Bab 9

1085 Words
Dua jam lalu,dua bersaudara itu sudah sampai di Jakarta. Baim sudah menghubungi orang tua mereka bahwa dia dan adiknya sudah sampai rumah. Pria itu sangat tau bagaimana pentingnya kata aku sudah sampai tujuan bagi orang tuanya,karena setiap dia mau pergi ke manapun,kedua orang tuanya selalu berpesan dengan kata,kabarin kalau sudah sampai. Sampai detik ini,pria 28 tahun itu tak pernah lupakan hal itu. Baim berjalan menuju meja makan, beberapa waktu lalu pembantunya telah memberitahukan padanya tentang makanan yang siap di meja makan. "Mbok, Audrey belum bangun ya?" "Sudah,Den. Tadi mbok sudah bangunin, sepertinya dia masih di kamar mandi." "Ohh.." "Saya permisi ke belakang dulu ya,Den." "Silahkan, Mbok." Narsih, pembantu yang Baim pekerjakan di rumahnya segera pamit undur diri ke belakang, melanjutkan kegiatan menjemur pakaian yang sempat dia tunda satu jam lalu guna memasak makanan untuk tuannya. Derap langkah di tangga membuat pria itu menoleh ke sumber suara. "Wahhh udah siap ternyata,padahal tadi Audrey mau bantu si Mbok masak," ucap gadis itu seraya menarik kursi dan duduk di depan kakaknya. "Mau bantu si Mbok lewat mimpi ya?" Baim menaikkan sebelah alisnya mengejek. "Yee.. Audrey pinter loh masak." "Ya udah sekarang makan dulu, setelah ini kita ke rumah Papa,ya. Kamu udah ga capek,kan?" Baim baru saja mendapatkan telpon dari Ryan agar mereka berkumpul di rumah orang tua mereka, kebetulan besok pagi,Wijaya akan pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah umroh bersama istrinya. "Boleh,Audrey udah seger lagi ini. Audrey udah kangen banget sama semuanya." Baim hanya tersenyum tipis mendengar ocehan adiknya yang begitu semangat. Pria itu menyendok kan nasi ke piringnya dan mereka menikmati makan siang bersama hari ini. --- Bu Narsih sudah membereskan sisa makanan dan piring-piring kotor di atas meja,tak lupa juga dia mengelap meja makan agar tak ada semut yang berkumpul di sana nantinya. Baim belum bergeming dari duduknya,pria itu masih menatap layar ponselnya dan berbalas pesan dengan beberapa pekerjaannya di kantor. "Astaga!!!" Baim sampai berdiri karena kaget setelah mendapat sebuah pesan dari salah satu kontaknya yang diberi nama kakak ipar. Narsih tentu saja juga ikut kaget karena dia belum jauh melangkah meninggalkan sang tuan muda yang menjadi tempatnya menggantungkan hidupnya. "Kenapa atuh,Den?" "Eh,ga ada apa-apa Mbok," Baim menghela napas dalam-dalam,dia benar-benar dibuat kesal oleh gadis yang sama sekali tak berniat dia cintai. "Kenapa,Mas?" tanya Audrey yang baru datang,dia tadi mengambil minuman dingin di kulkas,tapi mendengar kakaknya teriak dia langsung menuju meja makan lagi. Wajah Baim terlihat begitu emosi kala adiknya datang. "Ikut Mas ke atas!" perintahnya pada Audrey dan tanpa satu dua tiga lagi,gadis itu mengikuti kakaknya ke lantai dua rumah yang mereka tinggali. "Ada apaan,sih? Kok kaya emosi banget? Ada masalah?" Jujur saja gadis itu khawatir jika kakaknya dalam masalah, meskipun sering ribut,tapi dia begitu sayang pada pria di depannya ini. "Dita datang ke rumah,ketemu Mesya dan Lula!" suara Baim benar-benar bercampur dengan amarahnya. "Hah? Kok Mas Baim sampe emosi banget gini,sih? Mba Dita,kan sahabatnya Mba Mey. Bagus dong kalah Mba Dita ke Bandung jenguk mereka,kok Mas jadi aneh gini?" Audrey mendengkus kesal,tadi dia benar-benar khawatir,takut ada masalah besar yang menimpa kakaknya,tapi ternyata hanya karena Dita,gadis yang dia kenal baik itu datang menjenguk keponakan dan kakak iparnya. "Mas ga akan marah kalau ada yang jenguk Mesya dan Lula,tapi Mas ga akan biarin wanita ular itu menggangu hidup Mesya terus-terusan. Sudah terlalu banyak rasa sakit yang dia tinggalkan di antara kami karena obsesi dan ambisinya!!!!" Baim berbicara dengan lantangnya,tangan pria itu bahkan mengepal,menahan amarahnya yang benar-benar tersulut karena Dita, "mungkin mas bisa terima kalau Mesya bukan jodohnya mas. Tapi,mas ga akan pernah bisa lupa penyebab Mesya diharuskan meninggalkan mas Baim untuk Bang Hendra!!" Baim kembali mengepalkan tangannya, tatapan pria itu jauh ke luar jendela kamarnya yang gordennya terbuka. "Apa maksud ucapanMas tadi? Apa yang kalian tau tapi Audrey tidak tau?" Kali ini Audrey yang tadinya sudah duduk di sofa dalam kamar Baim, langsung kembali berdiri. Gadis itu menatap dalam wajah kakaknya. "Jawab Audrey,Mas!! Apa ini ada hubungannya dengan kisah cinta kalian yang tiba-tiba tertukar seperti saat ini?" Audrey menangkup wajah kakaknya, untuk pertama kalinya dia melihat kakaknya begitu rapuh seperti saat ini. Bulir bening tak bisa lagi di tahan pria itu di depan adiknya. "Mas...cerita sama Audrey..ada apa sebenarnya?" Audrey melembutkan suaranya,dia menyesal selama ini begitu bodo amatan pada hubungan kedua saudaranya. Melihat Baim serapuh ini membuat dia yakin akan suatu kebenaran, kebenaran yang seharusnya dia tau sejak lama. "Dita. Dita penyebab semuanya.." ucap Baim kemudian,suaranya sudah bergetar dan serak. "Mba Dita? Kenapa dengannya? Audrey mohon, ceritakan semuanya pada Audry,Mas..." Audrey menarik tangan kakaknya dan membawanya duduk di sofa. Baim sesekali menghela napas panjang. "Maafin mas karena selama ini ga cerita apapun pada kamu," Baim menatap adiknya dengan sendu, "tapi sekarang, mungkin adalah waktu yang tepat untuk kamu tau semuanya." "Ceritakan semuanya pada Audrey,Mas." Baim menghela napas panjang,tadi dia benar kelawatan emosi karena chat dari Mesya yang mengatakan kalau Dita datang mencarinya,Mesya minta tolong pada Baim agar membuat wanita itu tidak mengatakan apapun tentang Alula, lagi. Mesya takut akan banyak orang yang tau tentang dia yang hamil di luar nikah,itu akan berbahaya bagi putrinya di kemudian hari. Pria itu manatap adiknya sejenak, lagi-lagi dia menghela napas panjang,dan Audrey hanya mengelus d**a agar dirinya lebih bersabar menghadapi pria aneh di depannya ini. Setelah beberapa saat diam dalam keheningan,Baim membuka suaranya. Semuanya dia ceritakan pada adiknya, termasuk tentang dirinya yang dulu akan melamar Mesya dua hari sebelum kabar memilukan hatinya datang. Mata Audrey sebentar-bentar membulat sempurna, sesekali dia juga manatap iba pada kakak keduanya itu. Gadis delapan belas tahun itu benar-benar tak menyangka akan kisah cinta yang begitu rumit telah terjadi pada kedua kakaknya. Dia tak bisa bayangkan bagaimana hancurnya Baim sehingga memutuskan untuk menghilang dari mereka selama setahun lamanya. "Bahkan sampai detik ini,mas belum seratus persen yakin bahwa mas bisa lupakan kenangan yang pernah mas lewati dengannya,Drey." Baim menangkup wajahnya,lalu mengusap air mata dengan punggung tangannya. "Mas..,maafin Audrey ya. Harusnya dari dulu Audrey tahu semua itu, harusnya Audrey paham tentang perasaan,mas Baim. Maafin Audrey ya,Mas." Audrey memeluk Baim,dia juga tak bisa menahan bulir bening mengalir dari sudut matanya. Dia merasa bersalah karena selama ini dia selalu mengejek kakaknya dan memintanya segera menikah seperti abang sulung mereka. Tanpa dia tau bagaimana susahnya Baim menata hati dalam menjalani hari-harinya bersama mereka. "Sudahlah,yang terpenting sekarang,kamu jangan sampai kebablasan,jangan sampai terlalu percaya pada orang,karena bisa jadi yang bersama kamu itu hanya seekor serigala yang siap menerkam kamu kapan saja." Audrey mengangguk,dia paham maksud kakaknya. kali ini,gadis itu bertekad dalam hatinya untuk mencarikan wanita yang baik untuk mendampingi kakaknya,dan mulai hari ini,tak ada lagi Dita dalam daftar orang baik dalam hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD