V. Janji Kecil dan Ajakan yang Tertolak

1963 Words
Hari semakin larut, rembulan cahayanya begitu indah bersama angin malam yang berhembus melewati dedaunan. Ibu Zachary telah tertidur di kamarnya begitu pun sang ayah. Tersisa Zachary bersama Hans dan Sera yang masih duduk santai di halaman rumah. Ketiganya terlihat sedang mengobrol cukup serius. “Jadi, belum ada kabar kabar sama sekali tentang keadaan guru Aldini?” Zachary bertanya. Lalu Sera menggeleng. “Selama aku di sekolah untuk menyelesaikan ramuan itu, ada beberapa guru juga petugas sekolah yang berlalu lalang tetapi tidak ada sama sekali yang membicarakan guru Aldini,” ujar Sera. “Padahal sekolah sedang libur, untuk apa para guru dan petugas ada di sekolah?” Hans bertanya. Sera menatap aneh Hans. “Apa kau lupa minggu ini kita libur karena ada ujian kenaikan kelas di minggu selanjutnya?” “Astaga, sepertinya terlalu banyak bekerja di ladang sampai melupakannya!” Zachary ikut menggeleng keheranan dengan adiknya yang lupa akan ujian kenaikan kelas. “Ingin berjalan santai di sekitar ladang?” ajak Zachary yang memiringkan kepalanya. Mendengar ha; tersebut Hans langsung tersenyum jahat menyipitkan mata. “Kalian saja berdua, aku ingin beristirahat setelah darin ladang.” Setelah itu dengan cepat Hans masuk ke dalam rumah. “Jadi, hanya kita berdua?” tanya Zachary menaikkan alis kanannya. “Menurutmu? Hanya ada kita berdua di sini, tidak ada yang lain.” Sera berkata lalu berjalan duluan meninggalkan Zachary di belakang. “Hei tunggu aku, mari pergi ke lapangan di samping ladang!” seru Zachary. Langkah kaki Sera terhenti lalu menoleh kepada Zachary dan tersenyum manis. Zachary dan Sera berjalan berdampingan, bintang-bintang hanya memandangi dari atas langit. “Sudah lama ya tidak berjalan menikmati udara malam seperti ini,” ujar Sera. “Ya, kau benar. Rasanya terakhir kali itu saat kita masih kecil.” “Oh iya, menurutmu bagaimana soal jimat yang ditemukan Hans di ladang tadi? Saat kau menghancurkannya penyakit ibumu tiba-tiba menghilang. Luka di kakinya juga menghilang.” “Pasti lukanya cepat menghilang karena ramuanmu juga,” kata Zachary. “Tidak begitu, sepertinya ramuanku tadi belum bekerja sedikit pun, aku dapat merasakan itu.” “Ayolah, jangan langsung pesimis hanya karena hal itu. Juga untuk jimat yang ditemukan Hans, aku sedang tidak ingin membahasnya sekarang.” “Baiklah, maaf soal itu,” ujar Sera. Mereka berdua tiba di lapangan rumput di samping ladang gandum keluarga Theora. Keduanya berhenti sejenak untuk melihat sekitar, mengingat-ingat masa lalu berjalan bagaimana dan perbedaanya dengan masa kini. Sera mengingat bebatuan yang dahulu saat masih kecil kerap ia gunakan untuk duduk santai saat bermain dengan Zachary. “Hei, aku mengingat bebatuan itu! Aku tak menyangka itu masih ada di sini setelah begitu lama.” “Aku tak mengizinkan warga di sekitar sini untuk menghancurkannya. Lagi pula, dahulu banyak sekali yang bermain di sini, pasti ingatan itu sangat membekas di benak warga. Terutama pohon ek di sebelah sana.” Zachary menunjuk pohon ek yang masih segar dengan dedaunan hijau nan indah. “Ya ampun, pohon itu terlihat sangat sehat, ia yang selalu menemani kita saat kecil melewati keempat musim dengan daunnya yang rindang.” Sera dan Zachary setelahnya menuju bebatuan dan duduk di atasnya. Melihat lapangan dengan rerumputan hijau di malam hari, satu dua kepik terbang ke sana kemari. “Zachary, lagi-lagi aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu,” ucap Sera. “Eh? Terima kasih untuk apa?” tanya Zachary bingung. “Sudah lama kau tidak menghirup udara malam sesejuk ini, wilayah sekolah masih masuk ke dalam area warga biasa. Tidak banyak tumbuhan di sana selain di taman sekolah.” Zachary tertawa kecil lalu melihat langit penuh bintang. “Begitulah kelebihan area keluarga rendahan. Lihatlah wilayah keluarga terpandang di tengah kota yang begitu maju, tempat keluarga bangsawan yang sangat mewah dan megah dan area warga biasa yang pembangunannya terus berjalan serta ekonomi yang baik. Sementara di sini? Di area keluarga rendahan kebanyakan dari kami harus bekerja keras mengurus ladang atau peternakan hanya untuk kebutuhan sehari-hari.” Zachary bercerita panjang lebar. “Suatu saat nanti pasti kau bisa mengangkat derajat keluargamu menjadi keluarga terpandang. Aku percaya itu.” Ujar Sera. Zachary menunduk sambil tersenyum. Tak lama ia kembali mengangkat pandangannya. “Oh iya Sera, apakah tidak apa kau hingga malam begini belum pulang?” tanya Zachary. “Tidak apa-apa, aku juga sering tidak pulang ke rumah lho hanya untuk menghabiskan waktuku di sekolah. Guru-guru bahkan orang tuaku tahu akan hal itu. Jadi, tidak perlu khawatir lagi jika aku tidak pulang ke rumah.” Zachary menelan ludahnya sendiri. “Terkait, para ahli sihir sekaligus guru yang menghilang, aku terus memikirkannya hingga terkadang membuatku harus tidur ketika begitu larut memikirkannya. Mungkin saat ini baru dua tiga saja yang menghilang, jika nantinya terus menambah bagaimana?” “Jadi karena itu juga kau tidak ingin membicarakannya?” “Sudahlah, aku hanya meluapkan keluh kesah saja. Ini sudah begitu larut, mari kita kembali. Jika kau kelelahan dan ingin beristirahat, kamar tamu di rumahku kosong dan kau dapat menempatinya untuk malam ini. Aku akan mengantarmu pulang besok.” Sera mengangkat dagunya menatap Zachary dari dekat. “Baiklah jika begitu! Tetapi sebelum kita kembali, apakah kau ingat apa yang biasa kita lakukan sebelum pulang ketika petang saat kecil dulu?” “Ja- janji selamanya?” Zachary menebak sambil mencoba mengingat. Sera tertawa setelahnya. “Ternyata kau masih ingat ya. Baiklah, ayo lakukan!” Sera bersemangat. Mereka menunduk memejamkan mata lalu mengangkat lengan mereka dengan jari kelingking yang berdiri. Perlahan, jari kelingking disatukan seperti diikat seolah sedang mengikat janji. Dimulai dengan Zachary dilanjutkan Sera …. “Terus bersama.” “Saling menjaga. “Harus melindungi satu sama lain.” “Walupun waktu terhenti. Sera berbisik, “Sekarang giliran bersama-sama.” Zachary mengangguk. “Berjanji, ditepati, selamanya ….” *** Hari-hari berlalu dengan baik, tidak ada lagi hal aneh yang mendatangi keluarga Theora setelah Zachary menghancurkan jimat sihir yang ditemukan Hans di ladang gandum. Hari libur selama satu minggu sebelum ujian kenaikan kelas telah berakhir, Zachary dan Hans kembali memasuki sekolah. Pagi itu Zachary, Hans dan juga Sera kembali ke gubuk di pojok taman sekolah. Kondisi gubuk masih sama seperti semula, tidak ada yang berubah sama sekali. Sepertinya tidak ada orang lain yang memasuki gubuk selain Zachary, Hans maupun Sera. “Lagi-lagi nihil, sepertinya kita harus mendapatkan informasinya langsung dari para guru terkait guru Aldini yang menghilang,” kata Hans. “Kau benar, ini bukan main-main dan kemungkinan guru Aldini untuk menjadi target penculikan selanjutnya tidaklah kecil.” Zachary menanggapi adiknya. “Ya ampun lama-lama aku bisa gila memikirkan semua ini,” keluh Sera. “Tetapi ini benar-benar aneh ketika para guru seperti tidak menyadarinya,” ujar Hans. “Kalau dipikir-pikir betul juga, bahkan para siswa seperti tidak ada yang menyadarinya selain kita bertiga.” Zachary menambahkan. Sera menghempaskan napasnya. “Sudah dulu ya, aku ingin pergi ke tempat penelitian sihir alam untuk menguji ramuan dan menyempurnakannya. Sampai jumpa!” Hans melambaikan tangannya kepada Sera. “Sampai jumpa Sera!” “Semoga berhasil, ya!” tutur Zachary. Sera meninggalkan gubuk lalu berjalan menuju tempat penelitian sihir. Sementara itu, Zachary dan Hans masih tetap berada di gubuk dan mereka kembali berkeliling untuk melihat apakah ada petunjuk yang tertinggal atau bahkan tersembunyi. Belasan menit keduanya berputar mengelilingi gubuk tetap saja tidak ditemukan petunjuk lainnya tentang guru Aldini yang hilang. “Kak, aku benar-benar lelah tetapi hasilnya masih nihil,” kata Hans. “Ya, saying sekali. Padahal hanya di gubuk ini terakhir guru Aldini meninggalkan jejak. Karena tidak menemukan apa pun bagaimana jika kita kembali ke kelas masing-masing?” ujar Zachary. “Iya kak, ayo kembali ke kelas. Sepertinya aku mulai pusing dengan bau debu yang menumpuk di gubuk ini.” Zachary tersenyum lebar mendengar perkataan adiknya itu. Zachary dan Hans berjalan di lorong menuju kelasnya masing-masing. Tidak sengaja, Hans melihat Redd yang tengah berbincang dengan Julian di pojok lorong. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Hans berjalan cepat ke arahnya. “Hei, Hans! Kau ingin pergi ke mana?” ucap Zachary yang kebingungan melihat Hans tiba-tiba berjalan begitu cepat. Beberapa saat kemudian sambil berjalan Zachary baru menyadari jika ada Redd bersama Julian di ujung lorong dan Hans sedang menuju ke sana. “Gawat, bisa-bisa ada pertengkaran hebat jika Hans tidak segera dihentikan,” batin Zachary. Setelah itu Zachary berlari menyusul Hans untuk mencegah terjadinya keributan. Redd menengok ke arah Hans yang berjalan cepat mendekati. “Wah … wah, lihatlah siapa yang datang ke mari!” Julian langsung membuang pandangannya. “Aku tidak akan ikut campur termasuk membantumu jika sesuatu yang buruk menimpa. Aku angkat tangan,” ujar Julian. “Hei ada apa tuan Julian? Tidak biasanya kau seperti itu saat ada keluarga rendahan yang mencari masalah dengan kita.” “Bukan kita, tapi hanya dirimu,” ucap Julian sinis. “Terserah apa katamu, aku akan mengurusnya sendiri.” Hans sampai di hadapan Redd dengan amarah memenuhi wajahnya. Zachary datang dari belakang menepuk pundak Hans untuk menahan tetapi terlambat. Hans terlanjur dikuasai emosinya sendiri dan menyingkirkan tangan kakaknya dari pundak. “Redd Chrono, jawab pertanyaanku. Apakah kau mengetahui tentang jimat sihir di tengah ladang gandum?” tanya Hans. “Apa, jimat? Aku hanya memiliki satu jimat, sedang kukalungi sekarang. Kenapa kau menanyakan soal jimat? Apa inging membelinya?” “Tidak, ada jimat yang ditemukan di ladang milik keluargaku dan jimat itu membawa hal buruk.” Redd mulai memicingkan matanya. “Maksudmu dengan berkata seperti itu apa kau menuduhku sebagai pelakunya, huh?” ucap Redd kesal. “Entahlah tetapi yang yang tidak menyukaiku hanyalah kau dan mungkin juga kebetulan saat itu aku melihatmu juga menggunakan jimat sihir di leher,” kata Hans. “Itu namanya kau menuduhku! Apa kau iri aku memiliki jimat sihir ini tetapi tidak mampu membelinya?” Hans mengangkat sebelah pipinya hingga gigi taring pun terlihat. “Jangan pernah meremehkanku ya! Hanya karena kau berasa, dari keluarga bangsawan yang hidup dengan uang di mana-mana.” “Cih, memang kenyataannya seperti itu bocah s****n. Aku memang keluarga bangsawan, darah biru dan ingat! Menggunakan jimat sihir malapetaka adalah hal kuno yang sudah ditinggalkan. Jadi jangan pernah sekalipun kau menuduhku melakukan hal kuno nan menjijikan seperti itu.” Hans semakin tersulut emosi dan nada bicaranya menjadi tinggi. “Kau ini-” “Berhenti!” Zachary berteriak sambil menepuk bahu Hans. Seketika gelombang sihir angin muncul dengan cepat membuat semuanya terdiam terkejut. Gelombang sihir itu membuat benda ringan di sekitar berterbangan hingga debu dan dedaunan kering terhempas. “Sudahi pertengkaran kalian ….” Zachary berkata pelan. Julian lalu berdeham. “Hei, kau tidak memiliki alasan untuk menuduh Redd, ia bukan penyihir tipe shaman tetapi penyihir tipe Seer yang mana punya keahlian untuk meramal bukan menciptakan lalu mengirim kutukan.” Zachary menarik lengan adiknya ke belakang. “Ayo kita pergi sekarang, jangan melawan.” “T- tapi kak ….” “Tunggu, Zachary Theora. Jujur aku sangat terkejut dengan gelombang sihirmu yang barusan, aku ingin tahu seberapa jauh kemampuanmu. Jadi, mari bertarung denganku, satu melawan satu.” Julian menantang Zachary. “Aku tidak mau.” Zachary menolaknya begitu saja. Julian menghela napasnya. “Ayolah, hanya bertarung denganku sebentar saja. Apakah kau takut akan kalah degan cepat? Atau takut babak belur dalam sekali serangan? Padahal kau memenangkan pertandingan cipta kuasa tahun ini dan kau menggeser posisiku!.” “Maaf, tetapi aku tidak akan melakukannya.” “Bisa-bisanya kau menolak tantangan dari seorang keluarga terpandang. Aku baru pertama kali bertemu orang sepertimu yang tidak mengerti perbedaan kasta keluarga,” ucap Julian sinis. “Sebagai manusia, derajat kita sama.” Zachary membalas balik dengan sinis dan ekspresi datar. “s**l, aku bersumpah akan menghantui hari-harimu. Kau tidak akan tenang dan tak akan aman sebelum kau menerima tantanganku untuk bertarung. Aku tidak bercanda kali ini, jadi jangan coba-coba untuk kabur,” ujar Julian. “Terserah apa katamu, aku tak akan menghiraukannya.” Zachary menarik lengan Hans untuk pergi dari sana. Raut wajah Zachary terlihat tidak tenang setelah menolak ajakan dari Julian untuk bertarung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD