XV. Langkah dan Memori

2043 Words
Detik dan menit setelahnya hanya diisi oleh kesunyian, tidak ada yang berbicara bahkan bergerak. Hanya terdengar suara-suara alam yang tidak dapat dijelaskan bagaimana bunyinya. Samar bunyi ranting yang terpatahkan, terdengar semakin samar karena angin berhembus kencang membuat dedaunan saling berjabat tangan. Betapa terkejutnya Zchary saat mendapati Siria menghampiri mereka di tengah pepohonan yang dekat jaraknya. Mata Zachary membelalak terkejut ketika dari balik pepohonan Siria muncul. “Eh, bagaimana kau bisa sampai di sini? Setahuku tidak banyak orang yang mengetahui tempat ini,” ujar Zachary. Siria menyeringai. “Aku biasa pergi ke tempat ini jika kakakku mengajak untuk berbicara. Terkadang juga guru Gio berada di sini bertemu dengan kakakku,” jawabnya. Zachary mengangguk. “Merdengar namanya saja membuatku tidak fokus,” batin Zachary. “Kalian sendiri mengapa berada di tempat ini?” Zachary terdiam masih memikirkan Gio. “Mudahnya kami baru saja melakukan pencurian dan kami kabur ke tempat ini,” celoteh Hans. Zachary langsung menatapnya dengan sinis dan berkata, “Kau terlalu berlebihan untuk itu Hans. Kita melakukannya juga untuk mencari kebenaran atas kejadian yang ada.” Siria mengerutkan dahinya. “Memangnya apa yang terjadi?” Sera pun datang menghampiri sambil membawa tas berisikan buku yang diambil dari perpustakaan. “Ayo semuanya duduk, kita akan membahas ini perlahan untuk mendapatkan solusi yang tepat,” ujar Sera. Zachary menghela napasnya, lalu ikut duduk di atas hijaunya rerumputan dengan daun-daun kering berserakan di mana-mana. “Itu benar, mungkin saja dengan adanya Siria di sini dapat membantu menemukan jalan yang paling tepat untuk dilalui.” Zacahary berkata. “Baiklah, kita harus memulai dari mana dan jika berkenan bisa tolong ceritakan padaku apa yang baru saja kalian lakukan?” Dengan senyum Siria meminta. “Tempo hari saat aku dimintai bantuan oleh guru Diana untuk memindahkan berkas dari ruangan kepala sekolah. Aku melihat sebuah kertas dengan tulisan `data orang hilang`. Namun, aku tidak sempat untuk mengambilnya karena guru Diana memanggilku terus. Lalu, tadi membuat rencana dan singkat cerita Hans berhasil mendapatkan data itu.” “Lalu apa yang kalian dapat di dalamnya?” tanya Siria begitupenasaran. “Kau bisa melihatnya sendiri,” ucap Hans seraya menyodorkan datanya pada Siria. Beberapa saat setelah Siria membaca, raut wajahnya tak dapat berbohong mengatakan ia begitu terkejut dan napasnya terengah-engah. “Mana mungkin, bagaimana bisa nama guru Gio berada di dalam data ini?” “Kami pun terkejut ketika mengetahuinya.” Hans menanggapi. “Lalu, apa kalian sudah memiliki rencana?” tanya Siria. Mendengar pertanyaan Siria Hans mengangkat bahunya, sementara Sera malah menunduk. Lalu Siria melirik Zachary yang terlihat melamun dan berkata, “Kau sendiri apa sudah memiliki rencana, Zachary?” “Walau belum begitu jelas apa saja yang akan dilakukan, aku ingin pergi ke tempat kejadian perkara guru Beani dan Yeteru,” ucap Zachary dengan wajah yang begitu serius seraya menoleh kepada Siria. “Mintalah izin kepada kedua orang tua kalian. Aku akan mengajak kalian ke area warga biasa untuk beberapa hari. Bawalah barang-barang yang sekiranya diperlukan selama kita di sana,” ujar Siria. Hans menyipitkan mata sambil memiringkan kepala. “Kita akan melakukan penyelidikan di sana?” tanya Hans. Siria pun mengangguk mengisyaratkan `iya` untuk penyelidikan. -Path- Beberapa minggu lalu, belum lama setelah ditemukannya Beani dan Yeteru tewas menyisakan bagian kepala yang tergantung di tempat berbeda. Kala itu Zachary sedang duduk dan di hadapannya Gio tengah berdiri menatap langit yang sebiru lautan. Mereka berada di belakang sekolah, di tengah pepohonan rimbun yang teduh. Mata tajam Gio tidak dapat lepas dari memandangi indahnya langit, hanya pada tempatnya berpijak tidak memiliki pohon yang menghalangi. Terlihat seperti lubang kecil pada rerumputan jika dilihat dari langit. Gio memejamkan matanya sesaat lalu menengok ke arah Zachary. “Jadi bagaimana, apakah sihir tingkat pertamamu sudah selesai?” Zachary mengangguk pelan. “Hanya perlu mengendalkan energi sihirku saat menggunakannya. Berlatih saja hampir membuatku pingsan,” jawabnya. Mendengarnya Gio tersenyum. “Aku selalu yakin kau dapat melakukannya.” “Aku ingin mengubah pandangan orang-orang tentang keluarga rendahan,” ujar Zachary sambil tersenyum. Tatapan Gio berubah, seperti harapan memenuhi iris matanya. “Kau sudah pasti akan memenangkan pertandingan cipta kuasa ini, Zachary.” “Doakan saja,” ucap Zachary. “Oh ya, aku hampir lupa. Apa kau sudah mendengar kabar tentang guru Beani dan Yeteru?” “Tentu sudah, kenapa?” Zachary terdiam untuk sesaat. “Eh, kenapa kau tidak terkejut sedikit pun?” tanya Zachary kebingungan melihat ekspresi Gio yang biasa saja. “Aku sudah mendengar rumor-rumor saat pergi ke area warga biasa tentang adanya rencana p*********n pada ahli sihir. Tapi aku tidak pernah menyangka jika Beani dan Yeteru yang menjadi korbannya. Apa lagi perlakuannya begitu k**i hingga menyisakan kepala yang digantung.” “Apakah kau dan guru yang lainnya tidak khawatir?” “Kami … tepatnya aku yang tengah menyelidiki masalah ini. Namun, belum ada petunjuk sedikit pun.” Zachary menghempaskan napasnya yang tertahan. “Ya ampun, aku berharap kejadian ini cepat diusut tuntas. Aku hanya takut guru ataupun ahli sihir lainnya menjadi korban selanjutnya … terutama kau.” Gio terkekeh. “Untuk apa kau menakuti nasibku, huh? Jangan melupakan jika aku adalah pengguna sihir fisik terkuat di negara ini.” Zachary hanya menyeringai. “Aku ingin menitipkan sesuatu kepadamu, tolong jaga dengan baik-baik.” Gio berkata secara tiba-tiba setelah beberapa saat suasana hening. “Eh, kau ingin menitipkan apa untukku?” Gio meraih sesuatu dari kantung celananya. Saat tangannya keluar, ternyata botol kecil berisi air yang ia ambil. Botol itu terbuat dari kaca bening, airnya pun terlihat seperti air mineral biasa. “Minumlah ini dan jangan lupa jaga botolnya walaupun ukurannya sangat kecil,” ujar Gio sambil melemparkan botol kecil tersebut ke arah Zachary. Zachary bangkit dari duduknya dan menangkap botol itu. “Apa-apaan ini? Kau berbicara seakan hal penting tetapi hanya untuk meminum air dalam botol sekecil ini?” tanya Zachary keheranan dengan hal yang Gio pinta untuk dilakukannya. “Sudah minum saja, cepatlah. Kau tahu suasana hatiku akan berganti apabila langit tak lagi biru, kan?” ucap Gio sambil tersenyum lebar. Mendengar Gio berkata demikian membuat Zachary menelan ludahnya sendiri lalu meminum air dalam botol tersebut secepat mungkin. Baru saja menelan air itu, Zachary dibuat terkejut dengan Gio yang bergerak begitu cepat dan tiba-tiba berada di balik Zachary. Telapak tangan kanan Gio mendarat tepat di punggungnya dan lingkaran sihir pun tercipta pada saat yang bersamaan. “Break force!” Rapalan itu diucapkan Gio, lingkaran sihir menyebar membuat Zachary terdiam tak dapat bergerak layaknya sebuah patung. “Maafkan aku Zachary karena harus melakukan ini, aku harus pergi dan menemukan cara untuk mengakhiri semua ini,” lirih Gio berkata. “Oh ya, mari bertemu tiga minggu dari hari ini. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku pamit, jaga dirimu, ya.” Gio menambahkan kalimat terakhir sebelum ia pergi layaknya daun yang terbawa angin. Zachary tertunduk lemas. Tatapannya kosong, sepertinya ia benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja terjadi begitu cepat. Botol kecil pemberian Gio masih berada di tangannya, kini ia menggenggam dengan begitu erat lalu memasukkannya ke dalam saku celana. Tak lama kemudian, Zachary menatap langit sama seperti yang dilakukan Gio sebelumnya. Kali ini warna langit tak lagi biru, awan-awan terlihat bersih tapi beberapa ada yang kelabu. “Apa yang sebenarnya ia lakukan … rapalan mantra itu juga aku tidak tahu apa kegunaannya. Entah hanya firasatku atau apa, tetapi aku merasakan ada yang berubah perlahan dari dalam diriku,” batin Zachary yang masih memandangi langit kala itu. -Path- Kembali kepada Zachary dan yang lainnya, di tempat yang sama tetapi situasi dan kondisinya telah berbeda. Zachary dan Sera masih terdiam, terlihat mereka sedang memiliki banyak pikiran yang mengganggu konsentrasi mereka sendiri. Sementara itu Siria masih duduk memandangi data orang hilang yang di dalamnya terdapat nama kakaknya juga nama Gio sebagai kenalan kakaknya. “Berhubung kita semua masih berada di sini, mengapa tidak membicarakan bagaimana nanti kita akan bertindak?” tanya Hans secara tiba-tiba. Mendengar itu Siria memberikan senyuman tipis kepada Hans. “Seperti yang sudah dikatakan kakakmu, kita akan pergi menyelidiki tempat ditemukannya kepala guru Beani dan Yeteru,” kata Siria. “Juga aku memiliki sebuah kamar sewaan di tempat penginapan area warga biasa. Kalau tidak salah, lokasinya juga tak jauh dari penginapanku. Aku akan menyewakan kamar untuk kalian,” tambahnya. Sera secara tiba-tiba sedikit membungkukkan badannya lalu menyela percakapan tersebut. “Tapi sebelum itu, aku akan memohon kepada Tuhan supaya memberikan Zachary ketenangan selama menyelidikinya.” Sera sambil mengangkat kedua tangan menyilangkan jari-jarinya. “Amin.” “Sudah lama aku tidak mendengar seseorang memohon kepada Tuhan,” desis Siria. Hans menepuk kedua bagian bahu kakaknya. “Apa kau akan baik-baik saja, Kak?” Beberapa saat terdiam, Zachary lalu dengan mantap mengangguk dan berdiri tegak menatap Siria. “Jangan keluarkan uangmu saat yang kau ajak bekerjasama belum melakukan apapun. Aku akan menggunakan uangku sendiri, jadi aku tidak perlu merasa berhutang kepadamu,” ujar Zachary. Siria pun tersenyum dan Zachary menundukkan kepalanya sesaat setelah itu. “Ya ampun, beberapa minggu belakangan aku merasa sedikit aneh karena Zachary jadi lebih banyak bicara. Namun, di satu sisi aku juga merasa senang.” Sera berkata. Zachary langsung menatapnya dengan datar. “Mungkin sesuatu di dalam dirinya itu mulai terbuka untuk orang-orang yang dekat padanya … atau yang sering berinteraksi dengannya. Aku rasa kakakku akan tetap menjadi sedingin es apabila bertemu dengan orang baru, terlebih yang tidak berurusan dengannya,” ucap Hans. “Membuka ....” Zachary mengulangi penggalan kata dari kalimat yang adiknya lontarkan. “Ketimbang membicarakan soal diriku, bagaimana dengan penelitianmu terhadap ramuan jerami ajaib itu?” “Eh? Kenapa tiba-tiba aku?” tanya Sera yang terlihat sangat kebingungan. “Jawab saja, ini bukanlah pertanyaan yang bisa membuatmu gila,” ujar Zhacary. Sera menghela napasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Setelah melakukan beberapa pengujian, aku telah mengetahui bahwa jerami ajaib itu lebih efektif digunakan bada tumbuhan atau hewan. Bukan untuk manuasia. Aku rasa jerami ajaib buatan guru Aldini akan sangat berguna saat ada persenjataan yang rusak atau semacamnya,” jelas Sera. “Lalu, kau sudah menemukan bahan-bahan untuk membuatnya?” tanya Zachary. Sera mengangguk dengan mantap. “Tentu. Aku akan membawanya nanti saat kita melakukan penyelidikan, mana tahu ada barangbukti yang mengalami cacat.” “Hoi, jangan melupakan buku yang kita temukan di dalam ruangan itu,” celetuk Hans. “Ah iya, aku benar-benar lupa soal itu. Padahal jelas-jelas bukunya ku genggam,” ucap Sera tergelak. Setelahnya, Sera membuka salah satu dari buku tersebut. Sampul berwarna kelam baja bertuliskan judul buku yaitu `The Nexus` dengan warna emas. Membuat buku itu memiliki kesan misterius dan elegan di saat bersamaan. “Mari kita buka yang satu ini terlebih dahulu,” lanjut Sera. Beberapa saat Sera membaca, membalikkan halaman demi halaman. Siria ikut membaca sekilas dari samping. Sementara itu, Zachary dan Hans hanya terdiam tak melakukan apapun. Hingga mendadak Sera menutup buku tersebut dengan keras sambil menghempaskan napas dan ia terlihat begitu lepas dari buku itu. “Menenmukan sesuatu di dalamnya, Sera?” tanya Zachary. “Buku ini membuatku pusing dan bosan di saat yang bersamaan. Berisikan teori-teori dari para ahli pada masa lalu, beberapa juga aku melihat nama filsuf walaupun tidak terlalu yakin. Selain itu, di dalamnya banyak membahas prediksi beserta ramalan dari orang-orang zaman dahulu. Entah apa gunanya buku ini berada dalam ruangan tersembunyi itu,” ungkap Sera. Lalu Hans menoleh. “Kau belum membacanya hingga habis bukan? Kemari dan berikan buku itu padaku. Aku akan membacanya dan berharap ada sesuatu yang dapat berguna,” Langit mulai ditutupi awan kelabu, pertemuan mereka disudahi. Sepanjang jalan, Zachary terlihat seperti memikirkan suatu hal hingga tak fokus dalam berjalan. Beberapa kali ia tersandung di atas jalan yang penuh dengan batu kerikil. Hans tidak menghiraukan kakaknya itu, ia terkesan acuh dan hanya menikmati perjalanan pulang dengan hangatnya udara senja. Namun, semakin lama melihat kakaknya itu tidak fokus Hans menjadi geram juga pada akhirnya. “Kak, apa kau tidak apa-apa?” tanya Hans. Zachary menghentikan langkahnya lalu menunduk tanpa mengatakan apapun. “Percayalah bahwa guru Gio tidak akan kenapa-napa. Kau juga tahu kan bahwa dia itu orang yang hebat diantara para ahli sihir yang lainnya?” “Ya … aku akan menenangkan pikiranku untuk semalaman ini.” “Besok apakah kita akan langsung meminta izin kepada ayah dan ibu?” “Mungkin saat menuju tengah hari, aku akan mengurus beberapa hal terlebih dahulu sebelum kita bisa pergi meninggalkan ayah dan ibu,” ujar Zachary.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD