"Jika kamu berpikiran ingin tetap tinggal di sini karena kamu berat meninggalkan Roma... Silakan kamu tinggal di sini tapi jangan menyesali keputusan kamu kalau apa yang kamu pertahankan membuat kamu harus merelakan kalau saya tidak akan pernah lagi menganggap kamu sebagai darah daging saya." Sepanjang jalan Dien menuju sekolah. Pikirannya terus terbayang-bayang oleh perkataan dan rencana kepergiannya dari kota ini. Bagaimana bisa Dien meninggalkan Roma sementara ia sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan Roma. Dien takut Roma akan marah padanya. Dan Dien sangat merasa sedih sekali harus pergi dari tanah kelahirannya, dari tempat tinggal ia tumbuh sampai sekarang, dari tengah-tengah keluarga yang telah menganggap dirinya bagian dari mereka dan dari Roma yang selalu ada ketika Dien m

