Barang-barang sudah siap di mobil,Baim dan Audrey menyalami kedua orang tua mereka dan juga sang kakak.
"Jangan bandel di sana ya, Nak! Nurut sama Mas kamu."
"Siap Yah, Ayah tenang aja, Audrey janji akan jadi anak baik di sana."
"Iya Yah,Ayah tenang aja,nanti kalau dia macam-macam biar Baim ceburin ke kolam hiu biar sekalian dimakan," Baim menimpali adiknya seraya mesih memeluk wanita nomor satu dalam hidupnya itu.
Mirna hanya menggelengkan kepalanya karena tingkah Baim.
"Yee,yang ada nanti Mas yang aku ceburin balik,biar jadi cupang,wekk" Audrey menjulurkan lidahnya mengejek Baim.
Keduanya orang tuanya hanya bisa menghela napas dalam-dalam, sementara Hendra terkekeh melihat mereka yang jarang sekali akur,tapi dia tau mereka saling menyayangi seperti dia menyayangi mereka.
"Alula mana,Bang?"
Dari tadi Baim salaman tapi dia belum mau pergi karena belum melihat ponakannya itu.
"Di sini,Om!!!"
Seorang wanita keluar dari pintu dan langsung menuju mereka, Hendra menyambut kedatangan wanita yang kini menjadi prioritas hidupnya tanpa ada lagi keraguan.
"Maaf ya,tadi Alula pup. Jadi aku ganti dulu," Mesya menyunggingkan senyum manisnya,"Sayang,kamu ditungguin Om loh..tadi mama pikir udah pelgii karena kita lama..."
"Ya ga bakal lah!! Ini kan ponakan kesayangan om,ga mungkin om berangkat ke Jakarta tanpa cium dia dulu...." Baim mendekatkan wajahnya dan mencium pipi gembul Audrey yang masih dalam gendongan Mesya.
"Om kerja dulu ya,Nak. Nanti om bawain oleh-oleh yang banyakkkk banget buat kamu,cup!!"
"Hati-hati Om,Tante." ucap Mesya seolah Alula yang berbicara.
Audrey menyalami kakak iparnya, sementara Baim hanya melempar senyum padanya sebelum mereka masuk ke mobil.
"Baim dan Audrey berangkat dulu ya!!" ucap Baim lagi lewat kaca mobilnya yang masih terbuka.
"Hati-hati..." ucap semuanya bersamaan,mengiri kepergian mobil Silver yang membawa dua bersaudara itu meninggalkan kampung halaman mereka.
____
Beberapa kali ponsel Baim berbunyi selama di perjalanan,tapi pria itu benar-benar tak mau menerimanya karena dari tadi nama penelpon terus sama,Dita.
"Mas,angkat dulu kenapa sih? Berisik tau!"
"Kamu tidur aja,itu telpon ga penting."
"Gimana mah tidur orang dari tadi bunyi mulu,silent kek dulu hp nya."
Baim bergeming,dia terus fokus ke jalanan sementara Audrey mencebikkan bibirnya kesal.
Lagi!!!
Ini sudah panggilan ke sepuluh,karena kesal, Audrey merebut ponsel dari saku celana kakaknya yang kebetulan tepat di sampingnya. Baim kaget,namun pria itu tak marah sama sekali karena dia paham adiknya sudah kesal.
"Mba Dita?"
"Mas,kenapa ga diangkat sih teleponnya dari tadi,Mba Dita kan sahabatnya Mba Mesya,artinya sahabatnya Mas juga dong! Ga boleh gitu sama sahabat sendiri!!"
Baim hanya tersenyum tipis, Audrey memang tak tau alasan kandasnya kisah cinta Baim dan Mesya. Selama ini,tak ada yang memberi tahukan itu padanya,dan dia juga tak mau terlalu ikut campur urusan kakak-kakaknya soal percintaan, karena sang ibu sudah menjelaskan tentang jodoh itu tak akan tertukar,jadi dia hanya berpikir kalau Mesya dan Hendra menikah karena memang mereka berjodoh.
Baru saja gadis itu berniat menggeser icon hijau pada layar, tiba-tiba saja panggilan sudah selesai dan dia hanya menghela napas panjang.
"Kasian banget Mba Dita punya sahabat mirip penjual martabak,kan dia dikacangin gini,huhhh"
"Eh, apaan tadi? Penjual martabak? Ide bagus tuh buat menu baru restonya Mas!"
"Ihh Mas!!!"
Audrey kembali mencebikkan bibirnya kesal, padahal tadi niatnya untuk menyindir pria itu agar tak terlalu dingin pada wanita, sayangnya dia kembali dibuat kesal.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu, perjalanan kita masih jauh. Nanti kalau udah sampai rumah,mas mau bicara hal penting sama kamu,jadi sekarang kamu istirahat!" titah Baim setelah sejenak menatap adiknya yang menatapnya heran.
"Hal penting apaan?"
"Nanti aja di rumah,ini menyangkut kamu juga."
Audrey tak menjawab lagi,Tapi, pikirannya sama sekali tak tenang memikirkan apa yang akan dikatakan kakaknya nanti.
_____
. Bandung.
Setelah perginya mobil yang membawa Audrey dan Baim,Hendra pamit pada istrinya untuk mengantar Ibunya kontrol ke rumah sakit bersama sang ayah juga. Sebenarnya jadwalnya kemarin,tapi karena ada Baim dan tak ingin membuat anaknya itu khawatir,Mirna menelpon Dokter agar bisa di undur sehari saja. Untuk saat ini,dia harus kontrol seminggu sekali ke dokter agar kondisinya tak seperti bulan lalu.
"Papa tinggal bentar ya, Sayang. Jagain Mama," ucap Hendra seraya mengecup pipi bayi mungil dalam gendongan sang istri,"kamu beneran ga pa-pa sendirian di rumah?"
"Ga pa-pa,Mas. Ya udah gih, kamu temenin Ibu sana, hati-hati ya."
"Iya,kamu kalau ada apa-apa kabarin langsung ya," pesannya lagi.
Khawatir? Ya jelas itu yang Hendra rasakan saat ini, entah kenapa untuk pertama kalinya dia begitu khawatir meninggalkan istri dan anaknya di rumah hanya berdua saja.
Mesya mencium punggung tangan suaminya dan mendapatkan balasan kecupan dari pria itu.
"Assalamualaikum."
"Wa'alakumsalam."
Tangan Masya melambai pada mobil yang membawa orang-orang yang dia sayangi. Mama muda itu mengusap keningnya yang tadi dicium Hendra, senyumnya terukir manis setiap pria itu melakukan hal seperti tadi. Dia ingat bagaimana canggungnya mereka dulu saat baru-baru menjadi suami istri, bagaimana hancurnya dia dulu setelah dia sah menjadi istri Hendra. Tapi,Mesya sadar, Allah tak akan salah dalam mempersatukan hambanya, sehingga sekarang yang ada di antara mereka sudah jelas terlihat ada ketulusan cinta.
Prok!! Prok!! Prok!!!
"Wow!!!! Sungguh pemandangan yang menakjubkan di depan mataku!!"
Baru saja Mesya berbalik dan ingin masuk ke rumahnya, sebuah suara menghentikan langkahnya dengan terpaksa. Mata mereka beradu sama-sama tajam hingga beberapa saat.
"Mau ngapain lo ke sini?" tanya Mesya sinis."
"Ohh Nyonya Wirawan kok jadi serem gini ya,hahaha,kurang bahagia ya. Hhhh miris sih."
Mesya masih bisa menahan dirinya karena bayinya begitu pulas dalam gendongannya.
"Bukan urusan lo,dan maaf,tadi lo bilang gue kurang bahagia? Lo salah besar,gue bahagia banget sekarang. Gue bahagia karena punya Suami yang begitu baik dan cinta sama gue."
"Gimana ga cinta,hasilnya udah segede gini! Tapi tetep aja itu bayi lo hasil hamil di luar nikah,hahahaha."
"Cukup Dita!!! Lo kenapa sih,ga pernah bisa liat gue bahagia,hah?? Mau lo apa?? Gue ga mau lagi ada urusan sama elo lagi!!!"
Suaranya sudah mulai meninggi,dalam gendongannya,Alula sudah menangis, mungkin bayi itu kaget mendengar suara ibunya yang begitu menggebu-gebu.
"Santai dong,gue ke sini ga cari lo juga!! Tuh bayi lo berisik!! Gue ke sini mau cari Mas Baim,di mana Mas Baim?"
Dita tanpa rasa bersalah dan berdosanya malah nyelonong saja menuju pintu,tangisan bayinya membuat Mesya memilih diam saja, membiarkan mantan sahabatnya itu nyelonong ke rumah mereka.
"Mas!! Kamu di mana?? Aku dateng nih jemput kamu! Hari ini kamu pulang ke Jakarta,kan?" Dita terus berteriak seraya mengecek ke sana kemari.
"Sebaiknya lo keluar dari rumah gue,kalau lo mau cari Baim,Baim udah ga di sini lagi,udah balik ke Jakarta!!"
"What??"
"Keluar sekarang,atau gue teriakin maling biar lo ditangkap warga!!!" Mesya kembali berteriak, suaranya sudah bergetar.
Mata mereka kembali beradu,Alula sudah dipindahkan Mesya ke kereta dorongnya agar dia benar-benar bisa mengusir gadis itu dari hadapannya.
"Ahhh sial!!! Ini semua pasti gara-gara lo,kan? Lo pasti yang nyuruh Mas Baim buat jauhin gue,ngaku lo!!!" Dita menarik rambut Mesya dan tak mau kalah sepihak,Mesya menarik juga rambut Dita lebih kencang.
"Sialan!! Rambut gue!!" Dita berhenti menjambak rambut Mesya, tangannya berpindah ke tangan Mesya agar gadis itu melepaskan tangannya dari rambut Dita.
Berhasil!! Dita mendorong tubuh Mesya hingga mundur beberapa langkah.
"Kurang ajar,gue ga akan pernah maafin apa yang lo lakukan ke gue ini,lo bakal nyesel nanti!!" teriaknya garang.
"Gue tunggu,gue ga takut sama lo Dita!! Dan asal lo tau, untuk dapatkan hati Baim, sebaiknya lo jangan terlalu berharap,karena gue tau gimana sifat dia,dan gue jamin,elo ga termasuk dalam tipe orang yang bisa masuk hidup dia!!"
"Jangan banyak bacot lo ya,liat aja nanti,gue bakal bikin elo nyesel seumur hidup sudah ngomong seperti ini ke gue!!"
Gadis dengan rambut yang sudah urakan itu menghentakkan kakinya dan keluar dari rumah yang Mesya tempati. Sementara Mesya,gadis itu berkali-kali menghela napas berat, hatinya sudah terlalu sakit karena mantan sahabatnya itu, satu-satunya yang buat dia tenang sekarang adalah memeluk bayi mungilnya.
"Sayang...maafin mama ya,Nak. Ini adalah terakhir kalinya ada orang yang bilang kamu anak haram,kamu anak mama dan Papa,dan mama ga akan biarkan siapapun menghina kamu," ucapnya begitu lirih,bulir bening menjadi saksi dan perwakilan dari hatinya yang begitu hancur saat ini.