Jakarta- Indonesia.
Memang benar jika ada yang mengatakan rezeki, jodoh, dan maut adalah takdir Tuhan. Seperti apa yang sedang terjadi pada Anggun. Ia harus menjadi janda karena kematian sang suami. Namun, siapa sangka nasib baik masih menghampiri perempuan itu walaupun sempat mengalami kejadian yang menyakitkan.
Mulai hari ini Anggun sudah bekerja di perusahaan MH Corp –perusahaan milik orang tua bosnya. Awalnya hanya ingin bekerja membantu bibinya mengingat usia sudah 25 tahun dan belum memiliki pengalaman bekerja di kota pasti sulit mencari pekerjaan. Namun, ternyata ia ditawari untuk bekerja sebagai resepsionis.
“Hai, nama kamu Anggun, kan? Aku Leoni yang akan menjadi partner kamu,” ujar Leoni resepsionis yang sudah lama bekerja di perusahaan tersebut.
Anggun tersenyum, kemudian mengulurkan tangan pada Leoni. Setelah berkenalan, mereka menuju meja kerja yang berada di main entrance perusahaan tersebut.
Setelah menerima penjelasan apa saja tugas-tugasnya, Anggun mengikuti Leoni berdiri menyambut CEO perusahaan tersebut yang bernama Abizar. Perhatian Anggun bukan pada pemimpin pria itu, melainkan pada laki-laki yang berjalan di belakangnya.
"Ya Allah, kenapa bisa lupa kalau Kevin bekerja di sini juga." Anggun hanya dapat mengatakannya dalam hati. Meski masih sedikit membungkuk, tetapi perempuan itu masih dapat melihat Kevin. Niat ingin menghindari pria itu kini hanya tinggal menjadi angan saja. Walau mereka tidak satu divisi, tetapi akan sering bertemu kedepannya.
Anggun kembali duduk bersama dengan Leoni. Semangat yang tadi pagi tumbuh kini harus pudar karena kedatangan pria yang telah mengambil kehormatannya.
“Anggun, kenapa sekarang kamu melamun? Besok-besok gunakan make up ya. Grooming yang bagus karena kita berada di depan.” Suara Leoni menyadarkan Anggun yang memang sedang melamun.
“Baik, Mbak.”
“Panggil Leoni saja. Aku pikir kita usianya sama.”
Anggun mengangguk, kemudian tersenyum pada rekan kerjanya.
Tidak banyak yang dikerjakan hari ini oleh Anggun karena masih baru satu hari masuk kerja sehingga hanya mengamati dan mengikuti arahan yang diberikan oleh rekannya.
Pukul setengah enam sore Anggun keluar dari kantor menuju halte busway yang tepat ada di depan kantor. Ia mengeratkan sweater ketika terpaan angin datang. Awan hitam menyelimuti kota Jakarta sehingga terlihat sangat gelap. Selain karena sebentar lagi akan turun hujan juga karena hari sudah sore.
Anggun merogoh kantong ketika mendengar ponselnya berdering. Setelah mendapatkan ia menatap layar yang memperlihatkan nama ‘Kevin’ di sana, tetapi tidak berniat menjawab. Rupanya Pria itu tidak menyerah karena berkali-kali melakukan panggilan.
“Hm,” ujar Anggun pada akhirnya menjawab panggilan tersebut.
“Kamu di mana, Mahes?”
“Halte busway.”
“Turun. Aku tunggu di depan halte. Hari ini pulang bersamaku.”
Baru saja Anggun hendak menjawab, tetapi panggilan sudah dimatikan secara sepihak oleh pria itu.
“Ndak sopan!” Anggun menggerutu sambil menatap nanar ponsel yang layarnya sudah gelap.
Dengan wajah masam perempuan itu keluar halte dan menuruni anak tangga. Di bawah sana sudah ada Kevin dengan sepeda motor sport berwarna merah.
“Selamat sore. Dengan Mbak Mahes?” ujar Kevin sambil tersenyum berpura-pura sebagai driver ojek online.
Anggun mendengkus, tanpa menjawab tangannya meraih helm yang diulurkan oleh Kevin. Ia mengabaikan tatapan pria itu, kemudian naik ke motor.
“Besok pulang tunggu aku. Jakarta sangat keras, aku nggak mau kamu dibohongi orang asing,” ujar Kevin kemudian mengendarai motornya.
“Aku bisa sendiri. Lagi pula kamu harus nganterin Tuan Abizar pulang ke rumah, toh?”
Kevin melirik spion dan melihat Anggun membuang yang sedang memalingkan wajah serta memberi jarak. Tangannya meraih tangan perempuan itu supaya berpegangan pada pinggang.
“Yang sopan, Kevin! Aku lebih tua darimu!” ucap Anggun dengan ketus hendak melepaskan tangan dari pinggang pria itu, tetapi Kevin menahannya.
“Aku nggak mau kamu jatuh, Mahes, jangan ngeyel. Kamu hanya lebih tua lima tahun dariku dan letak nggak sopannya di mana?”
Anggun tetap bergeming. Ia hanya tidak ingin terlalu dekat dengan pria itu. Biar bagaimanapun yang dilakukan Kevin padanya bukan hal sepele.
“Sebenarnya apa salahku sampai kamu bersikap seperti ini padaku? Aku benar-benar nggak tahu, Mahes. Jadi, katakanlah padaku.”
Anggun masih terdiam. Ia benar-benar bingung harus menjawab apa pada Kevin. Kesalahannya sangat besar, jika dikatakan padanya akankah pria itu percaya? Atau alih-alih percaya justru dituduh telah memfitnah.
“Oke kalau kamu nggak mau jawab. Tapi jangan tolak aku karena selama satu minggu ke depan antar jemput kamu. Selain kemauan aku, ini juga perintah Vlora jadi aku mau kamu kerjasama supaya aku nggak kena marah.” Kevin meringis. Dalam hati ia meminta maaf pada sang sepupu karena telah membawa namanya.
Mengantar dan menjemput Anggun adalah inisiatifnya. Ia merasa kasihan pada perempuan itu.
“Katakan sesuatu, Mahes, jangan diam saja.”
Anggun menghela napas pelan. Ia benar-benar menutup mulutnya rapat tidak mau berbicara pada pria itu walau hanya satu kata.
Tidak lama kemudian mereka sampai di depan kos yang ditempati oleh Anggun. Perempuan itu turun dan langsung melepaskan helm untuk diberikan pada Kevin.
“Terima kasih.”
Kevin mengangguk. Ia menahan tangan Anggun ketika perempuan itu hendak masuk.
“Mahes, maafkan aku kalau sudah menyakitimu. Tapi tolong jangan bersikap seperti ini padaku,” ucap Kevin ketika Anggun telah berhadapan dengannya.
Anggun menatap netra hitam itu. Ia juga bingung harus bersikap bagaimana? Memaafkan atau melupakannya begitu saja. Bagi segelintir orang kehilangan keperawanan adalah hal yang wajar, tetapi tidak bagi perempuan itu.
“Vin, apa pandanganmu terhadap orang yang telah merenggut kehormatan perempuan dengan paksa?”
“Apa maksudmu? Kenapa membicarakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kita. Tidak mungkin kamu yang baru saja kehilangan perawan, bukan? Jelas saja bukan karena kamu sudah pernah memiliki suami,” ujar Kevin sambil terkekeh. Namun, hanya sebentar karena detik berikutnya pria itu menghentikan tawa ketika melihat wajah datar Anggun.
“Jawab saja. Haruskah melupakan dan memaafkan atau meminta pertanggung jawaban?”
Kevin mengernyitkan dahi. Ia kebingungan mendengar pertanyaan dari Anggun terlebih dengan ekspresi perempuan itu.
“Em itu ….”
Kevin menggaruk kepala yang tidak gatal. Rasanya ingin sekali menghilang supaya tidak menjawab pertanyaan perempuan itu.
“Mungkin sebaiknya dimaafkan saja. Lagi pula di zaman sekarang hubungan seperti itu sudah sangat wajar bagi orang dewasa apalagi kalau saling menyukai dan sama-sama mau melakukannya.” Kevin menunduk. Ia juga tidak yakin dengan apa yang diucapkannya.
Pria itu jadi teringat kejadian di Spanyol pekan lalu. Sampai sekarang ia belum mengetahui siapa yang sudah ditiduri.
“Jadi seperti itu menurut pandanganmu. Oke, aku masuk dulu. Oh ya satu lagi, mulai besok dan seterusnya tidak perlu menjemput atau mengantar aku lagi. Nanti aku yang bicara dengan Nona Vlora.”
Anggun langsung masuk sebelum Kevin menjawab.
Kevin mendesah pelan. Bukan seperti ini yang diharapkan, meski baru sebentar mengenal Anggun, tetapi sangat nyaman berada didekat perempuan itu. Ia menyalakan mesin motor, kemudian meninggalkan parkiran.
Anggun hanya dapat menatap nanar Kevin dari jendela kamar yang berada di lantai dua. Ia menutup hordeng lalu bersandar pada dinding meluruhkan tubuhnya hingga b****g menyentuh lantai yang dingin. Perempuan itu juga tidak mau memiliki nasib seperti ini. Haruskah benar-benar melupakan dan berdamai?
***
Sudah satu bulan Anggun bekerja di MH Corp. Ia yang sedang melihat kalender di meja kerja baru menyadari sudah beberapa hari telat datang bulan. Hatinya berubah gelisah, pikiran teringat kejadian yang beberapa hari ini berhasil dilupakan.
Ketika pulang kerja ia membeli testpack. Begitu tiba di kos langsung mencoba alat tersebut di kamar mandi. Setelah menunggu beberapa menit hasil keluar.
Anggun melebarkan kedua bola mata. Dengan perlahan mengambil lima testpack yang ia gunakan. Tangannya bergetar, netra hitam perempuan itu menatap nanar benda kecil tersebut. Tubuh terasa lemas seolah tidak memiliki tulang hingga hampir saja terhuyung jika tangan kiri tidak berpegangan pada wastafel.
“I-ini nggak mungkin,” ucap Anggun tergagap.