Sesuai undangan yang sudah diberikan Rahendra. Hari ini Bian akan menghadiri peresmian dari Artama Corp. Dia merapikan setelah jasnya di depan cermin. Pikirannya kembali tak tenang dan selalu tertuju pada sosok Reina yang entah dimana keberadaannya.
"Andai kita masih bersama. Pasti kita sudah bahagia sekarang. Tapi, takdir Tuhan yang mendadak ini membuat aku tidak terima. Lantas, aku harus berbuat apa selain pasrah?"
Sampai detik ini Bian masih tidak terima. Jika ada alasan untuk menghilang mungkin dia masih mempertimbangkan. Tapi, sekali lagi seolah Reina benar-benar menghilang. Bisa jadi dia tak akan kembali.
Tanda tanya besar itu membuat Bian mencurigai beberapa orang, termasuk orang-orang di dalam rumahnya. Tapi, keterbatasan bukti yang dia miliki membuatnya tak bisa melakukan apapun.
Bian menuruni anak tangga dan menghampiri kedua orangtuanya yang sudah menunggu di meja makan. Dia tersenyum, sebagai sapaan pagi hari.
"Bagaimana acara semalam?" sapa Rahendra yang sudah lebih dulu duduk di tempat makan seraya menatap Bian yang mulai bergabung bersama.
"Mama dengar kamu bertemu Natya di sana? Bukankah itu kebetulan yang disengaja?" ucap Lina kembali antusias mendengar nama Natya apalagi jika sudah bersama dengan Bian.
Bian hampir tertawa mendengar ucapan Lina. Entah, rasanya sangat lucu saja pada bagian terakhir yang dia dengar.
"Mungkin dia datang memang untuk menemuiku. Dia bersama papanya, bukankah sudah jelas?" serah Bian seolah tahu. Entah memang seperti itu atau tidak sebenarnya Bian juga tidak peduli.
"Lalu kalian pasti mengobrolkan banyak hal, kan?" ucap Lina seraya mengambilkan nasi untuk Bian. Tak berhenti terus mencari tahu mengenai pertemuan keduanya.
"Menurut mama?" Bian menatap Lina dengan lirikan malas yang sengaja diperlihatkan.
Sementara Rahendra yang sejak tadi mendengar obrolan istri dan anaknya ikut bersuara.
"Kamu juga bertemu CEO muda dari Antama Corp, kan? Dia seumuran kamu?" Memang sudah tahu. Karena sebelumnya mereka pernah bertemu bahkan Rahendra juga menceritakan mengenai Bian yang akan menggantikannya dan datang ke acara peresmian tersebut.
"Elvano? Benar ternyata banyak CEO muda yang kutemui di sana. Mungkin juga mereka menggantikan keluarga sepertiku." Bian sudah menduganya. Bagi dia, hanya beberapa persen saja yang akan benar-benar sukses dengan usahanya sendiri. Selebihnya hanya menggantikan atau melanjutkan saja, seperti dirinya sekarang.
"Dia mantan kekasih Natya." Dengan tenang dan santai Rahendra mengatakan itu.
Bian yang sedang menikmati sarapannya langsung menghentikan aktivitasnya itu. Dia mengangkat wajahnya untuk menatap papanya.
"Oh, iya?" lirihnya malah menunjukkan senyuman, bukannya takut jika mereka masih memiliki hubungan, justru Bian seolah memang menginginkan hal itu.
"Kamu harus menjaga Natya supaya tak kembali pada Vano." Kali ini Lina yang terlihat kesal.
"Kalau mereka masih saling mencintai, biar saja. Apa aku datang hanya akan menjadi penghalang? Untuk apa? Kalau hatinya saja masih dimiliki orang lain."
"Kamu tidak sedang membicarakan dirimu sendiri, kan?" sindir Rahendra yang paham kemana arah pembicaraan putranya. Bian memang belum bisa melupakan Reina, tapi dia juga harus bisa menerima keberadaan Natya.
Merasa suasana semakin tak nyaman, Bian mempercepat sarapannya. Dia meneguk segelas air putih hingga tandas setelah menghabiskan sepiring makanan yang sudah disiapkan di meja.
Tangannya meraih tissue untuk membersihkan area bibirnya, lalu segera bangun untuk melanjutkan aktivitas paginya.
"Aku harus segera pergi ke kantor."
"Hati-hati, sayang."
Tanpa ingin merespon lagi Bian langsung mencium punggung tangan kedua orang tuanya sebelum dia benar-benar berangkat ke kantor.
Melihat mobil Bian yang sudah berlalu, Lina dan Rahendra yang masih duduk di meja makan kembali membicarakan mengenai perjodohan Bian yang sudah mereka rencanakan.
"Bagaimana kalau pernikahan mereka kita percepatan saja, Pa?" usul Lina yang mulai tak sabar melihat pernikahan Bian akan segera dilangsungkan.
"Kita lihat situasi dan keadaan dulu, Ma. Tahu Bian seperti apa? Dia masih sedingin itu pada Natya. Bagaimana bisa mereka menikah dengan sikap seperti itu?" Dibandingkan Lina, Rahendra sepertinya lebih memahami bagaimana perasaan Bian yang masih berduka.
"Kalau gitu, atur pertemuan mereka supaya lebih banyak menghabiskan waktu bersama." Lina terus mengatakan hal-hal yang berhubungan dengan Natya. Dia seperti benar-benar menyukai wanita itu tanpa cacat sedikitpun.
"Nanti biar Leo ikut andil untuk masalah ini dan mengatur kedekatan mereka." Rahendra yang juga sudah menyelesaikan sarapannya langsung bergegas untuk pergi ke kantor.
"Pa, jangan lama-lama membiarkan mereka seperti ini atau salah satunya akan berubah pikiran."
Rahendra hanya menganggukkan kepalanya paham. Dia juga tak ingin Bian terus-menerus sedih, tapi juga tak ingin terlalu memaksakan.
***
Semalam ketika Peresmian Artama Corp berlangsung.
Bian yang tengah berbincang dengan relasi barunya tampak nyaman dan berbagi pengalaman yang mereka lalui sebelum menjabat sebagai CEO. Senyuman bahkan tawa tercipta di sana seolah tak ada beban yang sedang menyelimuti hidupnya.
"Bian," panggil suara asing yang belum pernah Bian dengar sama sekali.
Bian menoleh dan mendapati wanita dengan gaun navy yang membalut tubuh sexy-nya. Dia tersenyum tak kenal, karena memang belum pernah bertemu sama sekali.
"Aku Natya." Wanita itu mengulurkan tangannya berharap Bian segera menjabatnya dengan hangat.
"Natya?" lirih Bian seolah sedang berpikir atau mengingat sesuatu. "Ah, iya."
"Kamu sendirian?" tanya Natya basa-basi.
"Aku datang bersama Leo. Kamu?" Bian mengedarkan pandangannya menatap sekitar Natya hanya untuk terlihat lebih ramah saja.
"Aku bersama papa. Bisa kita bicara sebentar?" Natya menatap Bian tanpa memaksa. Namun, dia berharap jika Bian menyetujui ajakannya untuk mengobrol sebentar.
Bian menganggukkan kepalanya kemudian meminta izin pada yang lain untuk pergi terlebih dahulu dari kumpulan mereka.
Bian mengikuti langkah Natya yang berjalan lambat ke arah tepi kolam. Wanita itu mengambilkan jus jeruk yang diberikan pada Bian.
Hanya supaya terlihat sopan, Bian menerimanya dengan senyuman yang dia tunjukkan. Sejujurnya Bian enggan basa-basi seperti ini.
"Kurasa kamu sudah mendengar mengenai perjodohan kita," lirih Natya mulai membuka obrolan penting mereka.
"Hm," respon Bian seraya menganggukkan kepalanya.
"Apa kamu keberatan?" tanya Natya lagi.
"Jika aku menjawab jujur apa kamu tidak terluka?" ucap Bian yang diiringi kekehan supaya suasana tidak terlalu formal.
Natya hanya tersenyum kecil seraya menundukkan kepalanya mendengar respon Bian yang bisa dia simpulkan tersebut.
"Jalani saja. Untuk setuju atau tidak biarlah waktu yang menjawab." Bukan enggan menatap wanita itu karena Bian mengalihkan pandangannya ke arah lain. Namun, dia tak ingin menyakitinya dengan kalimat yang dia lontarkan.
"Dari apa yang kamu ucapkan aku sudah bisa menyimpulkan."
Bian tersenyum simpul. Jika memang paham dan mengerti Bian sangat bersyukur karena tak perlu menjelaskan.
"Sayang, kamu sudah bertemu Bian."
Pria paruh baya seumuran Rahendra menghampiri mereka. Papa Natya yang sejak tadi tak terlihat kini mulai menghampiri keduanya yang sedang mengobrol.
"Ini papa," ucap Natya memperkenalkan papanya pada Bian, pria yang tengah berdiri di depannya tersebut.
Bian mencium punggung tangan ayah Natya untuk menghormati dan supaya terlihat lebih sopan.
"Kita belum pernah bertemu. Secepatnya kami akan membuat janji bertemu dengan keluarga kamu. Bukankah kamu juga masih sibuk? Kita juga sedang menyesuaikan jadwal kalian." Pria itu tersenyum lebar terkekeh pelan untuk mencairkan suasana.
"Iya, Om." Bian ikut tersenyum sebagai respon baik yang dia tunjukkan.
"Papa mau ke sana. Kamu mau di sini saja sama Bian?" ucapnya seraya menatap Natya.
"Natya bukan anak kecil, Pa. Biar Natya di sini saja nanti Natya hubungi kalau ada sesuatu." Natya tersenyum, dia sedikit malu karena papanya menganggap dirinya seperti anak kecil di depan Bian.
"Baiklah. Jaga anak om ya, Bian." Pria itu menepuk-nepuk pundak Bian pelan kemudian pergi untuk menemui rekan lainnya.
Bian tersenyum seraya mengangguk kemudian kembali menatap Natya canggung. Keheningan lebih terasa diantara mereka, namun Natya selalu punya topik untuk bisa mendengar suara Bian.
*** Bersambung...