“Hei ayolah, sepertinya masalah ini membuatmu jadi banyak bicara,” ujar Sera.
Zachary menoleh “Begitukah?”
Hans mengiyakannya dengan anggukan mantap. Lalu, beberapa setelahnya diisi dengan kesunyian. Hanya gemercik air sungai yang terdengar dan sesekali angin berhembus pelan. Zachary tengah menunduk sambil memejamkan matanya, entah apa yang ia pikirkan. Tak lama kemudian, ia mengangkat dagu dan matanya terbuka lebar. Hans dan Sera yang melihat akan hal itu langsung menatap Zachary aneh.
“Omong-omong, saat pertama kali bertemu dengan guru Siria kali itu. Di lapangan sekolah. Jika aku tidak salah apakah Julian mengenalmu, Sera?” tanya Zachary secara tiba-tiba.
“Hei, itu tiba-tiba sekali. Ada apa denganmu?” Hans dibuat keheranan oleh kakaknya.
“Entahlah, aku hanya tiba-tiba memikirkannya.”
“Ya, memang aku sudah mengenal Julian sejak lama. Walaupun hal itu terjadi karena sebuah kecelakaan,” ucap Sera.
“Tunggu, bagaimana bisa kau mengenalnya? Sejak lama?” Hans dibuat terkejut oleh pernyataan Sera barusan.
Sebelum Sera menjawab, ia mulai menunduk dan melipat kedua tangannya. “Kau ingat ketika keluargaku memutuskan untuk pindah ke area warga biasa?”
“Ya … itu terjadi saat kita masih kecil. Sudah lama sekali.” Zachary menanggapi.
“Singkat cerita aku pindah ke sana, rumahku sekarang. Saat itu baru beberapa minggu setelah masuk sekolah. Entah kenapa aku berlari saat itu menuju ke dalam ruang penelitian sihir. Tanpa diduga tepat dibalik pintu Julian tengah mencoba alat sihir miliknya.”
“Lalu apa yang terjadi?” Hans tiba-tiba menyela perkataan Sera.
Sera tersenyum tipis. “Karena aku lari begitu kencang, tidak sengaja aku menabrak alat sihirnya sekaligusmembuatnya hancur menjadi kepingan. Ia sangat murka kepadaku dan meminta ganti ruginya. Namun, karena aku merasa hal itu adalah sebuah kecelakaan aku tidak pernah membayarnya hingga saat ini.”
“Kalau begitu, apakah kau ingat alat sihir apa yang kau tabrak?” tanya Zachary.
“Aku sudah lupa akan hal itu. Yang jelas alat sihir yang dibuatnya begitu rumit dan ia mengklaim bahwa sihir dari alat itu setara dengan sihir tingkat nol,” ungkap Sera.
“Pasti sihirnya sangat kuat.” Zachary bergumam. “Jika kejadian itu sudah lama terjadi, mengapa saat bertemu kala itu Julian seperti mengingatnya dengan baik. Seolah ia terus mengungkitnya kepadamu,” lanjut Zachary.
“Ah, jangan bahas hal itu lagi. Aku kerap bertemu dengannya di pusat perbelanjaan atau di jalanan. Entah kebetulan atau bagaimana kami sering sekali berpapasan dan ia terus menerus mengatakan untuk membayar ganti rugi,” jawab Sera dengan lesu seperti sudah tidak mau tau lagi soal masalahnya dengan Julian.
Setelahnya suasana kembali hening dan udara terasa semakin panas.
Hans melipat tangannya ke depan. “Sudahkah berbincangnya? Intinya kita akan pergi lusa dan dari sekarang harus bersiap. Ayo kembali, aku tidak biasa berjemur di tepi sungai seperti ini untuk waktu yang lama,” ujar Hans secara tiba-tiba dengan halus mengeluh.
Zachary dan Sera lantas tertawa setelah mendengarnya.
“Baiklah, ayo kita kembali saja.” Zachary sambil tertawa kecil dan tersenyum sekaligus.
Di bawah teriknya matahari, mereka berjalan bersama meninggalkan sungai. Suasana sangat tenang, burung-burung ramai ke sana kemari. Namun, jalanan luas begitu sepi. Sudah tidak jauh dari rumahnya, Zachary berhenti di tengah jalan karena melihat ada seorang anak kecil yang tengah mengayuh sepeda sambil membawa sesuatu. Pakaian anak itu sangat sederhana, sedikit lusuh. Sepedanya juga terlihat sudah cukup tua. Dan Zachary memberhentikan laju anak itu.
“Hei Zachary, aku baru saja akan megantarnya ke rumahmu!” sapa anak itu.
“Kau terlambat lagi untuk mengantarkan koran?” tanya Zachary menggunakan nada bicara yang rendah.
Kelopak mata anak itu melebar dan ia tersenyum. “Ayolah, biasanya aku juga mengantarkan korannya pada waktu ini.”
Zachary tertawa. “Aku hanya bercanda. Ada berita apa pekan ini? Berikan saja koran itu kepadaku, ingat ya bulan lalu aku sudah membayar untuk koran selama dua bulan.”
“Tentu aku tidak akan lupa kau sudah membayar untuk dua bulan. Bahkan aku mencatatnya. Berita pekan ini cukup panas, kau harus membacanya sendiri,” ujar anak itu seraya memberikan segulung koran kepada Zachary. “Kalau begitu aku permisi ya!”
“Ya, terima kasih.” Zachary menanggapi anak itu yang telah pergi begitu cepat mengayuh sepedanya.
“Hati-hati di jalan!” teriak Hans.
“Haruskah kita membaca koran sambil berdiri di pinggir jalan seperti ini?” tanya Sera.
“Kakakku hanya penasaran dengan berita utamanya saja. Karena pasti sisanya hanyalah sampah atau bualan. Tidak ada yang benar-benar penting selain berita utamanya,” ucap Hans.
“Ya … baiklah, tidak ada salahnya mengetahui berita terbaru. Aku sudah lama sekali tidak tahu menahu dengan apa yang tengah terjadi terhadap negara kita ini,” kata Sera.
Zachary membuka gulungan koran itu dan langsung ia lihat bagian awalnya yang memiliki label tulisan `Berita Panas` di bagian atasnya. Tulisan dengan ukuran besar dan tebal di bagian tengah. `Skandal Keluarga Terpandang` menjadi tajuk utama dan dengan jelas membacanya saja sudah membuat Zachary terlihat begitu penasaran. Ia langsung membaca koran tersebut untuk beberapa saar dengan seksama tanpa bersuara. Matanya terbelalak serta pandangannya tak berpaling dari lembar koran itu.
“Apa yang kau temukan Zachary?” tanya Sera.
“Kepala keluara terpandang terindikasi melakukan ritual mencurigakan dengan sihir terlarang. Masih diselidiki ia berasal dari keluarga mana. Menurut pernyataan saksi, tersangka melakukan ritual sihir itu mengunakan sihir api dan cahaya. Entah mengapa dan bagaimana, tetapi banyak orang yang megaitkan hal ini dengan kasus pembunuhan di perbatasan area warga biasa dengan area keluarga rendahan. Dan itu berarti sekolah kita.” Zachary menjelaskan secara singkat dari apa yang telah ia baca.
“Astaga, apa lagi ini? Yang berkaitan terus bermunculan, aku tidak habis pikir bagaimana kita akan memecahkan semua ini,” keluh Sera.
“Hmm, jika membicarakan sihir cahaya … tidakkah kalian langsung teringat dengan Julian? Satu-satunya yang memiliki sihir cahaya di dekat kita hanyalah dia,” kata Hans.
“Selama belum menemukan bukti kongkrit, kita tidak bisa seenaknya meyimpulkan. Apalagi langsung berprasangka buruk seperti itu. Lagi pula yang ada di berita ini baru indikasi dan dari yang ku tangkap masih belum jelas sebenarnya apa yang dilakukan,” ujar Zachary.
“Ah, sudahlah. Kepalaku bisa meledak jika terus memikirkan hal ini. Aku pergi duluan ya, sampaikan salamku untuk kedua orang tua kalian!” Sera berpamitan.
“Tentu, hati-hati di jalan!”
Sera telah pergi. Lalu Zachary dan Hans kembali ke rumahnya. Saat berada di tikungan sebelum sampai di rumah, Zachary tidak berbelok mengikuti Hans. Ia terus berjalan dan Hans tidak menyadari akan hal tersebut. Setelah puluhan langkah dilalui, Zachary berhenti di depan rumah tua yang terlihat sudah tak terurus lagi. Ia mendekati rumah tersebut lalu mengetuk pintunya beberapa kali.
Akhirnya pintu itu terbuka. Orang yang keluar dari dalamnya ialah seorang paruh baya. Ia terlihat masih sangat sehat hanya saja beberapa kerutan menghiasi wajahnya. “Oh, Zachary ya? Ada apa kau mengunjungiku?” tanya orang itu.
“Begini, lusa aku dan adikku akan pergi untuk beberapa waktu. Sampai kami kembali, bisakah kau mengurusi ladang?”
“Sepertinya bisa saja. Aku akan meminta bantuan temanku juga untuk mengurusnya.”
Zachary mengambil sebuah kantung dari dari sakunya. “Ini ada sedikit untukmu selama aku pergi da kau mengurusi ladang kami. Bila ada sisanya kau ambil saja,” kata Zachary yang tersenyum seraya memberikan kantung berisi uang tersebut.
“Ya ampun terima kasih banyak. Aku akan mengurusi ladangnya dengan baik.”
Zachary masih tersenyum, ia memejamkan matanya untuk sesaat. “Terima kasih kembali. Aku harap kau akan menjaga omonganmu, ya! Kalau begitu, aku permisi,” pungkas Zachary meninggalkan orang itu lalu berjalan kembali pulang.
Hari silih berganti. Sang fajar terbenam, terbit, terbenam, hingga terbit lagi. Seperti itu pengulangan yang terjadi pada setiap harinya. Tiba sudah waktunya untuk pergi ke area warga biasa. Zachary bersama Hans sedang bersiap dengan pakaian rapih beserta barang-barang yang akan dibawa. Setelah menyelesaikan sarapannya, kakak beradik itu bergegas untuk berpamitan kepada kedua orang tuanya lalu berangkat menuju stasiun kereta.
“Kak, sepertinya aku meninggalkan tas yang berisi baju-baju yang akan kugunakan di kamar. Tunggu sebentar ya, aku tak akan lama mengambilnya,” kata Hans.
Zachary hanya tersenyum menanggapinya. Selagi menunggu adiknya, Zachary mengangkat barang-barangnya ke halaman depan. Ia melihat koran yang didapatkannya kemarin di atas meja. Ia pun mengambil lembar pertama yang berisi tentang dugaan ritual sihir yang dilakukan oleh keluarga terpandang lalu mesukkannya ke dalam tas. Setelah itu ia melihat beberapa lembar koran yang masih tersisa di atas meja. Ia nampak begitu terkejut saat membacanya.
“Astaga, bagaimana bisa aku melewatkan informasi penting seperti ini?” lirih Zachary.
Lembaran koran itu mulai terlihat. Di sana dituliskan ada perkembangan terbaru dari kasus hilangnya ahli sihir pada sekolah sihir yang berada di perbatasan antara area keluarga rendahan dan area warga biasa. Di sana tertulis tempat di mana ditemukannya kepala yang menggantung dan tertulis juga catatan bahwa kepolisian langsung menggeledah tempat tersebut.
“Aku harus menyimpan ini!” gumam Zachary yang setelah itu melipat korannya lalu ia masukkan ke dalam tas.
Hans pun datang membawa tasnya dan ia melihat Zachary tengah membuka tas sedang menaruh sesuatu. “Apa yang kau lakukan?” tanya Hans.