratur. Windi mencoba bangkit. Gagal. Pelipisnya terbuka. Darah mengalir, membasahi kanvas, hangat, lengket. Dalam pandangannya yang kabur, ia melihat wajah Keenan. Wajah yang sama seperti malam di rumah sakit bertahun lalu. "Aku tidak akan meninggalkanmu," kata Keenan waktu itu, suaranya parau. "Kau tidak sendirian lagi." Windi tersenyum kecil—atau setidaknya ia merasa melakukannya. Ia ingin berkata sesuatu. Tentang cinta. Tentang maaf. Tentang janji yang mungkin terlalu berat untuk ditepati. Namun dunia terlalu bising. Wasit berlutut di sampingnya. Satu tangan terangkat. "ONE!" Suara itu menggema seperti vonis. Keenan terpaku. Anak kecil yang ada di pangkuannya itu menjerit lebih keras, tangisnya berubah menjadi jeritan murni, ketakutan yang belum mengenal kata kompromi. "Bunda! BUNDA!" Windi mendengar suara itu. Samar. Seperti datang dari ujung lorong panjang yang gelap. Matanya berusaha terbuka. Lalu mulai menutup. Dan di detik itu—di antara darah, cinta, dan dendam—Windi tidak tahu apakah ia sedang jatuh... atau akhirnya menemukan tempat untuk beristirahat. "SEVEN!" Suara wasit menggema di dalam oktagon, memantul pada pagar besi, menabrak d**a ribuan penonton yang kini menahan napas bersamaan. Windinosa Cinta Pratiwi masih tergeletak. Pelipis kanannya robek. Darah mengalir tanpa izin, menuruni pipi, membasahi bibir, jatuh ke kanvas seperti titik-titik waktu yang tak bisa ditarik kembali. Pandangannya gelap separuh. Lampu-lampu di atas kepalanya bukan lagi lingkaran cahaya, melainkan noda putih yang berputar-putar, menjauh, lalu mendekat kembali. Di kejauhan, suara itu datang. "BUNDAAAA!" Tangisan. Jeritan. Bukan suara penonton. Bukan suara komentator. Suara itu terlalu jujur untuk jadi bagian dari tontonan. Putrinya. Suara kecil yang memanggilnya dengan seluruh dunia yang ia punya. Windi mengerjap pelan. Kelopak matanya berat, seperti ditarik oleh malam yang ingin menelannya bulat-bulat. Namun suara itu—tangisan yang pecah, yang tak tahu cara berhenti—menjadi palu godam yang menghantam kepalanya dari dalam. Ia melihatnya. Keenan berdiri di tribun, tubuhnya kaku, wajahnya pucat seperti kertas yang basah. Air mata mengalir tanpa ia sadari. Lelaki yang tak pernah menangis di ruang sidang, yang menghadapi jaksa dan hakim dengan kepala tegak, kini runtuh di depan kandang besi. Matanya bertemu mata Windi. Untuk sepersekian detik, dunia diam. Tidak ada oktagon. Tidak ada Maribel. Tidak ada penonton. Hanya mereka berdua. Dan janji-janji yang tak pernah diucapkan tapi selalu hidup. "Delapan!" Suara wasit terdengar lebih dekat. Lebih keras. Lebih mendesak. Windi menggerakkan jarinya. Pelan. Lalu tangannya. Tubuhnya bergetar hebat, seperti mesin tua yang dipaksa hidup kembali. Setiap saraf menjerit. Setiap tulang terasa ingin patah ulang. Namun di balik rasa sakit itu, ada sesuatu yang lebih kuat—amarah, cinta, dan ketakutan kehilangan bercampur menjadi satu bahan bakar paling kejam. Ia berguling. Satu lutut menempel kanvas. Darah menetes lebih deras. Sorak kecil terdengar, ragu, tak percaya. Windi mengangkat kepalanya. "SEMBILAN—!" "STOP!" Wasit menghentikan hitungan. Windi berdiri. Sempoyongan. Tubuhnya miring, hampir jatuh lagi, tapi ia bertahan dengan cara yang sama seperti ia bertahan hidup selama ini—dengan keras kepala dan luka. Sorak penonton meledak. Bukan sorak kemenangan. Sorak keajaiban. Maribel De la Cruz menatapnya dengan wajah yang untuk pertama kalinya kehilangan senyum mengejek itu. Rahangnya naik turun. Napasnya berat. Ia tak menyangka. Tak ada yang menyangka. Keenan menutup mulutnya dengan tangan gemetar. "Bunda... bangun..." isak putri mereka berubah jadi doa. Windi mengusap darah yang menutupi mata kanannya. Pandangannya tetap kabur, tapi ia tak butuh penglihatan sempurna untuk satu hal ini. Ia butuh satu kesempatan. Dan kesempatan itu datang dengan cara paling jujur: kesalahan lawan. Maribel maju terlalu cepat. Terlalu yakin. Dagunya terbuka sesaat—sebuah celah kecil yang hanya bisa dilihat oleh petarung yang pernah hidup di jalanan, di gudang beras, di antara preman dan kelaparan. Windi melangkah masuk. HOOK. Pukulan kanan menghantam dagu Maribel dengan suara tumpul yang membuat beberapa penonton refleks menutup mata. Sebelum tubuh Maribel sempat bereaksi— LUTUT. Hantaman keras menghantam perut dan d**a sekaligus, memanfaatkan berat tubuh yang sedang maju. Bunyi udara keluar dari paru-paru Maribel terdengar jelas, seperti kantong yang diremas paksa. Maribel terlempar ke belakang. Tubuhnya menghantam pembatas besi. BAM! Seluruh oktagon bergetar. Maribel jatuh dengan posisi aneh, bahunya lebih dulu menghantam lantai, kepalanya membentur sudut pagar. Tubuhnya diam. Sunyi. Untuk satu detik. Dua detik. Tiga detik. Penonton terdiam. Lalu— SORAK. Ledakan suara memekakkan telinga. Nama Windi diteriakkan. Bukan sebagai petarung. Tapi sebagai legenda yang baru lahir malam itu. Wasit berlari ke arah Maribel. Tim medis masuk. Tandu disiapkan. Wajah-wajah profesional berubah serius. Tidak ada hitungan. Tidak ada drama tambahan. Pertarungan selesai. Keenan terduduk lemas. Putri mereka menjerit—kali ini bukan tangis ketakutan, tapi campuran lega dan histeria yang tak ia pahami sepenuhnya. Windi berdiri di tengah oktagon. Darah masih mengalir. Napasnya terengah. Tangannya bergetar. Wasit menggenggam pergelangan tangannya. "MELALUI KNOCKOUT... PEMENANG PERTANDINGAN INI—WINDINOSA CINTA PRATIWI!" Tangannya diangkat. Sorak makin keras. Lampu menyorot. Namun dunia Windi tidak ikut merayakan. Gelap merambat dari sudut pandangnya. Suara-suara menjauh. Ia sempat melihat Keenan. Mulut Keenan bergerak—memanggil namanya. Lalu hitam. ***** Bau antiseptik. Itu hal pertama yang Windi sadari. Lalu suara mesin yang berdetak pelan. Matanya terasa berat, seperti dilapisi pasir. Ketika ia mencoba membukanya, cahaya putih menusuk, memaksanya mengerjap berkali-kali. Langit-langit. Putih. Bersih. Ruang VIP. Rumah Sakit Elisabeth. Butuh beberapa detik sebelum ingatannya menyusun kembali potongan-potongan malam itu—oktagon, darah, sorak, hitam. "Ken...," bisiknya lirih. Kepalanya berdenyut hebat. Perban membalut pelipis kanannya. Tubuhnya terasa seperti dilindas truk, namun ia hidup. Ia menoleh pelan ke samping. Keenan. Duduk di kursi dekat ranjang. Tubuhnya membungkuk. Kepalanya tertunduk, bertumpu pada lengan yang terlipat di atas ranjang. Ia tertidur. Wajahnya kusut. Matanya sembab. Ada sisa air mata yang mengering di pipinya. Windi menatapnya lama. Ada rasa hangat yang mengalir di dadanya—rasa yang jauh lebih kuat daripada rasa sakit di tubuhnya. Namun ada satu hal yang membuat dadanya kembali sesak. Ruangan itu terlalu sunyi. Tidak ada suara kecil. Tidak ada tangisan. Tidak ada napas pendek yang biasanya menemani mereka. "Ken..." Windi memanggil lagi, lebih pelan. Keenan bergerak sedikit, tapi tidak bangun. Windi menelan ludah. Matanya berkeliling. Kosong. Putri mereka tidak ada. Dan untuk pertama kalinya sejak Windi berdiri kembali di hitungan delapan—ketakutan itu kembali datang, pelan tapi mematikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD