Malam pun tiba, suasana di sekitar kediaman keluarga Theora begitu sepi dan gelap. Ladang gandum di bawah cahaya rembulan yang sebagian tertutup awan, terdengar desir angin dan gandum yang saling bergesekan. Sudah tengah malam tetapi Zachary masih duduk dengan santai di halaman depan sambil menatap langit, tatapannya nampak kosong. Sementara itu, beralih kepada Hans yang terlihat tengah membaca buku yang di dapatkan oleh Sera dari ruang tersembunyi dalam perpustakaan. Hans yang tengah membaca buku `The Nexus‘ terlihat menemukan sesuatu di dalamnya dan begitu terkejut. Ia beranjak dari tempat tidur lalu berlari menghampiri Zachary di halaman depan rumah.
Zachary terkejut melihat pintu rumah tiba-tiba dibuka oleh Hans dan ia melihat Hans terengah-engah sambil menggenggam buku dari Sera. “H- hei, ada apa denganmu Hans?” tanya Zachary.
Hans mendatangi Zachary lalu menunjukkan sebuah halaman dalam buku tersebut. “Lihatlah, aku menemukan sesuatu yang mungkin saja berkaitan dengan kejadian yang tengah terjadi saat ini,” ucap Hans dengan napas yang masih terengah-engah.
“Berikan padaku biar aku yang melihatnya sendiri!” tegas Zachary yang penasaran.
Zachary pun melihat lembaran pada buku yang diberikan adiknya itu. Tertulis sepenggal penggal kalimat di dalamnya. “Satu persatu tiang kecil akan hilang di antara tempat kecil. Semua yang membuat kesalahan juga akan terbuang. Sebuah janji dingin yang manis dapat menghantarkan pada kematian. Semua akan berakhir pada kecewa, atau sia-sia.” Kurang lebih seperti itu penggalan kalimatnya. Zachary tidak berhenti di sana, ia terlihat berpikir juga bersamaan dengan ia membaca ulang kalimat tersebut. Ia mengejanya satu persatu supaya tak ada yang tertinggal.
“Jika kau melihatnya, ada beberapa ramalan di sisi lain halaman itu,” ucap Hans.
Pandangan Zachary pun langsung teralihkan untuk melihatnya. “Apa kau bercanda? Ramalan di sini membicarakan banyak hal tentang pengorbanan dan ilusi. Apa maksudnya semua ini?” Zachary yang kebingungan bertanya-tanya.
“Kau bisa melihat beberapa halaman sebelumnya. Kejadian yang dituliskan buku itu tidak jauh berbeda dengan yang sedang terjadi saat ini … hanya saja buku itu menggunakan perumpamaan yang agak sulit `tuk dimengerti.”
“Apakah aku yang salah melihat atau memang pada kertas ini ada sebuha huruf yang samar?”
“Ya, kau benar. Rasanya itu merupakan aksara kuno yang tersembunyi, aku tidak dapat memahaminya sama sekali. Lalu, cerita di halaman sebelumnya menegaskan petunjuk yang berada di dalam ruangan pengetahuan. Bukankah itu sangat mirip dengan buku itu yang kita temukan di dalam perpustakaan?” tambah Hans yang juga mengiyakan pertanyaan dari Zachary.
“Entahlah ini benar-benar ramalan untuk kejadian yang tengah terjadi atau hanya sebuah kebetulan semata,” ucap Zachary terdengar pesimis.
“Ah iya, ya ampun. Aku terlalu memikirkan isi dari buku itu hingga tidak bisa berpikir degan jernih. Terdapat nama negara kita di bagian akhir buku itu, aku tidak sengaja menemukannya tadi,” ungkap Hans kepada Zachary.
Zachary membuka halaman terakhirnya. Dan benar saja di sana tertulis nama negara mereka, Dhenst. Setelah itu Zachary menutup kembali buku itu lalu mengembalikannya kepada Hans. “Ambilah ini dan pelajari lagi apa yang ada di dalamnya. Aku rasa kau akan menemukan banyak hal yang menarik.” Ia mengakhiri pembicaraan itu setelah memberikan bukunya pada Hans. Zachary perlahan berjalan mendekati ladang sambil menatap langit-langit.
“Kak, kau mau pergi ke mana?” tanya Hans.
“Aku ingin jalan-jalan sebentar. Pergilah tidur, aku tidak akan lama.”
Hans menghela napasnya. “Baiklah kalau begitu, selamat malam. Pastikan kau mengunci pintunya!”
Zachary hanya menyeringai dan melanjutkan langkahnya. Ia berhenti di depan pagar ladang gandum, memandangi gandum yang tak lama lagi akan siap untuk di panen. Lalu Zachary menghirup udara malam dalam-dalam seraya kembali menatap langit malam. Terlihat langit bersih dengan bulan baru dan beberapa bintang menghiasi di sekelilingnya.
“Sejauh ini semuanya masih buram. Terlalu banyak hal yang membingungkan dan tidak memiliki titik terang. Dari luasnya negara ini, kenapa harus sekolahku yang menjadi tempatnya? Ku rasa ahli sihir pada wilayah keluarga terpandang ataupun bangsawan memiliki kemampuan yang lebih hebat. Walaupun terus berandai-andai hingga dua purnama berganti, aku tetap tidak dapat membayangkan apa yang menjadi suatu alasan dibalik semua ini.” Zachary membatin terlihat begitu serius.
Masih di tengah malam yang sama. Beralih kepada sebuah penginapan kecil. Di dalam salah satu kamarnya terdapat Julian bersama Redd yang tengah menyantap makan malam dengan tenang. Dengan bohlam bercahaya kekuningan, di atas meja makan tersaji sup daging beserta lauk lainnya yang terlihat sangat menggugah selera. Dua gelas teh juga terlihat di sana. Redd menatap Julian yang terus memandangi kalung dengan plakat perak yang dijatuhkan Andy sebelumnya.
“Hoi, mau sampai kapan kau memandangi kalung itu?” tanya Redd.
“Entahlah, aku merasa tidak asing dengan nama ini. Tetapi sungguh aku tak dapat mengingatnya dengan jelas.”
“Apakah kau benar-benar ingin pergi ke kota misterius di tengah Ashen Route?”
“Jika memiliki kesempatan kenapa tidak? Penjaga perpustakaan itu amat mencurigakan dan tulisan pada kalung ini hanya mengingatkanku pada kota itu.”
Redd menghela napasnya lalu menghembuskannya panjang. “Apapun itu aku akan menemanimu. Lagi pula lusa adalah jadwal kereta kita untuk kembali ke penginapan, kan? Kau mungkin bisa mencari petunjuk ketika berada di sana. Di area warga rendahan ini kita seperti tidak bisa melakukan apapun selain makan dan tidur.”
“Kau benar juga, lusa adalah jadwal kereta kita untuk kembali. Kalau begitu, besok jangan lupa kemasi barang-barangmu. Aku mulai merindukan keramaian orang-orang,” kata Julian sambil tertawa kecil.
-Path-
Pagi telah tiba, embun tersisa di jendela, rerumputan hijau terlihat sangat segar menari diterpa angin. Di dalam kediaman keluarga Theora, terlihat semua anggota keluarga berkumpul di ruang makan. Ibu Zachary tengah menyiapkan sarapan bersama ayahnya sementara itu Hans menyiapkan meja dan Zachary menyiapkan peralatannya. Mereka terlihat begitu harmonis melakukan sarapan bersama, suasana yang dibentuk terasa sangat hangat dan nyaman. Hingga akhir hidangannya tersapu habis, senyuman hangat tak dapat terlepaskan dari ibu Zachary.
“Ayah, Ibu … bolehkah aku meminta izin kepada kalian?”
Suasana menjadi begitu serius ketika Zachary mulai bertanya.
“Ya, ada apa Zachary?”
“Sekitar lusa atau tulat aku dan Hans akan pergi ke area warga biasa untuk suatu urusan. Apakah boleh? Dan sepertinya kami akan cukup lama berada di sana,” ujar Zachary meminta izin.
“Apa ini ada hubungannya dengan beberapa guru yang menghilang itu, Nak?” tanya ayahnya.
“Emm, aku tidak dapat menyangkal jika hal itu memang terkait. Namun, kami tidak hanya berdua, ada seorang penyihir tingkat I juga yang menemani kami.”
Ayah Zachary menghela napas panjang. “Kau tahu, jika kami berdua tidak dapat melarang kalian jika hal itu sudah kalian pilih. Ayah hanya ingin berpesan untuk jaga diri kalian, pastinya kalian juga tahu jika yang kalian hadapi bukanlah hal sepele. Ingat kedua orang tuamu ini sudah tua, jadi apapun itu … lakukan lakukan sesuai kata hatimu, ya?”
“E- eh? Apa itu artinya Ayah setuju?” tanya Hans yang dalam sekejap langsung bersemangat.
“Sudah kubilang kami tidak bisa menahan kalian lagi,” ulang ayahnya sambil tersenyum.
Sontak Zachary dan Hans memeluk ayahnya erat seraya mengucapkan terima kasih. Beberapa saat setelahnya, pelukan itu berakhir dan pandangan Zchary tertuju pada sang ibu yang hanya duduk terdiam dan tersenyum. Zachary pun bertanya, “Apakah Ibu meyetujui izin kami?”
Ibunya pun mengangguk sambil terseyum lebar menandakan setuju terhadap permohonan izin Zachary untuk pergi ke area warga biasa. Melihat hal tersebut kakak beradik itu pun kegirangan.
Setelah beberapa waktu, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Permisi, apa ada orang di rumah?” Suara itu terdengar tidak asing.
Zachary lalu berdiri. “Biar aku yang membukakan pintunya.” Ia berjalan melalui bilik dan dengan santai membuka pintunya. Dan ternyata yang datang adalah Sera, pantas saja suaranya terdengar tidak asing. Zachary terdiam sesaat memandangi Sera.
Sera tersenyum dan matanya terbuka lebar berbinar-binar. “Hai Zachary, apa kau punya waktu sebentar? Ada informasi yang harus kuberi tahu kepadamu dan juga Hans,” ujar Sera.
Zachary mengangguk pelan. “Tentu, biarkan aku memanggil Hans. Kau bisa menunggu di halaman depan, aku tidak akan lama.”
Sera lalu berbalik dan berjalan ke halaman dan Zachary pun bergegas masuk mencari adiknya. Tanpa berpikir panjang, Ia mengarah ke kamar Hans. Saat memasukinya, Hans masih membaca buku yang sama dengan yang ia tunjukan kepada Zachary semalam. Dan ia terlihat bingung karena Zachary memasuki kamarnya secara tiba-tiba.
“Hei, apa-apaan kau ini mendadak memasuki kamarku tanpa suara seperti itu!” tegur Hans kepada kakaknya.
“Maaf soal itu. Ada Sera di depan, ia mengatakan ingin memberi kita berdua informasi. Entah informasi apa, tetapi sepertinya itu cukup penting.”
“Ah … baiklah jika begitu. Ayo temui dia,” desis Hans.
Ketika menuju pintu depan, langkah keduanya terhenti saat sang ibu berteriak. “Zachary, siapa tamunya? Kenapa kau tidak memintanya masuk?”
Sebelum Zachary menengok, Hans pun menjawabnya dengan berteriak. “Ada Sera Bu di depan. Ia ingin mengobrol dengan kami berdua.”
“Baiklah jika seperti itu.” Dan ibunya berhenti untuk berteriak sejak itu.
Zachary menghela napasnya. “Apa yang telah kau lakukan Hans?”
Hans setengah tersenyum. “Kita harus menghemat waktu. Akan lama urursannya jika kau meladeni ibu dan mempertanyakan tentang Sera. Bisa-bisa petang datang saat kau telah selesai berbicara dengan ibu,” ucap Hans yang mengatakan lelucon.
Zachary memejamkan matanya untuk sesaat lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Sudah-sudah, ayo kita temui Sera. Tidak enak jika membuatnya menunggu terlalu lama,” ujar Zachary yang setelah itu pergi menemui Sera di halaman depan rumah bersama Hans.#16
Ketika Zachary dan Hans sampai di halaman depan, Sera pun berdiri lalu mengajak keduanya untuk pergi ke dekat sungai. Tanpa berpikir panjang, Zachary dan Hans mengiyakannya begitu saja. Dengan udara pagi yang masih segar, rerumputan di dekat sungai masih lembab dan di beberapa tempat terlihat genangan lumpur. Ketiganya menghadap sungai yang mengalir deras.
“Baiklah, sekarang apa informasi yang `kan kau berikan untuk kami?” tanya Hans.
Sera berbalik lalu menatap Zachary dan Hans. “Pagi tadi aku bertemu dengan Siria. Ia mengatakan bahwa lusa kita akan pergi ke area warga biasa. Ia juga berpesan untuk kita semua menyiapkan segalanya untuk di sana nanti karena akan lama kita berada di sana,” jelas Sera.
“Sudahkah kau membuat janji dengannya ingin bertemu di mana lusa nanti?” tanya Zachary.
“Langsung saja pergi ke stasiun kereta di area perbatasan. Siria mengatakan akan menunggu di sana, dan kita mendapatkan jadwal di sore hari.” Sera menjawab.
“Wah, aku benar-benar tidak sabar! Tetapi kita juga harus bersiap dan tak boleh lengah. Rasanya tidak mungkin menyelidiki kasus pembunuhan akan mudah.” Hans berkata dan terdegar cukup antusias dengan keberangkatan mereka mendatang.
Zachary sedikit melangkah ke depan. Ia menghela napas dalam-dalam lalu menghempaskannya perlahan. “Entah ini sebuah awal atau apa bagi kita. Aku hanya ingin mengetahui bagaimana keadaan guru Gio dan berharap ia selamat. Juga aku penasaran sebenarnya apa yang mengawali kejadian ini. Rasanya masih mengganjal di kepalaku.” Ia berbicara sendiri.