X. Penjaga Perpustakaan yang Mencurigakan

1835 Words
“Siapa itu? Dari pakaiannya ia terlihat seperti guru,” ujar Julian. “Rambutnya panjang, dia seorang perempuan. Jika benar guru apakah ia adalah yang tadi kulihat sedang sendirian di dalam ruang guru?” batin Zachary menerka. Penyihir tersebut menghempaskan tangannya selagi terbang memutari sihir pusaran angin dengan sapu terbangnya. Setelah itu, perlahan sihir angin yang dibuat Zachary menghilang membuat Hans dan Redd terjun bebas dari ketinggian. Hal itu juga membuat Zachary dan Julian yang melihatnya dari bawah panik. “Ya ampun apa yang terjadi?” ucap Zachary. “Hei, cepat tolong mereka dengan sihirmu, hanya dirimu yang dapat melihat ini.” Sera mendesak Zachary. “T- tapi apa yang harus kulakukan?” “Tidak ada waktu lagi.” Ditengah kepanikan, penyihir perempuan itu menggunakan kembali sihirnya. Sihir wanita itu adalah sihir angin, sama seperti Zachary. Sihir anginnya melingkari tubuh Hans dan Redd supaya tidak langsung terjatuh membentur tanah. Akhirnya Hans dan Redd berhasil turun dengan selamat, Zachary, Julian dan Sera pun menghampirinya. Akhirnya Zachary melihat wajah penyihir itu. Dilihat dari ekspresinya Zachary seperti sudah pernah saling mengenal sebelumnya. “Hei, apakah kau adalah guru Airia? Kemampuan sihir anginmu sungguh hebat!” tanya Redd sekaligus memuji kemampuannya. Perempuan itu tersenyum tipis. “Bukan, aku bukan orang itu. Yang kalian maksud adalah kakakku sendiri dan aku adalah adiknya, Siria,” katanya yang kembali tersenyum. “Wajahku dengan kakak memang mirip, jadi wajar jika ada yang salah melihat.” “Umm, rasanya yang berbeda hanyalah rambut guru Airia yang lebih pendek,” ujar Julian. Hans dan Redd menghampiri dengan beberapa luka di tubuhnya. “Lalu di mana guru Airia saat ini?” tanya Zachary. Siria terdiam sejenak lalu menghela napasnya. “Ia ikut hilang bersamaan dengan Aldini.” Setelah mendengarnya sontak semua terkejut. “Bagaimana bisa itu terjadi? Guru Diana hanya memberikan nama guru Aldini, tidak ada yang lain.” Julian berkata. “Kakakku hilang pada malam yang sama dengan hilangnya Aldini. Setelah ia membawakan makan malam, aku mendengar suara gaduh dari arah pintu masuk. Saat aku menghampirinya kakakku sudah menghilang, hanya menyisakan jepit rambutnya di lantai.” Siria menjelaskan. “Untuk pihak sekolah yang tidak mengumumkannya aku tidak tahu kenapa. Padahal aku sudah memberitahu Diana soal ini.” “Hmm, sekolah seperti menyembunyikan sesuatu,” kata Julian. “Tadi aku juga diam-diam masuk ke ruangan guru. Semuanya kosong, tidak ada satupun guru bahkan berkas guru-guru sudah raib.” Siria menambahkan. “Aku penasaran siapa yang akan menjadi target selanjutnya,”celetuk Hans. “Jika benar-benar mengincar para guru dari sekolah ini, maka kita harus berhati-hati. Bukan tidak mungkin para murid juga menjadi target,” ujar Redd. “Baiklah, aku masih memiliki sebuah urusan. Ingat, sihir angin tadi sangat berbahaya jika tidak dikendalikan. Jika energi sihirmu belum stabil, lebih baik jangan sembarangan menggunakan sihir tingkat I semacam itu,” pungkas Siria yang setelah itu pergi menggunakan sapu terbangnya. Wajah Zachary langsung berubah drastis menjadi sinis ketika ia menatap Hans dan Redd. “Apa yang kalian ributkan hingga membuat lapangan sekolah hancur berantakan, huh?” tanya Zachary perlahan dengan nada suara yang berat. “Dia yang merendahkanku duluan!” seru Hans yang ikut menatap sinis kepada Redd. “Hei, kau yang mencari ribut duluan, ya!” Redd membantahnya sambil mengangkat tangan menunjuk Hans. “Jika kau tidak merendahkanku duluan, maka aku tidak akan memulai keributan denganmu!” balas Hans. “Tapi kan memang begitu kenyataanya, kau tinggal di area keluarga rendahan.” “Kau ini benar-benar membuatku geram!” Hans yang semakin tersulut emosinya berteriak. Zachary berdeham. “Berhentilah berbicara sebelum aku kembali menerbangkan kalian berdua ke udara,” ancamnya. Hans dan Redd saling membuang muka. “Sudahlah, akhiri pertengkaran ini, hari akan semakin gelap.” Sera bermaksud menyudahi perseteruan di antara Hans dan Redd. “Hoi, ayo pergi. Akan berantakan nantinya jika kita tertinggal kereta.” Julian mengajak Redd pergi. “Oh iya, untuk Zachary. Ini undangan khusus untukmu,” kata Julian sambil memberikan sepucuk surat berukuran mungil yang sama dengan yang ditemukan Zachary sebelumnya di loker. “Ayolah, tadinya aku hanya berniat untuk menonton perkelahian adikmu dan Redd. Tetapi kau datang dan aku melihat sihirmu sangat menakjubkan, adiknya guru Airia sendiri berkata demikian. Setelah melihatnya aku jadi ragu kau berasal dari keluarga rendahan.” Julian menambahkan ucapannya. Zachary mengambilnya, begitu juga dengan surat satunya lagi yang ia simpan di saku. Lalu ia meremasnya hingga tak berbentuk, melemparkannya ke tanah dan menginjaknya dengan penuh rasa kesal. “Hei apa yang kau lakukan? Itu khusus aku buat untukmu!” ujar Julian. “Aku tidak butuh … sampah macam ini.” Zachary dengan singkatnya menjawab. “Sera, Hans, ayo kita pergi sekarang!” Ketiganya pergi, menyisakan Julian dan Redd yang hanya terdiam meratapi. “Keluarga rendahan … tetapi kekuatan sihirnya bukan main. Terutama kakaknya itu, ia benar-benar menggunakan sihir tingkat I dan aku tidak dapat berkutik sama sekali,” kata Redd. “Mungkin saja memang jalan sihirnya seperti itu.” Julian menanggapi. “Dia dilahirkan dengan kemampuan sihir yang luar biasa.” Julian tersenyum. “Zachary, sangat menarik rasanya jika sihir cahayaku dapat menembus jantung dan lambungnya disaat bersamaan.” “Melihat jalan sihirnya yang baik, ia tidak akan mati dengan cara remeh seperti itu.” “Ya, kau benar. Tapi aku akan menantikan momen itu,” pungkas Julian. *** Keesokan paginya, Zachary sudah sampai di sekolah duluan. Sementara Hans masih bersiap-siap untuk berangkat di rumah. Zachary sedang bersembunyi di balik stan kantin yang tidak digunakan. Ia sangat berhati-hati dalam bergerak, persembunyiannya sangat rapih karena ditutupi beberapa kursi yang ditumpuk di atas stan. Hal itu membuat Zachary tidak terlihat dari luar tetapi ia bisa melihat dari celah-celah kursi. Beberapa saat kemudian …. “Akhirnya penjaga perpustakaan itu datang!” batin Zachary tak sabar. Terlihat memang penjaga itu yang ditunggu Zachary sejak tadi. Penjaga itu datang menghampiri ibu penjaga kantin yang masih saja membuka stan jualannya. Padahal sekolah sedang dalam keadaan libur dan jarang ada murid yang pergi ke kantin untuk saat ini. Senyum manis ditunjukkan penjaga perpustakaan kepada ibu penjaga kantin. Ia memesan secangkir kopi dan sepotong roti isi lalu duduk pada meja yang kemarin digunakan Zachary untuk duduk. Tempatnya sama persis. Tak lama setelah itu, ibu penjaga kantin kembali membawakan pesanan si penjaga perpustakaan. Ibu penjaga kantin memanggilnya dengan nama Andy. “Hei duduklah sebentar temani aku, aku ingin sesekali mengobrol bersamamu,” ujar Andy dengan begitu ramah. “Ahh baiklah, lagi pula aku juga tidak memiliki teman mengobrol akhir-akhir ini.” Ibu penjaga kantin menanggapi. “Oh iya, apakah hari ini kau tetap membuat ubi rebus?” tanya Andy. “Tidak, tidak ada lagi yang membuka stan di kantin selama beberapa hari terakhir. Jadi, kupikir untuk apa membuat ubi rebus jika hanya untuk diriku sendiri?” “Padahal ubi rebusmu itu sangat enak rasanya. Tetapi apa boleh jika kau tidak membuatnya.” “Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganku? Apakah kau punya cerita atau kejadian aneh lagi yang kau temui di perpustakaan sekolah?” tanya ibu penjaga kantin. Andy pun menggeleng. “Sudah lama aku tidak menemui kejadian aneh lagi selama di perpustakaan. Aku hanya ingin mengobrol denganmu, aku tidak punya teman mengobrol di sini selain dengan kau. Karena para murid juga masih diperbolehkan keluar masuk sekolah, terpaksa aku harus tetap menjaga perpustakaan.” “Ahh … kau hanya kesepian rupanya. Jika begitu, aku akan terus membuka stan untuk membuatkanmu secangkir kopi, roti isi, juga menemani mengobrol hingga sekolah benar-benar ditutup.” Ibu penjaga kantin berkata diakhiri dengan senyuman tulus. “Apa yang ingin kau bicarakan?” lanjut ibu penjaga kantin bertanya. “Tentang guru yang hilang … apakah kau mengetahui soal itu?” “Aku sempat mendengar tentang kabar itu. Katanya, dua guru yang sekaligus ahli sihir menghilang lalu ditemukan ketika telah tewas. Dan baru-baru ini menambah satu orang korban lagi, ya?” Andy tertawa kecil mendengarnya. “Itu hanyalah berita yang dirilis pihak sekolah. Mereka menutupi semuanya.” “Apa maksudmu dengan menutupi semuanya?” “Mereka mengatakan tiga … padahal yang menghilang sudah ada lima orang guru.” “Astaga, itu sangat buruk! Mengapa sekolah menutupi kebenarannya, hal itu benar-benar aneh. Aku merasa kasihan kepada para guru yang menjadi korban.” Andy menghabiskan suapan terakhir roti isi yang ia pesan. “Hidup memang tidak pernah adil.” “Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan. Juga, bagaimana kau bisa tahu tentang sekolah yang menutupi hal ini? Seharusnya kan pekerjaanmu hanya berdiam di dalam perpustakaan,” ujar ibu penjaga kantin. Kini tegukan kopi terakhir Andy telah habis. “A- aku hanya tidak sengaja mengetahuinya. Lagi pun berdiam diri sendirian di perpustakaan itu membuat bosan, kan?” Andy berkata sambil setengah tersenyum. “Kau pasti begitu kesepian … saat kau sedang berjalan mencari udara segar kau tidak sengaja mendengar hal itu dari pihak sekolah,” ucap ibu penjaga kantin menyeletuk. “Nah, a- aku tidak menyangka kau mengetahui hal itu,” jawab Andy dengan raut wajah yang terlihat gelisah. Ibu penjaga kantin tertawa. “Padahal aku hanya menebaknya, tidak disangka jawabanku benar!” “Umm, baiklah karena sarapan pagiku juga sudah habis. Aku akan kembali ke perpustakaan, terima kasih ya untuk hidangannya.” Setelahnya Andy pun pergi meninggalkan ibu penjaga kantin. Untung saja persembunyian Zachary tidak diketahui siapa pun. Ketika ibu penjaga kantin membawa bekas gelas dan piring Andy ke dalam stan kantin, saat itu jugalah perlahan Zachary keluar dari persembunyiannya. Nampak sekali pada wajah Zachary raut kebingungan juga terkejut setelah mendengar perkataan dari Andy. Dari kantin Zachary beranjak ke kelas. Melewati kelas Hans, langkahnya langsung terhenti saat adiknya itu menghampiri. “Kak, kau habis dari mana saja? Tadi aku pergi ke kelasmu dan bertanya kepada Sera, tetapi ia berkata belum melihatmu sama sekali,” ujar Hans bertanya. “Aku sehabis dari kantin. Aku mendapatkan kabar yang mengejutkan.” “Eh? Apa yang kau dapatkan, Kak?” Belum sempat menjawab pertanyaan dari adiknya, Diana datang menghampiri sambil membawa dua buah buku di tangannya. “Apa kalian masih memiliki urusan di sekolah? Jika kalian tidak memiliki urusan sama sekali, lebih baik kalian pulang saja. Lagi pula sudah tidak ada kegiatan yang berarti di sekolah,” kata Diana. “Umm, aku memiliki janji dengan salah seorang guru. Jadi, aku menunggunya.” Zachary menjawab. Diana memicingkan matanya. “Hmm, bisa simpan buku ini di perpustakaan? Berikan pada penjaga lalu katakan aku sudah selesai meminjamnya,” ujar Diana seraya memberikan buku yang ia bawa kepada Zachary. Lalu Diana pergi begitu saja meninggalkan Zachary dan Hans. “Sifatnya mendadak jadi aneh,” gumam Zachary seraya melihat judul dari buku-buku yang diberikan Diana. Terlihat buku yang dibaca Diana adalah buku bersambung, Troundarial III dan Troundarial IV. “Hei, bukankah itu buku yang sangat tua? Lihatlah warna kertas dan sampulnya yang menguning. Rasanya itu salah satu dari buku usang pada rak di bagian pojok perpustakaan yang mulai rapuh,” ucap Hans secara tiba-tiba membuat Zachary terkejut. “Eh, bagaimana kau bisa mengatakan rak di pojok perpustakaan rapuh? Rasanya semua rak di perpustakaan sekolah kita masih dalam keadaan yang baik. Juga sejak kapan kau pergi ke perpustakaan?” tanya Zachary terheran-heran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD