Bab 4

2440 Words
Malam itu,Mesya sedang bersama sahabatnya,Dita. Dita adalah sahabatnya dari SMA,jadi gadis itu sangat tau kisah cinta legend Mesya dan Baim yang sudah terjalin selama tujuh tahun lamanya. "Sya,gue kok ga pernah liat pacar lo pulang ya?" "Mas Baim lagi sibuk, saudaranya ada masalah,jadi dia yang harus gantiin urus perusahaan." "Wihhh kerena ya, Wijaya group itu salah satu perusahaan terbesar di Jakarta, loh." "Itu sebabnya dia jarang pulang." "Lo kangen ga?" "Banget lah,gue kangen banget sama dia. Tapi mau gimana lagi,ga mungkin kan gue susul ke Jakarta." "Hahahaha,ya udah, sekarang lo ikut gue yok!" "Kemana?" "Udah,ikut aja. Nanti juga lo tau." Mesya dan Dita tadinya berada di sebuah cafe yang ada di kota Bandung dan sekarang mereka berdua sudah berada di depan sebuah tempat hiburan,alias club malam. "Dit,kita ngapain ke sini?" "Udah,ini pertama kalinya,kan,buat lo ke sini,ayo,gue kenalin dengan tempat ini," ajak Dita menyakinkan, "lo ga perlu takut,club ini milik sepupu gue,jadi kita aman." Mesya benar-benar kebingungan,satu sisi dia ingin menghindari tempat semacam ini, terlebih Baim selalu wanti-wanti agar dia tak salah jalan,itu juga alasan pria itu melarangnya ke Jakarta,karena dia merasa Jakarta tak aman untuk gadis polosnya. "Sya?" "Gue..gue..." Terang saja dia ingin menolak,tapi gadis sepolos dia benar-benar tak enak pada sahabatnya, terlebih sahabatnya baru beberapa Minggu di Bandung karena Dita sudah pindah ke Jakarta setelah mereka masuk universitas. "Lo ga mau ya temenin gue,maafin gue ya,gue seharusnya ga ngajak lo ke tempat seperti ini," Dita memasang wajah memelasnya,satu senjata ampuh untuk meluluhkan Mesya. "Oke,deh. Gue mah temenin lo, tapi gue takut sama orang-orang di dalam sana." "Hahaha,lucu banget sih sayangku. Ayo,di sini aman. Ini club punya sepupu gue." Dita menarik tangan Mesya turun dari mobil dan langsung menuju pintu masuk, beberapa pria berpakaian hitam yang berjaga di pintu menunduk memberi penghormatan pada Dita,karena mereka mengenal gadis itu. Baru masuk saja, mata-mata nakal dari p****************g berkedip manja pada Mesya, membuat gadis itu semakin merasa tak nyaman di sana. "Kita duduk di pojok ya," ajaknya pada Dita dan langsung di angguki. "Lo mau minum apa,Sya?" "Air putih aja." "What!!! Ini club,sayang. Masa lo mau air putih doang? Ga etis banget!" "Gue ga bisa minum yang aneh-aneh,gue takut," ujarnya dengan jujur,dia tak pernah meminum yang beralkohol. "Ya udah,gue ambilin lo air putih dulu ya,lo tunggu di sini," ucap Dita,gadis itu menggelengkan kepalanya karena kepolosan sahabatnya itu. "Jangan lama-lama!!" "Oke!" Dita ngacir begitu saja meninggalkan meninggalkan Mesya yang masih kebingungan sendiri di sana, terlebih suara musik yang besar juga lampu kelap-kelip, membuatnya sedikit pusing,karena ini kali pertama dia di tempat seperti itu. Hanya sebentar,Dita kembali dengan dua gelas minuman,satunya adalah minuman beralkohol miliknya,satunya lagi adalah air putih yang dia ambil dari ruangan VIP di sana. "Nih, minuman lo," menyerahkan segelas air itu pada Mesya. "Makasi ya,Dit." Mesya meminumnya tanpa menaruh keraguan sedikitpun, hingga minuman itu berhasil masuk ke tenggorokannya,perlahan gadis itu merasa pusing dan.... "Dit..kepala gue berat .." Bukkk!!! Pingsan! Ya,dia pingsan di sana. Tapi, sebelumnya dia bisa melihat senyum sinis dari sahabatnya. "Rasain!! Hahahhaa...emang enak gue kerjain. Mesya..Mesya. Lo kok bego banget,sih? Padahal gue sengaja ngajak lo ke sini buat hancurin elo," Dita mengusap rambut panjang sahabatnya. Bukan, sekarang sudah bukan,karena setelah ini Mesya akan sangat membencinya. "David!!" Panggilnya pada seseorang di sana yang tak lain pemilik club. "Hey,rencana lo gila bener ya dan...temen lo bening juga,gue jadi..." "Jangan ngada-ngada. Semua sesuai rencana kita." "Ahh terserah lo,deh." "Ya udah sekarang bantu gue angkat dia ke kamar. Eh,tapi itu cowok udah lo amanin,kan?" "Udah,tenang aja. Anak buah gue udah urus semuanya, pokonya lo tenang aja,semoga rencana lo berhasil buat dapatin yang lo mau." "Makasi sepupuku tersayang... mmmuach!" David terkekeh, sepupunya ini memang selalu manja kepadanya. Club ini adalah miliknya,ayahnya adalah seorang yang di takutkan di sana dan David selalu dimanjakan orangtuanya. Pria itu mengangkat tubuh Mesya ala bridal style menuju sebuah kamar yang tak lain adalah ruang VIP miliknya. "CK,sial! Kalau bukan karena rencana sial Dita,gue pastikan elo akan mendesah di bawah gue,bukan pria itu!!" umpat David,karena kecantikan Mesya membuatnya tergoda. David sudah membaringkan Mesya di sana,tak lama berselang seorang pria di dorong masuk ke sana. "Kerja kalian bagus!!" pujinya pada pria-pria yang membawa pria itu. "Selamat bersenang-senang Bro!" ucap David di telinga pria yang hampir tak sadarkan diri. David menarik Dita untuk keluar,karena bisa-bisa gadis itu yang di terkam si singa buas yang mereka bawa. Pria yang mereka bawa terlihat kepanasan dan menatap lapar pada Mesya yang telah di baringkan dan dengan posisi yang sangat menggoda,pria itu tak lain adalah Hendra,saudara Baim. Dita dan David sudah merencanakan semuanya,David meminta anak buahnya mengajak Hendra minum di sana,tapi yang mereka berikan adalah campuran obat perangsang pada minuman pria itu, hingga dia benar-benar kepanasan dan terbakar hasratnya sendiri. Hanya ada Mesya dan dirinya di sana,dan dalam kondisi seperti itu, Hendra tak bisa membedakan siapapun. Ya,dia melakukan hal tak wajar pada kekasih adiknya itu. *** Menjelang pagi,Mesya bangun dan langsung berteriak kaget karena menemukan dirinya tanpa sehelai benangpun bersama Hendra. "Apa yang kamu lakukan!!!" teriaknya histeris. Hendra mengerjapkan matanya, kepalanya terasa pening dan berat. Pria itu juga kaget melihat keadaannya,belum lagi bercak darah di kasur cukup jelas sebagai penanda terjadi sesuatu di antara mereka kemarin. "Mesya!!" Plak!!! Tamparan keras di dapatkan dari Mesya yang berusaha menutupi bagian tubuhnya dengan selimut. "Kenapa kamu tega kakuin ini ke aku...hiks..padahal kamu tahu kalau aku cinta sama adik kamu .." "Mey,aku bener-bener ga tau apa-apa. Aku juga bingung kenapa kita bisa ada di sini dan..apa yang terjadi semalam." "Cukup!!! Aku ga mau denger apapun dari kamu! Kamu jahat!! Hiks..aku sudah kotor sekarang...hiks...." Mesya benar-benar terpukul, terlebih kehormatan yang selama ini dia jaga harus hancur karena seseorang yang dia sangat mengenalnya. "Mey..aku... Argh!!!! Kenapa aku bisa terjebak oleh mereka!!!" Triak pria itu frustasi. Hendra kemarin menolak tawaran mereka untuk minum bersama,tapi karena ada beberapa hal yang di tawarkan akhirnya dia menyetujui permintaan teman-temannya. "Sial!!!! Mereka ternyata ngejebak gue!!" Mesya masih menangis di sudut kasur,seraya memeluk kakinya,gadis itu menutup mata saat Hendra turun dan memakai celananya kembali. "Kamu kenapa bisa ada di sini,Mey?" tanya pria itu heran,karena Hendra tau bagaimana gadis ini. Seketika ingatan Mesya langsung ingat pada sahabatnya,kemarin dia terakhir bersama Dita. "Dita," lirihnya parau,membuat Hendra berhasil mengumpat lagi. "Sial!! Ini pasti rencana gadis siaalan itu,kamu tau,dia berusaha mendapatkan dan merebut Baim dari kamu,Mey!!" Hendra mengusap wajahnya gusar, membayangkan wajah adiknya yang selalu bahagia ketika bersama Mesya. Pria itu menceritakan apa yang dia alami semalam sebelum tak sadarkan diri, begitu juga dengan Mesya yang ingat kejadian semalam. "Aku ga nyangka Dita setega itu sama aku..hiks... bagaimana ini...Mas Baim...hiks..aku...sudah ga perawan lagi..." Mesya benar-benar terpukul,gadis itu terus terisak. Hendra yang melihatnya menjadi tak tega,dia mendekati Mesya dan duduk di depannya,Mesya mundur. "Abang tau rencana pernikahan kalian bulan depan,jadi sekarang yang harus kamu lakukan adalah telepon dia dan minta dia pulang untuk secepatnya nikahin kamu!" "Tapi bagaimana bisa aku meminta dia menikahiku sementara aku...aku sudah mengecewakannya, bagaimana kalau nanti dia tau tentang kejadian ini." "Baim ga akan tau,Abang yang akan atur semua. Yang terpenting sekarang,kita keluar dari tempat sialan ini dan kita susun rencana kita." Mesya mengangguk,dia tak ingin berlama-lama di sana, apalagi dengan Hendra. Wajah Baim seolah menari di depannya. "Maafin aku,Mas..." lirihnya parau. Mesya keluar dari kamar mandi setelah memakai pakaiannya,gadis itu mengikuti Hendra keluar dari club,dan aman... beruntung tak ada yang melihat mereka keluar dari sana. ***** Sesuai rencana,Mesya menghubungi Baim agar pria itu pulang dan mempercepat pernikahan mereka, sayangnya,Baim sedang ditugaskan menemui Klien dari luar negeri,jadi pria itu menolak pulang dalam Minggu ini. "Maafin mas ya, sayang. Minggu depan janji deh,mas pulang." "Ya udah Mas,kamu jaga kesehatan ya." "Iya sayang." Mesya putus asa,ini sudah tepat seminggu setelah kejadian waktu itu,dia menjadi murung di kamarnya dan jarang keluar. Sementara Dita, sahabatnya,ets mantan sahabatnya sudah balik ke Jakarta. Mesya sangat marah pada gadis itu,dia sudah sangat percaya, tapi apalah balasannya,dia hanya mendapatkan sebuah penghianatan. Memasuki Minggu kedua,Mesya merasakan ada yang lain pada dirinya,dia lebih sering makan dan mual. Tapi,tak sedikitpun dia berpikir akan hal yang tak di inginkan itu. Sampai dia tiba-tiba pingsan di ruang tamu. "Ayah...anak kita,Yah!!!" Seorang wanita berlari dari dapur, tadinya dia ingin masak,tapi dia mendengar suara orang terjatuh. "Atstaga Mesya!!!!" Pria paruh baya itu juga berlari menuju anak perempuannya yang tergeletak di lantai. "Kamu kenapa,Nak? Ayo Yah,kita bawa ke rumah sakit." "Iya Bu." Rahman membawa anak gadisnya itu menuju rumah sakit terdekat, keduanya benar-benar panik,karena selama ini Mesya tak pernah seperti itu. Buru-buru mereka membawa gadis itu masuk ke sebuah ruangan dan di periksa oleh Dokter. "Yah...anak kita kenapa,Yah.." wanita paruh baya itu benar-benar panik, sementara di dalam ruangan sudah ada dokter yang menangani anak gadisnya. "Tenang Bu,Mesya pasti baik-baik aja. Anak kita ga kenapa-napa." Setelah menunggu cukup lama, akhirnya,wanita berpakaian serba putih keluar dari ruangan itu. "Keluarga pasien?" "Kami Dok,kami orang tuanya." "Baik,kalau begitu,ikut saya ke ruangan ya Pak,Bu." Dokter wanita itu tersenyum pada mereka, keduanya langsung mengikuti dokter itu menuju ruangannya. "Silahkan duduk, Pak,Bu." "Terima kasih Bu Dokter." Keduanya menurut. "Dok, bagaimana keadaan anak saya,anak saya tidak sakit kan, Dok?" Ratih memberondong dengan pertanyaannya. "Syukurlah,Bu,Pak. Pasien dan janinnya baik-baik saja,hanya saja dia butuh istirahat yang cukup." "Janin???" Ratih dan Rahman saling pandang tak percaya. "Iya,pasien sedang hamil,dan memasuki minggu pertama,jadi masih rentan dan harus di jaga extra. Selamat ya,Pak,Bu, saya ikut senang dengan kehamilan putri kalian," ujar sang dokter panjang lebar,tanpa dia tau sudah melukai hati dua orang di depannya. "Tapi bagaimana bisa anak saya...." "Terima kasih Dokter,kami permisi," ucap Rahman setelah menutup mulut istrinya,wanita itu sudah hampir menjatuhkan air matanya di sana. Bagaimanapun,Rahman tak ingin nama keluarganya menjadi rusak karena anak perempuan mereka hamil di luar nikah. Mereka berdua menuju ruang rawat Mesya,gadis itu sudah sadar. Mesya kaget melihat ibunya menangis dan ayahnya terlihat sangat marah. "Yah..Bu..ada apa? Mesya kenapa bisa ada di sini? Dan..." "Kita pulang,kita bicarakan semua ini di rumah." Ratih semakin terisak,Rahman menarik tangan anak gadisnya itu keluar dari rumah sakit, memaksanya masuk ke dalam mobil. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut kedua orangtuanya,Mesya menjadi takut,takut terjadi sesuatu yang membuat ibunya menangis dan ayahnya begitu marah. Setelah sampai di rumah,Rahma mendorong putrinya hingga terjatuh di lantai. "Dasar memalukan!!! Bilang sama ayah,siapa yang berani hamili kamu!!!!" teriaknya tepat di wajah putrinya. Mesya kaget,ini kali pertama ayahnya semarah itu padanya,ibunya hanya memalingkan wajah tak mau menatapnya. "Ha..hamil?? Mesya..." "Katakan Mesya!!! Kamu hamil,dan katakan pada ayah siapa yang berani ngelakuin ini semua ke kamu?!!!!" Bukanya menjawab,Mesya malah menangis terisak,secara ini adalah kabar yang sangat mengejutkan untuknya,dia..hamil,artinya itu anak..... "Mesya!!!!!" "Ayah..Ibu...maafin Mesya...Mesya yang salah..Mesya di jebak waktu itu...hiks...maafin Mesya..." Mesya memeluk kaki ayahnya yang sudah sangat marah padanya,Rahma sangat marah pada putri kesayangannya itu. "Kamu sudah kecewakan ayah dan Ibu kamu Mey,selama ini ayah selalu didik kamu menjadi wanita baik-baik. Tapi, ternyata ini balasan yang ayah dapatkan dari kamu. Ayah kecewa Mey!!!!" "Maafin Mesya,Yah....Mesya salah..." "Sekarang bilang sama ayah,siapa yang ngelakuin ini semua! Apa dia Baim,pacar kamu itu?" tanyanya garang. Mesya menggeleng,memang bukan Baim pria itu,bukan Baim yang melakukannya. Pria itu sangat menghormatinya dan sangat peduli padanya,jadi tak mungkin dia tega melakukan hal itu. "Lalu siapa Mesya!!! Siapa yang akan bertanggung jawab atas kehamilan kamu ini??" Ratih tak tega melihat putrinya yang terus menangis memegangi perutnya yang sudah ada kehidupan di di sana,wanita itu memeluk putrinya. "Ayah..Mesya pasti sangat terpukul,jadi kita jangan tambahkan beban hatinya, sekarang kita tanyakan dengan baik-baik." Rahman mengehela nafas berat,dia benar-benar sudah kecewa oleh anak gadisnya itu,tapi istrinya juga benar,dia tak bisa menekan putrinya seperti ini. Pria itu menunduk,meraih wajah anak gadisnya yang sudah bersimbah air mata,Mesya benar-benar hancur. "Katakan sekarang,siapa yang barani menodai anak ayah! Anak kesayangan ayah,katakan,Nak. Jangan ada yang kamu tutup-tutupi dari ayah dan Ibu. Mesya memeluk Rahman,dan tangisnya pecah dalam pelukan ayahnya,Rahman sadar,dia memang terluka,tapi putrinya itu pasti jauh lebih terluka dari dirinya. Dalam sesenggukanya,Mesya hanya bisa menyebutkan satu nama yang mampu membuat kedua orangtuanya kaget,satu nama yang seharusnya bukan dia,tapi adiknya. "Hendra," ucapnya sangat lirih. **** Setelah Mesya menyebutkan satu nama itu,tak butuh waktu lama bagi pria itu untuk membawa kedua orangtua Hendra ke rumahnya. Sekarang Hendra dan Mesya juga ada di sana. Mirna menangis tersedu-sedu,dia kecewa,dia sedih karena putra sulungnya telah menghamili anak gadis orang yang tak lain kekasih adiknya sendiri, membuat paling sakit adalah kenyataan itu. Hendra dan Mesya sudah menceritakan semua yang terjadi pada mereka malam itu,mereka berdua benar-benar terjebak rencana licik Dita dan kawan-kawannya. "Lalu bagaimana sekarang...adik kamu pasti akan sedih,adik kamu akan kecewa sama kamu...Ibu ga bisa bayangin bagaimana dia akan terima semua ini." "Maafkan Hendra,Bu. Hendra yang salah,dan Hendra harus tanggung jawab atas perbuatan Hendra." Hendra memeluk kaki ibunya. Kedua belah pihak itu memang sudah saling menyetujui anak-anak mereka,tapi bukan Hendra, putra kedua mereka itu yang di setujui dengan gadis cantik yang tengah menangis di sana. "Tak ada pilihan lain, sekarang kamu harus menikah dengan Mesya,adik kamu pasti pelan-pelan akan terima ini semua setelah kita jelaskan," ucap Herlan dengan suara berat,dia sendiri tak bisa bayangkan bagaimana perasaan putranya itu jika tau semua ini. "Hendra akan tanggung jawab,Yah." *** Setelah hari penuh emosi itu,mereka menyepakati tanggal pernikahan kedua anak mereka,dan tak lupa memberi tahu secara perlahan, semuanya pada Baim,pria itu terisak,dia benar-benar hancur. Pasalnya,dua hari lagi dia akan pulang dan melamar gadis itu,tapi sayangnya berita itu datang padanya. Jika di izinkan,dia yang akan menggantikan Hendra untuk tanggung jawab atas kehamilan Mesya,tapi yang bersalah harus bertanggung jawab. "Kenapa Bu..kenapa harus Bang Hendra..hiks...Baim..hiks..." "Kamu yang sabar ya,Nak. Semuanya sudah terjadi,kakak kamu juga sangat terpukul,dia benar-benar tak ingin melukai kamu.." "......." "Yang penting ibu sudah bilang dan katakan semuanya ke kamu agar kamu tidak kaget, kamu boleh tidak pulang,sayang. Ibu tau apa yang kamu rasakan sekarang..." Baim hanya terisak,dia benar-benar kecewa dan hancur, terlebih pria yang akan menikahi kekasihnya adalah kakak kandungnya sendiri. Tapi,dia juga tak bisa menyalahkan keduanya,karena mereka sama, sama-sama di jebak. Pria itu berusaha menegarkan hatinya. "Baik Bu,Baim akan pulang,kapan mereka akan menikah?" tanyanya menahan sesak di d**a. "Hari Minggu nanti,kalau kamu tidak baik-baik saja,jangan pulang,Nak." "Baik ga pa-pa,Buk." Mirna tau putranya berbohong,selama ini,anaknya itu selalu mengalah tentang hal apapun pada kakaknya dan dia bangga atas sikap Baim itu,tapi untuk hal terakhir ini,entah kenapa dia juga merasakan sesak di dadanya mendengar ucapan Baim yang setegar itu. Telpon terputus,wanita itu segera menghubungi Risma dan Wijaya, orangtua angkat putranya,karena mereka juga harus tau. Keduanya juga kaget setelah mendengar kabar itu,karena mereka tau bahwasanya Baim telah membeli cincin untuk melamar Mesya hari minggu nanti. Tapi,apa boleh buat,jika memang itu benar-benar harus terjadi pada mereka. Dengan segenap rasa dan serpihan hati berbalut kecewa,pria itu pulang seorang diri ke kampung halamannya. Wijaya dan Risma tak bisa ikut,karena di Jakarta, menantu mereka baru saja selesai operasi karena tertembak oleh ayahnya sendiri. Baim bahkan tak memberi tahu pada Adryan, saudara dan sahabatnya atas semua yang terjadi pada dirinya itu. Ya,dia pulang,tepat di hari pernikahan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD