VII. Penjaga Kantin

2360 Words
“Hoi, dari mana saja kau lama sekali? Aku sudah menunggumu di sini begitu lama,” ucap Julian yang tengah melipat kedua tangannya duduk di atas kotak kayu besar. “Tadi aku mencari mereka terlebih dahulu, lalu melihat ketiganya memasuki kelas jadi aku menguping dari luar. Saat aku menguping mereka hampir saja aku ketahuan, untungnya aku dapat melarikan diri dengan cepat.” Julian memasang wajah tidak enak sambil mengibaskan tangannya seolah sedang mencium bau yang tidak enak. “Aku tidak ingin mendengarkan cerita yang tidak berguna itu. Aku hanya ingin mengetahui apa saja yang mereka bicarakan, katakanlah.” Julian berkata. “Umm … mereka bertiga sedang membicarakan para guru yang hilang juga mencari tahu siapa pelaku dibaliknya. Tentang jimat yang tadi sempat ditanyakan juga mereka bahas, dan yang membuatku bingung mereka membicarakan soal bukti. Entah bukti apa, aku tak mengerti,” beber Redd. “Hanya itu saja? Aku menunggumu begitu lama di sini hanya untuk informasi seperti itu?” tanya Julian kesal dengan nada bicara meninggi. “Bagaimana bisa aku mendengar pembicaraan mereka dengan jelas sementara mereka membicarakannya dengan berbisik?” Ekspresi Julian menunjukkan ia mulai pasrah. “Jika hanya itu berarti mereka akan mencari informasi tentang kematian dua guru dan hilangnya guru Aldini … pasti itu dilakukan besok. Maka esok hari kau juga harus mendapatkan informasi tentang mereka!” ujar Julian. “Ya ampun, aku harus mengikuti mereka lagi? Kau tahu, jika bukan kau yang seorang keluarga terpandang memerintahku, aku akan menolak pekerjaan ini dengan mentah-mentah.” Julian memasang tatapan sinisnya. “Jika kau bukan kenalanku selama tiga tahun terakhir, maka aku akan langsung menghabisimu karena tidak menyelesaikan pekerjaan dengan baik!” “Sudahlah, aku lelah berseteru denganmu. Ayo kembali ke penginapan, sekolah ini saat sepi seperti kota mati yang ditinggalkan bertahun-tahun.” “Hmm … ayo,” jawab Julian singkat. Keesokan harinya di sekolah, cahaya sang surya terlihat redup karena awan tebal yang merata menutupi langit. Suasana pagi yang ceria seolah berubah menjadi mendung di sore hari. Sekolah terlihat lebih sepi daripada biasanya, seluruh murid telah mengetahui ujian kenaikan kelas diundur dan sekolah memberikan libur hingga waktu yang tak ditentukan. Hal tersebut membuat banyak murid yang memilih untuk bolos di hari terakhir. Berangkat bersama, melewati panjangnya lorong-lorong kelas yang sedang lengang. Zachary mengantar adiknya, Hans ke kelasnya berhubung jaraknya tidak jauh dari gerbang sekolah. Di dalam kelas Hans ada beberapa orang yang sedang asyik mengobrol satu sama lain. Tidak ada yang menghiraukan kehadiran Hans sama sekali. Senyuman tipis ditunjukkan Zachary. “Apa mereka tidak akan menyapamu ataupun sebaliknya?” tanya Zachary. Hans menatap aneh kakaknya. “Seharusnya dengan hanya melihat kau tahu bahwa mereka semua berasal dari keluarga bangsawan, pakaiannya saja bermerek ternama.” “Lucu ya, nasib kita seperti ditentukan oleh silsilah keluarga.” “Begitulah kenyataannya. Mereka tidak akan menyapa, bahkan kehadiran orang seperti kita tidak pernah mereka anggap. Sedikit kesal tetapi tak dapat berbuat apa-apa juga.” “Sudah hukumnya mereka yang berkuasa, kita yang berada di bawahnya lebih baik diam, karena apa pun yang kita lakukan takkan membuahkan hasil alias sia-sia. Semuanya tahu jika keluarga rendahan hanya dapat menonton sambil meratapi apa yang dilakukan para keluarga terpandang bersama keluarga bangsawan,” lirih Zachary berkata seolah berbisik-bisik. “Baiklah, aku akan pergi ke kelasku dulu ya!” “Sampai bertemu nanti ….” Hans berkata. Setelah itu Zachary berjalan di lorong menuju kelasnya, ia melihat pintu kelas yang sudah terbuka. Itu berarti sudah ada orang yang memasuki kelas, Zachary berharap itu adalah Sera. Saat ia memasuki ruang kelas dan menengok ke dalam, benar saja yang ada di kelas hanya Sera seorang diri, tak ada yang lainnya. Zachary pun menghampirinya. “Hei Sera, tidak biasanya kau datang sepagi ini,” sapa Zachary. Sera tersenyum. “Aku hanya kebetulan bangun lebih awal hari ini.” “Oh ya, lusa kita akan melaksanakan rencana kita yang kemarin dan aku sudah mengatakannya pada Hans. Apa kau sudah siap?” tanya Zachary. “Tentu saja aku siap. Walaupun sedikit tidak percaya diri, rasanya mengawasi petugas perpustakaan bukan hal yang sulit,” ujar Sera. Zachary tertawa kecil. “Jangan begitu. Umm, hari ini tidak ada mata pelajaran, kan?” Sera menggeleng. “Sepertinya sekolah memberikan waktu pada minggu ini untuk para murid membawa barang-barang dari asrama,” ujar Sera. “Mungkin saja, tapi asrama sekolah sudah lama sepi karena banyak yang memilih untuk pulang ke rumah masing-masing setelah adanya jalur kereta api di dekat sekolah.” “Iya, asrama saat ini terlihat seperti bangunan tua yang ditinggalkan.” “Ayo, kita ke kelas Hans. Jika aku tidak salah lihat di kelas Hans ada beberapa orang, tidak seperti kelas kita yang penghuninya entah ke mana.” Sera tertawa mendengarnya. “Kelas kita memang sepi sejak kemarin, hari ini tidak ada orang.” Sera berkata sambil tersenyum. “Ayo kita hampiri Hans!” Zachary bersama Sera menuju kelas Hans. Sebelum meninggalkan kelasnya, Zachary menutup pintu kelas dengan hati-hati. Selagi berjalan Zachary terus menerus melihat sekitaran sekolah, semuanya sepi dan hanya ada angin yang berhembus melewati dedaunan menari. Hanya satu dua siswa terlihat berjalan entah ke mana. Hingga tibalah Zachary dan Sera di kelas Hans. Saat memasuki kelas Hans, Zachary kebingungan karena yang tersisa hanya Hans seorang. Padahal belum lama ia melihat ada beberapa orang di dalam kelas yang sekarang malah lenyap entah ke mana. “Hans, ke mana perginya orang-orang di kelas ini?” tanya Zachary bingung. “Entah, dari bisikan mereka sepertinya mereka semua pergi ke asrama untuk mengemas barang yang mungkin saja tertinggal.” Hans menjawabnya santai. “Pastinya barang mereka ada yang tertinggal di asrama, biaya sekolah setiap bulannya tidak jauh berbeda dengan biaya asrama sekolah yang megah.” Sera terdiam setelah mengatakan itu. “Jelas, mereka semua dari keluarga bangsawan,” tutur Hans. “Pantas saja kalau begitu!” Sera dengan wajah kesalnya menunjuk Hans. Sera menengok ke arah Zachary. “Hei, kau jangan diam saja dong! Hari ini akan melakukan apa?” tanya Sera. Zachary mengangkat kedua bahunya. “Ingin pergi ke kantin? Tapi sebelum itu aku ingin pergi mengecek lokerku terlebih dahulu. Aku baru ingat meninggalkan makanan ringan dalam kemasan di loker. Itu akan menemani sarapan kita pagi ini.” “Wah, kebetulan perut ini belum terisi makanan. Kau yang traktir?” tanya Hans dengan wajah penuh harapannya. Zachary menghela napasnya. “Iya, aku yang traktir makanan pagi ini.” “Asyik, aku di traktir sarapan pagi!” Sera terlihat begitu senang akan di traktir. Mereka bertiga menuju kantin. Hingga mereka sampai di persimpangan antara berbelok ke kantin atau ke ruang loker, di sana Zachary meminta Sera dan Hans untuk menunggu selagi ia megambil makanan ringan di dalam loker. Zachary memasuki ruangan loker, beberapa loker terlihat terbuka tanpa isi. Zachary mengambil kunci lokernya dari saku celana, anehnya ternyata loker Zachary tidak terkunci. “Aneh sekali, padahal aku selalu ingat untuk mengunci lokerku.” Zachary mengambil tiga bungkus makanan ringan dari lokernya, susah payah ia membawa makanan ringan itu. Saat ingin menutup kembali lokernya, Zachary melihat sesuatu ada di dalam lokernya. Sebuah surat kecil berwarna merah pudar tergeletak di dalam loker. Zachary yang penasaran pun mengambilnya. Surat itu bertuliskan ajakan bertarung untuk menunjukkan siapa yang lebih kuat. Tertulis nama Julian di bagian bawah sebagai pengirim. Zachary tidak menunjukkan tanggapan apa pun, ia hanya menyimpan surat itu di sakunya bersamaan dengan kunci loker. Zachary kembali menemui Hans dan Sera. “Hans, tolong bawakan makanan ini!” Tiga bungkus makanan ringan itu langsung diberikan kepada Hans. “Baiklah, ayo kita makan!” Begitu semangat Zachary untuk pergi sarapan. Saat menuruni anak tangga menuju kantin, tiba-tiba sebuah cahaya menghadang langkah Zachary. Hal itu membuat Zachary terkejut dan akhirnya tersandung. Sera yang melihat hal tersebut dengan cepat menggunakan sihirnya untuk menolong Zachary. “Sihir alam: Akar Pohon Raksasa!” Banyaknya akar pohon yang muncul dari sihir Sera menahan tubuh Zachary yang akan jatuh. Zachary begitu beruntung karena tangga yang dituruninya cukup tinggi. Apabila terjatuh, pasti akan menyisakan luka, tetapi untungnya ada Sera yang membantu. Bersamaan dengan akar sihir itu menghilang Zachary kembali berdiri tegak. “Julian, kau keterlaluan.” Zachary membatin. “Kau hebat sekali, Sera!” ujar Hans. “Ya ampun, cahaya apa itu tadi, aku benar-benar terkejut.” Zachary berusaha untuk menenangkan pikirannya yang terkejut. “Kau tidak apa-apa kan?” tanya Sera. “Tidak, aku tidak apa-apa. Ini karenamu Sera, terima kasih ya!” Sera tersipu malu. “I- itu bukan apa-apa kok. Yang penting kau tidak apa-apa.” “Hoi, ayo kita pergi makan. Aku sungguh kelaparan!” Ucapan Hans barusan membuat Zachary dan Hans tertawa lepas. Mereka bertiga lalu melanjutkan menuruni tangga hingga sampai ke kantin. Ketiganya duduk di antara meja berbentuk persegi panjang dengan motif kain kotak-kotak di atasnya. Tak lama, ibu penjaga kantin tak datang membawakan buku daftar menu. Zachary langsung mengambil buku menu itu, melihat satu persatu menu yang tersedia di setiap halaman. Sebagian kepalanya ditutupi helai putih uban, ibu penjaga kantin berdiri menunggu pesanan dari Zachary. “Hei, kalian ingin memesan apa?” tanya Zachary. “Terserah kakak, yang jelas perutku terisi dan kakak yang membayarkan semua makanannya,” ujar Hans yang tengah menahan dagunya dengan tangan di atas meja. “Sera, bagaimana denganmu?” Sera tersenyum. “Mungkin semangkuk bubur gandum dengan buah-buahan dan roti isi.” “Ya ampun, itu mengingatkanku dengan masakan rumah.” Hans menyeletuk. Zachary mengembalikan buku daftar menu kepada ibu penjaga kantin. “Bu, kami memesan tiga mangkuk bubur gandum dengan buah beserta tiga roti isi. Untuk minumannya cukup s**u sangat saja,” ujar Zachary. “Apa kalian ingin ubi rebus? Aku akan memberikannya secara gratis. Biasanya aku merebus ubi untuk sarapan para kantin yang lainnya. Tetapi aku melupakan sekolah yang akan libur, penjaga kantin yang lainnya tidak ada yang datang.” “Tentu, kami akan menerima tawaranmu dengan senang hati,” kata Zachary. “Silahkan tunggu sebentar ya,” ucap ibu penjaga kantin. Selagi menunggu pesanan mereka siap, Hans mulai membuka bungkus makanan ringan yang dibawakan Zachary. Keripik kentang dengan rasa rumput laut, menjadi camilan sambil mengobrol. Hans mengambil sebungkus keripik kentang untuk dirinya sendirinya. “Bagaimana dengan kondisi ibumu, Zachary?” tanya Sera. “Keadaan ibu baik-baik saja. Tidak ada lagi masalah yang datang setelah jimat sihir itu hancur. Kau tidak perlu khawatir soal itu,” ujar Zachary. “Kapan-kapan aku boleh main ke rumahmu lagi kan?” “Tentu saja boleh, tidak ada yang melarangnya.” “Kak, saat menuruni tangga tadi mengapa kakak bisa terjatuh? Apa hanya aku atau memang ada cahaya yang begitu cepat di hadapan kakak.” Hans memotong pembicaraan Zachary dan Sera. Zachary terdiam untuk beberapa saat. “Aku tidak boleh mengatakan pada Hans jika aku mencurigai Julian. Bisa-bisa emosinya akan meledak lalu hal buruk terjadi,” batin Zachary. “Kak ….” Hans memanggil kakaknya yang terlihat melamun. “I- itu, aku juga tidak mengetahui apa itu. Saat ingin menuruni tangga, cahaya itu tiba-tiba lewat begitu saja menyilaukan mata. Untung saja ada Sera yang dengan cepat menolongku,” kata Zachary yang menutupi kebenarannya. Pandangan Zachary teralih ke arah kiri sesekali. “Ah iya benar, jika tidak ada Sera pasti kakak sudah terluka.” Hans berkata dengan keripik kentang yang memenuhi mulutnya. Satu dua potongan rumput laut tertinggal di bibirnya. Sera tersenyum. “Itu bukan apa-apa, hanya refleksku untuk menolong,” ujar Sera. Setelah beberapa saat, ibu penjaga kantin membawakan pesanan makanannya. Dengan membawa nampan besar, di atasnya terdapat tiga potong roti isi selada , daging, beserta keju. Tidak ketinggalan tiga mangkuk bubur gandum dengan buah beri, potongan pisang dan taburan kacang almon diatasnya. “Tunggu sebentar, ya. Aku akan membawakan s**u hangat beserta ubi rebusnya.” Zachary mengangguk mengiyakan perkataan ibu penjaga kantin. “Menu sarapannya menggugah selera, harum dan terlihat begitu enak.” Hans berkata seraya mengambil semangkuk bubur gandum lalu menghirup aromanya dalam-dalam. “Jangan lupa, menu ini juga sehat.” Sera menambahkan. “Hmm, aku akan mencoba roti isinya terlebih dahulu,” ujar Zachary sambil mengambil roti isi dari atas nampan. Lalu ibu penjaga kantin kembali datang membawakan tiga s**u hangat bersama degan ubi reus yang baru matang. Uap panas mengebul ke udara dari ubi-ubi itu. “Silahkan dinikmati.” Ibu penjaga kantin mempersilahkan dengan tersenyum ramah. Zachary, Hans dan Sera terlihat begitu menikmati menu sarapan mereka. Semangkuk penuh bubur gandum beserta sepotong roti isi sudah lebih dari cukup untuk membuat perut kenyang, ditambah lagi dengan segelas s**u hangat. Makanan utama sudah tersapu habis, Zachary sudah kekenyangan, ia seperti tidak sanggup lagi untuk makan. Karena tidak ingin membuang-buang makanan dan berusaha untuk menghargai ibu penjaga, akhirnya Sera dan Hans mencoba untuk menghabiskan ubi rebus yang telah disediakan. “Hei, perut kalian masih kuat untuk menghabiskan sepotong ubi terakhir itu?” tanya Zachary lemas kekenyangan. “Jelas sudah kenyang, aku tak kuat. Lebih baik kakak langsung membayarkan makanannya,” ujar Hans. “Jangan dipaksakan jika memang tidak bisa menghabiskan makanannya,” ucap Sera. “Ya, kau ada benarnya juga. Kalau begitu biar langsung aku bayarkan saja makanannya,” kata Zachary. “Bu, kami sudah selesai makan. Aku ingin membayar makanannya,” panggil Zachary. Ibu penjaga kantin datang, “Sudah dihabiskan semua makannya?” “Umm, ubi rebusnya masih tersisa hanya sepotong. Tetapi kami bertiga terlanjur kekenyangan dan sepertinya tidak sanggup untuk menghabiskannya,” ujar Zachary. Ibu penjaga kantin tertawa kecil sambil tersenyum. “Tak apa, ubi rebus itu dapat menjadi camilan makan siangku.” Zachary mengambil uang di sakunya. “Ini Bu, untuk masakannya.” Uang itu diterima dengan baik oleh ibu penjaga kantin. “Terima kasih banyak, ya. Jangan bosan untuk datang kesini.” “Oh iya Bu, bisakah aku menanyakan sesuatu?” tanya Zachary. “Tentu, apa yang ingin kau ketahui tanyakan saja,” jawab ibu penjaga kantin. “Saat penjaga kantin yang lainnya libur aku rasa petugas sekolah juga banyak yang megambil libur. Apakah Ibu ada melihat petugas sekolah yang mencurigakan akhir-akhir ini?” Mendengarnya ibu penjaga kantin tertawa. “Memang banyak juga petugas sekolah yang mengambil libur. Tetapi tidak ada sama sekali petugas yang mencurigakan, justru mereka sangat ramah. Terutama penjaga perpustakaan yang baru, setelah penjaga perpustakaan yang lama sakit ia menggantikannya,” ucap ibu penjaga kantin. Hans dan Sera langsung menoleh terkejut setelah mendengar `penjaga perpustakaan` terucap dari mulut ibu penjaga kantin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD