VI. Pemberitahuan Mengejutkan

2015 Words
Saat Zachary dan Hans berjalan melewati beberapa kelas, banyak gelembung sihir mendadak mengapung di udara menghampiri setiap murid di sekolah tanpa terkecuali. Zachary sepertinya tidak asing saat melihat gelembung sihir yang berterbangan. Beralih ke dalam gedung aula sekolah, terdapat Diana selaku wakil kepala sekolah yang terlihat sedang megendalikan gelembung dengan ukuran besar. Sepertinya gelembung yang menghampiri para siswa adalah sihir milik Diana sendiri. Gelembung sihir itu seperti sebuah alat komunikasi satu arah karena suara Diana terdengar jelas berbicara kepada seluruh murid lalu menyampaikan informasi. “Diberitahukan kepada seluruh murid mulai dari kelas satu hingga kelas empat dimohon untuk berkumpul di aula sekolah sekarang juga. Ada hal penting yang harus diumumkan,” ucap Diana melalui gelembung sihir. Setelah mendengarnya, seluruh murid langsung bergegas menuju gedung aula. Ramainya murid yang datang membuat harus mengantri terlebih dahulu sebelum memasuki aula. Saat Zachary dan Hans hendak masuk, mereka berpapasan dengan Sera dan Sera menyadarinya. Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk duduk bersebelahan. Di dalam aula, para guru tidak terlihat sama sekali apa lagi kepala sekolah. Hanya ada Diana di atas panggung membawa beberapa lembar kertas yang sepertinya cukup penting isinya. Tak lama setelahnya, Diana mulai menaiki podium lalu mulai berbicara. “Selamat datang kembali di sekolah sihir kita yang tercinta. Seperti yang kalian ketahui, setelah libur satu minggu untuk persiapan ujian kenaikan kelas, akan ada dua hari persiapan tambahan yaitu hari ini dan esok,” ujar Diana yang tak biasanya murung. Seketika itu para siswa langsung ramai berbisik membicarakan apa yang sebenarnya terjadi hingga ada pengumuman mendadak di aula. Diana mulai kembali berbicara tetapi ia seperti menahan sesuatu. “Seperti yang kalian tahu, beberapa bulan lalu … ada sebuah insiden yang menimpa teman seperjuanganku juga yang menjadi guru kalian, Beani dan Yeteru. Mereka ditemukan tewas tanpa tubuh dan hingga sekarang belum ada kabar yang jelas tentang penyebabnya. Belum lama ini, ada seorang guru yang kembali menghilang yaitu Aldini. Pihak sekolah sudah meminta unit keamanan dari tengah kota untuk mencarinya.” Air mata sudah tak dapat dibendung oleh Diana. Melihat Diana menitikkan air mata, para siswa ikut terenyuh mengingat betapa mengenaskannya kondisi dua guru mereka yang ditemukan tanpa tubuh. Namun, Diana mencoba untuk kuat dengan menahan kesedihannya. Ia mengusap air matanya lalu berusaha tegar untuk kembali berbicara. “Pihak sekolah sudah membicarakan ini dengan matang, demi keamanan para guru juga murid yang kemungkinan terkena imbasnya. Sekolah memutuskan untuk mengundur jadwal ujian kenaikan kelas hingga batas waktu yang tidak ditentukan ….” Semuanya yang ada di aula terkejut mendengar hal tersebut. Ujian kenaikan kelas yang begitu penting yang sudah dinantikan dan dipersiapkan sejak lama-lama mendadak diundur. “… seluruh siswa juga mulai minggu depan diliburkan. Hanya diperbolehkan datang ke sekolah jika ada urusan penting saja seperti mengemasi barang-barang yang tertinggal. Hanya itu yang dapat aku sampaikan, terima kasih semuanya,” pungkas Diana yang setelah itu langsung menuruni panggung. Banyak murid yang meninggalkan aula setelahnya tetapi tidak dengan Zachary. Ia memandangi setiap sudut aula dari tempatnya duduk, ia melihat seorang petugas sekolah di pojok belakang aula sedang berdiri menatap ke arah panggung dengan gerak gerik mencurigakan. Zachary menyenggol lengan adiknya. “Ada apa, kak?” tanya Hans. “Lihatlah ke pojok belakang aula. Bukankah itu penjaga perpustakaan?” Hans melihat ke arah yang ditunjukkan kakaknya. “Benar, ia memang penjaga perpustakaan sekolah. Tetapi untuk apa dia di sini? Ditundanya ujian kenaikan kelas seperti tidak ada untungnya bagi penjaga perpustakaan,” ujar Hans keheranan. “Itu yang kumaksud, mencurigakan ia ada di sini.” Beberapa saat kemudian Hans menyadari murid yang berada di dalam aula semakin menipis. Hans berbalik menatap Zachary. “Lebih baik kita pergi sekarang, sebelum ia menyadari kita memperhatikannya. Perasaanku tidak nyaman.” “Emm … baiklah, ayo kita pergi.” Sera tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan di antara Zachary dan Hans karena tidak dapat mendengar percakapan yang jelas lantaran suara bising hentakan kaki yang memantul di antara ruangan. Saat Zachary dan Hans pergi, Sera mengikutinya dari belakang. Sera mencoba mendekati Zachary dan Hans. “Hei-hei, apa yang tadi kalian-” Zachary memotong perkataan Sera. “Mari kita berbicara di taman saja, di sini terlalu ramai.” Sampai di taman sekolah, di tempat mereka biasanya saling berbincang sambil duduk. Namun, Zachary mengisyaratkan untuk pergi ke taman bagian dalam menggunakan gerakan tangan. Mereka bertiga berdiri membuat lingkaran di tempat yang tak jauh dari gubuk di pojok taman. “Aku hanya ingin menanyakan apa yang sedang kalian bicarakan, mengapa harus pergi ke sini?” tanya Sera kesal. “Kakakku meminta ke sini pasti memiliki alasan. Juga yang kami bicarakan tadi ialah seorang penjaga perpustakaan sekolah berada di aula menonton dari belakang,” ujar Hans. “Lalu … apa salahnya dengan penjaga perpustakaan yang ada di aula?” Sera menjadi bingung dibuat Hans. “Aku ingin membicarakannya. Karena tidak ingin ada yang melihat bahkan mendengar, jadi aku ajak kalian membicarakannya di sini,” kata Zachary pelan. “Yang pertama adalah sedikit janggal apa bila penjaga perpustakaan ada di aula, padahal jarak antara aula dan perpustakaan itu jauh dan gerak geriknya yang aneh.” Sera memajukan dagunya. “Aneh bagaimana maksudmu?” “Ia memiliki tatapan sinis nan tajam dengan tak henti menatapi guru Diana yang berdiri di atas panggung. Dari raut wajahnya aku melihat kekesalan dan niat buruk. Entahlah, perasaanku begitu tidak nyaman ketika memandanginya,” ujar Zachary. “Jangan bilang wakil kepala sekolah akan menjadi target selanjutnya?” celetuk Sera. “Itu memang bisa saja terjadi. Tetapi yang menjadi prioritas sepertinya adalah para ahli sihir dari sekolah kita,” sahut Zachary . Hans menghempaskan napasnya. “s**l, aku senang senang sekali berburuk sangka kepada orang lain, bisa-bisanya aku berpikir bahwa penjaga perpustakaan itu adalah seorang mata-mata. Aku terpikir untuk memberitahukan masalah ini kepada pihak sekolah. Mungin saja akan banyak membantu proses pencarian.” “Aku menyukai kata itu, `mata-mata`. Jikalau benar adanya berarti ada informan khusus di dalam lingkungan sekolah untuk para penculik itu,” tutur Sera begitu yakin. “Untuk sekarang kita tidak memiliki bukti yang kongkrit. Namun, jika betulan mata-mata pastinya ada lebih dari satu di dalam sekolah.” Zachary menambahkan. Sera terlihat seperti sadar akan sesuatu di benaknya. “Hei, berbicara tentang bukti bagaimana dengan batu yang kita temukan memiliki bekas darah di baliknya?” tanya Sera. Hans tertawa kecil. “Tenang saja, batu-batu itu bersama beberapa jerami ajaib yang diberikan guru Aldini padaku sudah aman. Aku menyimpannya di dalam kotak yang aman.” Sera mengangguk-angguk setelahnya. “Baiklah kalau begitu, akan rumit masalahnya jika kita melaporkan kejanggalan tanpa bukti,” ujar Sera lega. “Jerami ajaib yang ditemukan berserakan di dalam gubuk masih ada padaku, aku masih membutuhkan itu untuk menyempurnakan ramuannya.” Ding … dong! Bel sekolah berdentum. “Sudah masuk waktunya untuk pulang sekolah, mari kita kembali ke kelas,” ajak Zachary dengan wajah begitu ramah ditambah senyuman. “Kakak aneh,” gumam Hans melihat Zachary tiba-tiba tersenyum. Mereka bertiga kembali ke kelasnya masing-masing. Murid yang lainnya sudah pergi meninggalkan kelas membuat lorong-lorong menjadi lengang. Zachary dan Sera berada di satu kelas yang sama. Karena kelas Hans yang berbeda juga jaraknya lebih dekat, Hans terlebih dulu memasuki kelas lalu meminta Zachary menunggu dikelasnya bersama Sera. Setelah membereskan semua barang-barangnya Hans bergegas menuju kelas kakaknya. Namun, tanpa ia sadari ada seseorang yang mengikutinya dari belakang menggunakan jaket hitam. Langkah demi langkah dilalui Hans, lama kelamaan ia mulai merasa tidak enak, merasa diikuti, oleh karena itu ia menengok ke belakang. Dengan cepat orang yang mengikuti Hans bersembunyi di balik pintu layaknya bayangan, samar tak meninggalkan jejak. Hans menghempaskan napasnya lega. “Tidak ada siapa pun, mungkin hanya perasaanku saja. Aku tidak perlu menghiraukannya,” batin Hans menenangkan dirinya sendiri. Tiba di depan kelas Zachary, Hans masuk sambil tersenyum lalau memanggil kakaknya. Orang yang mengikuti Hans membuka bagian kepala jaket, ternyata orang itu adalah Redd. Dengan hati-hati Redd berdiri membelakangi pintu ruangan kelas untuk menguping pembicaraan Hans dengan Zachary juga Sera. “Apakah obrolan mereka sangat penting bagi Julian? Seharusnya aku sudah beristirahat di rumah saat ini, tapi apa boleh buat jika Julian yang memerintahkan,” batin Redd sambil mengeluh. Hans yang baru memasuki ruangan kelas melihat Sera duduk dan melambaikan tangan. Setelah itu ia langsung mengambil kursi selagi Zachary membereskan barang-barangnya di atas meja. Sebelum duduk, Zachary melihat keadaan sekitar kelas untuk memastikan tidak ada orang selain mereka bertiga. Setelah merasa aman Zachary duduk dan memulai pembicaraan. “Begini, pertama-tama kita akan mencari informasi yang lebih akurat lagi tentang hilangnya para guru. Lalu aku ingin meminta tolong kepada kalian untuk melakukan sesuatu, dan yang terakhir kita akan menyerahkan buktinya untuk diproses lebih lanjut,” ujar Zachary. “Ya … walaupun masalah ini tidak berhubungan langsung dengan kita, aku penasaran siapa yang tega melakukan hal itu.” Sera berkata. “Memang tidak berhubungan langsung, tetapi jimat itu … aku rasa pelakunya adalah orang yang sama,” ujar Hans. “Seperti tidak mungkin pelakunya adalah orang yang sama. Lagi pula, apa alasan mereka melakukan semua ini? Kita tidak bisa berspekulasi secara langsung tanpa tambahan bukti yang jelas.” Zachary menanggapi perkataan adiknya. “Oh iya, tadi kau berkata ingin meminta bantuan kepadaku juga Hans. Bantuan apa?” tanya Sera. Zachary menghela napasnya dalam. “Mendekatlah, aku akan membisikkannya kepada kalian ….” Ketiganya saling mendekatkan telinga. “… untuk Hans, aku meminta kau untuk mengambil data tentang para guru yang hilang. Seharusnya data itu berisikan tempat di mana jasad para guru ditemukan dan mungkin saja ada petunjuk tertinggal di sana. Seharusnya data itu berada di ruang kepala sekolah, karena semua surat-surat berikut data disimpan di sana. Lalu untuk Sera, aku meminta bantuanmu untuk pergi ke perpustakaan untuk mengawasi penjaga perpustakaan yang tadi menunjukkan gerak gerik aneh, jika kau mendapatkan sesuatu yang mencurigakan dari perpustakaan itu akan lebih baik. Sementara itu, aku akan menanyakan hal ini secara langsung kepada guru Diana. Semoga ia dapat membantu,” jelas Zachary panjang lebar. Sera mengangkat kedua tangannya merenggangkan tubuh.“Baiklah, sebuah tantangan baru diterima. Sudah lama aku tidak mendapatkan misi yang menarik seperti ini.” “Aku ingin beristirahat di rumah, ayo kita pulang.” Hans berbicara dengan lemas padahal tidak ada kegiatan melelahkan selama seharian di sekolah. Tidak seperti mengurus ladang di rumah. Tanpa menyadarinya, saat ini Redd tengah bersebelahan dengan Zachary. Hanya saja, mereka berdua dibatasi pintu kelas yang membuat mereka tak dapat saling melihat. Redd hanya melihat ujung sepatu Zachary yang menapak sedikit melewati pintu. Hanya butuh selangkah lagi sebelum Redd ketahuan, saat itu juga Redd mencoba untuk tenang dengan mengatur pernapasannya. “Bagaimana ini, aku tidak dapat berpikir dengan baik, apa yang harus kukatakan jika ketahuan?” batin Redd yang mulai tidak tenang. “Hei, ayo kita pulang. Sekolah sudah sangat sepi, kita harus bergegas!” Suara Zachary terdengar oleh Redd dari balik pintu. “Zachary, kemarilah! Kau meninggalkan sapu tangan milikmu,” panggil Sera sambil mengangkat sapu tangan milik Zachary. “Wah, aku melupakannya. Berikan itu padaku, Sera.” Merasa Zachary telah menjauh, Redd berjalan cepat lalu menjauh dari tempat itu. Merasa sudah cukup jauh ia langsung berlari sambil menghempaskan napas lega sembunyinya tidak diketahui. Zachary mengambil sapu tangannya dari Sera, setelahnya ia mengembalikan kursi yang diambil Hans untuk duduk ke tempat asalnya. Sementara itu, Hans sudah berada di depan kelas menunggu sambil memandangi lorong. “Ada apa Hans? Sampai kau memandangi lorong yang kosong begitu serius,” tanya Zachary yang berjalan menghampiri. “Entahlah, aku seperti merasakan ada seseorang yang baru saja melewati lorong ini. Saat aku menuju ke mari juga seperti ada yang mengikutiku,” jawab Hans. “Kau jangan bercanda, tidak ada siapa-siapa di sini selain kita bertiga.” “Kalau dipikir-pikir benar juga, mungkin hanya diriku yang tengah memikirkan banyak hal saja,” ujar Hans. Dari arah belakang tiba-tiba Sera merangkul Hans dan Zachary sambil tersenyum lebar. “Ayolah kawan-kawanku, tidak perlu kalian memikirkan banyak hal yang membuat pusing. Lakukan dengan santai, nanti satu persatu akan selesai dengan sendirinya.” Sera mencoba untuk menghibur. Waktu berlalu, tak terasa sudah menjelang petang dan sekolah benar-benar sepi. Di belakang gedung sekolah, Redd menemui Julian. Julian sepertinya sudah lama menunggu datangnya Redd dilihat dari wajahnya yang sangat lesu. Redd berlari menghampiri Julian hingga terengah-engah napasnya saat berhenti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD