Banyak orang berpikir kejahatan adalah hal yang sangat mengerikan, tetapi di antara orang-orang yang berpikir kejahatan adalah hal menakutkan, ada segelintir orang yang berpikir kejahatan adalah hal yang menyenangkan, menggembirakan, dan penuh sukacita. Kegembiraan itu berasal dari rasa puas yang didapat karena berhasil membongkar rangkaian kejahatan lalu menjebloskan orang-orang yang bersalah ke dalam neraka dunia. Hal tersebut bisa membuat orang-orang yang berada dalam kegembiraan berpesta karena berhasil mengacaukan segala rencana jahat yang telah dirangkai oleh iblis di dunia.
Salah satu manusia yang berada dalam kegembiraan tersebut adalah Detektif Joker, pria nyaris gila yang berkutat dalam kejahatan dan beraliansi dengan otak jeniusnya yang luar biasa. Baginya melihat raut wajah tersiksa dari orang bersalah adalah hal yang paling menyenangkan. Dia tidak bisa menyembunyikan hal tersebut dari muka dunia.
“Detektif, apakah Anda sudah membaca laporan yang saya berikan kemarin?” tanya salah seorang pekerja di kantor kepolisian kepada Detektif Joker.
“Untuk apa aku membaca laporan tidak berguna itu? Aku sudah tahu apa yang akan kau sampaikan,” jawabnya tanpa minat. Pekerja tersebut mengangkat bahunya sambil lalu kemudian dia memberikan amplop cokelat kepada sang detektif.
“Baiklah kalau seperti itu, ini saya bawakan laporan lain yang masuk beberapa saat lalu. Saya ingin Anda membacanya dan mungkin Anda akan tertarik,” katanya sambil undur diri dari hadapan sang detektif yang tengah bermain catur secara daring dari perangkat ponselnya.
“Jika tidak menarik, kau akan kehilangan jatah makan siangmu untukku,” jawabnya sambil menerima amplop cokelat tersebut.
Detektif Joker belum berminat membuka amplop itu lebih jauh, dia masih bermain catur secara daring karena lawannya kali ini cukup tangguh. Dia suka mengasah otak agar tidak menjadi bodoh. Dia orang yang eksentrik, bisa melakukan hal-hal aneh dan unik sesuka hatinya tanpa takut dihujat.
Saat dia masih berminat dengan ponselnya dan serius dengan permainan catur daringnya, polisi wanita nan cantik rupawan mendekatinya. Dia awalnya terlihat amat sangat ragu untuk mendekati sang detektif, tetapi mengingat karena dirinyalah mereka bisa membereskan kasus di restoran kemarin. Dia secara pribadi memberitahu kepada Jea siapa pelakunya, jadi Jea merasa harus mengucapkan terima kasih kembali.
“Kau sudah berdiri di sana selama dua menit tiga puluh sembilan detik. Lewat dari tiga menit kau berdiri di sana aku akan menembak kepalamu,” kata Detektif Joker tanpa mengalihkan pandangan matanya dari ponsel. “Tidak sabar ingin melihat kepalamu bolong dan mengelinding,” sambungnya.
Jea akhirnya mendekat ke arah sang detektif yang meskipun terlihat tidak peduli, tetapi dia mengawasi dengan sudut matanya. Azalea Liu Hilton duduk dengan ragu sembari memperhatikan sang detektif yang sibuk dengan ponselnya.
“Katakan apa maumu?” suara sang detektif mengagetkan Jea dari pandangannya terhadap pria di depannya itu.
“Anda bersedia ikut makan siang bersama hari ini?” tanyanya dengan pelan. “Atasan yang mengajak. Dia ingin Anda ikut hadir karena berterima kasih kepada Anda yang telah mengungkapkan beberapa kasus belakangan ini.”
“Ada pilihan untuk menolak?” tanyanya tanpa benar-benar berminat.
“Saya sarankan tidak, atasan mungkin akan kecewa.”
“Artinya kalian memaksa,” komentarnya.
“Maaf bila Anda merasa kami memaksa.”
“Kenapa manusia itu selalu punya kecenderungan untuk memaksa? Apakah manusia itu selalu ingin mendapatkan keinginannya? Apakah mereka puas setelah memaksa?” cecar sang detektif yang sekarang telah selesai berkutat dengan permainan catur daringnya. Sekarang dia menatap polisi cantik yang menjadi idola di kantor kepolisian tempatnya bekerja sekarang. “Akan aku jawab sendiri,” katanya memotong ucapan yang akan Jea lontarkan sebagai jawaban.
“Baiklah.”
“Karena memaksa adalah hal yang menyenangkan. Membuat orang lain menuruti keinginanmu adalah hal yang sungguh menggembirakan. Kau juga pasti setuju, Nona?”
Jea mengangguk meskipun dia tidak terlalu setuju dengan pendapat tersebut, tetapi dia ingin semua ini cepat selesai. Dia hanya ditugaskan untuk menyampaikan ajakan dari atasan yang mengajak sang detektif makan siang bersama. Selebihnya dia tidak ingin bertemu dengan sang detektif karena pria itu terus menerus mengintimidasinya.
“Kau tampak menyedihkan. Buang wajah sialanmu itu dari hadapanku,” katanya sambil mengambil amplop cokelat yang tadi diantarkan kepadanya. “Aku suka wajah orang tersiksa karena menyesali kesalahannya dibanding wajah menyedihkan seperti milikmu.”
Jea memandang sang detektif dengan tatapan marah. Dia tahu memang detektif itu terkenal dengan mulut pedasnya, tetapi menghadapinya secara langsung dan menjadi objek dari mulut pedasnya membuat Jea kesal bukan main. Dia tidak pernah menerima penghinaan sekasar itu dari seorang pria sebelumnya dan juga apa yang dia ucapkan sungguh tidak bisa diterima oleh akal sehat.
“Kau ingin menangis karena ucapanku? Silakan saja, aku suka melihat wajah menangis milikmu.”
Jea langsung berdiri dari hadapan sang detektif dengan emosi yang dia tahan agar tidak meledak. Langkah lebarnya dia arahkan ke toilet kemudian mengurung diri di sana sambil menangis. Kadang dia berpikir dirinya sangat bodoh karena masih saja lemah hanya karena ucapan yang menyakitkan menyerangnya. Bodohnya dia pernah merasa kagum terhadap detektif gila tersebut karena kepiawaiannya.
Saat dirinya masih menangis dan menyesali dirinya, Jea mendengar ponselnya berbunyi dan panggilan tersebut berasal dari salah satu rekannya yang seruangan dengannya. Jea mencoba menormalkan suaranya agar tidak terdengar dia menangis.
“Aku di toilet, sebentar lagi aku akan ke sana!”
Setelah mengatakan seperti itu Jea bergegas keluar kemudian mencuci wajahnya agar tidak terlihat selesai menangis. Rekan-rekan dan atasannya akan berangkat ke restoran yang berada tidak jauh dari kantor mereka. Mereka sudah memesan tempat untuk makan siang bersama. Entah apa yang akan Jea katakan kepada atasannya mengenai Detektif Joker yang menolak ajakan makan siang bersama yang dia adakan.
Saat Jea tiba di ruangannya, teman-temannya sudah ingin berangkat dan mereka melihat Jea sendirian. Atasannya menatap Jea sebentar dan langsung mengerti bahwa dia tidak berhasil membujuk sang detektif untuk bergabung makan siang bersama mereka. Namun, belum sempat Jea mengucapkan apa pun. Pintu ruangan mereka terbuka dan detektif gila itu muncul di sana tanpa raut wajah bersalah.
“Aku suka makanan gratis.”
Jea langsung menoleh ke arah sang detektif yang juga tengah memandang ke arahnya. Di dalam batin Jea, bagaimana mungkin detektif gila itu tiba-tiba bisa berubah pikiran untuk bergabung bersama mereka. Padahal tadi jelas-jelas dia menolak ajakan yang Jea ajukan.
“Kalian mengirim wanita itu untuk mengajakku. Dia sampai menangis memohon agar aku ikut. Kalian harus memberinya hadiah karena dia berutang padaku,” ucap sang detektif sekenanya. Kali ini mata Jea memelotot terkejut mendengar ucapan tersebut. “Aku akan membatalkan niat ikut jika sepuluh detik saja mulai sekarang kalian tidak bergegas pergi,” ancamnya. Semua orang yang berada di dalam ruangan langsung keluar termasuk atasan mereka. Semua orang memang takut kepada detektif gila tersebut.
“Aku akan membuat perhitungan denganmu,” kata Jea saat dia melewati sang Detektif Joker yang berada di daun pintu.
“Aku penasaran dengan ancamanmu,” jawab sang detektif sambil berbisik di dekat telinga Jea. “Ngomong-ngomong, aku tertarik untuk mencium lehermu. Bagaimana rasanya kulit sialan milikmu ini.”
Jea langsung menjauhi sang detektif yang saat ini tertawa senang karena berhasil menggoda polisi wanita idaman kantor kepolisian. Jea tidak habis pikir bagaimana bisa pria itu menggodanya setelah tadi menghina dirinya. Dia memang tidak bisa ditebak sama sekali dan dia orang paling aneh yang pernah Jea temui meskipun otaknya sangat jenius.