XIV. Ruangan Rahasia Perpustakaan

1836 Words
Beralih kepada Zachary bersama dengan Hans dan Sera yang sedang berada di dalam perpustakaan. Ketiganya sedikit terburu-buru karena takut Andy kembali dalam waktu yang cepat dan ketiganya pun mulai membagi tugas. Sera langsung mengajak Zachary untuk pergi ke tempat di mana ia menemukan rak buku yang memiliki lapisan sihir. Sementara, Hans diminta untuk mengecek meja Andy terlebih dahulu. Hans berdiri di samping kursi yang biasanya diduduki Andy. Mejanya terlihat begitu berantakan dengan kertas di mana-mana. Hans banyak menemukan kertas yang dicoret-coret tidak jelas, tak berbentuk. Bahkan ia menemukan buku yang digunakan Andy untuk mencatat pengembalian buku masih berada di tempat yang sama, lengkap beserta bolpoin yang digunakan. Lalu Hans mencoba untuk melihat laci-laci kecil dibawah meja Andy. Ia membuka semua laci itu dan betapa terkejutnya Hans saat menegtahui semua laci itu berisi kotak pena klasik. Semua kotak pena klasik masih tersegel dan utuh. Hal itu membuat Hans kebingunan untuk apa semua laci diisi dengan kotak pena yang bahkan tidak digunakan sama sekali. “Orang ini sangat mencurigakan. Aku sampai tak habis pikir,” kata Hans berbicara sendiri. Hans kembali menutup laci-laci kecil tersebut dan beralih kepada laci terakhir yang belum ia buka dan yang ini ukurannya cukup besar. Laci itu terkunci, tetapi kuncinya juga masih menggantung di bawah gagangnya. Lalu Hans membuka laci tersebut dan ia menemukan buku yang dibaca dengan begitu serius oleh Andy. Saat mengembalikan buku yang dipinjam oleh Diana, saking fokusnya bahkan Andy meminta Zachary dan Hans untuk mengembalikannya sendiri. Di tambah lagi saat Sera ingin meminjam buku Andy hampir tidak menyadari kehadiran Sera dan yang lainnya. Setelah itu Hans mencoba untuk membaca beberapa halaman buku tersebut. Halaman demi halaman dibalik oleh Hans, beberapa saat kemudian ia menyadari bahwa buku yang sempat ia lihat dibaca oleh Andy dengan sangat fokus hanyalah kumpulan dongeng cerita rakyat. “Astaga, orang ini benar-benar aneh. Mulai dari kotak pena yang menumpuk hingga begitu fokus pada cerita dongeng? Sampai-sampai ia seolah tidak memerdulikan sekitarnya.” Hans keheranan dengan kelakuan Andy sambil menggelengkan kepala. Setelahnya Hans mengembalikan mengembalikan buku itu ke tempatnya semula. Namun, saat ia mengembalikannya ia melihat sebuah jimat yang sama dengan yang ia pernah temukan di ladang gandum keluarga. Jimat itu bentuknya sangat akurat tetapi yang membedakan hanyalah tidak adanya batu delima yang diikat pada jimatnya. Bagian tengah jimat yang ditemukannya kali ini kosong, hanya kerangkanya saja. Tidak ingin ada hal buruk terjadi jika ia membawa jimat itu kepada kakaknya, Hans memutuskan untuk mengembalikan buku dan jimat ke tempatnya semula. Hans berdiri tegak mengehmpaskan napas lega. “Sepetinya sudah tidak ada lagi yang dapat kuselidiki di sini. Sebaiknya aku pergi ke tempat kakak saja.” Di lain sisi, Sera sedang menunjukkan kepada Zachary rak mana yang ia temukan dengan lapisan sihir. Sebuah rak tua yang tempatnya persis di balik tempat Zachary dan Hans mengembalikan buku yang dipinjam Diana. Yang membatasinya adalah ruangan tanpa akses masuk yang sempat dilihat oleh Zachary. Sera mengusap halus bagian permukaan rak buku yang kosong dan ia katakan memiliki lapisan sihir. “Cobalah untuk merasakannya,” ujar Sera menawarkan Zachary. Zachary pun mencoba untuk menaruh telapak tangannya. Setelah beberapa saat, wajah Zachary memberikan ekspresi aneh. “Mengapa aku tidak merasakan adanya sihir sama sekali ya? Jika ada, itu benar-benar samar dan hanya sekilas.” “Memang sekilas, karena itulah tidak ada yang menyadarinya.” “Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, huh? Bagaimana bisa kau mendadak tahu ada sebuah aliran sihir kuat pada rak buku tua ini” ungkap Zachary seperti kesal. “Tenang dulu, Zachary. Letakkan telapak tanganmu dengan perlahan, pusatkan di setiap ujung jari dank au akan dapat merasakannya. Aku pun saat itu sedang iseng saja sekaligus untuk berlatih sihir, tetapi aku malah merasakan lapisan sihir pad arak buku ini.” Sera menjelaskan. “Biar aku mencobanya. Zachary pun mencoba untuk fokus dan meletakkan telapak tangannya di atas permukaan rak buku yang dimaksud. Tidak perlu menunggu lama, muncul energi sihir yang sedikit samar melewati tangan Zachary. “Hei Zachary, apa itu? Apakah aku yang salah lihat atau memang ada energi sihir di sana,” ujar Sera terkejut melihat energi sihir muncul melewati tangan Zachary. “Aku tidak yakin, tetapi sepertinya memang begitu. Aku dapat merasakan lapisan sihirnya, lalu apa yang harus dilakukan dengan ini?” tanya Zachary. “Emm … menghancurkan, lapisannya?” Zachary menghela napasnya dalam-dalam. “Sihir lanjutan: Break!” Rak buku tersebut perlahan menghilang dan sebuah nampak sebuah ruangan di baliknya. Ruangan itu sangat tertata rapih dengan beberapa buku di dalamnya. Cat dinding yang masih mulus, lampu bohlam dengan cahaya kuning, beserta karpet bermotif klasik yang tidak berdebu sama sekali. Seperti sebuah ruangan yang sengaja dilapisi dengan sihir untuk melindungi isinya. Bersamaan dengan terbukanya ruangan itu, Hans datang menghampiri. “Kak, apa kau sudah menemukan cara untuk membuka ruangan ini?” tanya Hans kepada Zachary. Zachary tertawa kecil. “Aku hanya membatalkan lapisan sihirnya saja.” Mendengar hal itu Hans menatap kakaknya aneh. Setelah ruangan terbuka, tanpa pikir panjang Sera langsung memasuki ruangan tersebut dan melihat buku-buku yang ada. Tiga buah buku yang ditemukannya kosong melompong. Buku tebal dengan kertas yang telah menguning tetapi tidak ada setetes tinta pun di atasnya. Namun, Sera melihat sekeliling dan menemukan dua buah buku di sudut ruangan. Sera pun langsung mengambil sekaligus membukanya. “Syukurlah, dua buku ini ada isinya,” ucap Sera. “Sera, apa kau menemukan sesuatu di dalam?” tanya Zachary seraya berjalan masuk ke dalam ruangan diikuti Hans di belakangnya. “Aku rasa tidak ada lagi selain buku-buku ini,” kata Sera sambil memasukkan kedua buku yang ia temukan ke dalam tas milik Hans. “Tetapi ada tiga buah buku yang semua halamannya kosong di meja tengah itu. Aku tidak mengerti bagaimana bisa.” “Eh, semua halamannya kosong? Itu aneh.” Zachary berkata. Lalu, karena Zachary penasaran ia mendatangi tiga buku yang dikatakan Sera untuk melihatnya. “Tunggu!” teriak Hans membuat Zachary menengok ke belakang menghentikan langkahnya. “Apakah itu energi sihir yang melewati tanganmu, Kak?” tanya Hans. Zachary melihat kedua tangannya. Benar saja energi sihir yang sama saat ia meletakkan telapak tangannya di atas rak buku. Energi sihir itu bergerak ke arah luar ruangan dan perlahan terlihat rak buku yang sebelumnya menutup ruangan kembali tersusun satu persatu. “Gawat, sepertinya ruangan ini akan kembali tertutup kembali!” seru Zachary. “Cepat, kita harus pergi keluar. Sera, jangan lupa tas dan bukunya!” Dalam keadaan panik, ketiganya berlari keluar dari dari ruangan tersebut. Setelah berhasil keluar, mereka menengok ke belakang dan ruangan tersembunyi itu kembali menghilang tertutup rak buku. Zachary kembali mendekati rak buku itu juga menaruh telapak tangannya kembali. “Lapisan sihirnya sudah tidak ada, aku tidak bisa merasakan apa pun lagi dari rak ini,” ujar Zachary. “Eh, benarkah? Biar aku mencobanya,” tutur Sera yang setelah itu ikut menapakkan telapak tangannya di atas rak. Beberapa sat setelahnya Sera melihatkan ekspresi kebingungan di wajahnya. “Lapisan sihirnya benar-benar menghilang, tidak tersisa sama sekali.” “Aku tidak sedang bermimpi. Tadi aku jelas-jelas menghancurkan lapisan sihirnya. Namun, kenapa rak ini dapat muncul kembali?” Zachary berkata sambil keheranan. Sera menghela napasnya. “Tenanglah, setidaknya kita mendapatkan dua buah buku dari dalam sana.” “Aku jadi penasaran, ayo buka bukunya. Aku ingin melihat ada apa saja di dalamnya!” ucap Hans begitu antusias. “Tidak, jangan di sini. Kita pergi ke belakang sekolah. Bisa-bisa penjaga perpustakaan menemukan kita jika tetap berada di sini,” tutur Zachary. “Ayo, waktu kita terus berjalan!” Mereka bergegas pergi keluar dari perpustakaan tanpa menginggalkan jejak sedikit pun. Tidak lupa pintu perpustakan yang suara decitannya teramat nyaring ditutup rapat-rapat guna menghilangkan jejak akan kedatangan Zachary bersama Hans dan Sera. Suasana sekolah sangat sepi, Zachary berjalan seperti biasa supaya tidak ada yang curiga kepada mereka apabila ada yang melihat. Ia juga mengarahkan Hans dan Sera menuju gerbang sekolah, ada seorang penjaga bertubuh besar dengan seragam lengkap dan kumis tebal menghadang mereka tepat di depan gerbang sekolah. “Mau ke mana kalian? Biasanya kalian bertiga pulang ketika hari sudah petang.” Penjaga itu bertanya. Hans menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kami sudah menyelesaikan urusan kami, jadi ya … untuk apa juga masih berada di sekolah?” Hans mencoba untuk mengakali penjaga supaya tidak curiga. “Hmm, begitu rupanya. Baiklah, hati-hati di jalan ya!” “Semoga harimu menyenangkan!” ujar Hans tersenyum seraya mendorong pundak Zachary yang merupakan isyarat untuk kembali berjalan. Ketika sudah cukup jauh dari gerbang sekolah, Zachary terlihat membelokkan arah langkahya menuju bagian belakang sekolah. Tempat yang begitu sunyi dan teduh di bawah pepohonan yang rindang. Bagian belakang sekolah seperti tidak pernah dilalui oleh banyak orang karena terlihat struktur tanahnya sangatlah halus. Banyaknya pepohonan yang ada juga membuat kesan gelap, terlebih pepohonannya berdekatan. Zachary melihat keadaan sekitarnya. Selain pepohonan, hanya rumput, semak, batu dan lumut yang terlihat. Setelah beberapa saat, Zachary pergi entah ke mana tanpa membereikan aba-aba. “Hei kalian, ayo ikuti aku!” ucap Zachary. Tanpa berpikir panjang Hans dan Sera langsung mengiyakan dan mengikuti Zachary begitu saja. Ternyata Zachary mengajak Hans dan Sera untuk pergi ke tempat yang tidak dikelilingi oleh pepohonan. Tempat itu membentuk sebuah lingkaran, satu-satunya yang mendapatkan cahaya matahari secara langsung. Di bagian tengahnya ada bekas pangkal pohon yang terlihat sudah lama ditebang. “Wah tempat ini benar-benar hebat. Dari mana kau tahu ada tempat yang seperti ini?” tanya Sera. “Disaat tempat yang lainnya sangat minim dengan cahaya matahari, tempat ini satu-satunya yang mendapatkan cahaya matahari secara langsung.” Hans menambahkan kalimat Sera. Zachary menghempaskan napas begitu berat. Ia membisu untuk beberapa saat sambil menikmati angin sejuk yang berlalu lalang, mendongak melihat birunya langit dengan awan yang jarang. Melihat akan hal itu Hans dan Sera pun tidak ingin berbuat apa-apa, mereka membiarkan Zachary seperti itu dan hanya menatapinya. Tiba-tiba Zachary menghela napas dan berkata, “Tempat ini biasanya kugunakan untuk bertemu dengan guru Gio … dan hari ini seharusnya aku bertemu dengannya tetapi ia tak kunjung datang.” Zachary berbalik menoleh. “Sudah, ayo sekarang kita lihat apa saja yang kita dapatkan,” lanjut Zachary. Hans tersenyum. “Baiklah, ayo kita mulai dengan data orang hilang ini!” ucap Hans begitu bersemangat dan mengundang Zachary bersama Sera untuk mendekat. Data daftar orang lain itu dibuka perlahan oleh Hans. Seperti yang diketahui sebelumnya, daftar pertama bertuliskan nama Beani diikuti Yeteru. Di bawah nama orang yang hilang juga tertulis keterangan legkap dari mulai profil, kira-kira reka adegan, sampai dengan hilangnya kapan dan di mana. Lanjut lagi ke bagian bawahnya, tertulis nama Aldini dan Airia. Namun, ada nama terakhir yang membuat Zachary sampai menelan ludahnya sendiri. Itu adalah Gio dengan data dinyatakan hilang sejak lima hari yang lalu. Sera melihat Zachary begitu terkejut dengan datanya, hal itu menggerakkan Sera untuk menenangkan Zachary. Sera menepuk-nepuk punggung Zachary dengan lembut. “Tenanglah, jangan terlalu dipikirkan. Pasti guru Gio tidak apa-apa, lagi pula belum ada keterangan bahkan kemungkinan kematian saja tidak dituliskan … tidak seperti guru Aldini.” “Ya … anggaplah seperti itu. Aku hanya dapat berharap ia baik-baik saja dan berdoa untuk harapan itu dikabulkan,” kata Zachary terdengar pasarah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD