Bab 6

1550 Words
Suara nyanyian burung terdengar begitu merdu di ranting-ranting pohon,saling bersahutan tak mau kalah satu dengan yang lainnya. Sinar mentari mengintip dari balik jendela kamar, seorang pria tengah terbaring di sana. Cahaya matahari yang berhasil menembus kamarnya dari celah-celah gorden yang sedikit terbuka berhasil mengenai wajahnya, perlahan bulu mata pria itu bergerak-gerak karena silau. Sebelumnya dia sudah bangun untuk melaksanakan sholat dua raka'atnya,hanya saja godaan bantal membuatnya kembali terlelap dan engan untuk turun. Beberapa saat,matanya terbuka sempurna. Suara tangisan bayi di bawah sana membuatnya semangat lagi,pria itu langsung ngacir ke kamar mandi untuk melakukan ritual paginya. *** Baim turun setelah berpakaian rapi,di bawah sana masih terdengar suara tangis bayi yang sejak tadi menyapa telinganya. "Alula sayang...ponakan om kok nangis,kenapa sayang?" ujarnya dan menghampiri sumber suara. "Maaf ya,jadi ganggu tidur kamu,Alula nangis karena tadi ditinggal Papanya," ujar Wanita cantik yang berusaha menenangkan bayinya,dan berhasil,suara tangis Alula perlahan menghilang. "Bang Hendra kemana?" tanyanya. "Tadi ada telpon dari bengkel,ada pelanggan masuk dan ga mau ditangani selain oleh Mas Hendra langsung," ucap Mesya, Hendra memang membuka bengkel yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah,namun tak bisa di katakan dekat juga dan bengkel itu lumayan ramai. "Owh gitu,yang lain pada kemana? Kok sepi banget?" Baim melirik ke segala penjuru rumah dan memang tak menemukan siapapun di sana. "Ibu dan Audrey di belakang,ambil sayuran buat di masak sekarang, Ayah lagi joging." Mesya menjelaskan panjang lebar,Mirna memang menanam beberapa sayuran organik di belakang rumahnya,pria itu hanya menghela napas panjang. Hanya ada dua pilihan sekarang,dia yang menyusul ibunya ke belakang atau meminta Mesya ke sana sementara dia yang bersama Alula,karena tak mungkin berdiam diri di sana hanya berdua dengan kakak iparnya. Ya,memang bagi orang lain di posisinya akan biasa saja. Namun,jika posisinya seperti Baim yang belum sepenuhnya move on,itu sangat tak wajar. "Mmm aku boleh ga ajak Alula ke depan, kamu...bantu Ibu biar cepet selesai," katanya dengan ragu-ragu. Mesya tersenyum dan mengangguki. Pria itu mengulurkan tangannya untuk menerima keponakannya. Tapi,benda pipih di sakunya malah bergetar dan membuat dia mengurungkan niatnya. Diraihnya dan dilihat siapa yang menghubungi dirinya,ada nama Olivia di sana. Tapi yang membuatnya heran,baru jam tujuh tiga puluh, artinya mereka baru masuk kantor,karena jam kerja mereka memang jam tujuh lewat tiga puluh dan selasai pukul lima sore,lalu apa ada masalah sepagi ini sehingga Olivia menghubunginya. "Halo Oliv,ada apa?" "Ma..maaf Pak Baim,ini...." "Halo Mas,kamu di mana sekarang? Kamu kapan pulang? Aku kangen sama kamu.." Suara manja itu terdengar menjijikkan di telinga Baim,Mesya masih bisa mendengar suara itu,dia hanya tersenyum karena berharap itu adalah kekasih Baim, sayangnya dia tak kenal suaranya. "Lo apa-apaan sih? Kan gue berkali-kali bilang sama lo,jangan pernah ganggu gue lagi. Heran,lo budeg kali ya," ujar Baim dengan kesal,pria itu menghela napas berat. Mesya menyembunyikan senyuman yang sempat terukir tadi,kali ini dahinya berkerut karena heran melihat wajah Baim yang begitu kesal. Menjadi mantan kekasih,bukan berarti dia lupakan semua sifat pria itu,dia tau Baim bagaimana kalau tidak suka ya tidak,seperti sekarang yang dia lihat. "Mas...aku kan cuma mau perhatian sama kamu,aku mau kamu tau kalau aku benar-benar cinta sama Kamu..." "Gue ga butuh, sekarang lo pulang dan jangan pernah ganggu apalagi sampai teror sekretaris gue kaya gini,jangan ganggu pekerjaan mereka," ucapnya dengan tegas. Dia berharap gadis itu benar-benar tak akan mengganggunya lagi. Tapi,.. "Kamu pikir aku akan ikutin kata kamu,ga Mas,aku ga akan mau ikutin ucapan kamu kalau kamu minta aku jauhin kamu,aku cinta sama kamu..." "Terserah lo!!!" ujar pria itu dan langsung memutuskan sambungan telponnya. Baim menghela napas berat,gadis itu memang ujian baginya,dulu dan sekarang. Mesya hanya menatap Baim tanpa berani menanyakan apapun pada pria itu, sesekali dia mengalihkan perhatian pada putrinya dengan menyuapkan bubur ke mulut bayi mungil itu. "Ini cewe bener-bener ga bisa banget biarin gue tenang sehari...aja," gerutunya kesal seraya meletakkan ponselnya di meja. Baim memilih mengambil air dingin di kulkas untuk sejenak menyejukkan hatinya yang sudah benar-benar panas di pagi hari. setelahnya,Baim kembali menuju tempat Mesya dan Alula,dia tersenyum pada mereka. "Maaf ya,tadi kamu jadi denger aku ngomong kasar gitu,Alula maafin om," ucapnya seraya menunduk dan mengecup pipi gembul keponakannya. "Kamu...lagi ada masalah ya sama pacar kamu, keliatannya cewe tadi bener-bener cinta sama kamu," ujar Mesya membuat Baim menatapnya sejenak,lalu berdecak kesal. "Enggak,dia bukan siapa-siapa,hanya saja dia selalu mengganggu hidupku selama ini." "Tapi keliatannya cewek itu tulus loh sama kamu,dari cara dia yang tiap hari cari kamu buat buktiin cintanya seperti yang dia katakan tadi,aku yakin dia benar-benar cinta banget sama kamu." Mesya kembali berceloteh, harapnya pria itu bisa sedikit membuka hati untuk gadis tadi. Iya itu harapannya,harapan sebelum dia tau siapa itu. "Iya,dia memang bilang dia cinta sama aku,tapi aku yakin itu cuma obsesi dia doang sehingga dia menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan siapapun yang dia anggap penghalang,termasuk kamu!" Kata Baim dengan kesal,kesal karena Mesya mendukungnya bersama gadis yang membuatnya hareudang pagi-pagi. Mesya menganga dengan ucapan Baim tadi,dia belum mengerti apa maksud pria itu. "Aku? Aku jadi penghalang? Maksud kamu..?" "Itu Dita,emang kamu mau liat aku sama dia,orang yang merubah segala yang pernah kita rangkai bersama," kata Baim seraya menghela napas berat. "Ja..jadi..yang tadi itu dia? Kalau gitu jangan,kamu jangan sama orang jahat itu,aku ga mau kamu salah jalan,jangan sama dia!!" Entah kenapa emosinya selalu tersulut jika mendengar nama itu, sakitnya panghianatan Dita masih dia rasakan, meskipun sudah tak ada penyesalan di hatinya karena menikah dengan suaminya. "Nah,kan. Kamu aja ga suka,gimana aku? Aku ga pa-pa ga bisa sama kamu,tapi aku benci penghianatan yang dia buat ke kamu,dia rusak kepercayaan aku yang selama bertahun-tahun memandang dia sebagai sahabat terbaik kamu," ucap pria itu pelan dan meneguk kembali minumannya agar lebih tenang. "Meskipun aku bukan wanita baik-baik, setidaknya kamu harus cari yang lebih baik,Mas. Jangan Dita,aku ga rela kamu sama dia meskipun kita udah ga ada hubungan apa-apa lagi." Baim terkekeh mendengar ucapan wanita di depannya,wanita itu masih sibuk menyuapkan bubur ke mulut bayinya. Dulu dia yang sering wanti-wanti begitu setiap mau meninggalkannya ke Jakarta. "Kamu bilang kita ga ada hubungan apa-apa lagi,kamu lupa Suami kamu siapa hah? Malah panggil mas lagi,kamu sekarang Kakak aku,dan aku adik kamu! Jadi kita sekarang saudara,ingat itu baik-baik. Jangan sampai aku cap kamu Kakak ipar durhaka karena ga inget adik iparnya sendiri!!" ujar Baim dan kembali terkekeh. "Astaga..iya,aku lupa hahaha. Maklum emak-emak kebawa emosi tadi, hahahha." Mesya menertawakan ucapannya sebelumnya, bisa-bisanya dia bilang bukan siapa-siapa pada adik iparnya,tapi sebenarnya maksudnya tadi adalah tidak ada hubungan apa-apa seperti dulu. "Tapi kata-kata aku tadi serius ya,kamu jangan sama Dita,aku ga ikhlas liat Adik iparku ini sama ular itu," ujarnya setelah tawanya mereda. Baim tersenyum mendengar Mesya memanggilnya adik ipar,memang seharusnya begitu setiap hari,agar Baim ingat baik-baik kalau dia hanya adik ipar. Lagi!! Ponsel Baim Kembali terdengar,pria itu menghela napas berat,dia melihat siapa yang meneleponnya. Ada nama Aditya di sana, staf bagian manager proyek. Di Jakarta pria itu mengelola bisnis Wijaya group di bagian kuliner dan bagian pembangunan yang berkaitan dengannya, seperti lestoran,cafe,rumah makan dan lainnya,jadi dia memegang penuh kuasa atas bisnis kuliner itu tanpa campur tangan Adryan yang menghandel bisnis yang berkaitan dengan bahan baku hotel dan produk make up seperti yang mereka urus dulu. "Halo, selamat pagi Pak Baim." "Pagi,Adit. Ada apa,apa kamu ada kendala dalam pekerjaan kamu?" "Ti..tidak Pak, tapi.. Mbak yang sering cari Bapak, memaksa staf-staf lain mengatakan di mana Bapak berada. Namun,kami sudah sepakat untuk sama-sama mengatakan tidak tau Bapak ada di mana,maafkan kami ya Pak karena bertindak sebelum ada perintah," ujar pria itu, karena dia adalah otak dari rencana agar semua staf tak mengatakan Baim ada di mana. "Kok malah minta maaf,itu bagus dong. Kamu sudah selamatkan saya, terima kasih. Kalau perlu nanti,jika dia terus memaksa,kamu bisa katakan kalau saya sedang berada di Papua,biar dia susul ke sana,hahhahah." "Hahah, baiklah Pak,saya akan katakan itu padanya nanti,ya sudah Pak, saya mau lanjut kerja,Bapak jaga kesehatan dan cepat balik ya." "Iya, terima kasih." "Selamat pagi." "Pagi." Baim terkekeh geli karena ulah para stafnya yang begitu kompak membohongi Dita dan menyembunyikan keberadaannya,kalau saja mereka mengatakan Baim ada di Bandung,Baim yakin gadis itu akan menyusul ke sana,secara dia tau Dita tak tau malu pada keluarganya. Bisa-bisanya gadis itu masih bersikap sok baik pada orang tua Baim dan juga Audrey, seolah tak pernah melakukan kesalahan apapun pada mereka. "Kayanya Audrey emang perlu kamu bawa ke Jakarta deh,biar bisa usir ular itu dari deket kamu," Mesya makin tak suka pada sahabatnya,eh mantan sahabatnya itu. "Tenang aja Kakak ipar,aku udah pikirkan semuanya dari kemarin, sekarang Kakak ipar sana gih,bantu Ibu biar cepet masak. Alula biar sama om nya,om nya udah laper ini ..." Baim memasang wajah lesunya, membuat Mesya tertawa dan menuruti permintaan pria itu. "Anak mama sama Om dulu ya,jangan nakal," ujar nya dan langsung menyerahkan bayinya pada Baim. Baim menerimanya dengan senang hati. Setelahnya gadis itu ngacir meninggalkan mereka,Baim terkekeh karena Mesya masih pedulikan hidupnya. "Kakak ipar dan adik ipar," gumamnya pelan dan membawa Alula keluar rumah agar terkena sinar mentari. Beberapa kali dia mengambil foto selfi dengan keponakannya itu,Baim makin gemash pada pipi gembul bayi cantik dalam dekapannya, terlebih aroma shampoo baby menyeruak masuk ke indra penciumannya setiap dia mencium puncak kepala keponakannya. Ini adalah hari kedua dia dia Bandung,besok adalah hari perpisahan Audrey di sekolah dan dia sudah berjanji untuk menemani gadis itu,semalam dia tidur tengah malam mencarikan informasi kampus terdekat dengan tempatnya dan tentunya dia mencari universitas yang bagus untuk adiknya itu, apa yang Mesya katakan ada benarnya, Audrey bisa mengusir Dita jika nantu Dita mengganggunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD