Zachary dengan spontan menoleh. “Ah, bukan apa-apa. Aku hanya mengecek ulang barang-barangku dan tidak ada yang ketingalan,” ujar Zachary membual alih-alih memberitahukan Hans apa yang sebenarnya ia temukan.
“Akankah kita langsung berangkat?”
“Tentu, ayo!” seru Zachary sambil tersenyum.
Sepertinya akan cukup melelahkan bagi Zachary maupun Hans karena mereka harus berjalan kaki sedangkan jarak stasiun kereta dari rumahnya lumayan jauh. Ditambah lagi barang bawaan mereka yang tidak sedikit. Namun, Zachary tidak kehabisan akal dengan hambatan yang ditemuinya.
“Sihir angin: Lift Up!” Zachary merapalkan mantra sihirnya dan semuanya seperti terangkat. Entah itu barang bawaan mereka atau bahkan kaki mereka sendiri. Semuanya nampak diangkat sedikit ke atas oleh sihir angin Zachary. Terlihat keduanya kini seperti tidak memikul beban apapun.
“Ya ampun, aku tidak tahu kau dapat menggunakan sihir semacam ini!” seru Hans terkejut melihat sihir kakaknya.
“Sebagai pengguna sihir, setidaknya sihir kita harus bisa digunakan dalam segala kondisi. Tanpa terkecuali hal memudahkan seperti ini,” ucap Zachary.
“Dengan ini aku seperti berjalan di atas udara. Tidak ada beban!”
“Sudah-sudah, ayo kita berangkat. Jangan sampai kita membuat Siria dan Sera menunggu di stasiun,” ujar Zachary. Hans pun mengangguk.
Setibanya mereka di stasiun kereta, keduanya nampak kebingungan melihat ramainya stasiun dengan orang-orang yang berlalu lalang. Walaupun sebenarya tidak terlalu banyak orang di sana, tetap saja Zachary dan Hans terpaku ketika melihat sekelilingnya. Beruntungnya tak lama setelah itu Sera datang menghampiri Zachary dan Hans.
“Apa kalian sudah lama di sini?” tanya Sera.
“Umm, tidak. Kami baru datang,” jawab Hans.
“Tunggu, apakah kalian baru pertama kali datang ke stasiun?” Sera bertanya sambil memiringkan kepalanya. Hans mengangkat kedua bahunya.
Zachary pun berdeham. “Menurutmu kami akan pergi ke mana sampai perlu mengunjungi stasiun kereta?”
Sera tertawa kecil memalingkan wajahnya. “Ikuti aku, Siria sudah menunggu. Jangan sampai kita tertinggal kereta,” ujar Sera.
Ketiganya berjalan berdampingan hingga akhirnya mereka sampai di loket pembelian tiket. Siria langsung menyapa Zachary dan Hans. “Halo kalian berdua. Bagaimana kabar kalian?”
“Semuanya baik,” jawab Zachary dengan singkat.
“Kalian sudah siapkan uang untuk perjalanannya, kan?” tanya Siria.
Sontak Zachary terkejut mendengar hal tersebut. “E- eh? Apakah kami harus membayar perjalanannya juga? Tapi jika benar beitu sepertinya aku membawa cukup uang,” kata Zachary.
Siria tertawa melihat Zachary yang sedikit panik. “Aku hanya bercanda. Biaya perjalanan dan penginapan akan kubayar. Kebetulan aku memiliki uang simpanan yang akan digunakan untuk saat-saat penting. Dan kali ini rasanya cukup penting jadi aku akan menggunakan uang itu,” tutur Siria.
Sementara itu, Hans terus memandangi sekitarannya. Sampai ia menyadari bahwa yang mengantre di depan mereka semua adalah Julian dan Redd. Hans pun mendekat kepada Sera dan berbisik kepadanya. “Hei Sera, tidakkah kau menyadari orang yang mengantre di depan adalah Julian dan Redd.” Sera pun melirik ke depan dan ia menyadari juga bahwa itu adalah Julian dan Redd. Raut wajah terkejutnya tak dapat berbohong.
Orang yang mengantre di bagian paling depan telah selesai membeli tiketnya.
“Selanjutnya!” teriak penjaga loket.”
Julian mengenakan jas tebal nan panjang berwarna coklat yang sangat klasik. Ia melangkah ke depan menuju loket kereta. Entah suara bisikan Hans yang terlalu nyaring atau memang Julian yang sangat peka. Sepertinya ia menyadari bahwa yang berdiri di belakangnya bukan hanya Redd melainkan ada Zachary juga bersama yang lainnya. Julian melirik sesaat ke belakang lalu melanjutkan transaksinya untuk membeli tiket kereta di loket. Ia mengambil bolpoin dan selembar kertas dari jasnya yang ternyata adalah sebuah cek. Ia langsung menandatangani cek tersebut.
“Apakah gerbong khususnya masih ada yang kosong?” tanya Julian.
“Masih ada, tetapi hanya gerbong khusus keluarga terpandang yang tersedia. Sisanya sudah habis terisi,” jawab penjaga loket itu.
“Tenang saja, aku salah satu dari keluarga terpandang. Apa gerbong itu cukup besar?”
“Ah ya ampun, dugaanku tidak salah jika kau berasal dari keluarga terpandang. Seingatku gerbong khusus itu dapat menambung hingga Sembilan orang. Tidak lupa ada pelayanan khusus di dalamnya untuk keluarga terpandang.”
“Baiklah, aku akan menggunakan gerbong itu bersama lima orang temanku di belakang ini. Kau bisa menulis berapa total harga tiketnya pada cek itu. Berikan saja kepada atasanmu dan ia dapat mengambil uangnya di badan usaha keuangan,” ucap Julian dengan suara yang lantang membuat Zachary dan yang lainnya dapat mendegar hal itu dan jelas mereka terlihat kaget.
“Aku akan menuliskan totalnya terlebih dahulu. Jika ada kesalahan nominal, kau dapat mengajukan pengembalian uang ya sesuai dengan peraturan yang ada,” ujar penjaga loket. “Pemandu gerbong! Bisa tolong antarkan tuan muda ini bersama teman-temannya menuju gerbong khusus keluarga terpandang?” panggilnya terhadap pemandu yang tengah berdiri tegap.
“Tentu, biar aku antarkan.”
Zachary yang terheran sekaligus kebingungan menghampiri Julian. “Hei apa maksudmu melakukan ini, huh?”
Julian tersenyum lebar tanpa menunjukkan giginya. “Aku hanya ingin mentraktir kalian sesekali. Apa tidak boleh?”
“Apa kau bermaksud merendahkan kami?” celoteh Hans.
“Tidak. Tidak ada sama sekali maksudku untuk merendahkan.” Julian menanggapi.
Redd yang sedari tadi hanya berdiri kini menghela napasnya dalam-dalam. “Cukup ributnya. Cepat ikuti pemandu itu untuk pergi ke kereta atau kita semua tidak akan pergi sama sekali hari ini.” Perkataan Redd tersebut membuat semuanya terdiam dan akhirnya pergi menuju gerbong kereta bersama-sama.
Sampailah mereka di depan gerbong kereta khusus. Dari mulai bentuk hingga warnanya berbeda sendiri dengan gerbong-gerbong lainnya. Bentuk gerbong khusus keluarga terpandang, dari pintu masuknya saja sudah ada dua orang pelayan di setiap sisinya yang menyapa dengan hangat. Lalu beranjak ke bagian dalamnya, interior klasik yang terkesan sangat mahal. Kursi khusus yang melingkar dan ada meja di tengahnya.
Zachary dan yang lain masih sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat saat memasuki gerbong. Semuanya nampak tak dapat berkata-kata. “Aku benci mengatakan ini. Tetapi memang bagus dan suasananya begitu nyaman,” gumam Hans.
Beberapa saat kemudian, pengeras suara yang ada di stasiun berbunyi. Meminta semua penumpang yang telah memasuki gerbong untuk duduk di tempatnya masing-masing kareana kereta akan segera berangkat. Dan tak lama lagi setelahnya pintu gerbong pun tertutup.
Di dalam gerbong, Julian menghampiri Zachary dengan membawa sepucuk surat berwarna merah yang mulai pudar. Tidak salah lagi surat itu adalah surat yang sama dengan yang diberikan kepada Zachary sebelumnya untuk mengajak bertarung satu lawan satu dengan Julian.
“Terima ini,” ujar Julian yang meyodorkan suratnya.
Tanpa berpikir panjang Zachary langsung menepis surat itu hingga menyentuh permukaan gerbong. Namun, Julian mengambilnya kembali. “Ada apa denganmu, mengapa kau tidak menerima surat ini?” tanya Julian.
Zachary langsung berdiri dengan menampakkan tatapan yang begitu sinis. “Seharusnya aku yang bertanya. Ada apa denganmu, apa kau sidah gila?”
“Bukan begitu maksudku. Sebenarnya aku hanya ingin berbincang dengan kalian.”
“Apakah ayahmu memiliki sihir dengan atribut api?” lirih Zachary bertanya dan terdengar begitu serius.
“Hei apa maksudmu tiba-tiba bertanya seperti itu?” ujar Rdd yang sepertinya merasa tak terima.
Zachary kembali ke tempat duduknya, membuka tas dan ternyata ia membawa koran yang ia dapatkan tempo hari. Yang mana, dalam koran tersebut memuat kabar tentang kepala keluarga terpandang yang diduga melakukan ritual sihir yang aneh. Zachary pun memberikannya kepada Julian untuk dilihat.
Julian membaca koran tersebut, Redd yang penasaran ikut mendekat pada Julian untuk membacanya. “Mana mungkin ini adalah ayahku, kau jangan menuduh sembarang ya!”
“Bagaimana jika hal itu yang sebenarnya?”
Julian setengah tersenyum. “Hal itu mustahil karena ayahku sedang pergi ke negara sebelah. Ia sedang tidak berada di sini.”
Di sisi lain, sepertinya Siria tidak mengerti dengan apa yang tengah dibicarakan oleh Julian dan Zachary. Ia mendekat pada Sera lalu berbisik sekaligus bertanya apa yang tengah dibicarakan oleh Zachary. Sera lalu berterus terang jika pada koran yang mereka dapatkan tempo hari memuat berita tentang adanya seseorang dari keluarga terpandang yang terindikasi melakukan ritual sihir dan seorang saksi mengatakan tersangkanya menggunakan atribut sihir api dan cahaya. Siria yang mendengarnya tak berkata apapun saking terkejutnya.
“Namun, apa benar ayahmu dapat menggunakan sihir api?” tanya Zachary sekali lagi.
“Y- ya … kau benar. Ayahku dapat menggunakan sihir atribut api, hanya dia yang bisa melakukannya di keluarga kami. Tetapi aku merasa tidak mungkin karena saat ini ia tengah berada di negara sebelah.” Julian menjawabnya sedikit ragu-ragu.
“Kalau begitu, aku minta maaf karena tiba-tiba membuatmu mungkin merasa tidak enak. Terima kasih juga telah membayari biaya perjalanan kami. Tapi sungguh, aku memintamu untuk mengawasinya dengan betul-betul apabila kalian bertemu,” ucap Zachary. Hampir di saat yang bersamaan Siria berdiri lalu membungkuk sesaat untuk ikut berterima kasih kepada Julian.
“Ayolah, ini gerbong khusus. Lupakan sejenak masalah diantara kalian dan mari nikmati saja perjalan ini. Lagi pula kita sampai di area warga biasa juga masih cukup lama,” kata Redd yang mencoba menenangkan suasana.
Mulut Hans sedikit terbuka, sepertinya ia masih tidak menyangka kakaknya akan meminta maaf dengan semudah itu. Setelahnya semua kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Lalu, Redd memanggil seorang pelayan untuk membawakan hidangan pembuka mereka. Beberapa pelayan memasuki gerbong dengan membawa hidangannya satu persatu. Semua yang disajikan nampak begitu lezat dan sangat mahal.
“Apa kita benar-benar akan memakan ini?” bisik Hans kepada Sera. Sera tidak menjawab, ia hanya mengangguk dan tersenyum.
“Baiklah, selamat makan!” seru Redd begitu bersemangat.
Semua menyantap hidangan di meja dengan begitu tenang. Dari mulai hidangan pembuka hingga hidangan penutup mereka terlihat begitu menikmatinya. Setelah semuanya selesai beberapa lebih memilih untuk tidur karena perjalanan yang masih cukup lama. Dan beberapa lainnya masih terjaga seperti Julian, Redd, dan Zachary. Mereka berkumpul di sudut ruangan dan berbincang dengan perlahan supaya tak membangunkan yang lain.
“Aku sebenarnya punya tujuan lain untuk kembali ke penginapan selain mengisi waktu libur sekolah. Aku juga ingin mencari tahu tentang guru-guru yang menghilang itu,” ujar Julian.
“Rasanya kau benar-benar tak dapat berubah ya,” kata Zachary sambil tertawa kecil.
“Apa yang tidak berubah? Apakah itu sifat tidak ingin kalah milikku?”
“Kau hebat bisa menebaknya.”
“Kau tahu sendiri jika sejak dahulu aku ini memang tidak pernah ingin kalah darimu, kan? Aku selalu ingin menang darimu entah kenapa. Dari hal itu juga aku ingin tahu sejauh apa kekuatanmu,” kata Julian.
“Jangan mulai lagi ya,” ucap Zachary.
“Maaf jika aku mengganggu kalian, tetapi bukankah masalah ini sepertinya terlalu kompleks untuk kita semua pecahkan?” Redd menyela pembicaraan.
“Karena masalah ini kompleks bahkan kepolisian tidak dapat membuatnya selesai. Hal itu sangat aneh … seperti kasus ini benar-benar ditutupi tapi terlanjur diketahui publik.” Julian menanggapi.
Zachary menghela napasnya. “Kau benar, semua ini terasa sangat ditutup-tutupi. Sebenarnya aku pun tidak ingin megatakan ini. Namun, asalakan kau tahu guru Aldini, Airia, sampai guru Gio ikut menghilang,” ungkap Zachary.
“Tidak mungkin ….” Redd bergumam terkejut dan tak percaya.
-Path-
Waktu berlalu dan kini Zachary dan yang lain telah sampai di pemberhentian. Turun dari gerbong dan melihat-lihat sekitaran stasiun. Di area warga biasanya jelas begitu ramai orang-orangnya, sudah seperti antre untuk mendapatkan emas batangan secara gratis. Julian dan Redd terlihat pergi begitu saja meninggalkan Zachary dan yang lain tanpa mengatakan apapun.
“Aku sangat bingung karena saat berada di kereta tadi semuanya seperti sudah sangat akrab. Namun, ketika sudah turun dari kereta Julian dan Redd terasa menjadi orang asing lagi,” ujar Hans yang tengah melipat kedua tangannya di depan.
Sera tersenyum mendengarnya. “Rasanya mereka memang seperti itu. Sulit ditebak.”
Zachary sedang menggendong barang bawaannya, ia melirik Siria. “Omong-omong, setelah ini kita akan pergi ke mana?” tanya Zachary.
“Kita akan langsung pergi ke penginapan supaya kalian dapat beristirahat terlebih dahulu. Jaraknya tidak begitu jauh, jadi ikuti saja aku,” jawab Siria.
“Ayo kita bernagkat!” seru Sera.