VIII. Ruang Kepala Sekolah

1554 Words
“Tunggu, apa barusan kau mengatakan penjaga perpustakaan?” Zachary memastikan. “Ya, setiap hari, pagi-pagi sekali pasti dia mampir ke sini untuk sarapan. Entah untuk sekadar memesan kopi atau sepotong roti isi. Sebelum kalian datang ia sudah menemui diriku untuk memesan secangkir kopi, dia senang sekali bercerita padaku walaupun terkadang aku tidak mengerti pembahasannya.” “Maaf, tetapi jikalau boleh tau apa yang ia bicarakan pagi tadi?” “Ahh, ia membicarakan tentang dua orang guru yang tewas juga seorang guru yang baru saja hilang. Apa kalian mengetahui berita itu?” tanya ibu penjaga kantin. “Tentu kami mengetahuinya, berita itu sudah menyebar ke mana-mana,” sahut Hans. Zachary menghela napasnya. “Baiklah jika begitu, kami masih ada urusan setelah ini. Terima kasih Bu untuk makanannya,” pungkas Zachary sambil tersenyum lalu pergi diikuti Hans dan Sera dari belakang. Di depan lorong kelas …. “Meskipun terlihat sangat baik, aku tetap curiga kepadanya,” ucap Zachary. “Ibu penjaga kantin? Atas dasar apa kau mencurigainya Zachary?” Sera bertanya. “Entahlah, instingku mengatakan demikian. Kau tahu kan tebakanku tidak pernah meleset?” Sera dan Hans hanya terdiam mendengarnya. “Sore ini aku ingin menemui guru Diana, ada yang mau ikut?” tanya Zachary. “Aku tidak bisa, aku ingin melakukan uji coba kembali terhadap ramuan dari jerami ajaib. Karena jerami ajaibnya terbatas, aku harus menggunakannya dengan sebaik mungkin,” ujar Sera. “Tetapi saat selesai nanti aku akan menghampirimu ke sana,” tambah Sera. “Aku tidak mau ikut, aku ingin berjalan-jalan di sekitar sekolah saja. Mencari udara segar,” kata Hans begitu santai dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana. Zachary mendesir pelan. “Baiklah jika seperti itu. Aku akan pergi sendiri, untuk Sera semoga berhasil dan untuk Hans jangan berbuat yang aneh-aneh.” Sera tersenyum manis. “Terima kasih Zachary.” “Ya, aku tidak akan melakukan yang tidak-tidak kok,” sahut Hans terdengar malas. Setelah itu ketiganya berpisah. Hingga tiba sore hari, Zachary berjalan menuju ruangan kepala sekolah. Sebelum sampai ke ruangan kepala sekolah, terlebih dahulu Zachary melewati ruang guru. Dinding abu-abu kusam yang memiliki noda hitam di sudut-sudutnya. Dari kaca yang sedikit gelap Zachary mencoba mengintip sedikit ruang guru dari luar. Samar Zachary melihat seorang guru perempuan di dalam, tidak ada yang lainnya. Tidak ingin mengganggu ataupun disangka mengintip, Zachary melanjutkan langkahnya menuju ruangan kepala sekolah. “Aneh, para guru tidak ada di ruangannya.” Zachary bergumam. Sampai di depan ruangan kepala sekolah. Zachary berdiri menatap pintu kayu yang mulai lapuk. Tok, tok, tok! Tiga kali Zachary mengetuk pintu ruangan kepala sekolah. “Masuk!” sahut suara dari dalam ruangan. Pintu ruangan terbuka dan itu adalah Diana. “Loh, Zachary. Ada apa kau ke mari?” tanya Diana. “Ada sesuatu yang inginku bicarakan dengan guru Diana,” tutur Zachary. “Apakah kau terburu-buru? Aku ingin meminta tolong sesuatu.” Zachary menggeleng. “Aku tidak terburu-buru. Apa yang bisa kubantu?” “Kepala sekolah meninggalkan berkas-berkas dokumen dalam kardus, tetapi ia menaruhnya di atas lemari yang tinggi. Bisa minta tolong ambilkan untukku?” pinta Diana. “Tentu, apakah ada tangga yang dapat membantuku mengambilnya?” “Tangganya ada di dalam, aku sudah mencoba menaikinya tetap saja tidak kuat mengangkat kardus-kardus itu,” ujar Diana. “Baiklah, aku akan mengambilkannya.” Zachary memasuki ruangan kepala sekolah. Perlahan dengan hati-hati menaiki tangga lipat untuk mengambil kardus yang dimaksud Diana. Zachary mencoba menarik kardusnya dengan perlahan, terlihat seperti kardus itu sangat berat karena dipenuhi berkas-berkas yang entah apa isinya. Zachary mencoba sekuat tenaga untuk mengangkat kardus itu dan turun dari tangga dengan berhati-hati. Kedua tangan ia gunakan untuk memegang kardus itu dengan erat sementara tubuhnya menjaga keseimbangan selagi menuruni tangga. Untung saja Diana membantu memegangi tangga supaya Zachary tidak terjatuh. Zachary menaruh kardus itu di atas meja Diana. Saking berat kardus yang ia angkat, dahinya sampai berkeringat dan urat di lengannya menjadi lebih timbul. Ia terlihat menggunakan telapak tangannya untuk menyapu dahi yang basah akan keringat lalu mengusapkannya di celana. “Hei, apakah kau bisa mengambil satu kardus lagi di sebelahnya? Itu tidak seberat yang baru kau angkat,” tanya Diana. Pada bagian atas lemari tempatnya tadi mengambil kardus, di sebelahnya terdapat satu buah kardus. Zachary pun mengambilnya. Kembali menaiki tangga, Zachary dengan begitu mudahnya dapat mengambil kardus yang dimaksud. Kardus yang kali ini jauh lebih ringan ketimbang sebelumnya, ukurannya juga lebih kecil. Zachary yang kelelahan mencoba mengatur pernapasannya. “Ya ampun,kedua kardus ini sangat berat. Semua isinya hanyalah kertas!” “Begitulah, makanya aku tak kuat mengangkatnya. Oh ya, terima kasih Zachary telah membantuku,” ujar Diana. “Itu bukan apa-apa,” kata Zachary sambil tersenyum. “Silahkan kau duduk terlebih dahulu, aku akan mengambilkan minum untukmu.” “Terima kasih guru Diana, maaf merepotkan.” Zachary duduk di atas kursi yang biasanya digunakan oleh orang yang sedang menghadap kepala sekolah. Sekilas ia melihat sebuah kertas di atas meja kepala sekolah yang menuliskan daftar orang hilang pada bagian judul. Belum sempat isinya, Diana pergi ke pojok ruangan, mengambil teko air lalu menuangkannya pada gelas untuk diberikan kepada Zachary. Diana kembali lalu langsung memberikan segelas air kepada Zachary. “Silahkan diminum.” Zachary membungkukkan badannya sesaat untuk menghormati Diana. “Terima kasih sudah repot-repot mengambilkan minum.” “Omong-omong apa yang ingin kau bicarakan padaku tadi?” tanya Diana. “Aku memiliki beberapa pertanyaan, apakah guru tidak keberatan?” “Tanyakan saja langsung.” “Disaat ada kejadian seperti ini, ke mana perginya kepala sekolah?” Zachary perlahan berkata, “Saat aku melewati ruang guru juga aku tidak melihat guru-guru yang lain. Ke mana mereka?” Diana menghela napasnya dalam-dalam lalu menjawab pertanyaan Zachary. “Kepala sekolah sedang ada pertemuan penting di kota, jadi ia mengambil izin hari ini. Untuk para guru yang lainnya, pihak sekolah sudah menyetujui untuk meliburkan semua guru dari aktivitas sekolah. Hal itu dilakukan untuk kebaikan para guru juga,” ungkap Diana. Zachary mengangguk kecil lalu terdiam. “Ada lagi yang ingin kau tanyakan?” “Bukan maksudku untuk menakuti guru. Tetapi, guru Diana harus berhati-hati. Terutama pada petugas sekolah yang masih bekerja,” ujar Zachary. Diana tertawa mendengar hal itu. “Apa yang kau bicarakan Zachary? Mereka semua hanya orang baik yang bekerja di sini. Tidak lebih.” Kini Zachary terlihat agak gelisah. “Terserah apa yang kau katakan, pesanku hanyalah mulai sekarang guru harus berhati-hati. Terhadap siapa pun itu!” “Termasuk dirimu?” “Emm … ya, termasuk diriku.” Diana mengangkat kedua bahunya. “Baiklah, aku akan lebih berhati-hati mulai sekarang.” Diana berkata. “Bisakah aku meminta tolong satu kali lagi?” “Katakan saja.” “Aku akan mengecek beberapa berkas di dalam kardus ini, hasil ujian kenaikan kelas beberapa tahun lalu. Setelahnya, tolong pindahkan ke gudang penyimpanan berkas, ya?” “Baiklah, aku akan menunggu guru hingga selesai mengeceknya.” Zachary berjalan perlahan melihat-lihat sekitar ruangan kepala sekolah. Banyak sekali penghargaan yang dipajang di dinding juga beberapa bingkai foto menunjukan keberhasilan kepala sekolah dalam menciptakan salah satu sekolah terbaik. Terhenti langkahnya Zachary saat melihat perisai penghargaan yang dipajang di diding, di belakang meja kepala sekolah. Perisai yang mengkilat dan sepertinya terbuat dari perak murni beserta ukiran detail penghargaan di atasnya. Zachary membatin, “Kalau dipikir-pikir kepala sekolah hebat juga. Memimpin sekolah yang berada di ujung area warga biasa dan tidak jauh jaraknya dengan area keluarga rendahan. Tetapi ia dapat menjadikan sekolah ini sebagai sekolah terbaik, lumayan popular juga sepertinya.” Saat Zachary ingin duduk kembali, tidak sengaja ia melihat sepucuk surat di atas meja sekolah dengan tajuk utama `Informasi Data Guru Hilang`. Zachary begitu terkejut saat melihatnya, tetapi ia hanya pura-pura tidak melihat supaya Diana tidak curiga. Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa setengah jam sudah Zachary duduk menunggu Diana selesai mengecek berkas. Diana terlihat begitu serius mengecek lembar demi lembar berkas, hingga akhirnya dua tumpuk tebal berkas dipisahkan dari berkas yang lainnya. Terdengar langkah dari luar diikuti dengan ketukan pintu. Diana langsung menoleh ke arah Zachary. “Biar aku yang bukakan pintunya,” kata Zachary. Pintu terbuka, ternyata itu adalah Sera yang mengetuk pintu. “Sera, apakah uji coba ramuannya sudah selesai?” bisik Zachary bertanya. Sera mengangguk perlahan. “Syukurlah kau masih di sini, apa urusanmu dengan guru Diana sudah selesai?” Diana datang menghampiri Sera.”Wah ternyata ada kau di sini. Kebetulan aku membutuhkan bantuan satu orang lagi supaya Zachary tidak perlu bolak-balik,” ujar Diana sambil tersenyum lebar. “A- aku tidak memiliki alasan untuk menolaknya.” Sera berkata. “Aku sudah memisahkan berkas hasil seleksi ujian kenaikan kelas tahun lalu. Tolong simpan di ruang penyimpanan berkas di belakang lapangan sekolah. Ada dua tumpuk berkas, jadi kalian bagi dua ya. Aku ada urusan sebentar, sampai jumpa!” Setelahnya Diana pergi begitu saja meninggalkan Zachary bersama Sera. Zachary mengangkat setumpuk berkas yang diminta Diana untuk disimpan dalam gudang penyimpanan berkas. Zachary melihat Sera kesulitan untuk mengangkat setumpuk berkas yang terlihat begitu berat baginya. “Bagi setengahnya kepadaku, biar aku yang membawanya.” “Tidak apa-apa Zachary?” “Lalu kau pikir aku akan membiarkanmu membawa tumpukan itu hingga terjatuh? Jika memang tidak kuat, kau hanya perlu mengatakannya.” “Umm, baiklah kalau begitu.” Sera membagi dua tumpukan yang ia bawa lalu menaruhnya di atas tumpukan berkas milik Zachary. Kini Zachary membawa tiga perempat dari dua tumpuk berkas. Keduanya lalu berjalan bersamaan menuju gudang penyimpanan berkas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD