Worried

1156 Words
“Bagaimana bisa kau mengizinkan terduga itu tinggal di tempatmu?” tanya Jea setelah dia menyuruh Agatha mengganti pakaian. Detektif Joker tidak menanggapi langsung. Dia justru sibuk dengan laptopnya untuk mengambil rekaman percakapan dirinya dan Agatha yang bisa dijadikan bukti bahwa wanita itu sudah diinterogasi olehnya. Jea akhirnya mengembuskan napas kesal karena tidak kunjung mendapat jawaban dari pria itu. “Apakah ada indikasi kecemburuan dalam ucapanmu barusan?” tanya Detektif Joker setelah dia selesai menyalin rekaman ke dalam tempat penyimpanan. “Kau sangat keberatan sepertinya.” “Jangan berpikir yang macam-macam! Aku petugas kepolisian yang menanyakan hal tersebut secara wajar,” jawabnya masih dengan perasaan tidak habis pikir. “Banyak tempat aman untuk dirinya berlindung.” “Semakin kau mengelak, kebohonganmu semakin terlihat.” “Apa maksudnya itu?” tanya Jea tidak mengerti. “Apa kau sangat munafik sehingga tidak ingin mengakui terang-terangan apa yang kau rasakan?” Detektif Joker mendekati Jea yang berdiri tidak jauh darinya. “Kau tahu, kebohongan tidak akan berlaku di hadapanku,” sambungnya sambil menyeringai di depan Jea kemudian dia menarik polisi cantik itu lebih dekat dengannya. “Aku tidak menyembunyikan kebohongan apa pun!” tegasnya sambil berusaha menjauh. “Berhenti, jangan mendekat lagi!” Detektif Joker sama sekali tidak peduli. Dia justru merapatkan tubuh mereka sambil berbisik pelan di telinga Jea. “Aku justru ingin menyeretmu ke sudut lain apartemenku dibanding wanita itu. Bagaimana, apakah tawaranku diterima?” tanya Detektif Joker masih dengan posisi seperti tadi dan Jea yang berusaha untuk lepas. Kedua tangannya sudah memegang pinggang Jea yang terasa amat sangat kecil. “Lepaskan, aku di sini datang untuk bertugas, bukan bermain-main denganmu,” kata Jea sambil melepaskan tangan Detektif Joker di pinggangnya. “Hentikan, Detektif. Aku mohon,” pintanya memelas. Dia takut pria itu kembali melakukan tindakan gila seperti tempo hari. Dia sudah mencuri ciuman pertamanya dan Jea takut bila akhirnya pria itu juga mencuri hal lain darinya. “Sialan, kau menang,” ujarnya setelah melihat wajah Jea yang memohon. Dia sebenarnya hanya ingin mempermainkan polisi cantik yang mencuri perhatiannya beberapa bulan ini. Setelah itu dia memutuskan untuk masuk ke kamarnya meninggalkan Jea yang mematung. Tidak lama dari itu Agatha selesai berganti pakaian dan Jea menghampirinya. ♆♆♆ “Jadi dia akan tinggal disini bersamamu, Detektif?” tanya Tanaka ketika dia datang ke rumah rekannya tersebut kemudian mendapati wanita yang dia kejar beberapa hari yang lalu dan diduga sebagai pembunuh. Detektif Joker menjelaskan semuanya kepada Tanaka lalu saat ini Tanaka sedikit keberatan menerima keputusan rekannya tersebut. Ternyata bukan hanya sang polisi cantik yang keberatan dengan keputusan gilanya, rekannya juga demikian. “Seperti yang aku katakan dia akan tinggal di sini,” jawab Detektif Joker tanpa ragu. Tanaka menatap rekannya dengan bingung. Detektif Joker bukan orang yang mudah percaya dengan orang asing. Dia tahu sekali itu. “Detektif, dia tertuduh dan mungkin saja akan menjadi tersangka. Kau tahu jelas itu, Detektif. Meskipun aku sudah mendengar ceritamu tadi. Katakan kepadaku apa yang diberikan wanita itu sehingga kau memercayainya?” Detektif Joker langsung menatap tajam rekannya. Perkataan yang sangat kurang ajar di lontarkan Tanaka kepadanya. “Apa yang kau katakan, sialan!” Detektif Joker sedikit marah kepada rekan yang selama ini selalu membantunya. Tanaka menggigit bibirnya dengan keras. “Kau tidak seharusnya berbicara seperti itu. Aku tahu siapa orang yang berhak aku tolong atau tidak. Tanaka, dia sedang tertekan dan aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Kau tahu aku, aku memercayai apa yang aku lihat dan yakini! Sialan!” jawab Detektif Joker dengan nada yang sedikit marah. “Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku cukup heran dengan tindakanmu.” Suara Tanaka mulai melunak. Dia benar-benar butuh penjelasan rekannya secara rinci. Tanaka cukup tidak nyaman jika ada seorang wanita asing tinggal di rumah rekannya terlebih wanita itu mungkin akan menjadi tersangka dan alasan lainnya karena sang detektif sering sekali menghabiskan waktunya di apartemen tanpa dia dan Mark yang sering berada di studio musiknya. Tanaka hanya takut jika hal lain yang ada dipikirannya saat ini menjadi nyata. Tidak masalah jika Detektif Joker tertarik dengan seorang wanita. Itu sangat wajar bagi Tanaka, tetapi tidak dengan orang yang saat ini menjadi tertuduh meskipun belum secara resmi. Detektif Joker menegakkan tubuhnya dan dia melipat kedua tangannya di d**a. Kini dia memandang Tanaka yang tepat duduk di depannya. Rekannya itu memang sedikit keras kepala meskipun dia sangat menuruti perintah Detektif Joker yang sudah dianggapnya seperti kakak kandung sendiri. Tanaka tidak bisa tidak heran karena Detektif Joker adalah orang yang nyaris tidak pernah berbaik hati kepada siapa pun dan juga kehidupannya yang cukup misterius. Dia biasanya tidak nyaman dengan orang asing. “Jika kau dalam posisinya apa yang akan kau lakukan dan terlebih kau tidak bersalah?” tanya Detektif Joker. Tanaka diam tidak menjawab dan Detektif Joker kembali melanjutkan ucapannya. “Tempatkan dirimu di dalam dirinya lalu pikirkan apa yang kau lakukan jika kau menjadinya. Ini membutuhkan sedikit imajinasi, tetapi akan terbayar. Sekarang kita harus berandai-andai jika kau tidak bersalah, tetapi kau dituduh sebagai pembunuh sialan lalu kau melarikan diri karena kau sedang terancam bahaya. Tidak mempunyai orang yang bisa dimintai bantuan, tidak mengerti ucapan asing, tetapi ingin sekali hidup dan bebas dari tuduhan. Apa yang akan kau lakukan jika menjadi dirinya?” pertanyaan dan perandai-andaian Detektif Joker itu cukup membuat Tanaka berpikir. Dia memang berbeda dengan rekannya tersebut. Rekannya itu mempunyai intuisi yang tinggi, penalaran yang luar biasa, serta logika yang kadang-kadang membuat orang heran bagaimana dia berpikir dengan otaknya sendiri. Dia selalu mempunyai beberapa kemungkinan pikiran akan suatu hal yang sedang terjadi. Sedangkan dirinya tidak seperti itu, dia berbeda banyak dari rekannya tersebut. Dia menyukai musik dan berusaha untuk menjadi seperti Detektif Joker meskipun dia tahu kemampuannya jauh berbeda. “Aku akan lari dan selebihnya aku akan mencari perlindungan,” jawab Tanaka. Detektif Joker tahu bahwa jawaban itulah yang akan dijawab oleh Tanaka. “Jadi sekarang kau bisa memahami mengapa aku melakukannya?” tanya Detektif Joker dengan wajah puas. Kali ini Tanaka yang mengangguk. Dilihat Detektif Joker wajah Tanaka lesu karena kalah darinya. Detektif Joker lalu berdiri dan menepuk punggung rekannya. Dia sebenarnya tidak terlalu menyebalkan seperti yang terlihat di permukaan. Hanya di hadapan orang-orang tertentu dia tidak memakai topengnya. “Jangan pernah tanggung menolong seseorang. Semua ada karma, kau baik dan sering menolong orang maka ketika kau dalam kesusahan semuanya akan datang untuk menolongmu. Berprinsiplah seperti sebuah rumah, selalu melindungi dan memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Begitu pula denganku, aku ingin melindunginya dan memberikan kenyamanan untuknya. Hm, aku rasa kau sudah mengerti mengenai alasanku. Lalu jangan khawatirkan apa pun. Aku bisa mengatasinya bila hal buruk terjadi,” ucap Detektif Joker yang sekarang memilih memakan apel yang tadi dipotong oleh Jea sebelum dia pergi. Sementara Agatha ada di dalam kamar lain untuk beristirahat. Tanaka hanya mampu menatap rekannya itu dengan pandangan kagum meskipun kadang dia menyebalkan. Kagum dengan ucapannya yang sederhana, tetapi bermakna. “Lagi pula, ada wanita lain yang lebih dulu menarik perhatianku dibanding terduga ini. Jadi tidak perlu khawatir aku akan jatuh cinta kepadanya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD