XII. Rencana Menyelinap

1609 Words
Ruangan kelas begitu sepi, bahkan beberapa teman sekelas Hans yang tempo hari datang pagi ini tidak terlihat batang hidungnya. Di depan kelas, Zachary dan Sera menunggu Hans yang mengambil tas miliknya. Setelah tasnya di ambil, Hans mengikuti kakaknya masuk ke dalam kelas lalu menutup pintunya rapat-rapat. Mereka menggunakan meja guru yang bentuknya memanjang sehingga luas tempat yang dapat digunakan. Sera menaruh buku yang baru saja ia pinjam di atas meja lalu menaruh kedua tangan di atasnya. Duduk mengitari meja guru, Zachary memandangi langit-langit dan kembali melamun. Hans langsung sadar akan hal itu dan menepuk bahu kakaknya. “Kenapa kau sering sekali melamun, Kak. Apa yang kau pikirkan sejak tadi?” tanya Hans dengan telapak tangan kanan yang masih berada di sebelah pundak kakaknya . “Aku hanya memikirkan tentang kejadian apa yang sebenarnya terjadi. Semakin memikirkannya aku semakin pusing dan menciptakan spekulasi yang begitu liar. Lama kelamaan bisa dibuat gila diriku memikirkan hilangnya para guru,” jawab Zachary. Sera menghela napasnya dalam. “Biasanya kau sangat tenang ketika menghadapi masalah. Tetapi kali ini kau begitu memikirkannya hingga melamun. Aku tebak pasti kau menemukan sesuatu yang baru tentang permasalahan ini,” ujar Sera menebak. “Ya, kau benar. Kemarin ibu penjaga kantin mengatakan bahwa penjaga perpustakaan kerap mengunjunginya saat pagi hari untuk sarapan, kan? Karena kemarin kita juga sempat curiga kepadanya, aku memutuskan untuk datang ke sekolah lebih awal dan bersembunyi di antara stan kantin yang kosong.” “Apa yang kau temukan di sana, Kak?” Hans terlihat penasaran. Zachary menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Aku mendengar langsung dari penjaga perpustakaan itu bahwa pihak sekolah menyembunyikan kebenarnan dari kasus yang tengah terjadi. Di mana guru yang hilang sebenarnya ada lima orang, bukan tiga!” Sontak Hans dan Sera terkejut dan terheran-heran. “A- apa maksudmu dengan lima orang? Setelah guru Airia apakah ada lagi?” tanya Sera yang seakan tak percaya dengan kabar yang dibawakan Zachary. “Hilangnya guru-guru ini masih abu-abu tujuannya. Apalagi jika akhirnya untuk di bunuh, sangat tidak masuk akal!” kata Hans. Zachary menggeleng. “Aku tidak yakin siapa satu guru lagi. Tetapi, sangat khawatir jika itu adalah guru Gio. Karena hari ini seharusnya ia datang ke sekolah untuk bertemu denganku, kami memiliki sebuah janji untuk menyempurnakan sihirku ….” “Mungkin sore nanti ia akan datang,” ujar Sera. “… tetapi bagaimana jika ia tidak datang?” “Kau tidak boleh berpikiran buruk seperti itu, tidak baik!” ujar Sera kembali mencoba menenankan Zachary. Setelahnya Zachary kembali menatap langit-langit kelas lalu menghempaskan napasnya seakan pasrah dengan apa yang akan terjadi. Hans melirik ke arah Sera. “Kau sendiri mengapa berada di sana? Apalagi kau hanya berduaan dengan penjaga itu di dalam perpustakaan. Kau tidak sedang bersekongk-“ Sera memukul meja tidak terima. “Kau jangan asal bicara Hans! Aku juga penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tadinya aku ingin memata-matai penjaga perpustakaan itu, tetapi saat aku mendekati perpustakaan ia malah menemuiku dan terpaksa aku beralibi ingin meminjam buku.” “Berarti saat itu adalah ketika penjaga perpustakaan kembali dari kantin,” ucap Zachary tiba-tiba. “Aku mengelilingi perpustakaan, berpura-pura mencari buku pada setiap rak yang ada. Padahal aku hanya mencari kesempatan untuk memata-matai penjaga perpustakaan itu, tetapi ia hanya duduk dan membaca buku. Akhirnya aku menghampirinya dan menanyakan buku apa yang sedang ia baca. Anehnya, saat aku menanyakan hal itu ia langsung menutup bukunya dan menyimpan buku itu di bawah meja berkata, `Aku baru membaca buku ini, aku sedangfokus, jangan menggangguku!`. Sepertinya ia tidak ingin menunjukkan buku itu … atau ia sengaja menyembunyikannya? Entahlah, aku semakin penasaran dengan apa yang ada di dalamnya.” Sera menjelaskan secara panjang lebar apa yang sebenarnya ia lakukan di perpustakaan. “Hanya buku yang kau curigai dari penjaga itu? Bagaimana jika itu hanyalah buku biasa?” ujar Hans yang mengerutkan dahi. “Tidak hanya itu, saat aku berkeliling di tempat bertemu dengan kalian tadi aku menemukan sesuatu. Bagian kosong pada rak buku yang memiliki energi sihir,  aku benar-benar tidak sengaja menyentuhnya dan jika tidak disentuh energi sihirnya tidak akan terdeteksi sama sekali.” Setelah mendengarnya, Zachary mengarahkan pandangan pada Sera. “Di tempat tadi kita bertemu?” tanyanya memastikan. “Iya, sangat dekat. Sayang sekali kekuatan sihirku tidak dapat membuka lapisan sihirnya. Lalu aku juga menemukan buku tentang tanaman obat periode es ini jadi sekalian saja aku ambil dan berakhir bertemu kalian berdua.” “Aku akan membantu membukanya. Mungkin karena tempat yang gelap dan debu yang menutupi tidak akan ada yang menyadarinya. Tetapi di belakang salah satu rak tadi aku melihat bentuk ruangan tanpa akses masuk. Belum sempat melihatnya kau terjatuh dan kami menghampiri.” Zachary berkata mencoba merangkai informasi yang di dapat satu persatu. “Hmm, padahal aku sering mengunjungi tempat itu. Tetapi aku tidak menyadarinya sama sekali.” Hans bergumam. Zachary kembali melamun untuk beberapa saat sebelum ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja sembari membungkukkan badannya, ia terliaht sangat serius sekarang. “Hans, tas yang kau bawa kosong melompong, kan?” tanya Zachary. “Iya, memangnya kenapa? “ tanya Hans yang setelh itu menelan ludahnya sendiri seakan merasa hal tidak mengenakkan bakal terjadi. “Tenanglah, aku tidak akan membakarnya. Berikan ta situ kepada Sera, aku punya sebuah rencana yang jika berhasil seharusnya akan memberikan kita petunjuk lebih tentang hilangnya para guru.” Hans memberikan tasnya kepada Sera, Sera pun mengambilnya. “Rencana seperti apa yang kau maksud?” Tanya Sera. “Aku baru ingat dengan selembar kertas dengan keterangan daftar orang hilang di atas meja kepala sekolah. Aku tidak sempat melihatnya karena guru Diana datang membawakanku minum setelah itu memintaku untuk mengambilkan berkas lain.” Hans memicingkan matanya. “Lalu … kau ingin aku yang mengambilnya dari ruang kepala sekolah?” “Yup, tebakanmu benar! Nanti aku akan mengalihkan perhatian guru Diana dengan memberitahukan jika berkas di gudang perlu di cek dan ada sekardus berisikan buku bekas di sana. Aku akan menyarankan penjaga perpustakaan yang melakukannya. Di sisi lain, Sera dapat mengambil buku yang dibaca penjaga itu dan menyembunyikannya di dalam tas milik Hans.” “s****n, kakakku mengajari adiknya sendiri untuk mencuri. Hal ini tidak pernah dibenarkan dalam hukum mana pun,” umpat Hans kepada kakaknya. Sera terkekeh. “Jika kita menemukan petunjuk akan kejadian ini, pasti kita sangat beruntung.” “Sangat beruntung bagaimana?” tanya Hans. “Lihatlah dua kasus sebelumnya. Bahkan pihak kepolisian tidak dapat mengusut hingga tuntas. Itu menandakan betapa sulitnya kasus ini untuk di pecahkan.” “Baiklah, ayo kita bersiap untuk melakukan aksi!” seru Zachary yang tiba-tiba berdiri membuat Hans dan Sera terkejut.  Ketiganya lalu merapihkan kembali isi kelas, mengembalikan kursi-kursi pada tempat yang seharusnya. Seperti biasanya, Zachary tidak lupa untuk menutup pintu kelas rapat-rapat. Namun, sebelum ia menutup pintu kelas, ia merasakan ada sesuatu yang aneh ketika melihat setiap sudutnya. Tak kunjung menemukan apa yang menganggu pikirannya, ia berpikir bahwa itu hanyalah dirinya merasa ada orang lain di dalam kelas padahal sudah tidak ada siapa-siapa karena jelas Hans dan Sera bersamanaya. Siapa yang menyangka jika Redd lagi-lagi menguping pembicaraan Zachary dan yang lainnya dari balik tembok di bawah jendela kelas. Persembunyiannya sangat apik karena sikap Redd yang begitu diam membuat tak ada seorang pun yang curiga akan kehadirannya. Zachary bersama Hans tiba di halaman seberang ruang kepala sekolah. Ruangan itu nampak sepi dan terkunci, sepertinya Diana belum memasuki ruangan itu kembali setelah kemarin meminta Zachary dan Sera membawakan berkas-berkas ke gudang. Beberapa saat kemudian, Zachary melihat Diana yang datang dan membuka kunci dari ruangan kepala sekolah. Diana hanya membuka kuncinya saja, setapak kakiknya bahkan tidak ada menyentuh ruangan kepala sekolah sedikit pun. Sementara itu, Redd sudah siap untuk memata-matai Hans dan Zachary dari balik rak sepatu. Ia terlihat seakan hanya menunggu untuk Zachary dan Hans bergerak, hanya itu. Zachary pun bersiap-siap untuk menjalankan rencananya. “Hans, bersiaplah untuk masuk ke ruangan kepala sekolah saat aku mengalihkan perhatian guru Diana. Target kita adalah data orang hilang di atas meja kepala sekolah. Kau tau di mana letak meja kepala sekolah, kan?” tanya Zachary. “Ya, aku tahu tempatnya. Serahkan saja padaku,” jawab Hans meyakinkan. Lalu Zachary berlari menghampiri Diana secepat mungkin. Diana terlihat cukup terkejut dengan kedatangan Zachary yang tiba-tiba. Zachary memanggil Diana dengan isyarat gerakan tangan alih-alih supaya Hans dapat memasuki ruangan kepala sekolah. Akhirnya Diana menghampirinya. “Ada apa Zachary? Apakah buku yang ku titip sudah kau kembalikan?” Zachary mengangguk. “Bukunya sudah dikembalikan ke perpustakaan.” Di sisi lain, Hans dengan begitu cepatnya mengendap-endap masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. Redd yang sedang memata-matai Hans dan Zachary terkejut mengetahui apa yang dilakukan Hans. “Lalu?” tanya Diana kepada Zachary. “Aku lupa mengatakannya kepada guru jika di gudang penyimpanan berkas sepertinya ada berkas-berkas berantakan yang harus diperiksa. Lalu aku juga melihat sekardus buku yang dibiarkan begitu saja.” Zachary berbual kepada Diana. “Ahh iya, sekardus penuh buku itu. Aku lupa memberitahukanya kepada penjaga perpustakaan.” Zachary sedikit terkejut. “Ya ampun aku tak mengira benar-benar ada sekardus buku yang tak terpakai. Ini benar-benar sebuah kebetulan!” batin Zachary. “Kalau begitu biarkan aku memanggil penjaga perpustakaan untukmu.” “Baiklah, panggilkan ia dan minta untuk menemuiku di gedung  olahraga. Aku harus mengambil data pembelajaran terakhir di sana. Sebenarnya aku juga memiliki keperluan dengan penjaga perpustakaan itu, jadi … panggilkan dia, ya?” Zachary melirik sekilas ke arah ruangan kepala sekolah, sepertinya ia memastikan apakah Hans sudah berhasil mengambil data orang hilang yang ditargetkan atau belum. Dirasa Hans sudah mendapatkannya, Zachary langsung buru-buru meninggalkan Diana. “Emm, baiklah. Aku akan memanggilkan penjaga perpustakaan secepat mungkin,” pungkas Zachary yang setelah itu langsung meninggalkan Diana begitu saja. Tak lama setelahnya pun Diana juga pergi dari tempat itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD