“Aku hamil.”
Akhirnya setelah terdiam beberapa saat Anggun kini bersuara sambil menyerahkan testpack pada Kevin ketika mereka sedang duduk di taman yang berada di dekat kos.
Kevin menunduk menatap benda pipih yang diberikan perempuan itu. Dengan ragu ia mengambilnya. Jantungnya berdetak lebih cepat, tetapi tidak tahu apa penyebabnya.
“Kamu beneran hamil? Dengan siapa? Aku nggak tahu selama ini kamu punya pacar.”
“Aku ndak punya pacar.”
“Lalu? Apa kamu melakukan itu dengan sembarang pria?” tanya Kevin sambil terkekeh.
“Aku … hamil anakmu.”
Bagai tersambar petir di siang bolong, senyum yang sempat terbit kini luntur. Tenggorokan pria berambut hitam legam itu tercekat. Lidahnya kelu seolah terikat sehingga susah untuk mengucapkan.
"Jangan bercanda! Mana mungkin aku bercinta denganmu. Apa laki-laki itu nggak mau tanggung jawab sehingga kamu mencoba memfitnahku? Lagi pula kau seorang janda, pasti bukan hal yang pertama untukmu, bukan?" Kevin merutuki kebodohannya karena memberikan jawaban seperti itu pada Anggun.
Tangan Anggun terkepal ketika mendengar ucapannya. Ia tidak menyangka jika Kevin tidak memiliki hati nurani. Tangan terayun memberikan satu buah tamparan pada pria yang berada di depan.
“Jaga mulutmu, Kevin! Aku memang janda, tapi bukan w************n apalagi jalang yang sudi membiarkan tubuhnya dicicipi oleh pria lain,” ujar Anggun dengan mata memerah menatap tajam satu-satunya teman dekat selama di Jakarta. Ia masih mengeraskan rahang dan napas semakin memburu. Bahkan satu tamparan tidak mampu melampiaskan rasa kesal dan amarah pada Kevin.
“Aku yakin kamu pasti lupa kejadian di Spanyol pada tahun baru. Dengan kondisi mabuk kamu berani menggagahiku, merenggut sesuatu yang aku jaga selama ini dan sekarang berani mengatakan kalau aku sudah terbiasa! Jangankan ada yang menyentuhku, satu-satunya pria yang berani menggandeng tanganku saja hanya kamu! Hanya kamu, Kevin!” ucap Anggun dengan menggebu-gebu. Dadanya masih terasa sesak., ucapan Kevin langsung menusuk hatinya.
“Tapi bisa saja kamu melakukan juga dengan pria lain. Aku nggak bisa percaya padamu begitu saja, Mahes. Oh, atau jangan-jangan kejadian di Spanyol semua jebakan kamu? Aku nggak menyangka ternyata kamu sama saja dengan perempuan lain, hatinya sama-sama busuk! Ini kan yang kamu inginkan? Meminta pertanggung jawaban dariku. Jangan bersikap manipulatif, Mahes. Kamu nggak cocok.”
Anggun kembali melayangkan satu buah tamparan di pipi kanan Kevin. Ia pikir dengan dianya pria itu karena menyadari kesalahannya. Namun, ternyata dugaannya salah.
“Aku kecewa sama kamu, Kevin!” ujar Anggun pada akhirnya karena sudah tidak sanggup berdebat. Perempuan itu memilih meninggalkan taman.
Sementara Kevin hanya dapat menatap punggung Anggun yang perlahan mulai ditelan oleh gelapnya malam. Ia mengusap wajah dengan kasar. Pria itu pikir Anggun mengajak bertemu karena sudah tidak tahan berlama-lama menghindar. Namun, ternyata yang dikatakan perempuan itu membuat hatinya porak-poranda. Bukan tidak mau tanggung jawab, tetapi Kevin ragu dengan apa yang dikatakan oleh Anggun.
Keesokan harinya, Anggun kembali bekerja seperti biasa. Beruntung tidak mengalami morning sickness seperti orang hamil pada umumnya. Perempuan itu justru lahap dan nafsu makan meningkat.
“Anggun, kamu nggak salah makan dua mangkuk bakso?” tanya Leoni ketika melihat Anggun pesan tambahan satu porsi bakso di foodcourt ketika jam makan siang tiba.
“Aku lapar banget, Mbak.” Anggun memperlihatkan deretan gigi putih sehingga memperlihatkan lesung pipit di kedua pipi putih mulusnya.
"Harusnya aku yang manggil kamu 'Mbak', Nggun. Umur kamu lebih tua empat tahun dariku."
Anggun kembali memberikan senyuman pada seniornya.
Setelah selesai makan mereka kembali bersiap untuk masuk kerja lagi. Ketika baru tiba di meja kerjanya, Anggun melihat Kevin sedang berjalan masuk bersama dengan seorang perempuan.
"Mereka sangat cocok ya."
Anggun menoleh pada Leoni, kemudian kembali menatap Kevin yang sedang menunggu lift terbuka. Ia membuang muka ketika pria itu menoleh.
"Apa mereka sepasang kekasih?" tanya Anggun ketika Kevin sudah masuk ke dalam lift.
"Entahlah, banyak yang bilang seperti itu. Kamu belum masuk grup khusus ghibah ya?"
Anggun hanya menggeleng sebagai jawaban untuk Leoni.
"Nanti aku invite. Besok weekend, bagaimana kalau kita jogging?"
Anggun menelan ludahnya. Dengan kondisi hamil tidak mungkin ia jogging.
"Kita lihat besok ya."
Mereka kembali melanjutkan pekerjaannya. Berbeda dengan Leoni yang fokus bekerja, Anggun justru merasa gelisah. Ia merasa tidak bisa terus-terusan menyembunyikan kehamilannya. Biar bagaimanapun juga ada kehidupan di dalam perut yang akan semakin membesar.
Kini perempuan itu bingung memikirkan bagaimana cara menutupi supaya tetap bisa bekerja dan kondisi janin tetap terjaga. Anggun tidak mau menggugurkan janin yang tidak berdosa.
Anggun dan Leoni keluar dari kantor ketika waktu pulang tiba. Saat sedang menunggu taksi online ia melihat Kevin mengendarai motor lewat di depannya bersama seorang perempuan di jok belakang.
Hatinya sedikit nyeri. Sempat terbesit dalam benaknya mencintai pria itu, tetapi segera ia tepis. Tidak mungkin secepat itu berpaling pada pria lain.
Pantas saja ndak mau tanggung jawab. Dia sudah punya pacar, toh.
Ingin mengabaikan pria itu, tetapi kedua matanya terus menatap hingga tidak terlihat lagi.
***
Malam harinya Anggun keluar mencari makan bersama Leoni yang selama beberapa hari ini menjadi teman satu kos hanya saja berbeda kamar. Dengan tangan penuh tentengan plastik mereka berjalan menyusuri jalan raya, kemudian masuk gang yang masih bisa dilewati oleh mobil. Langkah kaki Anggun terhenti ketika melihat Kevin sudah berdiri di depan gerbang kosnya.
"Ada apa, Anggun?" tanya Leoni yang merasa temannya masih tertinggal di belakang.
Leoni mengikuti arah pandangan Anggun. Ia mengernyitkan dahi ketika melihat Kevin ada di depan sana. Perempuan itu belum mengetahui jika Anggun dan Kevin saling mengenal satu sama lain.
"Selamat malam, Pak Kevin. Kalau boleh tahu ada apa ya malam-malam ke sini?" tanya Leoni dengan formal setelah tiba di depan gerbang disusul oleh Anggun yang sedang menunduk.
"Em … malam juga. Saya ada perlu dengan Mahes," ujar Kevin sambil melirik Anggun yang masih menunduk.
"Mahes?" cicit Leoni.
"Anggun maksudnya." Kevin membenarkan ucapannya. Ia lupa jika yang memanggil 'Mahes' hanya dirinya saja.
"Oh, iya silakan. Kalau begitu saya permisi." Leoni langsung masuk setelah membawa makanan yang ada di tangan Anggun.
Setelah memastikan Leoni masuk, Kevin mendekati Anggun. Namun, sayangnya perempuan itu mundur dan membuang muka.
"Ikut aku sebentar ya," ujar Kevin mencoba bersikap lembut pada Anggun.
"Cepat katakan apa yang mau kamu bicarakan sebelum malam semakin larut dan hujan turun."
Kevin menatap perempuan berparas ayu dengan bibir merah jambu yang masih enggan menatapnya. Ya, Kevin akui memang Anggun sangat cantik dan terlihat bersih walaupun dari kampung. Namun, tidak ada cinta yang tumbuh untuk perempuan itu. Hatinya masih dimiliki oleh satu nama.
"Mahes, apa yang kamu katakan kemarin cuma bercanda, kan?"
Anggun langsung menoleh, menatap Kevin dengan tatapan tajam.