Wall

1032 Words
“Natasha, bagaimana hasil otopsi mayat tadi?” Stefan bertanya kepada Natasha Oliver. Natasha adalah petugas forensik yang baru beberapa hari pindah tugas di kepolisian Las Vegas. Dia adalah bawahan Detektif Joker secara tertulis meskipun detektif gila itu tidak ingin terikat dengan komitmen pemerintahan. “Jelas pembunuhan, mayat mati karena keracunan sianida. Ditemukan banyak racun sianida di kerongkongnya. Lebam jenazah berwarna merah cerah dan itu benar-benar sudah dipastikan karena keracunan. Jenazah sebelumnya juga sempat diperkosa oleh pelaku pembunuhan lalu korban dipaksa meminum cairan beracun itu,” jelas Natasha ketika Stefan bertanya. Stefan mengangguk-angguk mendengar penjelasan yang disampaikan. “Kau sudah menghubungi Detektif Joker mengenai ini?” tanya Stefan. Natasha menggeleng sambil membenarkan kertas yang dia pegang. “Baiklah, aku akan memberitahu Detektif Joker jika seperti itu. Dia harus tahu meskipun dia sedang libur,” kata Stefan yang sekarang mengeluarkan ponselnya dan menelepon Detektif Joker. “Halo, Detektif Joker, kau sedang di mana?” tanya Stefan sambil melihat sekeliling ruangan. “Aku sedang makan siang bersama anak buahmu, ada apa kau meneleponku?” tanya balik Detektif Joker. Detektif Joker tahu mengapa Stefan menelponnya. Ada dua kemungkinan, pertama karena adanya kasus lalu kedua karena Stefan hanya sekadar mengajaknya untuk makan malam bersama keluarganya. Meskipun dikenal menyeramkan dan suka bertindak sesuka hatinya, Detektif Joker sebenarnya amatlah sangat baik dan Stefan sering mengundangnya untuk makan malam bersama keluarganya yang juga menganggap Detektif Joker orang yang menarik. “Ada pembunuhan yang terjadi pagi tadi. Maaf baru memberitahumu sekarang, kau tidak perlu khawatir semuanya sudah ditangani. Mayat juga sudah diotopsi oleh Natasha Oliver, pembunuhan karena sianida yang diminumkan kepada korban serta pemerkosaan juga dilakukan oleh pembunuh kepada korban. Terjadi di dekat stasiun Harrah’s. Mayat sudah diidentifikasi, korban bernama Kimberley Ong, dua puluh tujuh tahun seorang desainer pakaian kerja, tinggal di distrik Green Valley….” Stefan tidak meneruskan perkataannya karena Detektif Joker sudah memotongnya. “Bagaimana kronologi otopsinya, luka lebam, tusuk, bacok atau balistik (senjata api)?” tanya Detektif Joker dengan tenang. “Selain intoksikasi (keracunan) di tubuh korban juga ditemukan luka tusuk sedalam tiga sentimeter di daerah paha. Tepat mengenai arteri femoralis dan cukup banyak darah di lokasi pembunuhan,” jelas Stefan yang sekarang memilih duduk di bangku panjang. “Itu artinya korban sempat menghindar ketika akan diperkosa dan pelaku menusukkan benda tajam di arteri femoralis guna melumpuhkan korban. Lalu korban lemah dan terjadilah pemerkosaan itu. Setelah memerkosa korban pelaku membunuhnya dengan memaksanya meminum kalium sianida. Kira-kira pukul berapa kejadian itu terjadi?” tanya Detektif Joker dengan serius. Jea dan Agatha duduk di depan Detektif Joker sambil memperhatikan Detektif Joker yang sedang serius berbicara kepada Stefan. Jea tahu benar bahwa detektif gila itu tengah berpikir keras dan tidak bisa diganggu oleh apa pun sekarang. Sering melihatnya bekerja membuat Jea cukup banyak tahu mengenai kebiasaan sang detektif. “Hasil otopsi memperkirakan kematian korban sudah delapan jam yang lalu. Pelaku kejahatan belum berhasil ditemukan, tetapi kami sudah mendapat beberapa informasi bahwa mereka adalah sekelompok pelajar menengah atas. Kasus ini akan melibatkan anak di bawah umur jika memang mereka pelakunya.” Stefan mengembuskan napasnya lagi. Bagaimanapun kasus yang melibatkan anak di bawah umur terlebih pembunuhan dan pemerkosaan selalu membuatnya pusing. Dia teringat dengan anaknya sendiri yang sekarang beranjak dewasa. Ketakutan sebagai orangtua jelas selalu mengintainya akan perilaku anak muda zaman sekarang. Sebenarnya dia sangat membutuhkan Detektif Joker untuk datang ke kantor kepolisian hari ini guna melihat langsung mayat korban. Matanya itu sangat jeli berbeda dengan mata kebanyakan orang dan karena itulah Stefan mengharapkan Detektif Joker datang karena mungkin saja ada beberapa hal yang terlewat dari penglihatan orang biasa. “Aku akan ke sana setelah makan siang ini selesai. Jangan khawatir, aku akan menangkap pembunuh sialan itu dan menembaki kepalanya hingga otak sialannya hilang.” Detektif Joker tertawa kecil mendengar desahan penuh lega Stefan. “Baiklah aku sangat menanti kehadiranmu. Oh ya, bagaimana dengan wanita itu. Apa kau sampai sekarang sangat yakin bahwa bukan dia pembunuh Justin Watson dan perempuan tanpa identitas itu?” tanya Stefan lagi. Stefan sudah menginterogasi Agatha selama beberapa jam pada hari pertama dia tinggal bersama Detektif Joker dan Detektif Joker meyakinkan Stefan bahwa bukan dialah pelakunya. “Apakah kau meragukan kemampuanku? Selama ini aku tidak pernah meleset dari apa yang aku yakini,” jawab Detektif Joker dan itu membuat Stefan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia percaya sepenuhnya kepada Detektif Joker. Pembicaraan antara Stefan dan Detektif Joker sudah berakhir. Detektif Joker kembali mengambil peralatan makannya dan mulai makan, tetapi beberapa detik berikutnya dia sadar bahwa dari tadi ada dua pasang mata yang memperhatikannya. Jea dan Agatha memperhatikannya tanpa repot-repot menyembunyikan tatapan itu. “Ada apa?” tanya Detektif Joker. Jea menatap Detektif Joker dengan tatapan sendu lalu dia menggeleng. Sementara Agatha memilih menunduk. “Kau detektif yang hebat. Kurasa kau akan tahu semuanya tanpa aku jelaskan.” Perkataan Agatha itu membuat Detektif Joker mengernyit heran. Terlihat seperti Agatha mengerti pembicaraan antara dirinya dan Stefan. Jea melirik Agatha sekilas kemudian pandangannya beralih ke Detektif Joker yang menatap Agatha penuh selidik. Dia kenal sekali tatapan itu, Detektif Joker sering menatapnya seperti itu sampai dia sendiri sering merasa ditelanjangi. “Ayo makan lagi. Kau akan ke kantor polisi setelah ini. Kau akan melakukan pekerjaanmu,” ucap Agatha sambil menyuap makanannya. Mengalihkan keheranan Detektif Joker. “Ya kau benar, kau dan dia akan ikut aku ke kantor polisi. Kau tidak akan aman sendirian di apartemen sialan itu. Jika bersama wanita sialan ini, aku pastikan dia akan melindungimu,” kata Detektif Joker sambil memakan makanannya dan tidak melihat Jea sama sekali. Dia tidak sadar bahwa Agatha kembali menatap keduanya secara bergantian setelah berkata seperti itu. “Maafkan aku,” ucap Agatha dengan suara kecil dan Detektif Joker serta Jea tidak mendengarnya karena dia lahap memakan masakan kesukaannya yang sudah cukup lama tidak dia makan. Agatha merasa bersalah menjadi beban kedua orang tersebut terutama kepada polisi cantik yang saat ini tampak kecewa. Dia tidak tahu jenis hubungan apa yang terjalin di antara dua orang tersebut, tetapi jelas bukan hanya sebagai rekan kerja. Entah siapa yang menyukai siapa atau siapa yang terluka, yang jelas saat ini dia seperti tembok besar. Mungkin kehadirannya menghalangi kedua orang tersebut untuk berbicara banyak hal. Dia tidak tahu, dia hanya menduga sebagai seorang wanita yang pernah terlibat masalah percintaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD