Bab 7. Penyesalan

1138 Words
Anggun masuk ke dalam kamar kos bersama Leoni. Setelah menginap tiga hari di rumah sakit akhirnya ia dapat bebas dari bau obat-obatan. Selama tiga hari itu pula Anggun tidak melihat batang hidung Kevin. Jangankan batang hidungnya, bahkan pria itu tidak memberikan kabar sama sekali walau hanya melalui sebuah pesan. "Kevin nggak ada kabarnya sampai sekarang?" tanya Leoni setelah meletakkan ransel di dekat ranjang. Anggun hanya menggelengkan kepala, kemudian naik ke ranjang. "Sialan emang itu laki! Nggak ada tanggung jawabnya sama sekali. Tanya kek 'udah sembuh belum?'. Lha ini malah ngilang. Mau dihajar lagi kayaknya." "Bukannya lebih bagus kayak gini, Le. Aku sengaja menyuruh dia pergi. Aku ndak mau ketemu dia selain di kantor nanti." "Seenggaknya sampai kamu sembuh, Anggun. Bukan lepas tanggung jawab. Lebih bagus malah nikahi kamu!" "Le, antara aku dan Kevin itu ndak ada hubungan apa pun. Kejadian itu murni kecelakaan. Mungkin kalau Kevin ndak mabuk juga ndak bakal nyentuh aku. Lagian aku keguguran. Untuk apa kami menikah? Dengan alasan apa, jika satu-satunya alasan sudah hilang?" Leoni menghela napasnya kasar. Sejak mengetahui Anggun hamil dan yang menghamili adalah Kevin, ia menjadi emosi terlebih ketika mengetahui pria itu tidak mau bertanggung jawab. "Setelah ini kamu harus bangkit. Jangan mau mengalah dan dibodohi pria macam Kevin. Aku pikir dia beda ternyata sama saja. Aku nggak jadi crush-in dia." Anggun menarik sudut bibirnya. Kini ia tahu jika Leoni mengagumi Kevin. "Aku baru tahu kalau kamu suka sama Kevin." Leoni berdecak. Dengan kasar ia menjatuhkan bokongnya di ranjang. "Dulu, sekarang udah nggak. Kalau seandainya dia mau nikahin kamu aku ikhlas, kok." "Ndak Leoni. Hatiku masih milik mendiang suamiku. Lagi pula sepertinya Kevin punya pacar." Leoni mengangguk. Ia meninggalkan kamar Anggun. Setelah kepergian Leoni, Anggun kembali murung. Bohong jika tidak merasakan sakit dengan apa yang dilakukan oleh Kevin. Perempuan itu tidak akan melupakan dan memaafkannya begitu saja. *** Setelah satu minggu cuti, akhirnya Anggun kembali masuk kantor. Ia mengedarkan pandangan ketika melihat beberapa karyawan sedang menatapnya. “Ada apa, Leoni?” bisik Anggun pada sahabatnya yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Leoni. “Sepertinya kita melewatkan sesuatu.” “Pantas saja masuk ke sini gampang dan langsung diterima tanpa wawancara ternyata dekat dengan Pak Bos. Atau jangan-jangan lo simpanan Pak Abizar, Anggun?” Anggun melebarkan kedua bola matanya ketika mendengar ucapan dari salah satu karyawan yang ia tahu siapa namanya. “Apa maksud kamu, Nur?” “Alah, jangan pura-pura nggak tahu, lo! Satu minggu libur sakit padahal baru satu bulan lebih di sini.” “Apa kalian datang ke kantor hanya untuk mengobrol?” teriak seorang pria dari belakang. Anggun dan Nur menoleh pada pemilik suara, sedangkan beberapa karyawan lain langsung kembali ke tempat pekerjaannya masing-masing. “”P-Pak Kevin,” ucap Nur dengan tergagap. “Kembali ke tempat masing-masing!” Anggun mengangguk. Ia langsung ke meja kerja bersama dengan Leoni. Begitu pula dengan Nur pergi ke divisinya. Kevin menghela napas. Ia melirik Anggun yang sudah fokus dengan pekerjaannya. Hari ini banyak sekali yang harus dikerjakan. Namun, pagi-pagi sudah mendapatkan pemandangan tidak sedap di dekat lobby. Selain itu juga tidak mau melihat Anggun dirundung oleh karyawan kantor itu. Pria itu naik ke ruangannya meninggalkan lobby. Sedangkan Anggun hanya dapat melihat dari ekor matanya. “Cie … curi-curi pandang. Lucu banget si kalian. Tapi kamu jangan mudah luluh sama pria modelan begitu, Anggun. Walaupun mungkin Kevin mencintai kamu.” “Aku ndak mau mikirin itu sekarang, Le. Lagi pula siapa yang mau sama janda sepertiku?” ujar Anggun dengan sendu. “Pasti suatu saat kamu menemukan jodohmu, Anggun. Atau mau aku kenalkan dengan teman-temanku?” Anggun tersenyum, kemudian menggeleng. Rasanya tidak etis sudah memikirkan pria lain ketika suaminya belum ada 40 hari meninggal. “Aku mau fokus bekerja dulu.” “Oke. Bilang sama aku kalau kamu butuh bantuan mencari cowok. Blind date nggak ada salahnya, kan?” Anggun hanya menggelengkan kepalanya saja. Jika ditanggapi terus Leoni tidak akan berhenti. “Sudah, sudah. Sebaiknya kita bekerja. Jangan sampai makan gaji buta.” Leoni mengerucutkan bibirnya membuat Anggun terkekeh. Sementara di dalam ruangan, Kevin menatap datar berkas-berkas yang ia terima. Hari ini atasannya tidak masuk ke kantor dan pria itu harus menggantikan. Kevin menghela napas pelan, lalu mengurut leher yang pegal. Tadi pagi baru saja pulang dari luar kota dan sekarang pekerjaan sudah menumpuk. Belum lagi ia mengerjakan tugas dari kuliahnya. Pria itu merasa kepalanya hampir pecah. Terlebih hubungan dengan Anggun semakin berjarak. “Semangat, Kevin. Kenapa gue selalu memikirkan Anggun. Argh! Sialan. Kalau begini gue nggak bisa fokus kerja. Baru kali ini gue nggak bisa profesional.” Pria itu mengusap kepala dengan kasar. Rambut yang tadinya rapi sekarang berantakan. Tidak terasa waktu berputar sangat cepat. Jam kantor pun telah usai. Anggun berjalan keluar kantor menuju halte busway. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat ada sebuah taksi yang menghadang jalannya. Anggun mengernyitkan dahi. Ia menatap pintu taksi yang terbuka. "Ayo masuk!" Anggun memutar kedua bola matanya. Ia merasa tenang setelah pria itu tidak menampakan batang hidungnya. Walau sebenarnya sedikit sedih seolah dibuang begitu saja. "Mahes, aku memaksa. Kamu nggak mau kan kalau sampai macet gara-gara lama masuk mobil." Anggun melihat ke belakang dan benar saja, taksi yang ditumpangi Kevin sedikit menghalangi laju kendaraan. Dengan berat hati Anggun masuk mobil berwarna biru yang memiliki logo gambar burung. Kevin tersenyum tipis ketika tahu Anggun masih bersikap dingin padanya. "Ndak perlu lihatin aku seperti itu!" ujar Anggun dengan ketus. "Kenapa memangnya?" Anggun mencebikan bibir tipisnya. Ia menoleh pada Kevin dan ia melihat kelopak mata pria itu menghitam. Kenapa kelopak mata Kevin? Apa dia kurang tidur? Anggun memilih mengabaikan pria itu. Selama dalam perjalanan sangat hening. Sesekali ia melirik Kevin yang ternyata sedang memejamkan matanya. "Terima kasih atas tumpangannya. Uangnya nanti aku transfer," ujar Anggun membuat Kevin terkejut. Pria itu terlihat kebingungan dan mengedarkan pandangannya. Ternyata mereka sudah tiba di parkiran kos milik Anggun. Belum sempat Kevin menjawab, perempuan itu sudah turun dari mobil. Dengan cepat ia turun dan mengejar Anggun. "Mahes, tunggu! Biarkan aku bicara sebentar," ujar Kevin sambil menahan tangan Anggun. "Ndak ada yang perlu dibicarakan." Anggun masih ketus pada Kevin. Ia sama sekali tidak mau memberikan kesempatan pada pria itu. "Beri aku waktu lima menit. Please." Anggun berdecak ketika melihat Kevin memohon. "Oke, satu menit atau ndak sama sekali." Kevin menghela napas pasrah. "Oke. Aku mau minta maaf walaupun itu nggak akan merubah keadaan apa pun. Aku menyesal, Mahes. Sungguh aku sangat menyesal. Kalau saja aku percaya sama kamu mungkin ti-" "Waktumu sudah habis." "Tapi belum ada satu menit." Anggun mengedikkan bahu, kemudian melenggang pergi meninggalkan Kevin menaiki anak tangga ke lantai dua. Kevin hanya dapat meluruhkan bahu. Kepalanya sangat berat, akhirnya ia memilih meninggalkan kos tersebut. Malam harinya, ketika Anggun terbangun dari tidurnya untuk mengambil air minum, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar membuat perempuan itu terkejut. Dengan perlahan Anggun membuka pintu dan betapa terkejutnya melihat seorang pria berdiri di deoan kamar. "Kevin."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD