Bab 5. Kecewa

1032 Words
“Bercanda? Kamu pikir hal seperti ini pantas untuk bahan lelucon, Vin!” Anggun tidak habis pikir dengan apa yang baru saja Kevin katakan. Amarah yang sempat surut kini hadir kembali. Ia mengangkat tangan dan meletakkan jari telunjuk di d**a pria itu. “Kamu ndak tahu perasaanku. Mungkin bagimu itu hal biasa, tapi bagiku itu sangat berharga dan selama ini selalu dijaga. Jadi, jangan asal bicara kamu. Ndak masalah kalau kamu ndak mau bertanggung jawab. Aku akan menanggungnya sendiri, tapi jangan menyesalinya suatu saat nanti!” desis Anggun masih menunjuk d**a bidang milik pria itu. Ia menurunkan tangan, kemudian meninggalkan Kevin yang lagi-lagi terdiam. Sedangkan pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Sejak mengetahui Anggun hamil, ia tidak dapat tidur dengan tenang. Bahkan bekerja saja ia tidak fokus, tetapi dituntut profesional. Bukan tidak mau bertanggung jawab, tetapi Kevin ragu yang dikandung Anggun adalah hasil hubungan satu malam dengannya. Bisa saja perempuan itu mengetahui jika Kevin pernah melakukan kesalahan satu malam dan kebetulan Anggun hamil sehingga pria itu yang harus bertanggung jawab. Setidaknya itulah yang ada di dalam benak pria berusia 20 tahun itu. Kevin mengambil ponsel yang ada di kantong jaketnya ketika mendengar ponsel berdering. “Halo. Bagaimana?” tanya Kevin pada orang yang diseberang sana. *** Keesokan harinya Anggun menatap kosong kaca jendela kamar yang sedang diguyur derasnya air hujan. Sudah berjam-jam ia duduk bersandar pada dinding dengan memeluk lutut. Hawa dingin mulai menusuk tulang pun ia abaikan. Suara guntur yang menggelegar tidak membuat perempuan itu meninggalkan tempatnya. Ingin menangis, tetapi air mata tidak mau keluar. Sejak tadi malam Anggun tidak terlelap. Bahkan hingga sekarang sudah pukul sepuluh pagi perempuan itu masih terjaga dan membiarkan perutnya kosong. Beruntung hari ini Sabtu sehingga tidak perlu bekerja. “Kenapa aku harus menanggung semua ini? Apakah aku ndak berhak bahagia?” gumam Anggun, kemudian menengadahkan kepala menatap langit-langit kamar. “Apa yang harus aku katakan pada Bapak dan Ibu, mereka pasti marah.” Anggun menoleh ketika mendengar suara ketukan pintu. Ia mencoba berdiri, tetapi kepalanya terasa berat dan seluruh badan lemas. Meski begitu tetap berusaha berdiri walau dengan badan gemetar. “Ada apa, Mbak?” tanya Anggun ketika melihat Leoni berada di depan pintu kamarnya. “Apa kamu sudah sarapan? Aku membuat mie untukmu,” ujar Leoni memperlihatkan dua mangkuk mie instan lengkap dengan telur dan sawi. Anggun menatap mie yang terlihat sangat menggoda lidahnya. Ia menelan ludah ketika membayangkan rasa nikmat pada makanan instan tersebut. Anggun mengajak Leoni masuk. Mereka duduk beralaskan karpet bersandar pada ranjang. “Anggun, sepertinya kamu lapar sekali,” ujar Leoni yang melihat Anggun makan dengan lahap. “Mie-nya enak banget, Mbak. Apalagi pas sama cuacanya.” Anggun menjawab dengan mulut penuh makanan. Rasa pedas pada makanan tersebut ia abaikan. “Anggun aku mau tanya sama kamu boleh?” tanya Leoni ketika mereka sudah selesai makan. “Mau tanya apa, Mbak?” Leoni menggaruk kepala. Ia merasa tidak enak sebenarnya pada Anggun, tetapi rasa penasaran lebih besar. “Em … ada hubungan apa kamu sama Pak Kevin? Aku rasa kalian sangat dekat sampai dia memiliki panggilan khusus.” Leoni menggigit bibirnya ketika melihat ekspresi terkejut Anggun. Sedangkan Anggun mengerjapkan kedua mata. Ia melupakan fakta jika Leoni kemarin melihat Kevin. “Aku ndak ada hubungan apa pun dengan Kevin. Kami hanya teman saja ndak lebih.” “Kevin? Sepertinya kalian cukup dekat. Astaga! Beberapa waktu lalu kamu menanyakan hubungan Pak Kevin dengan Bu Mia, pasti kamu cemburu ya?” “Bu Mia?” cicit Anggun yang tidak tahu siapa perempuan itu. “Bu Mia perempuan yang waktu itu jalan berdua dengan Pak Kevin dan pulang bersama.” Anggun mengangguk. Kini ia tahu nama perempuan itu. “Leoni, menurutmu bagaimana kalau ada seorang pria yang tidak mau bertanggung jawab setelah menghamili seseorang?” "Tentu saja itu laki-laki yang sangat b******k! Kalau aku jadi perempuan itu pasti sudah ku cakar mukanya. Itu juga belum cukup, aku pukul dia. Kalau perlu kebiri saja. Enak saja habis manis sepah dibuang. Dia yang tanam benih tapi nggak mau bertanggung jawab. Kau perlu laporin ke polisi!" Anggun meringis ketika melihat Leoni yang sudah tersulut emosi. Ia mengusap lengan temannya itu. "Memang siapa perempuan itu? Bukan kamu, kan, Nggun?" selidik Leoni sambil memicingkan mata membuat Anggun salah tingkah. "Te-tentu saja bukan, Le." "Baguslah. Jangan jadi wanita bodoh yang mau diperbudak oleh cinta. Apalagi sampai menyerahkan sesuatu yang paling berharga dari diri kita. Kalau ada yang melukai kamu katakan saja padaku, Nggun." "Iya, makasih banyak, Le. Kamu satu-satunya teman yang aku miliki," ujar Anggun sambil tersenyum. Setelah Leoni kembali ke kamarnya, Anggun kembali merasa sepi. Lagi-lagi perempuan itu melamun. Ia menyentuh perut yang masih rata. "Nak, ndak apa-apa kita cuma berdua ya. Mama yakin bisa merawat dan membesarkan kamu. Mama akan berjuang demi kamu, demi kita." Sekarang Anggun memikirkan bagaimana memberitahu orang tuanya. Bukan hanya itu, ia juga tidak mungkin menyembunyikan dan selamanya bekerja di kantor karena semakin lama perutnya bertambah besar. "Harus mulai cari pekerjaan baru yang mau menerima orang hamil. Aku jadi ndak enak sama Nona Vlora. Mereka pasti kecewa, apalagi kalau tahu aku hamil. Aduh Gusti! Aku pasti malu bertemu dengan mereka." Anggun menutup wajahnya. Ia benar-benar merasa ceroboh. Niat ingin mencari pekerjaan supaya dapat mengangkat derajat orang tua justru harus berakhir seperti ini. Kini perempuan itu berdoa, berharap orang tuanya tidak mengusir saat kembali nanti. Anggun mendesah pelan. Ia merasa frustasi memikirkan bagaimana hidupnya nanti. *** Weekend berlalu begitu cepat tanpa terasa sekarang sudah hari Senin. Anggun meregangkan badannya ketika baru saja terjaga. Ia menyibak selimutnya hendak turun dari ranjang. Namun, tiba-tiba merasakan nyeri pada perut. Tangan kanan memegang perut, sedangkan tangan kiri meremas sprei ketika merasakan semakin nyeri. Anggun meluruhkan tubuhnya ke lantai. Ia berusaha menjangkau nakas untuk mengambil ponsel dan segera menghubungi Leoni. "Halo, Le, tolong aku." Belum sempat mendapatkan jawaban dari temannya, Anggun sudah tidak sadarkan diri. Sementara itu, di luar sana Leoni tengah panik saat tidak mendapatkan respon dari Anggun. Gadis itu yang baru saja mengenakan pakaian kerja langsung keluar kamar. Namun, sayangnya kamar Anggun terkunci. Tidak kehabisan akal, Leoni turun menemui ibu kos dan meminjam cadangan kunci kamar milik Anggun. Setelah mendapatkannya, gadis itu bergegas membuka pintu dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Anggun sudah terkapar di lantai yang dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD