"Mama, jangan tinggalkan Alex. Aku ikut sama Mama ..." "Mama ngga bisa bawa kamu. Tinggal aja sama Papa." "Ngga, Alex ikut Mama ..." "Kamu tuli, ya! Mama ngga bisa, kamu itu cuma beban!" "Livia! Jangan bicara seperti itu. Alex putramu." "Terserah, kamu urus sendiri." "Livia ... hentikan semua kegilaanmu. Kau akan menghancurkan dua keluarga. Lihat Alex, dia masih membutuhkanmu." "Aku ngga peduli! Aku udah ngga cinta sama kamu." "Pikirkan lagi. Aku akan memaafkanmu dan bersedia mengakui anak itu sebagai anakku, tapi kembalilah jadi Livia yang dulu." "Maaf, anak ini bukti cintaku pada Wicaksono. Buka matamu, kita sudah selesai." . . Alex terus mengerang dalam tidurnya. Dia merintih memanggil seseorang. Keringat membasahi T-shirt putihnya. Dia gelisah, tangannya menggapai ke semba

