Bab 7

1143 Words
   Acara perpisahan yang di maksud Audrey tidak seperti bayangan Baim,pantas saja gadis itu ngotot memintanya pulang hingga memilih sedikit berbohong untuk memaksanya pulang. Perpisahan sekolah Audrey tidak di rayakan di lapangan sekolah seperti biasanya,tapi di gedung khusus dalam sebuah hotel yang memang di booking untuk mereka dari jauh-jauh hari. Mereka mengenakan pakaian senada dengan kebaya Audrey,ya gadis itu mengenakan kebaya,begitu juga teman-temannya. Audrey adalah anak bungsu yang jika tak dituruti kemauannya maka akan ngambek,gadis itu memaksa semua anggota keluarganya untuk hadir di sana, padahal jika hanya di wakilkan Baim saja itu masih bisa. Tapi, Audrey ingin semuanya menemaninya.   Satu persatu acara dilewati, hingga saat pembacaan nama-nama siswa yang mendapat penghargaan dari prestasi-prestasi mereka di akhir masa belajar di sekolah tersebut.     Ini adalah moment mendebarkan bagi semua siswa dan siswi SMA Bina Karya. mulai membacakan satu persatu nama yang ada dalam kertas yang di bawanya. "Piagam penghargaan untuk siswa siswi-siswi terkreatif kelas dua belas diraih oleh... Nandini Zahrani!! Silahkan untuk menuju ke atas panggung." Sorak dan tepuk tangan meriah mengiringi langkah siswi yang di sebutkan namanya,naik ke atas panggung untuk menerima piagam penghargaannya serta mengatakan beberapa patah kata di sana. "Berikutnya, untuk piagam penghargaan siswa dan siswi teladan,diraih oleh....." Mc sengaja menggantungkan ucapannya untuk menambah debaran jantung para penunggu nama mereka di sebut.    "Pasti bukan kamu ya,Dek. Kamu kan males anaknya!" ejek Baim pada Audrey yang kebetulan duduk di sampingnya. "Ishh,aku tu rajin Mas,Mas aja yang ga tau!!"   "Piagam penghargaan diberikan kepada Natalia Shinta Bachir.... kepadanya disilahkan naik ke atas panggung." Suara tepuk tangan yang riuh kembali terdengar. Audrey mengehela napas berat karena lagi-lagi bukan namanya yang di panggil,entah ada atau tidak di sana. Namun,gadis itu terus berdo'a semoga saja memang ada namanya di sana agar Baim mau membawanya ke Jakarta.   "Tuh kan,bukan kamu,emang kamu anaknya males,sih!!" "Ihh,Mas!!" Kedua orangtua mereka hanya geleng-geleng kepala melihat dua anak itu selalu ada saja yang diributkan. Mesya dan Hendra duduk di samping orangtuanya mereka, keduanya hanya tersenyum saja melihat Audrey dan Baim di depan mereka. "Kalau sampai nama aku ada,Mas ga boleh larang aku ke Jakarta!!" "Mmmm oke,siapa takut. Kalau ga ada,kamu diam di sini, sekolah di sini saja," balas Baim. Audrey hanya merengut tanpa mau menjawab. Bagaimana bisa dia mengiyakan jika dia saja tak yakin ada namanya di sana.    "Baiklah, untuk yang terakhir. Ini yang paling ditunggu-tunggu oleh semuanya,karena paling di harapkan siapapun dan di manapun untuk bisa mendapatkan gelar dari penghargaan ini. Apa itu? Itu adalah... Piagam penghargaan untuk siswa-siswi berprestasi. Wah...pasti pada dag dig dug ser ya hatinya adik-adik... Baiklah kita panggilkan siapa yang berhak mendapatkan piala dan piagam penghargaan ini...Dan dia adalah...." Para murid saling berbisik-bisik,entah berdo'a atau mengatakan apapun. "Amanda Maudrey Febrian...."   Semua mata tertuju pada gadis yang masih memejamkan matanya,dengan bibir komat kamit dan tangan terangkat. "Dek,itu nama kamu kan yang di sebut?"     "Ayo , untuk adinda, Amanda Maudrey Febrian, dipersilahkan naik ke atas panggung." "Dek!!!!" "Eh,apa?" Audrey membuka matanya dan melihat tatapan semua orang pada dirinya, saking khusuknya berdo'a sampai tak mendengar namanya di sebut. "Sekali lagi untuk Adinda, Amanda Maudrey Febrian dipersilahkan untuk maju ke depan." Prok!! Prok!!! Prok!!! Tepuk tangan riuh terdengar kembali, Audrey memeluk Baim sebelum dia benar-benar maju ke depan dan naik ke atas panggung. "Selamat atas prestasinya,semoga menjadi anak yang selalu semangat dalam belajar." "Terima kasih. Terima kasih kepada seluruh dewan guru karena telah percayakan Audrey untuk menerima piagam penghargaan ini,ini Audrey persembahkan untuk kedua orangtua saya,juga Kakak-kakak saya, terima kasih semua.."    Audrey turun dari atas panggung diiringi tepuk tangan meriah lagi. Baim menyambut adiknya dan menenggelamkannya dalam pelukan hangat. "Selamat." "Makasih,ingat janji Mas tadi." "Iya,pasti." ***     Satu jam kemudian mereka sudah keluar dari gedung itu,Baim membawa mereka ke sebuah restoran,yang mana itu adalah salah satu cabang dari restoran yang dia pegang di Jakarta.    Wajah ceria mereka membuat hati Baim menghangat, sesekali dia melihat kakaknya dan Mesya gantian untuk menggendong Alula. Pria itu tersenyum manis,dia bertambah yakin bahwa dia akan bisa lupakan kakak iparnya.     Sebelum ke sana,Baim sudah menghubungi manager restoran bahwa dia akan berkunjung ke sana. Dengan senang hati mereka menyambut kedatangan sang bos muda yang cukup di segani.     "Selamat datang Pak,mari saya antarkan ke meja VIP untuk Bapak dan keluarga," ucap salah satu pelayan yang menyambut kedatangan mereka. "Terima kasih." Baim membawa keluarganya duduk di bagian belakang restoran yang memang di desain sebagai tempat VIP, seperti mereka yang ingin dinner romantis dan lainnya pasti akan memilih arena ini. "Makasih ya Nak,kamu sudah repot-repot bawa Ibu dan kita semua ke sini. Di sini pasti sangat mahal sekali," ucap Mirna. Ini kali pertama dia dibawa ke restoran itu, restoran ini baru berdiri selama enam bulan dan selama itu,Baim hanya mengirim perwakilan dari kantornya ke sana.      "Insyaallah masih terjangkau kok Bu," jawabnya tanpa memberi tahu bahwa dia adalah bosnya. "Pak Baim, selamat datang ke sini," ucap seseorang yang datang dan menjabat tangan Baim. "Terima kasih Pak Wicak,maafkan saya karena baru bisa datang langsung ke sini setelah berbulan-bulan. Terima kasih juga sudah bekerja dengan baik,ini luar biasa." "Terima kasih atas pujiannya,Pak. Namun,itu sangat berlebihan menurut saya," ucap pria berdasi itu malu-malu. Siapa yang tak akan adem hatinya jika kinerjanya dipuji oleh atasan,hmm rasanya pasti senang sekali. "Baiklah Pak Baim,saya permisi dulu. Silahkan menikmati hidangannya." "Terima kasih." Pria itu menjabat tangan Baim lagi setelah beberapa pelayan datang membawa makanan untuk Baim dan keluarganya,dia pergi karena tak mungkin mengganggu acara keluarga itu.     "Nak,itu kan Pak Wicak. Pengelola restoran ini, kelihatannya kalian begitu akrab," ujar Herlan ketika putranya kembali duduk. "Iya,Yah. Kebetulan restoran ini adalah salah satu cabang dari restoran yang Baim pegang. Ya,ini semua milik Papa." Baim menjelaskan panjang lebar bahwa restoran itu sebenarnya masih ruang lingkup Wijaya group. "Pantas saja dari awal masuk sudah di sambut sebaik itu sama pelayan nya, ternyata yang masuk adalah Tuan mudanya," pujia Hendra memberi tepuk tangan pada adiknya.     "Udahlah,ayo makan." Baim senang melihat mereka bahagia,ini moment yang dia rindukan selama ini,makan bersama dengan keluarga besarnya. "Kakak ipar,sini Alula biar sama aku aja. Kakak ipar makan yang banyak," ucapnya membuat semua mata tertuju pada dirinya yang tengah mengulurkan tangannya untuk menggendong Alula. "Kakak ipar?" tanya Hendra yang heran karena tumben-tumbenan mendengar Baim menyebut istrinya kakak ipar. Mesya tersenyum dan memberikan bayinya pada Baim. "Terima kasih Adik iparku," ucap Mesya membuat Baim terkekeh,tapi yang lain malah keheranan. "Bang,mulai sekarang aku panggil Istri Abang,Kakak ipar ya." Hendra tersenyum,begitu juga Herlan dan Mirna. "Boleh," jawab Hendra cepat. "Audrey gimana?" tanya bocah cantik yang sebenarnya sedang dirayakan prestasinya. "Terserah Audrey saja," jawab Mesya menampilkan senyum manisnya. Ya,hari ini dia benar-benar bahagia karena dia tak akan merasa bersalah lagi pada pria yang memanggilnya dengan sebutan kakak ipar. "Ya udah, Audrey ngikut aja," ucap Audrey membuat semuanya tertawa. Baim menimang keponakannya,dia tak makan tapi hanya memperhatikan keluarganya makan. Itu saja sudah cukup membuat dirinya senang. 'Kakak ipar dan Adik ipar. Panggilan yang sebenarnya adalah sebagai jarak antara aku dan kamu.' batinya. Perlahan sudut bibirnya terangkat, tersenyum untuk dirinya sendiri.     
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD