“Kau saja yang tidak tahu. Sebelum penjaga perpustakaan yang lama sakit dan digantikan aku sering pergi ke perpustakaan tahu!”
Zachary memiringkan kepalanya. “Untuk apa?”
“Aku hanya membaca buku-buku lama yang tebalnya seperti brankas. Terkadang begitu menyenangkan membaca biografi ataupun catatan peristiwa di masa lampau,” ungkap Hans sambil mengangkat kedua bahunya. “Oh iya, ceritakanlah apa yang kau temukan di kantin,” bisiknya menambahkan.
“Aku berniat membahasnya nanti ketika kita bersama dengan Sera. Untuk sekarang lebih baik kita kembalikan buku ini terlebih dahulu ke perpustakaan setelah itu baru kita menemui Sera,” ajak Zachary.
“Baiklah ….” Hans menanggapi kakaknya lesu.
Zachary tiba-tiba saja terdiam melamun. Hans yang melihatnya melambaikan tangan beberpa kali. “Kak … ada apa denganmu? Ayo kita pergi ke perpustakaan!”
Seketika Zachary tersadar dari melamunnya, pandangannya ke mana-mana seperti orang yang baru saja bangun dari mimpi buruk. “E- eh iya, ayo kita ke perpustakaan.”
Kakak beradik itu berjalan bersama menuju perpustakaan, salah satu bangunan paling besar di sekolah. Lorong-lorong terasa begitu sepi, beberapa lampu masih menyala dan satu dua berkedip setiap beberapa detik. Hingga beberapa langkah lagi menuju bagian pintu depan perpustakaan. Suasana seperti berubah karena bangunan perpustakaan yang nampak begitu tua atau mungkin yang paling tua di sekolahan. Dinding bagian luar perpustakaan sudah dipenuhi tanaman merambat, pasir untuk alas tidur dan sebagian batu penyusun dinding sudah retak dan terkikis oleh waktu.
Keduanya berada tepat di depan pintu masuk perpustakaan. Pintu kayu berwarna cokelat gelap begitu besar dan tinggi. Zachary mencoba membuka pintunya dengan sangat perlahan, tetapi suara decitan dari engsel yang bergesekan sangatlah nyaring. Zachary menggesekkan gigi bagian atas dengan gigi bagian bawahnya sambil melanjutkan mendorong pintu.
Memasuki perpustakaan, Zachary dan Hans melewati beberapa rak buku sebelum bertemu dengan Andy si penjaga perpustakaan. Rak buku terlihat begitu penuh, celahnya jarang. Cahaya mentari pagi memasuki perpustakaan melalui jendela kaca mozaik yang besarnya tidak kalah dengan pintu masuk perpustakaan. Dari jendela tersebut terlihat debu-debu halus berterbangan,
Zachary menghampiri Andy yang tengah duduk bersantai membaca buku di pojok ruangan. Sepertinya di tempat itu Andy biasa menjaga perpustakaan. Pada meja melingkar terlihat banyak sekali tumpukan map beserta kertas-kertas di dalamnya yang menumpuk.
Andy menoleh. “Ada yang bisa kubantu?” tanyanya.
Lalu Zachary meletakkan buku yang dititipkan Diana di atas meja. “Ini buku yang dipinjam guru Diana. Ia sudah selesai membacanya lalu memintaku untuk mengembalikannya ke sini.”
Setelah itu Andy mengambil sebuah buku dan bolpoin. Ia terlihat mencatat data buku yang dipinjam Diana sudah dikembalikan.
“Baiklah, Jika kau tidak keberatan bisakah kau mengembalikannya ke rak tua di bagian pojok perpustakaan. Di bawah jendela kaca mozaik lalu ke arah kiri sedikit. Aku sedang fokus membaca buku, dan aku tidak ingin kehilangan fokusku. Mana tau kalian menemukan buku yang menarik dan meminjamnya,” ujar Andy.
Zachary memgambil kembali dua buku tersebut. “Ya … biar aku yang mengembalikannya sendiri.” Zachary menanggapi dengan nada malas. “Hans, ayo kita pergi!” ajak Zachary.
Kakak beradik itu pun pergi. Tempat masuknya cahaya ke dalam perpustakaan tidak terlalu banyak. Beberapa lampu bohlam berwarna kuning yang terpasang pun cahayanya redup, beberapa bagian sudut begitu gelap samar terlihat. Dari kelihatannya Hans seperti sudah mengenal setiap bagian dari perpustakaan sekolah. Ia memimpin jalan di depan sedangkan Zachary hanya mengikuti saja.
Setibanya di kaki jendela kaca mozaik yang besar begitu indah. Menggambarkan tiga orang yang berdiri dengan lingkaran putih di sisi kanan dan lingkaran hitam di sisi kiri. Di bagian bawahnya terdapat batu Kristal berwarna hijau yang nampak begitu indah seakan batu itu yang dilindungi ketiga orang di atasnya. Untuk beberapa saat, Zachary dan Hans memandang kagum mozaik tersebut sambil mendanga melihat cahaya sang fajar yang datang.
“Walaupun kerap melihatnya, tetap saja mozaik ini begitu indah untung dipandang.” Hans berkata.
Zachary masih memandangi, menelan ludahnya sendiri dan tidak berkata apa pun.
“Ketiga orang di atas itu setauku adalah representasi dari dewa yang menjaga keseimbangan dunia. Ada kebaikan, keburukan, dan yang di tengah adalah gabungan dari keduanya … seimbang.” Hans menambahkan perkataannya.
Zachary tertawa kecil. “Aku berharap dapat bertemu salah satu dari ketiganya.”
“Kau jangan bercanda, Kak. Bahkan tidak ada yang tahu apakah mereka benar-benar nyata atau tidak.”
Lalu Zachary menyeringai dan menoleh kepad Hans. “Sudah lupakan, di mana rak tempat kita harus mengembalikan dua buku ini?” tanya Zachary sambil mengangkat bukunya.
Hans menunjuk arah yang berlawanan dari pandangan Zachary. “Kita akan ke sana, seingatku tidak jauh lagi.”
Keduanya berjalan berdampingan hingga sampai kepada rak buku tua yang dituju. Walaupun rak buku lainnya juga terlihat berdebu, rak buku yang kali ini dan beberapa rak di dekatnya dilapisi debu yang lebih tebal. Seperti sudah lama tidak ada yang menjama dan penempatannya juga benar-benar berada di ujung perpustakaan. Sudutnya memiliki bagian yang keropos dimakan usia, banyak sampul buku yang mengelupas dan tidak tertata rapih.
“Walau diriku jarang sekali pergi ke perpustakaan, tetapi apa memang begitu jarang murid di sekolah kita pergi ke perpustakaan. Bukankah seharusnya perpustakaan menjadi tempat yang nyaman?” tanya Zachary.
“Memang jarang ada yang datang ke sini. Lebih banyak yang memilih untuk membeli bukunya sendiri dari toko ketimbang meminjam dari perpustakaan sekolah. Lihatlah buku-buku di sini, semuanya berdebu!” seru Hans. “Dan bisa-bisanya kau bilang nyaman … padahal cahaya di dalam sini minim dan ventilasi udara juga sedikit. Kau akan merasakan pengap jika terlalu lama berada di dalam sini.” Hans menjelaskan.
Setelah mendengarkannya Zachary mengangguk-angguk mengisyaratkan paham atas perkataan Hans. Zachary lalu melihat ke bagian atas dan juga bagian samping rak buku tua. “Ini aneh, seperti ada ruangan di balik rak buku ini. Tetapi tidak ada satu pun jalan masuk.” Zachary berbicara di dalam hatinya.
Kedua buku yang dititipkan Diana ditaruh Zachary dalam rak tersebut. Zachary terlihat begitu penasaran dengan apa saja yang ada dalam rak itu. Alhasil, ia melihat satu persatu buku yang ada walau tidak banyak jumlahnya.
“Hans, apakah kau pernah membaca salah satu buku dari rak ini?” tanya Zachary.
“Tidak, sama sekali aku tidak pernah membaca buku dari tempat ini. Aku hanya melihat-lihat sampulnya saja karena buku yang k****a hanyalah buku pengalaman sihir ataupun biografi sihir. Aku tidak membaca buku aneh setebal itu.”
“Apa yang kau maksud dengan aneh?”
“Lihat saja sampulnya, bahkan tidak ada nama penulis di sana.”
“Dan bagian pertama juga kedua dari buku ini tidak ada. Hanya ada bagian ketiga dan keempat yang dipinjam guru Diana.” Zachary menambahkan.
Hans tertawa. “Aku salut kau menyadarinya. Saat aku pertama kali melihat isi rak ini memang hanya ada dua buku itu yang bersambung. Bagian tiga dan empat, tidak pernah aku melihat bagian pertama atau keduanya.”
Zachary kembali melamun, entah apa yang dipikirkannya.
Braakk!
Terdengar suara jatuh yang tidak jauh dari tempat Zachary dan Hans berada. Hal itu jelas mengangetkan Zachary yang tengah melamun. Mereka pun mencari asal dari suara tersebut. Saat menemukannya ternyata itu adalah Sera yang tengah memegangi kepalanya dengan buku-buku berserakan di lantai.
“Sera, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Hans.
“Tentu saja aku sedang mencari buku untuk dipinjam!” sahut Sera kesal.
“Biar aku bantu,” ucap Zachary yang langsung memungut buku-buku berserakan di atas lantai lalu menaruhnya kembali ke dalam rak buku.
Sera menghempaskan napasnya. “Terima kasih Zachary. Tadinya buku-buku itu ada di rak bagian paling atas, aku mencoba mengambilnya tetapi malah banyak buku yang jatuh menimpa kepalaku,” ungkap Sera tentang apa yang sebenarnya terjadi. Lalu Sera mengambil salah satu dari buku yang sudah dikembalikan Zachary ke dalam rak buku tetapi di bagian yang lebih rendah.
“Ini adalah buku tentang tanaman obat dari waktu ke waktu, aku ingin mempelajarinya. Mungkin saja dengan referensi di dalam buku ini aku dapat menciptakan ramuan yang fungsinya sama dengan yang dibuat oleh guru Aldini.”
“Wah, kau sangat hebat Sera!” ucap Zachary memuji Sera.
Wajah Sera memerah setelahnya. “Em … Ka- kalian sendiri ada apa ke perpustakaan? Apakah ada buku yang ingin kalian pinjam?” tanya Sera.
“Tidak, kami hanya mengembalikan buku yang di pinjam guru Diana. Ia meminta tolong untuk mengembalikannya dan kebetulan bertemu denganmu di sini,” jawab Zachary.
Sera menengok sekitarnya lalu mulai berbicara dengan berbisik. “Aku punya sebuah rahasia yang kutemukan di dalam perpustakaan ini.”
“Apa yang kau temukan di dalam sini?” tanya Hans yang ikut-ikutan memakai nada berbisik.
“Ayo kita membicarakannya di luar saja, jangan di sini. Kita juga harus punya keleluasaan atas pembicaraan kita. Aku takut pembicaraan ini terdengar oleh si penjaga perpustkaan,” ajak Zachary kepada Sera.
“Apakah kau menemukan sebuah rahasia juga?” tanya Sera yang masih menggunakan nada bisikan dalam berbicara,
Zachary mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya.
“Whoah, aku tidak sabar untuk mendengarkannya langsung darimu. Sepertinya sangatlah penting dan aku tebak pasti ini berhubungan dengan kasus yang sedang kita tangani,” ujar Sera.
Zachary mengiyakan dugaan Sera dengan senyum juga tatapannya.
“Ayo temani aku terlebih dulu untuk menemui si penjaga perpustakaan. Aku ingin meminjam buku ini dan setelah itu kita akan membicarakan rahasia yang ditemukan,” lirih Sera berkata begitu meyakinkan.
Akhirnya mereka pergi ke meja tempat Andy menjaga perpustakaan. Andy terlihat masih asyik membaca buku yang sama seperti sebelumnya, ia juga terlihat sangat fokus membacanya sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Zachary bersama Hans dan Sera. Buku beserta bolpoin yang digunakannya untuk mencatat tadi juga masih tergeletak di tempat yang sama dengan saat terakhir kali Andy meletakkannya.
“Hoi, penjaga. Apa kau dapat mendengarku” tanya Sera memiringkan kepala.
Andy pun menoleh sambil menutup bukunya. “Eh, maafkan aku. Aku terlalu fokus membaca buku. Apa ada yang bisa aku bantu?”
“Aku ingin meminjam buku ini, setidaknya untuk tiga bulan ke depan. Aku ingin mempelajari isi buku ini, apakah bisa?”
“Oh, tentu saja! Bisa sebutkan judulnya dan siapa penulisnya?”
Sera melihat sampul buku yang akan dia pinjam. “Judulnya `Biofarmaka Peradaban Es` dan penulisnya adalah Drue Vermillion.”
Andy menuliskan apa yang Sera katakan. “Baiklah sudah ku catat. Jangan lupa untuk mengembalikannya tepat waktu, ya! Jika ingin memperpanjang masa peminjaman datang saja kembali ke mari. Tetapi setelah sekolah dibuka kembali ya, mulai minggu depan kabarnya sekolah akan libur dan aku juga libur dari pekerjaan ini,” ujar Andy yang diakhiri dengan senyuman.
Setelah itu pun ketiganya meninggalkan perpustakaan bersama. Andy terlihat terus memandangi mereka hingga keluar dari perpustakan. Sekilas senyum mencurigakan Andy terlihat sekian detik sebelum pintu benar-benar menutup rapat.