Vano hanya berdehem pelan sebagai jawaban, tidak lupa dengan ekspresi wajahnya yang selalu datar.
"Siapa sih cewek tadi, Van. Cantik, manis lagi." Ucap Satria cengengesan sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
"Gak tau baru liat." Jawab Vano seperlunya yang langsung mendapat anggukan paham dari Satria.
"Kayaknya anak baru deh." Timpal Bagas.
"Mungkin." Jawab Vano sambil mengedikkan bahunya tidak tahu.
Tak lama setelah perbincangan membahas tentang Alea, bel kembali berbunyi menandakan bahwa waktu istirahat telah selesai.
"Masuk apa bolos nih?" Tanya Bagas sambil mengangkat sekilas kedua alisnya.
"Bolos." Jawab Vano singkat dengan tangan yang sibuk memainkan ponsel nya.
Bagas melihat ke arah Satria yang sedari tadi hanya diam tak menjawab pertanyaannya.
"Lo?" Tanya Bagas sambil menganggukan kepalanya sekilas.
"Gue?" Tanya Satria sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan, pak satpam." Jawab Bagas dengan wajah kesalnya.
"Gue kira ke gue." Ucap Satria dengan wajah polosnya.
"Ya iyalah ke lo, Sat. Masa iya ke tetangga." Papar Bagas yang sudah mulai emosi dengan ke lemotan otak yang dimiliki Satria.
"Nih ya, secara kan lo berdua sahabat gue, terus gue kan orangnya selalu menjunjung tinggi rasa solidaritas dengan kawan, gue juga,"
"Buruan, Sat. Gak usah pidato dulu." Ucap Bagas memotong pembicaraan Satria.
"Yuk bolos." Lanjut Satria sambil cengengesan.
Bagas dan Vano memutar bola matanya malas sambil menghela nafas kasar secara bersamaan.
"Ngomong kek dari tadi." Tandas Bagas dengan tatapan sinisnya.
Setelah menunggu lama jawaban dari Satria akhirnya mereka bertiga bangkit dari kursi kantin, tampaknya mereka akan pergi ke suatu tempat, entah dimana. Seperti biasa mereka menyelinap berjalan di sepanjang sekolah karena takut jika ada salah satu guru yang mengetahui bahwa mereka akan pergi bolos. Jika hanya para murid saja yang melihat mereka bolos mereka akan tetap aman, karena tidak ada satu siswa atau siswi pun yang berani bertentangan dengan ketiga most wanted sekaligus para bad boy itu.
Vano, Satria dan Bagas mengendap ngendap berjalan dengan sangat hati-hati di sekitaran sekolah, pandangannya saling beredar melihat sekeliling area sekolah. Hingga pada akhirnya mereka hanya tinggal melewati satu ruangan lagi untuk bisa lolos dari niat buruk mereka.
Mereka bertiga berbaris di belakang kelas X IPA B. Dengan Satria sebagai pemimpin di depan, Vano di barisan tengah dan Bagas di paling belakang.
"Diem, Sat. Lo kenapa sih pake acara noel noel segala. Ini keadaan lagi genting nih, biar gak ketahuan guru. Udah ketahuan baru tau rasa lo." Omel Bagas.
"Ck, Sat diem napa sih ah." Lanjut Bagas sambil mengempiskan tangan yang sedari tadi mencolek pundaknya.
"Sialan, gue bilang diem diem lo. Lo belum tau amukan maung gue ya?" Sahut Bagas merasa kesal.
"Lo kenapa sih, Gas dari tadi perasaan ngomel-ngomel mulu dah." Ujar Satria tanpa menengok ke arah Bagas yang berada di belakangnya.
"Lah. Lo paling depan, Sat?" Tanya Bagas dengan ekspresi wajah yang tegang.
"Ngelantur lo, Gas. Gue dari tadi di depan sialan." Sahut Satria yang tetap setia fokus melihat ke depan.
"Terus yang noel noel pundak gue siapa dong." Seru Bagas. Sedangkan Vano dan Satria langsung berdiri tegak merasa sedikit agak terkejut setelah mendengar Bagas berbicara seperti itu.
"Satu." Hitung Satria memulai.
"Dua." Lanjut Vano.
"Tiga." Timpal Bagas di hitungan terakhir.
Setelah hitungan selesai, mereka bertiga membalikan badannya secara bersamaan.
"Selamat siang brothers," Ucap seorang pria paruh baya yang sedang berada di hadapan mereka bertiga.
Vano, Satria dan Bagas tidak menjawabnya, mereka hanya diam mematung dengan ekspresi wajah terkejut.
"Saya menyapa lho barusan, mengapa kalian tidak menjawabnya?" Lanjut pria itu dengan tatapan bertanya.
"Eh, pak Anto. Selamat siang kembali pak." Sahut Satria sambil cengengesan.
"Hai, pak Brothers selamat siang kembali pak." Papar Bagas salah tingkah.
"Siang, bapak Anto." Timpal Vano dengan bibir yang dipaksa tersenyum.
"Nah gitu dong," Jawab Pak Anto sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Sedangkan ketiga pelaku trio Kambing ini hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuk lehernya tak gatal.
"Mau kemana nih kalian? Bolos kok gak ngajak ngajak." Ucap Pak Anto sambil menoel Bagas dengan jari telunjuknya.
Bagas menyenggol lengan pak Anto pelan.
"Bapak tau aja." Ucapnya sambil cengar cengir tak jelas.
"Pak Anto pengertian banget sih jadi bapak guru." Timpal Satria sambil menoel dagu pak Anto, menjijikan. Kemudian Vano menghampiri pak Anto lebih dekat lagi dan berdiri disamping nya. "Uh makin sayang deh, Bagas sama bapak." Rayu Bagas sambil menyelipkan satu tangannya ke tangan pak Anto yang membuat Vano dan Satria mengidik ngeri melihat perlakuan Bagas yang menjijikan.
Pak Anto membalas perlakuan Bagas, dengan cara memegang tangannya dengan lembut layaknya sepasang kekasih.
"Ikut yuk." Ucap pak Anto lembut sambil tersenyum.
"Kemana pak?" Balas Bagas tak kalah lembut. Kemudian tangan pak Anti beralih menjewer daun telinga Bagas dengan kencang.
"Ayo ke ruang BK kamu saya hukum," Pak Anto menjeda ucapannya kemudian menunjuk ke arah Vano dam Satria secara bergantian. "Kalian juga kena hukuman. Ikut saya ke ruang BK sekarang!" Tegas pak Anto dengan tangan yang masih setia menjewer telinga Bagas.
Pak Anto membalikan badannya berniat untuk segera beranjak pergi ke ruang BK dengan membawa ketiga trio Kambing ini.
"Eh pak, pak. Lepasin dulu kuping saya dong, sakit nih." Sahut Bagas yang membuat pak Anti berhenti melangkah.
"Tidak. Cepat jalan, Bagas." Ucap Pak Anto dengan perasaan kesalnya. Sedangkan di sisi lain Vano dan Satria tertawa kecil melihat drama konyol di hadapannya.
"Heh kalian!" Sahut pak Anto sambil melihat ke arah Vano dan Satria secara bergantian. Merasa dirinya diperhatikan, Satria dan Vano pun langsung terdiam.
"Mau saya jewer juga?" Lanjut pak Anto sambil membelalakan matanya menandakan bahwa ia sedang serius saat ini. Mendengar pak Anto berbicara seperti itu, Vano dan Satria menggelengkan kepalanya secara bersamaan.
"Kalau begitu cepat ikut saya!" Lanjut pak Anto yang langsung mendapat anggukan paham dari Vano dan Satria serempak.
Akhirnya mereka bertiga mengikuti pak Anto ke ruang BK. Untung pada siang itu siswa siswi SMA Baradika sudah masuk semua, sehingga tidak ada yang melihat mereka bertiga, terutama dengan Bagas yang masih setia berada di jeweran pak Anto.
Setelah mereka sampai di ruangan BK mereka dihadapkan dengan seorang guru yang notabe nya adalah guru keamanan.
"Selamat siang, pak." Sapa pak Anto kepada Pak Andri.
"Pak Anto, selamat siang kembali pak." Jawabnya.
"Saya kesini membawa tiro kambing, Pak." Sahut pak Anto.
Pak Andri mengerutkan kedua alisnya, merasa bingung.
"Trio kambing? Bapak keruangan saya sambil membawa tiga ekor kambing pak, Buat apa ya?" Tanya Pak Andri dengan wajah polosnya.
Pak Anto mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bukan pak maksud saya ini lho," Pak Anto menjeda ucapannya, kemudian melambaikan tangannya ke arah luar.
"Heh trio kambing, kesini kalian!" Teriak pak Anto kepada Vano, Bagas dan Satria. Kemudian mereka bertiga masuk ke ruangan pak Andri dan saling berhadapan.
"Oh ini toh trio kambing nya." Ucap Pak Andri sambil mengangguk anggukan kepalanya.
"Iya pak trio kambing yang selalu bikin ulah," Timpal pak Anto yang langsung mendapat cengiran dari ketiga anak itu.
"Mereka berniat mau bolos pak." Lanjutnya.
Pak Andri menggeleng gelengkan kepalanya sambil menatap ketiga murid badung nya secara bergantian.
"Belajar yang bener dong, gak bosen bolos mulu." Sahut pak Andri sambil menirukan gaya t****k.
"Gak ada sejarah bosen bolos, pak." Sahut Bagas dengan wajah datarnya.
"Saya yang bosen menghukum kamu,Bagas." Timpal pak Anto dengan nada sedikit tinggi.
Satria melirik pak Anto sekilas sambil menghela nafas berat.
"Kan yang selalu ngasih hukuman, pak Andri bukan bapak,kenapa bapak yang bosennya." Papar Satria lalu memutar bola matanya malas.
"Jawab terus ya kalian, Satria dan Bagas!" Ucap pak Anto dengan nada yang sedikit agak tinggi. Sedangkan Satria dan Bagas langsung terdiam dengan bentakan pak Anto yang super duper menyeramkan.
"Kalian tuh sebenarnya mau jadi apa sih?" Lanjut pak Anto bertanya.
Setelah sekian lama diam hanya diam dan menyimak saja, akhirnya Vano mengeluarkan suara mahalnya.
"Bapak tanya kami ingin jadi apa?" Tanya Vano sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Ya!" Jawab pak Anto dengan wajah kesalnya.
"Saya ingin jadi suami idaman istri saya pak." Sahut Vano dengan wajah polosnya.
"Kalau saya ingin jadi mafia yang baik hati dan tidak sombong pak." Papar Satria sambil menyugar rambutnya kebelakang.
Bagas memegang dagunya dengan sebelah tangan yang terlipat menyangga satu tangan kanannya.
"Keinginan saya sih cuma pengen jadi sugar daddy dan memiliki banyak istri yang cantik." Timpal Bagas sambil mengangguk anggukan kepalanya pelan.
Pak Anto mengusap usap wajahnya kasar.
"Dari sekian banyak siswa yang sekolah disini, baru kali ini ada murid yang sekolah tapi memiliki tujuan di luar sekolah, dan hanya kalian," Ucap Pak Anto kesal.
"Bisa stres saya lama lama berhadapan sama kalian." Lanjutnya.
"Berbeda dari yang lain itu seni pak, berarti saya memiliki seni yang tidak dimiliki murid manapun disini." Ujar Satria sambil menepuk-nepuk dadanya merasa bangga. Sedangkan Bagas dan Vano langsung terkekeh geli mendengar pembicaraan konyol yang keluar dari mulut sahabatnya itu, Satria.
"Bapak kok malah ikutan ketawa, harusnya kesal dong pak melihat muridnya seperti mereka." Ucap pak Anto kepada pak Andri yang juga ikut terkikik geli mendengar Satria berbicara seperti itu.
"Oh iya iya maaf pak, saya terbawa suasana dengan ucapannya, Satria," Jawab pak Andri sambil menahan tawa nya.
"Oke," Pak Andri menjeda ucapannya kemudian menunjuk ke arah Satria.
"Kamu,Satria" Panggil pak Andri yang membuat Satria menatapnya kebingungan. Kemudian pak Andri menunjuk ke arah Bagas.
"Kamu, Bagas" Panggilnya. Kemudian Bagas menunjuk dirinya sendiri dengan wajah penuh tanya. Dan kini pak Andri giliran menunjuk ke arah Vano. "Dan kamu yang terakhir, Vano." Ucapnya yang langsung mendapat tatapan malas dari Vano.
"Kalian semua saya hukum dengan masing-masing berbeda hukuman." Lanjut pak Andri.
"Lah kok gitu pak?" Sahut Bagas.
Pak Andri melihat ke arah Bagas dengan tatapan sinis.
"Gitu bagaimana, Bagas?" Tanya nya.
"Biasa juga hukumannya sama." Timpal Satria tidak Terima.
"Ah lama, cepetan mau dihukum gak nih dari tadi bertele-tele mulu." Ujar Vano dengan wajah kesalnya. Bagas membogem lengan Vano dengan sedikit agak kencang.
"Sialan lo, yang bener aja kita beda hukuman." Ucap Bagas tidak Terima.
"Lo gimana sih, Van gak solid banget lo." Oceh Satria.
Bersambung....