Bab 8. Penyesalan 2

1164 Words
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Anggun sambil menatap tajam pria yang ada di hadapannya. Kevin tidak menjawab pertanyaan Anggun. Pria itu justru masuk menerobos pintu membuat pemilik kamar terkejut. "Kevin!" "Mahes, aku ngantuk banget. Di apartemen nggak bisa tidur." Kevin mengucapkan dengan terpejam dan tubuhnya sudah terbaring di ranjang. "Terus ngapain kamu ke sini? Emangnya kosku tempat penampungan, hah?" Anggun berdecak ketika melihat Kevin bergeming terlebih terdengar dengkuran halus. Ia menutup pintu, tidak ada pilihan lain kecuali membiarkan pria itu terlelap. Perempuan itu membenarkan posisi tidur Kevin. Ia meraih ponsel miliknya, kemudian mengirim pesan pada Leoni. Anggun: Le, kamu masih bangun? Apa aku boleh tidur di kamarmu? Anggun meletakkan ponselnya di atas karpet. Ia menekuk lutut sambil menatap ponsel menunggu balasan pesan dari sang sahabat. Satu jam menunggu balasan dari Leoni, tetapi tidak mendapatkannya hingga Anggun tertidur di atas karpet. Pukul tiga dini hari Kevin terbangun dan melihat Anggun meringkuk kedinginan di atas karpet tanpa selimut dan bantal. Ia tersenyum tipis, kemudian beranjak turun dan memindahkan perempuan itu ke ranjang. Setelah menyelimuti Anggun, Kevin merebahkan tubuh di samping perempuan itu menatap wajah yang tetap cantik meski dalam keadaan tidur. Baru kali ini ia melihat wanita itu terlelap dengan langsung. “Cantik.” Satu kata keluar dari bibir pria itu. Kevin masih enggan terpejam masih ingin menatap wajah Anggun. Bukan tanpa sadar datang ke kos itu, tentu ia sengaja karena tidak dapat terlelap di apartemennya. Sebenarnya semenjak mengetahui Anggun lah perempuan yang telah ia tiduri, Kevin tidak bisa tidur nyenyak. Yang ada di dalam pikirannya hanya Anggun. Apalagi ketika mengetahui Anggun keguguran, hatinya ikut merasakan sakit seperti apa yang dirasakan oleh perempuan itu. Namun, ketika tiba di kamar Anggun, Kevin langsung terlelap dengan nyenyak. “Izinkan aku menebus semua kesalahanku, Mahes. Sungguh aku sangat menyesal.” Pria itu membelai rambut Anggun membuat perempuan itu menggeliat. Kevin yang masih mengantuk lama-lama kembali terpejam. Pukul lima pagi Anggun membuka matanya. Ketika ia meregangkan tangan terkejut ketika ujung tangan menyentuh tubuh seseorang. Perempuan itu langsung menoleh lalu duduk. “Astaga!” Anggun baru ingat jika Kevin menginap di kamarnya. Ia membuka selimut dan bernapas lega ketika melihat semua pakaian masih lengkap. Perempuan itu turun dari ranjang mengambil pakaian ganti dan membawanya ke kamar mandi. Setelah rapi Anggun membangunkan Kevin. “Vin, bangun!” Anggun membangunkan Kevin menggunakan spatula. “Awh. Mahes, kamu bisa lembut sedikit nggak si? Kenapa sekarang jadi kasar?” ujar Kevin yang sebenarnya sudah bangun sejak tadi. “Ndak ada ya lembut-lembut sama cowok kayak kamu itu!” Anggun meninggalkan Kevin kembali ke dapur. Beruntung kamar kos Anggun seperti apartemen studio yang memiliki fasilitas dapur dan kamar mandi di dalam satu ruangan. Kevin turun, kemudian menghampiri Anggun. Ingin memeluk perempuan itu, tetapi segera mengurungkan niatnya karena tahu sudah pasti akan ditolak. “Masak apa?” Anggun tidak menoleh pada Kevin yang sudah berdiri di sampingnya. “Mandi dulu sana, sarapan, terus pulang!” Alih-alih menjawab pertanyaan Kevin, Anggun justru mengalihkan pembicaraan dengan suara yang sangat ketus. “Lucu banget si kamu kalau lagi marah.” .Anggun menoleh, menatap tajam pria yang sedang terkekeh menatapnya. “Oke, oke. Aku mau mandi. Tolong ambilin baju aku di mobil ya.” “Kamu bawa baju segala?” “Aku selalu menyiapkan di mobil, takutnya ke luar kota dadakan. Aku kan bukan konglomerat yang bisa beli baju di tempat.” “Oh.” Kevin meringis ketika mendapatkan respon tak acuh dari Anggun. Ia memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ini pertama kali pria itu menginap di tempat perempuan dan orang itu adalah Anggun, seorang gadis desa yang mampu membuat tidur tidak nyenyak makan tak enak. Anggun melirik ponsel Kevin yang berdering di atas nakas. Perempuan itu mencoba mengabaikan benda pipih tersebut, tetapi pemiliknya berteriak dari dalam kamar mandi. “Mahes, tolong angkat teleponnya dulu.” “Iya.” Anggun berdecak, kemudian matikan kompor lalu mengambil ponselnya. Ia menatap ponsel yang menampilkan nama ‘Mia’ di sana. Perempuan itu tertegun. Nama itu adalah perempuan yang beberapa saat lalu bersama Kevin di kantornya. Baru saja hendak menekan tombol berwarna hijau panggilan itu sudah mati. Anggun mengedikkan bahu, kemudian meletakkan kembali ponsel tersebut dan keluar kamar untuk mengambil baju Kevin. Anggun memutar tubuhnya ketika melihat Kevin hanya mengenakan handuk di pinggang. Ia melemparkan pakaian pria itu dengan asal ke ranjang membuat membuat Kevin yang sedang bermain ponsel terkejut. “Cepat pakai bajunya!” Anggun mendengkus ketika mendengar gelak tawa yang keluar dari mulut pria itu. “Kenapa kamu memunggungiku? Bukankah kamu sudah melihat seluruh tubuhku?” ujar Kevin sambil menyeringai, kemudian menghampiri Anggun. Anggun langsung membuka pintu dan keluar dari kamar ketika Kevin sudah tepat di belakang. Ia bersandar pada daun pintu merutuki kebodohannya yang langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Meski ia pernah melihat tubuh polos pria itu tetap saja masih malu. Anggun mengusap wajahnya yang masih merah. Perempuan itu menggelengkan kepala ketika bayangan malam itu kembali terlintas dalam benaknya. Anggun menarik napas, kemudian mengeluarkan secara perlahan. Hampir saja perempuan itu terjerembab saat Kevin membuka pintunya. “Maaf, Mahes, aku nggak tahu kamu ada di pintu. Lagian ngapain kamu bersandar di sini/ Mending di pundakku saja.” Anggun hanya mendengkus, kemudian masuk ke dalam kamar mengabaikan Kevin. Namun, pria itu tidak menyerah karena terus saja membuntuti. “Makan yang banyak biar ndak kurus lagi!” Kevin menarik kedua sudut bibirnya. “Ternyata kamu sangat perhatian padaku ya. Jangan ketus lagi dong. Sini aku mau bicara.” Kevin menepuk karpet menyuruh perempuan itu duduk di samping kanannya. Namun, Anggun menolak dan memilih duduk di depannya. Ia tahu tidak bagi sahabatnya itu untuk melupakan semua kejadian itu apalagi mengembalikan seperti semula, pasti akan sulit. Akan tetapi, Kevin tidak akan menyerah. “Sarapan dulu,” ujar Anggun ketika melihat Kevin hendak berbicara. Mau tidak mau Kevin menuruti kemauan Anggun karena tidak mau sampai perempuan itu hilang nafsu makan. Mereka makan dalam diam dengan isi pikiran masing-masing. Setelah selesai, Kevin menyuruh Anggun untuk tetap duduk. Ia tidak mau kehilangan kesempatan pagi ini karena yakin jika setelah ini sangat sulit bertemu dengan perempuan itu. “Mahes, aku benar-benar minta maaf. Aku tahu kesalahanku sangat fatal dan nggak semudah itu kamu mau maafin. Malam itu aku aku benar-benar mabuk. Itu pertama kalinya aku minum beralkohol dan setelah kejadian itu aku lupa dengan apa yang terjadi. Aku tahu telah meniduri seseorang, tapi nggak tahu orang itu kamu. Beberapa hari yang lalu sebelum kamu keguguran aku pergi ke Spanyol untuk mengecek cctv dan aku sudah dapatkan hasilnya. Tapi terlambat, kamu keguguran. Kamu benar, aku memang b******k. Kamu mau pukul aku nggak masalah asalkan jangan cuek lagi.” “Kamu pikir mudah melakukannya, Vin? Sekarang ndak ada gunanya menyesal. Semuanya sudah terjadi. Aku memaafkanmu, tapi sulit melupakannya. Dan maaf untuk kembali seperti dulu aku belum siap.” Kevin menatap sendu perempuan itu. Ia tahu memang tidak mudah dan ini resiko yang harus diterima dengan apa yang diperbuatnya. “Aku mengerti, tapi bisakah kam-” “Beri aku ruang, Vin!” ujar Anggun memotong ucapan Kevin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD