Baim masih membawa Alula dalam gendongannya,senyum pria itu tak tak bisa hilang setiap kali memandang dan mendengar suara khas anak bayi dari bibir mungil bayi enam bulan itu. Kalau di Jakarta,dia betah menggendong Irfan putra Ica dan Ryan,sementara di sini dia akan bertemu Alula, keponakannya yang cantik.
"Tau kamu selucu ini,om jadi nyesel ga pulang-pulang. Pokonya om bakal usahain sering-sering tengokin kamu...ummmm lucu banget sih ponakan om."
Pria itu berkali-kali mengecup pipi gembul keponakannya,hal itu tidak luput dari pandangan kedua orang tuanya, terutama sang ibu yang tersenyum senang melihat putra keduanya itu tak terlihat sedih lagi.
"Nak,ayo makan dulu! Kamu pasti lapar,kan."
"Iya Bu," jawabnya
Baim mengembalikan Alula pada Mesya yang berjalan di belakangnya,Mirna semakin bangga pada putranya yang sudah tak canggung dan menghindar lagi dari kakak iparnya itu.
Mesya membawa putrinya duduk di sofa, tempat di mana suaminya berada. Pria itu langsung mengecup pipi gembul putrinya yang sudah terlelap.
"Bu,Baim mandi dulu ya baru makan."
"Iya,jangan lama-lama,nanti sup nya keburu dingin,jadi ga enak,kan."
"Hehe,Ibu ga usah khawatir, apapun dan disajikan dalam bentuk bagaimanapun, masakan Ibuku ini pasti sangat enak," ujar Baim seraya mengecup pipi kanan wanita paruh baya itu.
Setelahnya pria itu sudah ngacir ke kamarnya yang ada di atas sana,dia sebenarnya ingin membawa orangtuanya tinggal di Jakarta dan membelikan mereka rumah. Tapi dia tak enak pada papanya yang sudah berbaik hati memberikan tempat tinggal yang begitu layak untuk keluarganya,tanpa dia tau rumah itu sebenarnya sudah jadi miliknya dan sudah di setujui oleh Adryan tanpa sepengetahuannya.
Beberapa menit kemudian,pria itu sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya dan menunaikan sholat Maghrib,baru saja dia bangun dari duduknya,dia tiba-tiba ingat sesuatu.
"Astaga...hp gue ketinggalan di bawah, lagi."
Baim buru-buru turun, bertepatan dengan suara ponselnya yang berdering di atas meja, sementara semuanya sudah menunggunya di meja makan untuk makan bersama.
"Mas..ada yang telpon...namanya Olivia..!!" teriak Audrey tanpa melihat kakaknya sudah ada di dekatnya.
Baim menepuk jidat adiknya dan meraih ponselnya,benar saja ada panggilan masuk dari Olivia. Pria itu sedikit menjauh dan menerima telepon.
"Hallo Oliv,ada apa? Apa ada masalah di kantor?" berondongnya dengan pertanyaan.
Gadis yang menelponnya tak lain adalah sekertarisnya sendiri.
"Selamat malam Pak Baim,maaf mengganggu waktunya,saya hanya ingin sampaikan bahwa baru saja pihak Adikarya group mengabarkan bahwa mereka ingin menunda pertemuan dengan bapak sampai tiga hari ke depan,karena ada urusan yang mendadak dan mengharuskan Pak Lucito untuk ke luar kota." Gadis di seberang sana menjelaskan panjang lebar.
"Owh, syukurlah,saya juga mungkin akan kembali tiga hari lagi,saya percayakan semuanya pada kamu, tolong urus dengan baik."
"Siap pak, terima kasih sudah percayakan pada saya."
"Iya,apa ada hal lain juga yang ingin kamu sampaikan pada saya?"
"Hhhm anu Pak...tadi..." Oliv seperti takut-takut mengatakannya.
"Ada apa Oliv,katakan sekarang!"
"Tadi siang gadis yang biasa cari Pak Baim datang lagi ke kantor."
"Hah?? Ngapain? Kamu ga bilang,kan, sama dia kalau saya berada di Bandung?"
Baim terdengar begitu kesal karena informasi yang di berikan sekertarisnya itu,pasalnya dia tau siapa yang dimaksud gadis itu.
"Tidak,Pak. Saya hanya mengatakan bahwa bapak sedang ke luar kota dan tidak memberi tahu saya kemana Bapak pergi," ucap gadis itu. Dia sangat tau kalau bos mudanya itu tak mau bertemu dengan gadis yang datang mencarinya,yang hampir tiap hari selalu mengganggu ketenangan bos mudanya.
"Bagus Olivia, terima kasih karena sudah menyelamatkan saya. Pokonya kalau dia datang lagi cari alasan yang tepat untuk menjawabnya."
"Iya,Pak."
"Ya sudah,saya mau makan dulu, terima kasih informasinya."
"Iya, sama-sama,Pak. Selamat malam"
"Malam."
Klik!!!
Telpon terputus,Baim mengehela napas berat. Lagi-lagi dia harus menghadapi masalah besar,bukan untuk perusahaannya tapi masalah besar karena menjadi buronan gadis yang dia bisa katakan dia membenci gadis yang mengejar-ngejar dirinya. Pria itu kembali ke meja makan dengan berusaha menampilkan wajah ceria yang dia paksakan. Baru saja dia menghempaskan bokongnya ke kursi,ada lagi yang membuat dia menghela napas berat.
"Olivia siapa,Mas? Cie... pacar baru Mas ya? Cuit, cuit..."
Siapa lagi yang selalu berani menggodanya selain adik yang masih saja dia anggap anak kecil.
"Audrey.. jangan gitu sama Mas nya," Mirna memperingati anak bungsunya.
"Kan Audrey cuma nanya,Bu. Kali aja setelah setahun menghilang,Mas Baim sudah punya khem-khem di Jakarta," menaikkan sebelah alisnya menggoda kakaknya.
"So tau!!" Baim mencebikkan bibirnya kesal.
Sementara Hendra dan Mesya terkekeh melihat dua saudara ini terus saja ada yang diributkan.
Baim sudah berjanji pada dirinya dan berniat untuk bodoamatan kepada sepasang suami istri itu,dia akan perlihatkan bahwa dirinya sudah baik-baik saja,karena dia sadar dia sudah tak sepantasnya mengharapkan Mesya, terlebih ada Alula di antara mereka.
"Kalau emang beneran ada,jangan lupa bawa ke sini,kenalin sama Ibu dan Ayah," ucap Herlan membuat Audrey merasa menang.
"Apaan sih,Yah. Tadi itu sekertaris Baim,namanya Olivia."
"Sekertaris nelpon malam-malam,ahh curiga!!" timpal Audrey membuat semuanya tertawa kecuali Baim.
"Udah ah,makan. Kasian makanannya udah nunggu disantap," ujar pria itu dan langsung mengambil nasi dan lauk.
Baim makan dengan lahap,tak bisa di bohongi lagi bahwa dia sangat merindukan masakan wanita paruh baya yang dia panggil Ibu itu,Herlan dan Mirna sangat bersyukur karena tak ada kesedihan lagi di wajah putra mereka.
"Kamu pulang kok ga ajak Adryan dan Ica sih,Nak?" Mirna bertanya karena dia juga rindu dua orang itu.
"Ica kan baru selesai lahiran juga,bayinya masih kecil jadi mana mau si over protective itu bawa Istrinya pergi jauh, ditambah anak mereka baru berumur tiga bulan,dia ga akan mau," sungut Baim, mengingat bagaimana protektifnya Adryan pada istrinya.
"Oh iya,Drey,kamu acara perpisahannya kapan?" Melempar tatapan pada adiknya.
"Lusa,Mas harus hadir ya di acaranya Audrey,biar bisa foto bersama gitu sekeluarga,kaya orang-orang." Audrey memasang muka termanisnya untuk merayu kakaknya itu.
"Oke," jawab Baim sekenanya.
Lusa,artinya sehari sebelum dia balik ke Jakarta,jadi dia bisa menghadiri acara perpisahan sekolah adik bungsunya yang sebenarnya dia sayang tapi selalu membuatnya kesal sampai ke ubun-ubun.
"Kamu bakal lama kan di sini,Nak?" kali ini pertanyaan keluar dari bibir ibunya. Ingin rasanya Baim mengatakan iya, tapi...
"Cuma tiga hari Bu,hari Selasa nanti ada klien Baim yang datang dari luar kota."
Berat rasanya dia mengatakan hal itu, terlebih setelah dia melihat wajah sendu ibunya.
"Tenang aja,Baim bakal sering pulang kok,Baim akan terus kangen sama ponakan Baim yang unyu banget."
"Janji ya bakal sering pulang!" Kali ini Hendra angkat bicara,Baim terkekeh.
"Tergantung!"
"Tergantung apa lagi?" tanya Hendra kesal.
"Tergantung kalian,kalau kalian ga larang aku cium Alula terus-terusan,aku sering pulang," ujarnya seraya terkekeh.
"Dasar! Itu kan ponakan kamu,ya ngapain juga Abang larang,ya kan Mey?"
"Iya,Alula pasti juga seneng kalau Omnya sering pulang dan gendong dia," balas wanita itu lembut. Makin ke sini,Baim makin bisa melihat ada cinta di antara mereka,entah kenapa hatinya menghangat,dia menjadi senang melihat pasangan itu, pasangan yang pernah membuat dirinya kehilangan arah dan tujuan hidup. Meskipun dia sendiri belum yakin seratus persen bisa lupa pada Mesya,tapi setidaknya rasa ikhlasnya bertambah sepuluh persen dari kemarin.
'Tenang Im, suatu hari nanti kamu bisa hilangkan Mesya dari hatimu. Cukup tujuh tahun ini dia penuhi otak dan hatimu,kamu bisa,pasti.' ucapnya membatin.
Lagi-lagi dia menguatkan dirinya, meskipun dia kadang lupa kalau Mesya adalah kakak iparnya dan dia dengan bodohnya mengingat kenangan manis melihat yang pernah mereka lalui sebelumnya.
"Ya jelas dong Mas Baim akan sering pulang,kan ada Audrey yang bakal ngerengek minta pulang kalau dia ga mau pulang. Audrey kan mau ikut ke Jakarta sama dia," ucap gadis delapan belas tahun yang masih dengan sikap kekanak-kanakannya.
"Siapa yang mau ajak kamu ke Jakarta, hah? Kuliah di sini aja,Jakarta ga baik buat kamu."
"Arhhh Mas mah gitu,ga mau pokonya Audrey mau kuliah di Jakarta,ya,ya,ya," rengeknya pada Baim.
Entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu hingga dia benar-benar ingin sekolah di Jakarta,padahal di Bandung masih banyak universitas bagus untuk dirinya.
"Mas jarang di rumah,nanti kamu sama siapa di sana?"
"Sendiri juga ga pa-pa, Audrey kuat dan jago bela diri.."
Audrey masih bersikeras, sementara Mirna dan Herlan menggelengkan kepala karena sikap keras kepala anak gadisnya itu. Beberapakali mereka sudah membujuk Audrey untuk kuliah di Bandung saja,tapi gadis itu mungkin sudah terobsesi untuk kuliah di Jakarta sana.
"Nanti mas pikirin lagi," ucap Baim seraya terus menyantap makanannya.
Setelah selesai makan,pria itu langsung menuju kamarnya, merebahkan badan dan mengistirahatkan hati dan pikirannya yang hari ini benar-benar saling bertentangan dengan keadaan. Tangannya meraih benda pipih miliknya dan membuka bagian galeri yang selama ini selalu di privasikan
"Oke, dellet." ucapnya meyakinkan diri sendiri karena yang dia simpan adalah foto-foto kenangannya bersama kakak iparnya itu.
"Selamat tinggal kenangan, selamat tinggal kisah cinta yang tak memihak tuannya, selamat tinggal Baim dan Mesya," ucapnya lirih, berharap dengan dia menghapus foto Mesya,dia akan lebih mudah lupakan gadis itu.
Baim heran pada dirinya sendiri, padahal banyak gadis yang mendekatinya. Tapi,tak satupun di antara mereka yang membuat pria itu merasa nyaman seperti apa yang dia rasakan dulu pada Mesya. Alhasil dengan semua itu,dia berubah menjadi pria yang lebih tertutup pada lawan jenisnya, hanya beberapa saja yang bisa akrab dengannya, itupun masih jajaran staf perusahaan yang sering berkomunikasi dengan dirinya.