bc

Story Of Twins

book_age18+
93
FOLLOW
1K
READ
possessive
goodgirl
CEO
drama
bxg
others
school
friends
naive
like
intro-logo
Blurb

Dua saudara kembar ini sama-sama memiliki kharisma yang berwibawa, tubuh yang tinggi, wajah yang tampan, juga kulit yang putih dan bersih. Mereka sering dipanggil dengan sebutan Vano dan Vino, atau Alva dan Alvi.

Mereka adalah seorang anak kembar yang memiliki kisah yang berbeda. Jika salah satu diantara mereka memiliki kisah yang baik dan bahagia, maka satu nya lagi akan memiliki kisah yang berbanding balik. Selain kisahnya yang kurang beruntung, hidupnya pun sudah berada diambang kehancuran, entah itu keburukan hidup yang berkelanjutan atau kematian. Dan bagaimana jadinya, jika seseorang yang kita sayang meninggalkan kita selama-lamanya, melepaskan raga pergi menjauh dari sekeliling kita. Seperti yang dialami seorang gadis cantik ini yang bernama Aleeanka Cantika Grizelle.

chap-preview
Free preview
Episode 1
"Kebaikan gak harus dilihat orang banyak, dan gak harus tau siapa identitas diri kita juga." Alvano Radikal Reifansyah. Bel istirahat berbunyi sangat nyaring siang ini. Seluruh siswa siswi saling berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Ada yang langsung pergi ke kantin bagi anak-anak yang sudah kelaparan, ada yang pergi ke perpustakaan untuk anak-anak yang rajin,entah itu di segi membaca atau suka mengenang masa lalu seperti sejarah. Namun sayangnya tidak semua yang pergi ke perpustakaan itu anak yang rajin, ada juga yang pergi ke perpustakaan hanya untuk menggibah bersama teman sebaya nya. "Sialan, materi kali ini gak ada yang masuk satupun." Ujar Bagas digarkara, sahabat kerabnya Vano. Satria Ragara yang juga sahabat kerabnya Vano pun memutar bola matanya malas. "Emang kapan ada pelajaran yang masuk ke otak lo, Gas. Biasanya juga masuk kanan keluar kiri." Sahutnya sambil terkekeh geli, sedangkan sang empu mengepalkan tangannya lalu membogem lengan Satria sedikit agak kencang. "Enak aja lo. Yang biasa kayak gitu tuh lo ya, Sat." Bantah Bagas merasa tidak Terima. "Bisa gak sih lo manggil gue,Tria atau apa kek gitu jangan Sat banget manggilnya." Omel Satria. Bagas terkekeh geli melihat ekspresi kesal yang ditampilkan Satria. "Lah, terserah gue lah. Mulut mulut gue, yang ngomong juga gue kenapa lo yang ribet dah." Timbal Bagas tidak mau kalah. Sedangkan Vano hanya diam menyimak semua perdebatan kecil itu dari kedua sahabatnya, Bagas dan Satria. Vano bukan tipe orang yang suka berbicara seperti kedua sahabatnya, Vano lebih irit mengeluarkan suara bahkan banyak yang mengatakan bahwa suara Vano itu mahal, karena sangat sulit sekali seorang Vano bisa mengeluarkan suara tanpa diminta. Bagas menyenggol lengan Vano kencang sehingga membuat sang empu menengok ke arahnya. "Ngomong napa, bos." Ucap Bagas. Sedangkan Vano hanya melirik sekilas saja sebagai jawaban. Satria yang melihat kejadian itu pun tertawa geli. "Udah tau suara Vano itu mahal, masih aja pengen denger. Mampu bayar gak lo." Ujarnya. "Karena gue gak gila kayak lo berdua." Sahut Vano sinis. Bagas tertawa terbahak-bahak melihat betapa masamnya wajah Satria saat ini. "Nah lho, kena juga kan." Ucapnya sambil terkekeh geli. "Tapi emang lebih bagusan lo jadi pendiam sih Van, soalnya kalo ngomong suka nyakitin." Balas Satria sedangkan sangat empu terkikik geli mendengar ucapan Satria. "Vano tuh semacam satu raga dua jiwa. Kadang pecicilan kadang pendiam, semua tergantung mood nya aja." Ucap Bagas. "Sip, lo pengertian." Ungkap Vano sambil menepuk pundak Bagas pelan. sedangkan sangat empu memutar bola matanya malas sambil menghela nafas berat. "Gue bukan pengertian, karena gue udah tau lo. Lo tuh sosok orang misterius yang kadang susah banget buat ditebak." Lanjut Bagas. Satria tersenyum sinis sambil melihat ke arah Bagas dan Vano secara bergantian. "Kenapa lo?" Tanya Vano. Sedangkan Bagas malah memegang kepala Satria lalu berkata, "Ieu saha, kaluar maneh," Bagas menjeda mantranya, kemudian tangannya beralih memegang wajah Satria. "Siapapun hantu yang masuk ke dalam raga, Satria cepat keluar." Lanjutnya. "Aing maung." Jawab Satria sambil melakukan gerakan macan yang sedang mengamuk seperti pada umumnya. "Maung dari manakah engkau wahai makhluk gaib." Ujar Bagas yang masih setia memegang wajah Satria. "Dari biskuat,"Timpal Satria dengan tatapan sinis. Sedangkan Vano dan Bagas langsung tertawa geli. " Lu kira gue kesurupan apa." Lanjutnya sambil memutar bola matanya malas. Bagas menepuk jidatnya pelan. "Oh iya. Kan lo sama hantu gak beda jauh." Ucap Bagas sambil terkikik geli. "Sialan." Cetus Satria sambil membogem lengan Bagas kencang. *** Disisi lain ada seorang gadis dan pria remaja yang tengah berjalan di sepanjang koridor sedang mencari dimana letak ruang guru. "Mana sih,bang kok belum ketemu juga." Cetus Alea. Seorang gadis yang terlahir dari pasangan suami istri yang bernama Beno Mirza dan Kirana Jovita, juga adik dari Syahroni Ravindra seorang Ceo yang sangat terkenal. "Sabar dulu, Lee abang juga lagi nyari nih," Jawab Roni sambil mengedarkan pandangannya mencari ruang guru. "Lagian ini sekolah rumit banget sih bangunannya astaga." Lanjutnya sambil mengacak rambutnya frustasi. "Kenapa gak coba buat nanya aja sih, bang." Sahut Alea sambil menghentak hentakan kakinya kesal. "Gak usah, bentar lagi juga pasti ketemu," Jawab Roni sambil terus melihat ke sekeliling sekolah. Alea tidak menyahuti lagi pembicaraan abangnya yang keras kepala itu, biarkan saja dia yang mencari sendiri dimana letak ruang guru tanpa meminta bantuan siapapun. "Nah kan ketemu." Ucap Roni kencang hingga membuat Alea terkejut. "Astaga abang, Alea sampe kaget lho." Sahut Alea sambil memegang sebelah dadanya. "Gak usah lebay, udah ah yuk masuk."Ajak Roni sambil memegang tangan mungil Alea lalu menariknya masuk ke dalam ruang guru bersamanya. "Permisi pak." Sapa Roni setelah berada di dalam ruangan itu. "Wah, Mr. Syahroni Ravindra." Ucap pak Dani selaku kepala sekolah. Sedangkan Roni langsung menghampirinya sambil tersenyum ramah. "Ternyata Anda mengenali saya." Ungkapnya sambil mengulurkan tangan bermaksud untuk bersalaman dengan kepala sekolah itu. Meskipun Roni tidak mengenal pria itu, namun Roni tetap bersikap ramah layaknya orang yang sudah saling mengenal. "yes, of course, Mr. Syahroni. Siapa yang tidak mengenali anda." Sahut pak Dani sambil membalas salaman Roni. Setelah beberapa menit mereka salaman, akhirnya mereka saling melepaskan satu sama lain. "Jadi, apa yang bisa saya bantu, Mr Roni." Tanya pak Dani ramah. Roni merangkul Alea dari arah samping. "Oh ya. Ini adik saya, Aleanka Cantika Grizelle. Saya berminat sekali adik saya bersekolah disini." Ucapnya. Pak Dani tersenyum, sosoknya benar-benar begitu sangat ramah meski baru pertama kali berjumpa. "Dengan senang hati kami akan menerima,Alea bersekolah disini." Jawab pak Dani. Roni menganggukan kepalanya sambil tersenyum, begitupun diikuti oleh Alea di sampingnya. Senang rasanya Alea bisa diterima dengan baik di sekolah barunya. "Terima kasih, pak." Ungkap Roni. "Sama-sama, Mr.Roni" Balas pak Dani sambil menganggukan kepalanya, tidak lupa dengan senyuman ramahnya yang tidak pernah tertinggal dari ciri khas pak Dani. "Baik, Alea. Kapan kamu akan mulai bersekolah disini?" Tanya pak Dani yang langsung mendapat senyuman lembut dari Alea. "Mungkin besok, pak. Hari ini, Lea belum ada persiapan apapun." Sahutnya. Pak Dani menganggukan kepalanya sambil membalas senyuman dari Alea. "Baiklah, sampai bertemu lagi besok, Alea." "Dengan senang hati." Jawab Alea lembut. Aleanka Cantika Grizelle seorang gadis yang tercipta dengan sangat sempurna. Badan yang tinggi dan ideal, hidung yang kecil dan mancung, rambut yang panjang dan berwarna coklat dengan ujung rambut yang sedikit agak keriting, disertai dengan bulu mata yang lentik dan lebat. Pesona nya cukup membuat siapapun terpana dengan kecantikan yang dimiliki Alea. Bukan hanya itu, dia juga memiliki prestasi yang luar biasa, kepintarannya tidak lagi bisa diragukan. Mungkin sekarang dia akan mulai bersaing dengan seorang siswa yang katanya selalu mendapat juara satu di sekolahan ini. Namun sayangnya Alea belum tau namanya, ia hanya sekedar diberitahu abangnya saja sejak tadi di perjalanan ketika menuju sekolah. Setelah banyak berbincang dengan kepala sekolah SMA Baradika tadi,lebih tepatnya pak Dani, akhirnya Alea dan Roni memilih untuk berpamitan, karena ada sebuah acara yang harus mereka datangi pada sore ini. "Abang, Lea haus nih." Rengek Alea ketika sedang berjalan menuju parkiran. "Tuh, di depan ada kantin beli sana." Ucap Roni sambil menunjuk ke sebuah warung besar milik sekolah. "Yaudah. Abang tungguin, Lea disini jangan kemana-mana." Pinta Alea sambil berlalu menuju kantin itu. Sedangkan Roni hanya berdehem pelan. Alea berjalan di sepanjang jalan yang penuh dengan siswa siswi warga sekolah ini. Tidak sedikit para siswa yang menatap Alea dengan perasaan kagum. "Mbak, pesen es teh manis nya ya, satu aja." Sahut Alea ketika sudah sampai di depan kantin, tepatnya di ruangan pemesanan. "Maaf, neng yang belakang datang lebih dulu." Ucap seorang perempuan paruh baya itu yang mungkin pemilik kantin di sekolah ini. Alea terkejut, kemudian membalikan badannya ke belakang. Ternyata benar saja, ada seorang pria yang tengah berdiri dibelakang barisannya. "Oh maaf maaf, Lea kira barisannya sudah kosong." Ucap Alea sambil berlalu pergi ke belakang barisan pria itu. Sedangkan sang empu hanya berdehem pelan dengan ekspresi wajah yang sangat datar. "Bik, es teh manis satu ya." Ucap Vano kepada Bik Manah sebagai penjual di kantin itu. "Baik, Den tunggu ya." Jawab Bik Manah lalu berlalu ke dapur untuk membuatkan satu es teh manis, sebagaimana yang dipesan Vano tadi. Vano berdiri di depan Alea menunggu pesanannya datang. sedangkan Alea menatap belakang tubuh Vano dengan detail,dari mulai belakang kepalanya, hingga kakinya. Entah karena ada dorongan apa Alea ingin memperhatikan pria di hadapannya dengan sedetail itu. "Nih." Ucap Vano sambil menyodorkan tangannya yang sedang memegang satu gelas es teh manis. "Hah?" Sahut Alea terkejut karena pria itu yang tiba-tiba memberikan es teh manis nya, sedangkan tadi saja sudah jelas bahwa minuman itu adalah pesanan yang dipesan nya tadi. "Mau teh manis kan?" Tanya Vano sambil mengangkat sebelah alisnya. "Tapi kan itu pesanan kamu tadi." Papar Alea karena merasa tidak enak. "Lo kan tadi yang pesan duluan?" Tanya Vano. "Tapi kamu yang datang duluan." Balas Alea. "Ck, tinggal ambil aja apa susahnya sih." Cetus Vano sambil memutar bola matanya malas. "Beneran ini buat, Alea?" Tanyanya sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri. Sedangkan Vano hanya berdehem pelan, karena mungkin sudah lelah menjawab semua pertanyaan pertanyaan bawel dari Alea. Setelah memastikan bahwa minuman itu untuknya, Alea tersenyum sambil mengambil es teh manis itu dari tangan Vano. "Makasih," Ucap Alea senang. Lagi lagi Vano hanya menjawabnya dengan deheman kecil saja. "Oh iya, nih uangnya." Lanjut Alea setelah mengambil satu lembar uang dari sakunya. Vano memutar bola matanya malas. "Minum terus habisin." Ujar Vano sambil beranjak pergi dari hadapan Alea. Alea menatap kepergian Vano dengan perasaan bingung nya, tangannya masih memegang uang yang tadi di ambilnya. Pria itu memberinya minuman ketika Alea sedang kehausan bahkan rela pesanannya dia tahan dulu hanya untuk mendahulukan pesanan Alea. Setelah beberapa menit menatap kepergian Vano, akhirnya Ale memilih untuk kembali ke parkiran, karena pikirnya abangnya pasti sudah lama menunggunya. Alea kembali berjalan menuju parkiran dengan terus fokus minum es teh manis yang diberikan seorang pria tadi yang belum Alea ketahui siapa namanya. "Siapa?" Tanya Bagas setelah melihat Vano sudah benar-benar duduk di bangkunya. Sedangkan Vano hanya menggidik kan bahunya menandakan bahwa ia tidak tahu. "Tumben banget lo, Van mau ngasih minum ke cewek." Timpal Satria sambil menyenggol lengan Vano pelan. Bersambung....

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
203.5K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
19.7K
bc

Kali kedua

read
222.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook