Bab 9. Belum Menyerah

1144 Words
Kevin menatap datar ponselnya. Ia menghela napas kasar ketika mendapatkan pesan dari Anggun yang mengirimkan bukti transfer. Beberapa saat lalu ketika mereka hendak pergi ke kantor, Anggun meminta nomor rekening. Seberapa keras Kevin menolak, tetap saja perempuan itu memaksa untuk memberikannya. Niat ingin berangkat bersama gagal karena Anggun memilih untuk berangkat bersama Leoni naik bus. Kevin meletakkan ponsel di atas meja. Setidaknya ia sudah berhasil menjelaskan pada Anggun tentang kondisinya saat itu. Pria itu juga memahami bagaimana sakitnya menjadi sahabatnya. Namun, ia tidak akan menyerah untuk mendekati perempuan itu. “Oke, Kevin. Mari beri waktu untuk Anggun sebentar,” gumam Kevin kemudian menatap komputernya. Hari ini atasannya masih belum berangkat dan ia harus menggantikan selama beberapa hari ke depan. Lelah memang, tapi tidak ada pilihan lain. Kevin menoleh saat ada yang membuka pintu ruangannya. “Nggak bisa lo ketuk pintu dulu?” tanya Kevin dengan ketus pada Alvaro sang sepupu yang baru masuk. “Terserah gue dong. Itu kursi bekas gue ya kalau lo lupa.” Kevin memutar kedua bola matanya malas. Ia membiarkan sepupunya duduk di sofa. Sedangkan pria itu tetap bekerja. “Vin, lo ngapain minggu kemarin ke Spanyol?” “Bukan urusan lo,” jawab Kevin tanpa menoleh pada Alvaro. “Bagaimana bukan urusanku kalau yang lo datangi resort gue.” “Terus lo tanya gue gitu? Gue yakin lo udah tahu nggak usah pura-pura.” Alvaro terkekeh ketika melihat Kevin sedikit kesal. “Lo semakin ke sini semakin pintar, Vin. Nggak salah lo belajar ke gue waktu itu.” “Lo setelah menikah semakin percaya diri, Aro. Gue emang udah pinter dari dulu. Kalau nggak pinter mana mungkin sudah skripsi.” Kevin menutup berkas, kemudian menghampiri Alvaro dan duduk di depan pria itu. “Jadi lo dekat dengan Anggun? Tapi gue dukung daripada menunggu Cristal.” “Gue nggak sedekat itu. Waktu malam resepsi pernikahan lo di Spanyol, gue melakukan kesalahan, meniduri Anggun.” “Kalian nggak ada hubungan apa pun?” Kevin hanya menggelengkan kepala membuat Alvaro mengumpat. Ia yakin jika sepupunya itu mengetahui kesalahan fatal yang telah dilakukan pasti akan menghajarnya. “Gila! Lo lebih parah dari gue ternyata, Vin!” “Kalau bukan karena minuman laknat itu pasti gue nggak akan meniduri dia. Aku melakukannya karena nggak sadar dan sepertinya Anggun trauma.” “Ya iya lah. Coba lo pikir sendiri. Walaupun dia janda tapi perempuan terhormat bukan w************n, Vin! Terus apa rencana lo? Jangan sampai Vlora tahu lo niduri Anggun, yang ada bisa mati lo di tangannya.” “Ya lo tolongin gue lah. Jangan sampai hal ini bocor pada kakak ipar. Gue masih mencoba mendapatkan maaf dari dia tapi sulit.” Alvaro berdecak. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan sepupunya. “Bodoh! Kalau dia tahu gue juga nggak bisa bantu lo.” “Iya yang bucin!” cibir Kevin membuat Alvaro melemparkan bantal padanya. “Sekarang lo boleh ngomong seperti itu, Vin. Tapi, gue jamin nanti lo akan mengalami hal seperti ini.” Alvaro menyeringai membuat Kevin mengusap tengkuknya, merinding dengan seringaian pria itu. Alvaro menepuk bahu Kevin sebelum pamit meninggalkan ruangan itu. Kevin hanya berdecak sebal pada sepupunya. Sampai sekarang di hati masih tersimpan satu nama yang tidak lain adalah Cristal. Belum ada niat untuk mengganti dengan perempuan mana pun. *** Ketika jam istirahat tiba, Anggun yang sedang makan siang bersama dengan Leoni terkejut ketika merasakan ada yang duduk di sampingnya. Ia menoleh dan mendapati Kevin tengah tersenyum memperlihatkan lesung pipit di kedua pipi. “Nggak masalah kan aku duduk di sini?” tanya Kevin masih dengan senyuman yang mengembang. “Kamu sudah duduk kenapa bertanya? Aneh,” jawab Anggun dengan ketus. “Kalian lucu ya. Sudah tidur satu kamar tadi malam tapi masih saja begini. Tapi emang nggak semudah itu Pak Kevin mendapatkan maaf dari Anggun, harus ada perjuangannya. Enak saja setelah se-” “Le, udah. Aku ndak mau bahas itu lagi, takut ada yang denger. Lihat itu mereka semua menatap kita.” Leoni mengedarkan pandangan dan benar saja dengan apa yang diucapkan oleh Anggun, semua karyawan sedang menatap ke arah mereka bertiga. Anggun tidak mau jika menjadi pusat perhatian lagi. Cukup cutinya satu minggu lalu yang diperbincangkan oleh karyawan kantornya, sekarang ia tidak mau ada yang bergosip kedekatannya dengan Kevin. Ada banyak yang harus ia pertimbangkan jika dekat dengan Kevin. Pertama karena pada dasarnya ia belum bisa melupakannya. Memaafkan pria itu memang mudah, tapi tidak dengan melupakan semua sikap dan perlakuan Kevin beberapa saat lalu. Kedua, Anggun yakin Kevin memiliki pasangan atau orang yang dicintainya dan perempuan itu tidak mau mendapatkan julukan sebagai ‘pelakor’ oleh orang lain. Cukup mendapatkan gelar janda muda yang selalu jadi perbincangan orang. “Nanti pulang bareng aku,” ujar Kevin membuat Anggun mendengkus. “Ndak mau. Aku pulang bersama Leoni.” “Nggak ada penolakan. Aku bawa mobil jadi kalian berdua bisa pulang bersamaku.” Belum sempat Anggun menjawab Kevin sudah meninggalkan tempat duduknya dan hal itu membuatnya kesal. “Orang seenaknya aja kalau ngomong!” gerutu Anggun membuat Leoni terkekeh. “Tapi lumayan, Anggun, hemat ongkos.” Anggun mencebikkan bibirnya. Setelah selesai makan siang mereka kembali ke meja kerjanya. Baru saja tiba di meja kerja ia sudah melihat Kevin sangat dekat dengan seorang perempuan yang tak lain adalah Mia. Perempuan itu terus memperhatikan kedua sejoli itu tanpa mengalihkan pandangan. “Nggak usah diliatin kalau bikin sakit,” ujar Leoni membuyarkan isi pikiran Anggun. “Ndak ya. Emangnya aku suka sama Kevin?” “Hanya kamu dan Tuhan yang tahu,” bisik Leoni membuat Anggun melotot, menatap tajam gadis itu. Pukul lima sore Anggun dan Leoni keluar dari kantor. Mereka terpaksa harus menunggu Kevin di depan lobby karena pria itu belum turun. “Udahlah, Le. Kevin emang ndak niat pulang bareng kita.” “Kan dia yang kirim pesan ke kamu sendiri sedang turun ke basement. Kenapa kamu begini, Anggun? Apa gara-gara perempuan yang bernama Bu Mia itu?” “Apaan sih. Ndak ada ya aku cemburu!” “Aku nggak bilang kamu cemburu kok.” “Jelas banget secara ndak langsung kamu mengatakan kalau aku cemburu.” “Siapa yang cemburu?” Anggun dan Leoni menoleh ke belakang dan melihat Kevin sudah ada di sana. “Kamu cemburu sama Mia, Mahes?” “Ndak ada ya aku cemburu. Mana mobilmu? Sudah nunggu lama tahunya kamu ada di sini.” “Ketus banget kamu, Mahes. Mobilnya sedang diambil security.” Anggun mengedikkan bahu. Tidak lama kemudian mobil Kevin datang dan mereka langsung masuk. Ketika dalam perjalanan hanya ada keheningan, tidak ada yang bersuara sama sekali hingga tiba di kosan. “Terima kasih, nanti aku ganti uang ongkosnya.” Kevin menghela napas. Ia tidak menjawab ucapan Anggun membiarkan perempuan itu masuk ke dalam. Malam harinya ketika Anggun sedang berdua dengan Leoni tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Perempuan itu beranjak membuka pintu. “Mbak Anggun, ini pesanan makanannya,” ujar security membuat Anggun mengernyitkan dahi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD